
Bab. 100
Sebulan telah berlalu semenjak
pertunangannya dengan Aby.
Rumah terasa sepi setelah Kantor
XPostOne pindah dari Rumahnya.
Semua Management telah di rubah,
sesuai permintaan Dy.
Dy menaiki tangga ke lantai dua,
tidak terasa air matanya jatuh membasahi Pipi. Bayangan Dilan merajalela memenuhi kalbunya.
Dy duduk dikursi di mana dulu
Dilan sering duduk. Penyesalanya
atas sikapnya yang dulu pernah
Dy lakukan kepada Dilan membuat
Dy tambah sedih.
"Non ada tamu," kata Bibik yang
sudah ada di sampingnya. Dy
menghapus air matanya bangun
dari duduknya.
"Siapa Bik?" tanya Dy pelan.
"Bibik tidak tahu Non," Dy turun di
ikuti oleh Bibik. Di bawah sudah
ada Ibunya Dilan dan seorang
laki-laki paruh baya.
"Owh Ibu, ada apa Ibu datang?"
tanya Dy menyalami Ibu dan
dan Bapak yang memandang Dy
dengan tersenyum.
"Kenalkan Saya adalah Om nya
Dilan, Adik Ibu. Kedatangan Saya
kesini tidak lain untuk meminta
Non Dy sudi menerima atau
mengajak Ibu tinggal disini.
Karena setiap saat Ibu menangis
ingat dengan Nak Dilan," ungkap
Om Iklas dengan terbata-bata.
Dy ingat sewaktu di Rumah Sakit,
Om Iklas ini pernah mengusirnya,
memakinya dengan kasar. Waktu
itu Dilan masih di Ruang ICU.
"Saya pribadi tidak menolak Ibu,
malah Saya senang Ibu berada
disini, tapi Saya ingin tahu kenapa Ibu ingin disini,"
"Ibu ingin dekat dengan calon
Cucu Ibu," sahut Ibunya Dilan.
"Darimana Ibu tahu Saya telah
mengandung Anaknya Dilan,"
"Dilan pernah bercerita kepada
Ibu, sewaktu Dia meminta restu
untuk menikahimu," sahut nya
lirih. Air mata nya mengalir ingat
akan Anak semata wayangnya.
Dy diam terharu, tentu Ibunya
Dilan sangat mengharap Cucu
dari Dilan. Perkawinan Dilan
dengan Mila kurang harmonis.
"Ibu boleh memilih Kamar disini,
diatas semua kosong," kata Dy
memandang Ibunya Dilan.
"Aku ingin di samping Kamar Bibik
supaya ada teman," sahutnya.
"Dimana boleh yang penting Ibu
nyaman," kata Dy.
"Terimakasih Non Dy, semoga Ibu
betah disini. Saya sangat sedih
melihat Ibu setiap hari menangis.
Dan Saya juga mengingatkan,
bahwa Ibu punya sakit Deabetes
dan Kolestrol," kata Om Iklas.
"Ya Om, disini ada Dokter yang akan
mengurusi Ibu, jangan khawatir,"
"Kalau begitu Om permisi dulu,"
sahut Om Iklas.
"Om ini sudah siang, makanlah dulu
Bibik pasti sudah menyiapkan,"
kata Dy.
Dengan agak sungkan Om Iklas
membawa tas besar milik Ibunya
Dilan ke Kamar belakang. Bibik
dengan ramah menjamu Ibunya
Dilan dan Om Iklas. Percakapan
mengalir santai, Dy merasa ada
sinar mata bahagia di Wajah Ibu
nya Dilan. Kesepakatan sudah
terjadi, bahwa calon bayi.yang
di Kandung Dy adalah cucu nya.
ROMERO HOTEL
Siang ini Aby di landa kecemasan
yang dalam. Kedatangan Ghama
dan Vivi membuat dirinya serasa
berada di ujung tanduk. Sedikit
saja Dia salah mengambil jalan
semuanya akan hancur.
"Aku minta 25% saham dari Hotel
ini. Selama ini Aku belum mendapat
bagian harta dari Keluarga Romero
Sebagai anak kandung yang tertera
dari Kartu Keluarga, Aku harusnya
mendapat warisan sama denganmu.
Dan satu lagi, Rumah Kita sudah
Aku jual," kata Ghama pongah.
"Ini warisanku dan ada saham Dy
disini, jangan mencoba mengambil
apa yang bukan milikmu," kata Aby
kesal.
"Jangan memaksaku berbuat yang
akan Kamu sesalkan seumur hidup,"
"Pergi Kamu dari hadapanku atau
Scurity akan menyeretmu keluar,"
teriak Aby marah.
"Atau Kamu Aku seret ke Kantor
"Aku tidak takut," kata Aby sambil
mengusir Ghama dan Aby.
Persoalan jadi berbeda ketika. Vivi
melempar beberapa foto diatas
Meja Aby. Foto itu sangat jelas
sekali memperlihatkan bagaimana
seorang laki-laki mendekati Dilan
dan memaksa Dilan untuk menghiruf
Bunga yang sudah berisi racun.
"Aku akan mencari Pengacaraku,"
kata Aby jengkel dan sangat marah.
Dia tidak menyangka kalau Ghama
serendah itu. Rasa persaudaraan
nya lenyap seketika.
"Hati-hati membawa diri, Aku tidak
tahu kalau mabuk. Aku tidak bisa
membedakan antara celurit dan
belati," ancam Ghama serius.
Sepeninggal Ghama Aby langsung
menghubungi Agung. Sekarang
Agunglah yang menjadi Pimpinan
di XPostOne.
"Agung Aku ada masalah besar,"
Kata Aby berusaha mengatur nafas
nya yang memburu.
"Okee..Aku akan datang," sahut Agung
di seberang sana. Kemudian ponsel di matikan.
Jelita yang sedari tadi duduk di
samping Agung langsung berdiri.
"Mau kemana Sayank?" tanya Jelita
menatap Agung.
"Kamu Jaga dulu Kantornya, Aku
akan ke Romero Hotel menemui
Aby, jangan Kamu cerita sama Dy
karena Aku belum tahu masalah
yang sebenarnya," kata Agung.
"Semoga tidak ada masalah yang
serius, kasihan Dy," sahut Jelita.
Agung kemudian pergi menaiki
Mobil Lamborghini milik Kantor.
Semenjak pindah Kantor dari
Rumah Dy, Agung tidak sempat
menengok atau sekedar calling
Dy atau Aby, karena kesibukan
Yang sangat padat. Mencari
Agen baru sangatlah sulit.
Mobil Lamborghini itu melaju
kencang, menyusuri jalan yang
padat. Siang ini udara sangat
panas, lamborghini itu masuk
ke Basement setelah melewati
Gardu Scuruty.
Agung langsung menuju Kantor Aby. Asisten Manager Aby menyambut nya dengan ramah dan mempersilahkan Agung masuk ke Ruangan JM.
"Silahkan Gung," ajak Aby menuju
Ruang Tamu.
"Minum dulu, Asistenku, sibuk
menyiapkan ini semua setelah
Aku mengatakan tamuku hari
ini adalah Kamu," kata Aby.
"Masih juga bisa bercanda, katakan
terus terang apa yang terjadi," ujar
Agung.
Kemudian Aby bercerita dengan
gamblang apa yang terjadi dari
awal Dilan di Rumah sakit, sampai
tadi Dia diancam oleh Ghama.
Agung tidak begitu kaget, sebagai
Agent yang terlatih Agung sudah
tahu kematian Dilan tidak wajar.
"Aku menjadi serba salah dan Aku merasa sangat berdosa kepada
Dy yang begitu baik kepadaku.
Aku mengerti Dy tahu segalanya,
tapi Dy sengaja menutup kuping
dan matanya," kata Aby.
"Akupun tahu itu, seperti bunyi pepatah sebagus-bagusnya menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium juga," sahut Agung yang sebenarnya jengkel ketika
tahu kematian Dilan tidak wajar.
Dia diam karena rasa sayangnya
sebagai teman kepada Dy membuat Agung menyimpan kecurigaannya.
Dan mengikuti kemana arus membawanya. Tapi kini arus yang
di ciptakan oleh Dy terpaksa akan
terhenti.
"Apakah Dy boleh tahu," kata Agung
memandang wajah Aby yang pucat
menahan takut.
"Aku sangat kasihan kepada Dy,
apalagi saat ini Dy lagi hamil.
Seperti buah simalakama, Aku
serba salah," sahut Aby pelan.
Ada rasa pasrah yang terlihat
dari sinar matanya.
"Aku akan pelan-pelan memberitahu
Dy, Aku juga ingin ada yang menjaga
mu, tapi tidak ada Agent semua lagi bertugas di luar," kata Agung.
"Mungkin Dy akan Aku ajak di sini untuk menemaniku," kata Aby.
"Hanya Tuhan yang bisa menolong
Kita disaat cobaan itu datang, mari
Kita bersama berdoa kepada NYA,
semoga cobaan ini cepat berlalu,"
kata Agung menatap Aby, dulu Dia
pernah tidak suka kepada Aby, tapi
sekarang rasa perlahan hilang.
Manusia bisa berubah dengan
berjalannya waktu dan dengan
bertambahnya usia. Agung kini
dihadapkan dengan masalah
pelik yang bisa membuat Dy
kembali terjerembab jatuh.
******