
Bab.97
Semenjak penjagaan terhadap Dilan diambil alih oleh keluarga Dilan, kesempatan untuk menjenguk Dilan tertutup rapat.
Mereka seperti sepakat memusuhi XPostOne secara sepihak.
Kerinduan yang mendalam kepada Dilan membuat Dy dan teman-temannya secara sembunyi-sembunyi pergi kerumah sakit dengan penyamaran. Hari ini giliran Dy dan Dina akan datang dengan menyamar sebagai Dokter. Mereka sengaja memakai topeng Latex dan Wig. Untuk menyempurnakan penyamarannya Dy dan Dina melengkapi dirinya dengan Stetoskop serta Jas Dokter berwarna putih.
Turun dari lamborghini Dy dengan mantap menuju ke ruang ICU, tapi belum kakinya menginjak ruang ICU, Dy dan Dina sudah merasa ada ke panikan di tempat Dilan. Perasaan Dy langsung tidak enak, dadanya berdebar kencang. Sesuatu telah terjadi. Bathinnya. Dy berusaha menguasai dirinya supaya tidak ikut panik.
"Ingat loe lagi menyamar," kata Dina
memperingati Dy yang mulai terpancing emosi.
"Kita keruang tunggu, terlalu riskan
disini," ajak Dina menarik tangan Dy.
Baru Mereka duduk terdengar teriakan istris dari ruangan Dilan. Mila dan Ibu Dilan meraung sedih ketika Dokter mengatakan bahwa Dilan tidak bisa di selamatkan.
Dina cepat merengkuh tubuh Dy yang linglung. Air mata Dina dan Dy membanjir tidak tertahan.
Ya Tuhan cobaan apakah ini yang sangat menghancurkan harapanku?.
Hatiku hancur dan terurai menjadi debu. Separuh Jiwaku melayang bersama berlalunya jasad Dilan.
Dy terpaku tak bergeming, ingin Dy berlari untuk mengejar jantung hatinya, tapi apa daya, kakinya seolah tidak menginjak tanah.
Dy merasa terjerembab jatuh kedalam jurang yang dalam...tersandung tajamnya tebing...sangat menyakitkan
tergores dan berdarah...
Kemudian hening!! Sirine Ambulans itu sudah berlalu...menjauh..
"Kita pulang, nanti kita ramai-ramai ke
Rumah Dilan," ajak Dina memapah tubuh Dy yang lunglai.
Tidak ada keinginan berdiam atau pergi....rotasi seolah terhenti.
Tulang belulangnya terasa lepas, tapi
akhirnya perjalanan harus dilanjutkan.
Dy mengayunkan langkahnya dengan perasaan hampa, tidak ada yang harus ditunda. Hidup harus terus berlanjut.
Orang yang menangis atau meraung di Rumah sakit, itu adalah pemandangan yang biasa. Sirine ambulans yang mengantar orang sakit atau yang membawa jenazah juga hal biasa. Tidak akan ada yang peduli kepada
semua itu. Begitupun hari ini tidak ada yang peduli tentang apa yang dialami Dy, semua orang acuh kepada Dy yang meratap sedih, karena mereka juga sibuk dengan kesedihannya.
"Gue yang nyetir." kata Dina mengambil kunci Mobil.
Dy duduk di jok mobil dengan lemas.
Air matanya terus mengalir tanpa
berhenti.
"Buka topeng latexnya supaya kamu lega." kata Dina menatap Dy.
Dina juga membuka topeng lateknya dan Wig. Serta menghapus wajahnya dengan tissue basah.
Mobil keluar dari Rumah Sakit, ada perasaan hampa di dalam hati, menghujam dan mengoyak sanubari. Dina memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
Keinginannya cuma satu, cepat berkumpul dengan teman XPostOne dan melayat ke Rumah Dilan.
DI KEDIAMAN DILAN
Ucapan berbelasungkawa terus mengalir dari segala penjuru Dunia. XPostOne berduka, Ini kedua kalinya Dy mengalami kedukaan yang mendalam. Hari ini Dy, Agung, Fery, Jelita dan Dina mengikuti prosesi pemakaman Dilan. Juga hadir Team medis XPostOne untuk berjaga-jaga karena kondisi Dy yang mengkhawatirkan. Banyak pelayat yang mengantar Dilan ketempat peristirahatan terakhir.
Suasana duka sangat terasa, ke garangan Ibunya Dilan tidak terlihat lagi. Badan tuanya telah ambruk tak berdaya. Tapi Mila tidak begitu kelihatan sedihnya. Senyumnya tetap mengembang penuh makna.
XPostOne menyerahkan santunan yang lumayan besar kepada Mila sebagai istrinya.
Dy menyenderkan badannya didada Dina. Sepasang mata terus memperhatikannya. Agung merekam semua prosesi pemakaman Dilan sebagai kenangan terakhir.
Saat jasad Dilan di masukkan ke liang lahat badan Dy ikut ambruk.
Nyawanya seolah ikut melayang.
Team dokter cepet tanggap dan membawa Dy ke Ambulans.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya
Agung sangat khawatir.
"Tensinya turun, kami akan mengajak Dy ke Klinik." Saut Dokter Arta.
"Ya Dok, silahkan Aku minta yang terbaik untuk Dy," kata Agung.
Terlihat Wajah-wajah teman XPostOne sangat lelah, sinar mata mereka semua layu, tidak ada senyuman dibibir mereka, atau sekedar mengerling. Tamparan kedukaan merajalela disanubari mereka. Sungguh kebahagiaan itu sulit diraih.
Dy duduk terpaku di sofa, menatap senja yang mulai turun. Makanan yang ada didepannya, tidak disentuh sama sekali.
Agung dan Jelita ikut terbawa dalam khayalan ilusi yang tak terbatas.
Fery menatap layar yang menyuguhkan keadaan Dilan pada saat di Rumah sakit sampai ke Pemakaman.
Aku merenung sepi dalam pesona gundukan tanah merah mu
Bertabur harumnya mawar merah setaman
Muara kasih yang pernah menyapa
Telah pudar bersama takdir yang membawamu pergi jauh dan tak
mungkinkembali
Kini Aku menyulam rindu di jiwa dalam sunyinya lara
Jiwaku melata dalam kesengsaraan
Aku mengais setiap kenangan
Di antara serpihan duka
Walau senja terus berganti
Senyummu tetap terpatri dalam
benak malamku
Asratku terus meronta
Dalam bilik-bilik jiwaku
Tuk mencari bayangmu di balik khayalan
Dibalik bias-bias mimpiku
Aku mengharap kehadiranmu
Ku untai sebait doa untukmu kekasih
Aku menangis dalam kesendirian
Aku merasa hidupku sudah hancur
Menjadi debu....
Terurai dalam tanah merah mu
"Agung, Aku melihat keganjilan disini," suara
Fery mengagetkan lamunan Dy.
"Apa maksudmu Fer, " Agung sontak berdiri.
Jelita dan Dina juga ikut menatap layar.
seorang laki-laki memakai masker dan kaca mata hitam setiap hari datang membawakan Dilan Bunga mawar putih. Yang membuat mereka heran adalah Bunga itu selalu di dekatkan ke hidung Dilan sebelum di letakkan di ruang tunggu. Yang lebih aneh orang itu selalu meraba-raba meja dan seolah sudah curiga adanya cctv di sekitar sana.
laki-laki itu sangat sulit di kenali, kepalanya memakai topi eiger.
"Apakah di antara Kita ada yang kenal dengan laki-laki ini?, Aku merasa ada maksud jahat dihatinya," kata Fery memperbesar gambar.
"Aku tidak pernah melihat, lagi pula semua muka hampir tertutup. Badannya kelihatan gemuk, atau Jaket nya yang membuat dia
kelihatan gemuk," sahut Agung menatap gambar laki-laki itu.
"Laki-laki ini seperti mantan Intelijen, makanya dia tahu cara menghapus jejak.
sarung tangannya dari latex." kata Jelita.
"Maaf Dy, Kamu adalah senior Kami dan ilmunya lebih unggul, tolong beri masukan sedikit tentang laki-laki yang berada
di layar ini," kata Agung menghampiri Dy.
Dengan malas Dy terpaksa berdiri dan ikut
menatap layar. Mata Dy menjadi nanar, rasa
marahnya cepat Dy sembunyikan.
Topi eiger adalah topi kesayangan Dy dan selalu berkode 06.
"Maaf Aku tidak kenal. Aku rasa masalah Dilan Kita tutup sampai disini. Aku tidak
mau kalian memperbincangkannya lagi,
karena akan membuat Aku bersedih,"
ujar Dy cepat.
"Ya Dy, maafkan Kami. Aku akan menyimpan di flashdisk. Kami ada bersamamu dan Aku
mendukung keputusanmu," kata Agung.
*******