
Bab.109.
Dy berontak ketika Yudha berusaha memeluknya, tapi tenaga Dy kalah
kuat dengan dekapan Yudha.
"Kamu jangan berontak kasihan yang
ada di perutmu, Aku akan marah kalau terjadi sesuatu," kata Yudha lembut.
"Aku mau melihat Aby, perasaanku
tidak enak, apa pedulimu denganku
Aku benci Kamu," sahut Dy. Air mata
nya terus mengalir, Dia tidak tahu
kenapa Dy begitu sedih.
"Minumlah, supaya Kamu tenang,
tidak akan terjadi sesuatu kalau itu
bukan takdir nya, tapi kalau sudah
takdir, biar satu pleton menjaga,
pasti takdir itu akan mencarinya,"
kata Yudha berdiplomasi.
"Apa maksudmu, Aku bertambah
curiga terhadapmu, Aku ingin WA
Agung," kata Dy menghapus air
matanya.
"Kamu harus minum Teh hangat
supaya Kamu bisa rileks," kata
Yudha berdiri menuju kitchen.
"Yudha, mana GSM mu, Aku mau
melihat apa yang terjadi," pinta
Dy tidak sabar.
"Dibawa sama Agung, Kamu tunggu
disitu, sebentar lagi Agung pasti
datang, atau Kamu telpon Agung,"
"Yaya...," Dy mengambil Ponsel nya berusaha menghubungi Agung tapi
ponsel Agung sibuk terus.
- Agung, apa yang terjadi, Aku disini
bingung karena Kamu tidak datang.
Aku di tahan sama Yudha, padahal
Aku ingin ke Kantor Aby. Tolong
balas WA ku, supaya Aku tenang--
kirim.....
Tidak di balas tapi dibaca, Dy jadi
tambah curiga. Tidak biasanya
Agung begitu, sesibuk apapun
Agung belum pernah Dia begitu.
"Tidak bisa di hubungi?" tanya
Yudha duduk di samping Dy.
"WA ku di baca tapi tidak dibalas,
Aku menjadi curiga," sahut Dy putus
asa. Pikirannya penuh kecurigaan,"
"Minum dulu, nanti juga Agung akan membalasnya. Mungkin saja Agung
lagi sibuk, Aku akan menelponnya,"
kata yudha.
"Aku rasa Aby sangat beruntung
mempunyai Tunangan seperti
Kamu yang Kaya dan baik hati,"
kata Yudha memandang Dy.
"Aku merasa Aby rugi bersamaku,
karena Anak ini adalah Anak Dilan
Sedangkan Aku mencintai Dilan,
dan pertunanganku sekarang ini
kurang harmonis, Aby selalu
mengungkit masa laluku," sahut
Dy menunduk.
Percakapan Mereka terpotong karena ketukan di Pintu. Yudha
cepat berdiri dan membukakan
pintu. Dua orang Polisi masuk.
"Selamat siang Pak, bisa bicara
dengan Nona Valuma Uvassa,
atau Nona Dy," tanya seorang
Polisi dengan sopan
"Saya sendiri Pak Polisi, silakan
duduk dulu," sahut Dy.
Polisi itu duduk sambil matanya
menyapu semua yang ada disitu.
"Maaf Nona Dy, Kami terpaksa
membawa Anda ke Kantor Polisi
untuk di mintai keterangannya,"
kata Polisi sopan.
"Maaf Pak Polisi ada apa ya,"
sahut Yudha cepat.
"Terjadi penembakan di Ruang
Bapak JM dan Korban sekarang
berada di Rumah Sakit," kata
Bapak Polisi.
"Siapa korbannya Pak?" Air mata
Dy sudah mengalir. Pirasat nya
tidak meleset. Yudha dengan cepat memberi tissue dan menenangkan
Dy yang lagi sedih, ingin rasanya
Yudha mendekap Dy, namun ada
Polisi yang haus informasi.
"Sebaiknya Kita ke Kantor Polisi
ke Bareskrim nya, korban sekarang berada di Rumah Sakit Bhayangkara,"
tegas Polisi itu.
"Saya sebagai temannya Nona Dy
akan mengantarnya sampai di
Kantor Polisi, mohon di beri waktu
sebentar untuk berganti pakaian,"
Pinta Yudha sopan.
"Silahkan ...," sahut Pak Polisi.
KE RUMAH SAKIT
Perjalanan dari Hotel ke Kantor
Polisi tidak begitu jauh, tapi hari
ini Dy mau cepat-cepet sampai
di Kantor Polisi dan ingin tahu
apa yang sedang terjadi. Yudha
Yang menyetir tidak mau ngebut
karena Pak Polisi berada di depan
Mereka dengan laju Mobil sedang.
"Apapun yang nanti terjadi jangan
Kamu panik dan nervous, kuasai
yang Kamu tahu," pesan Yudha
tenang.
"Aku merasa Kamu tahu sesuatu
yang Aku tidak tahu, dan Aku punya
Filling Kamu ada di balik musibah
yang terjadi," kata Dy menatap
Yudha.
"Kamu selalu menuduh Aku, Kita
lihat kenyataan, Alibiku sangat
kuat. Kamu adalah seorang Agent
yang pintar, anaknya Beck quay,
koq bisa menuduhku dimana akal
sehatmu,"
"Karena Aku anaknya Beck lah,
sehingga tahu ada bau musuh di
sampingku,"
"Kenapa omongan itu Kamu tidak
lontarkan kepada Aby ketika Dilan
di bunuh?, apa bedanya Aby dengan
Dilan. Karena Aby sepupumu dan
Dilan adalah orang miskin yang
tidak perlu di perjuangkan nasibnya.
Aku tidak mengerti pikiranmu,"
Kata Yudha suaranya meninggi.
Pernyataan Yudha membuat hati
Dy terluka. Waktu kejadian itu Dy
hanya menurut kepada Temannya
di XPostOne. Tidak ada pikiran
apapun karena Dy sangat sedih
atas kejadian itu.
Apalagi setelah kejadian itu Aby
mulai menghiburnya dan Admesh
tanpa membuang waktu langsung
meresmikan pertunangannya.
Dy menghapus air matanya dan
menarik nafas panjang.
"Aku ingin tahu bagaimana Kamu
bisa secepat itu jatuh ke pelukkan
Aby, padahal Pusara Dilan masih
Merah. Sungguh Aku tidak tahu
Apakah Aku harus bertepuk tangan
memujimu atau murka karena
ketidak setiaanmu," lanjut Yudha
kesal.
"Yudha cukup!! jangan menjudge ku
Aku tidak sehina itu. Sampai hari ini
Aku masih mencintai Dilan," Sahut
Dy lirih.
"Aku tidak tahu soal cintamu, karena
cinta tidak perlu di diomongkan tapi
di Diaplikasikan lewat perbuatan,"
"Aku tidak punya contoh nyata yang
bisa Aku tunjukan pada orang, biarlah
orang menilai ku yang jelas sampai
saat ini Aku tidak pernah disentuh oleh Aby selama Aku menjadi tunangannya.
Dan Aku bersyukur, karena Aku masih
menata hatiku yang hancur,"
"Aku tidak percaya," sahut Yudha
membelokkan Mobil nya. Mereka
sudah sampai di Kantor Polisi.Yudha membantu Dy turun dari mobil dan
menggandeng tangannya layaknya
seorang kekasih.
Dua pasang mata terus memandang
nya dari jauh. Kecurigaan Mereka
kepada Yudha sangat beralasan.
Seorang agent akan mempelajari
bahasa tubuh dari temannya.
"Agung, Kamu juga berada disini?"
tanya Dy heran mendapati Agung
dan Jelita berada di depannya.
"Bagaimana keadaanmu?, tenangkan
dirimu, apapun yang terjadi," kata
Agung menepuk bahu Dy.
"Aku tidak mengerti apapun, tolong
kasitahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kamu tidak bisa di hubungi,"
"Tenang lah Dy, nanti Jelita akan menemanimu di dalam. Polisi akan
menceritakan segalanya. sekarang
masuklah, Polisi sudah tahu Kita
dari XPostOne," kata Agung lagi.
Dy cuma mengangguk, Polisi sudah.
memanggil Dy, Jelita ikut menemani
nya. Agung seketika menarik tangan
Yudha diajak menjauh, ketempat sepi.
"Aku tidak tahu siapa Kamu, saat ini
Aku menyesal menerima Kamu di
XPostOne," kata Agung menohok.
"Aku sudah tau perkataan itu yang
akan Kamu lontarkan Makanya Aku membuat Alibi secanggih mungkin, karena Aku tahu tidak ada orang
peduli denganku. Sangat berbeda
sekali penanganan XPostOne
terhadap Dilan, waktu itu Polisi tidak tampak, sekarang Polisi menyeret
Orang lagi mengandung," sahut Yudha
kesal.
"Aku akan menyeret mu ke Jeruji
besi, Kamu bangkit untuk membalas
dendam,"
"Seret Aku ke Neraka dengan semua
Agent XPostOne yang telah membuat
seorang wanita menjadi psychopath,"
kata Yudha pedas.
"Apa maksudmu?, Kamu bukan Dilan
tapi orang gila yang haus darah," kata
Agung kesal.
*******