Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 35. Gugur Bunga



"Beraninya campuri urusan orang!" bentak Sakawala lekas mengejar. Demikian juga sembilan pendekar lain.


Kejar-kejaran pun terjadi. Ternyata penolong Jaga Saksena tidak sendirian ada seorang lagi yang berlari beberapa tombak di sebelah kiri.


Hingga, ketika mereka tiba di sebuah padang rumput dan jarak pengejar semakin dekat,


"Aku akan menghambat mereka, Kakang Rawal!"


"Tidak, Adi Pekok! Kita lari bersama!"


"Tidak bisa, Kakang! Mereka semakin dekat!"


Yang menyambar Jaga Saksena ternyata adalah Rawal disertai SuPekok.


Meski telah dilarang oleh kakang seperguruannya, dan diperintahkan untuk terus lari bersama, SuPekok tetap menghentikan larinya.


Tanpa basa-basi, SuPekok cabut golok buntungnya.


"Sapuan Rembulan Kesiangan!"


Mengerahkan tenaga dalamnya, Pekok membabat rebah. Melepas tebasan energi golok buntung.


Energi setengah lingkaran membeset udara siang, menderu ke depan menyongsong sepuluh pendekar pengejar.


Tak tinggal diam, sepuluh pendekar turut lepaskan energi serangan.


Blarrdd!


Tumbukan energi menimbulkan suara dentuman keras. Menyemburatkan rerumputan sebelum hangus terberangus oleh ledakan energi.


"Ingin mengejar Kakang Rawal? Langkahi dulu mayatku! Hiaaa!"


Pekok melesat ke depan, mengincar salah satu pendekar yang menurutnya paling lemah.


Trang!


Tentu saja, sembilan pendekar lain tidak tinggal diam.


Pertarungan satu melawan sepuluh orang pun terjadi.


"Golok Buntung Mengganyang Langit!"


Tak tanggung-tanggung, menghadapi sepuluh pendekar pengeroyok, Balkhi SuPekok memainkan jurus pamungkas.


Golok buntung di tangan kanan Pekok berkelebat ke sana ke mari seakan menjadi sepuluh golok. Tak hanya itu, bilah golok juga mengeluarkan pendar cahaya angker.


Namun sayang sepuluh pendekar yang kini dihadapi pekok, semuanya adalah pendekar yang telah bergelar. Pertanda kanuragan mereka juga tinggi. Sehingga Pekok tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya menoreh luka pada lawan.


Crass!!


Salah satu pendekar pengeroyok terbabat putung tangannya. Membuat dia terhuyung ke belakang lalu duduk bersila untuk menghentikan pendarahan.


Kini, lawan Pekok hanya tinggal sembilan.


"Semuanya! Kerahkan jurus pamungkas!" teriak Wilantaka tak mau lagi anggota kelompoknya mendapat celaka.


Benar saja, kala semua mengerahkan jurus pamungkas. Pekok benar-benar terkurung dan terdesak hebat. Hingga pada satu ketika,


Crass!


Goresan sabetan celurit perak mendedel paha Pekok! Membuat keseimbangannya berkurang.


Kesempatan ini dimanfaatkan baik-baik oleh Wilantaka.


Clebb!


Brall!


Tongkat besi pendek di tangan Wilantaka amblas menancap ke punggung Pekok. Ketika tongkat itu dicabut, daging bersemburatan bersama darah.


Balkhi SuPekok limbung.


Saat itulah, pedang hitam di tangan Yakatan berkelebat mengarah leher Pekok.


Trang!


Pekok masih mampu menahan dengan golok buntung meski tangannya bergetar. Namun,


Sleb! Pedang hitam di tangan Yakatan tiba-tiba kembali berkelebat menebas perut SuPekok.


Belum berhenti sampai disitu,


Crag!


Kapak merah bermata dua, senjata salah satu pengeroyok menghajar punggung Pekok. Pemiliknya, Rikalawengi berjuluk Pendekar Kapak Darah menyeringai puas.


"Arghhh ...!" Pekok melenguh kesakitan.


Dan ....


Prakk!


Sebuah gada hitam sebesar lengan pria dewasa sepanjang tiga jengkal menghajar pecah kepala Pekok. Itu adalah senjata Kipala Sanga, Pendekar Gada Dari Gunung Murya.


"Adi!!!" sebuah teriakan terdengar dari arah barat.


Rupanya Rawal kembali setelah menurunkan Jaga Saksena di satu tempat yang ia rasa aman. Tetapi terlambat bagi Rawal, sebab Pekok telah tewas.


Blegh!


Tubuh Pekok ambruk dengan bergelimang darah. Tak ada kelojotan. Tak ada kejang. Pekok meninggal dunia dengan cepat.


Berdiri menghunus golok buntung, Rawal berkata dengan bibir bergetar,


"Darah dibalas darah! Nyawa dibalas nyawa!"


"Kau yang mencampuri urusan kami! Berikan bocah dalit itu maka akan kubiarkan kau bebas pergi sesukamu!" Wilantaka berkata tegas.


"Tak akan! Kalian semua harus mati di tanganku! Sapuan Rembulan Kesiangan!"


Wussst!


Wussst!


Wussst!


Menghadapi sembilan orang, Rawal tak hanya mengandalkan kekuatan tetapi juga strategi. Ia melepas serangan jarak jauh bertubi-tubi. Meski ini sangat menguras tenaga dalamnya, Rawal tidak peduli.


Namun, bukan hanya Rawal yang mampu melepas energi senjata. Sembilan pendekar pun melakukan hal yang sama.


Blarrdd!


Blarrdd!


Blarrdd!


Suara ledakan pun tak henti-hentinya terjadi. Asap membumbung mengepul bagai jamur raksasa ke udara. Tanah bermuncratan menutupi pandangan.


Rawal dari awal telah mengincar seorang pendekar yang tengah duduk memulihkan diri akibat tertebas tangannya.


Crass!


"Grokghhh!"


"Di belaka—"


Crass!


"Heghhh!"


Teriakan salah satu pendekar pengeroyok terlambat. Dua pendekar ambruk terbabat bagian leher.


Sontak saja, delapan pendekar tersisa segera melesatkan diri menjauhi lokasi pertarungan untuk keluar dari kepulan asap dan tanah. Ada yang ke barat, utara dan ada yang ke selatan.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Rawal mengejar dua pendekar yang ke utara.


"Sapuan Rembulan Kesiangan!"


Wuuts!


Wuuts!


Rawal melepas dua tebasan energi sekaligus, lalu mencelat ke depan atas untuk memberikan serangan susulan jarak dekat.


Dua pendekar yang berlari ke utara tak tinggal diam, mereka juga melepas energi serangan jarak jauh untuk menyongsong serangan Sapuan Rembulan Kesiangan.


Blarrdd!


Blarrdd!


Daya kejut ledakan menghantam dada Rawal, tetapi lelaki itu benar-benar mengamuk. Ia tetap melaju, dan ....


Crass!


Crass!


Rawal menghabisi dua pendekar dengan cepat. Tetapi Rawal harus membayar mahal sebab sebuah tombak besi pendek mendesing membokong dari belakang. Dan,


Sleb!


"Argh!"


Mulut Rawal mengeluarkan pekik tertahan akibat tubuhnya tertembus Tombak Angin Dua Musim.


"Mampuslah kau, Keparat!"


Tertembus tombak di bagian dada, Rawal masih sempat menyeringai, bergumam tak jelas, "Kau harus mati bersamaku!"


Wuutts!


Mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam dan luar yang ada, Rawal melemparkan golok buntung.


Golok itu melesat dengan kecepatan luar biasa.


Slebb!


"Hampir saja!"


Wilantaka, Pendekar Tombak Angin Dua Musim berkelit, beberapa helai rambut panjangnya sempat terpotong, bahkan desiran golok membelah udara sangat jelas terdengar di telinganya.


Tidak dengan salah satu pendekar yang tengah berlari hendak menghampiri Wilantaka dari belakang, dia mati langkah. Golok buntung Rawal menghunjam tepat di jantungnya.


Bersamaan dengan menghunjamnya golok buntung ke dada pendekar di belakang Wilantaka, Rawal tumbang, nyawanya melayang saat itu juga.


Brugh!


"Pamaaaaan!"


Saat tubuh Rawal jatuh menghantam tanah berumput, sebuah teriakan terdengar pilu. Teriakan dari seorang bocah yang berlari kencang dari arah barat.


Segera Wilantaka dan yang lain menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka lantas saja berbinar.


"Manusia biadab! Kalian telah membunuh dua orang yang telah berbuat baik kepadaku. Kubunuh kaliaan semuaaaa. Hyaaaaa ...!"


Masih dalam larinya, bocah itu berteriak keras. Menghampiri Wilantaka, si bocah ayunkan kapak batu.


Sett!


Thak!


Wilantaka berkelit sekaligus melesakkan sebuah totokan ke urat pangkal leher si bocah.


"Hahaha!" Wilantaka tertawa. "Ular mendatangi pentungan! Tak perlu lagi kami susah-susah mencarimu, Bocah Dalit!"


"Hahahaha!" Lima orang pendekar tersisa tertawa bergelak serentak.


Usai puas tertawa, Wilantaka berkata,


"Sepertinya bocah ini membawa sial. Sebaiknya kita bawa hidup-hidup saja ke Raden Bakintal!"


"Benar! Aku setuju! Gegara dia, lihatlah tujuh pendekar tewas!" sambut Yakatan Pendekar Pedang Hitam Penguasa Malam.


"Aku tidak setuju, kita bunuh saja daripada merepotkan nantinya!" sanggah Sakawala, Pendekar Celurit Perak.


"Dua setuju, satu tidak setuju. Bagaimana menurutmu Lurd Kipala Sanga dan Lurd Rikalawengi?" Wilantaka meminta pendapat dua pendekar lain.


"Menurutku, dengan menyerahkan hidup-hidup lalu menceritakan pengorbanan kita untuk mendapatkannya, kita bisa meminta bayaran tambahan dari Raden Bakintal!" jawab Rikalawengi, Pendekar Kapak Darah.


"Setuju! Lihat! Luka-luka ini perlu siraman arak dan jilatan manja para gadis-gadis sewaan!" Kipala Sanga menunjukkan luka-lukanya.


"Kau tidak perlu menunjukkan lukamu, Kipala Sanga! Kita semua mendapatkannya bukan?!" Yakatan mendengus kesal.


"Apa salahnya, Yakatan?! Kita harus memanfaatkan ini sebaik mungkin!"


"Tapi tidak perlu berlebihan, kita pendekar! Luka seperti ini hal biasa!"


"Sudah hentikan," Wilantaka menengahi. "Hari telah senja. Karena yang setuju empat orang maka kita bawa bocah ini hidup-hidup."


Wilantaka melepas kapak di tangan Jaga Saksena lalu menyelipkan di pinggangnya kembali sebelum memanggul tubuhnya ke atas pundak.


"Mari kita berangkat ke rumah Raden Bakintal!"


Wilantaka menghampiri jasad Rawal untuk mengambil senjatanya lalu berlari ke arah timur diikuti empat pendekar lain.


***


Dukung author dengan klik tombol Hebat di bawah, lalu klik juga Favorit, Hadiah dan Vote.


Hadiah bisa melihat iklan gratis (modal kuota).


Bantuan pembaca sangat berarti bagi author.


Terimakasih ...