I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
DIBUNTUTI



Bab.51.


Suara dari Joel Adams dengan lagunya please don't go mengiringi perjalanan Dy menyusuri Jalan seputaran Kuta.


Ini adalah hari ke 3 Dy membuang umpan, tapi sosok Mr Chaow belum kelihatan.


Dy merubah arah ke Seminyak, kemudian membiarkan Mobilnya menyusuri jalan menuju Tanah Lot.


Perasaannya mengatakan ada orang yang memanfaatkan nama Mr Chaow dengan cara membawa Coklat, Bunga atau Minuman khas Thailand. Tapi nanti dulu, sebuah Mobil Fortuner mengikutinya.


Dy cepat banting setir dan mengikuti jalan persawahan supaya lebih sepi. Dy ingin tahu siapa yang usil selama ini, tapi kalau memang Mr Chaow yang membuat ulah, tidak mungkin dia akan mencelakakan dirinya. Mr Chaow sangat mencintai dirinya.


Dy sengaja mempercepat laju Mobilnya, ingin tahu apakah Mobil


di belakang mengikutinya. Ternyata benar, malah Fortuner itu semakin kencang.


Kebetulan jalan ini jarang dilewati,


jadi tidak ada hambatan untuk mengeluarkan salah satu dari ke 5 senjata yang ada di badan Mobil sekiranya di perlukan.


Tiba-tiba saja peluru mengenai kaca belakang mobilnya, untung Mobil sudah di Modiv, semua kaca sudah anti peluru. Mobil Fortuner semakin dekat dan Mereka terus memberondongkan Pistolnya ke Body Mobil.


Dy yakin ini bukan Mr Chaow, tapi gerombolan pengacau. Seseorang yang menginginkan kematiannya.


Tidak ada jalan lain, akhirnya Dy memencet tombol merah.


Sebuah bom terlontar dari corong knalpot double racing yang telah


di rancang sedemikian rupa.


Corong ini hanya seni Modiv yang diisi peluru pelontar semacam Bom TATP atau bom yang sangat mematikan.


Bom berjenis Three Asseton Three Poropsaid (TATP) ini memiliki daya ledak yang sangat dahsyat dan bisa  kuat, serta sifat bahan kimianya yang sangat sensitif dan mudah meledak apabila terkena panas, tekanan atau gesekan, listrik statis, ataupun radiasi ultraviolet.


Bom pelontar itu mengenai sasaran


dan Mobil Fortuner itu, terlempar 100 meter kebelakang.


Suara ledakan menggema di persawahan.


Kobaran api membumbung tinggi membuat orang-orang pada penasaran.


Dy menancap gasnya menuju jalan Raya, tugas hari ini tidak memuaskan, karena belum tahu siapa lawan. Tangkapan layar dari Mobil sepertinya orang-orang yang menembaki Mobil Dy, adalah orang lokal.


Siapapun yang mengirim Mereka pasti sudah memperhitungkan akibatnya.


Siang beranjak Sore, jalan mulai padat karena orang-orang mulai pulang kerja. Dy sekarang sudah memasuki kawasan Kota Denpasar. Perasaan galau membuat Dy memperlambat jalan Mobilnya.


Suara ponsel dari Dilan mengganggu khayalannya.


Dy memakai headset bluetooth ketika Dilan menelponnya.


" Yank bagaimana keadaanmu?". Tanya Dilan cemas. Sensor Mobil pasti sudah mengirim data ke Beck tentang peristiwa tadi.


" Baik, cuma Mobil saja yang kena


tembak". Sahut Dy.


" Langsung pulang jangan isi singgah


ke Hotel ". Kata Dilan menutup ponselnya.


Dy tersenyum karena sudah 3 kali


singgah di Hotel menemui Aby.


Tentu saja Dilan tidak berani marah karena ada Beck.


Sebenarnya Dy menemui Aby bukan karena ingin kembali seperti tuduhan Dilan, karena ingin memastikan siapa yang sering membawa segala hadiah kerumahnya.


Dy membelokkan Mobilnya ke Restoran cepat saji. Memilih pelayanan Driver true, supaya praktis. Tanpa sengaja Dy memperhatikan bule-bule yang duduk


di dalam resto, Jantung Dia berdegup melihat ada Gama didalam duduk sendiri.


Dy langsung mengurungkan memesan


Makanan dan memilih meluncur ke parkiran Mobil. Dengan cepat Dy turun dari Mobil menemui Gama dan duduk di kursi di depan Gama.


" Gama... bagaimana khabarmu?"


Suara Dy mengagetkan Gama. Tapi


Gama sepertinya cepat menguasai diri dan tersenyum tipis kepada Dia.


"Hee Dy...ada perlu apa?". Dy merasa


Aneh dengan sikap Gama yang cuek


dan dingin.


" Tidak ada apa, Aku cuma kebetulan


lewat ". Sahut Dy menatap Gama.


Badan Gama sepertinya lebih berisi dan agak ke coklatan. Wajahnya kelihatan seperti orang yang kurang tidur. Agak sembab sedikit. Dan yang paling aneh adalah tatto di tangan Gama.


Dy akhirnya karena Gama tidak me respon kehadirannya. Gama cuma mengangguk dan tersenyum sinis


ketika Dy berlalu. Dy tidak habis


pikir terhadap perubahan Gama,


sebagai Intelijen tentu Dy tahu bahwa Gama "pemakai". Kalau melihat dari wajah Gama sepertinya Gama memakai ganja.


Gara-gara melihat Gama Dy tidak


Jadi memesan makanan cepat saji.


Sepanjang perjalanan pulang pikiran


Dy tertuju kepada Gama.


Apa yang menyebabkan Gama berubah menjadi begitu, sedih Dy melihat Gama yang sekarang.


Dy akhirnya membelokkan Mobilnya ke Pepito untuk membeli beberapa Roti. Disini Roti nya enak-enak, biasanya kebanyakan Bule yang datang. Jangan ditanya harganya, karena harga mengikuti kualitas.


Dilan sudah memasang wajah kecut ketika Dy datang.


" Apakah Mobilmu jalannya seperti keong, sehingga perjalanan yang harusnya Kamu tempuh 1.5 jam menjadi 3 jam". Semprot Dilan.


Dy cuek saja malah celingukan mencari Beck.


" Yank...Papaa mana?". Tanya Dy mencari Beck seraya duduk di meja makan.


" Beck lagi mandi!. Atau Kamu mandi dulu". Saran Dilan mengambil roti


dari tangan Dy.


Dilan menaruh Roti di atas Meja


Makan. Serta mengambil piring dan pisau potong.


Dengan rapih Dilan menata roti


sesuai varian rasanya.


" Mau pakai madu apa kuah Kari?". Tanya Dilan ketika melihat ada roti gandum.


" Dulu Aby bikinin Aku Burger yang ....".


" Suruh Dy bikinin!". Potong Dilan menaruh rotinya. Hatinya kesal terhadap Dy yang selalu membandingkan dirinya dengan Aby. Mulut Dy langsung diam.


Dulu juga Aby sering ngambek kalau Dy memuji Dilan di depan Aby.


" Yank, Aku heran sama pikiran Kamu dan Aby. Dulu Aku sering memujimu di depan Aby dan Aby sering marah-marah, sekarang Kamu yang marah kalau Aku ngomongin Aby. Kalian para lelaki maunya apa. Aku khan cuma membandingkan, Aku jadi heran". Sahut Dy membuat Dilan tambah kesal.


Dasar Anaknya Beck ngomong seenak perutnya. Mana ada orang mau dibandingkan dengan Rivalnya.


" Ya sudah Aku mandi dulu, Kamu sekarang berbeda sering marah, tidak seperti dulu". Sambung Dy berdiri masuk ke Kamarnya.


Dilan tidak menjawab dan


membiarkan


Dy pergi begitu saja.


Hati kecilnya juga mengatakan bahwa akhir-akhir ini dirinya sering marah, karena dibawa rasa cemburu.


" Taraaa...Aku datang, Papaa...Aku terpaksa melontarkan Bom itu". Kata Dy memeluk Beck dan mengecup pipi Beck.


" Tidak apa-apa, kalau terpaksa, nanti


Papa akan mengurus dengan Aparat.


"Tapi kalau Kamu meluncurkan Bom pelontar yang sejenis ini, jarak antara Mobilmu dengan Target sekitar 1 kilo meter. Kecuali Kamu memencet tombol merah Xp.2 baru boleh berjarak 300 meter, karena berbentuk peluru besar khusus untuk menembak Mobil pengacau". Jelas Beck.


" Aku ragu karena belum pernah memakai Peluru Mobil ". Sahut Dy sambil duduk di samping Beck.


" Tidak apa-apa, cuma akibatnya sangat fatal. Aku sudak meneliti Vidio mini dari kejadian ini, sepertinya ada sekitar 4 prang


didalam Mobil termasuk Sopir.


" Boss silahkan, Burgernya sudah jadi".


Kata Dilan menaruh 3 burger dan 3 cangkir Cappucino kocok.


" Yank, ternyata Kamu bisa membuat Burger seperti Aby ". Kata Dy mengambil Sebuah Burger. Muka Dilan langsung merah mendengar kata Aby.


" Dy... makan sajalah, tidak baik ngomongin Aby sementara ada Dilan".


Tegur Beck. Dy langsung manyun.


" Paa. Aku ketemu Gama di Restoran cepat saji. Beda banget Gama sekarang. Tattoan, seperti "make". Kata Dy sambil makan Burger.


Dilan kaget, tapi Beck seolah sudah tahu.


***