
Bab.65.
Pagi ini Dilan dan Dy duduk berhadapan. Banyak masalah yang harus dibicarakan supaya Dy mengerti posisinya. Sebelum Rapat Direksi tentu Dilan akan memberi bayangan
tentang kekayaan Dy dan jumlah asset
serta profit yang di dapat.
Dy mendengarkan dengan seksama serta berusaha menyimpan di otaknya
apa yang di bicarakan oleh Dilan.
"Yank...Kita memang mempunyai wadah yang mengurus semua Asset yang Kamu miliki. Tapi Kamu juga harus tahu apa saja yang Kamu miliki dan berapa profit dari setiap usaha itu.
Semua ini Kamu harus pelajari, supaya Kamu bisa mengambil kesimpulan dan bisa mengkaji ulang apabila ada yang kurang berkenan di hatimu. Kita punya Lawyer yang bisa Kamu ajak bertimbang rasa atau Kamu bisa ke Manager HRD Uvassa Hotel, disana Kamu bisa Sharing tentang segala sesuatunya".
Kata Dilan panjang lebar.
" Dulu Beck menyuruh Aku belajar dengan Aby, tapi Aku belum sempat belajar".
" Bagaimana Kamu belajar dengan Aby karena Kamu banyakkan bercinta". Sindir Dilan kesal.
" Kalau begitu Aku belajar dengan Aby lagi yang lebih bisa di percaya dan dia pasti akan mengajari Aku sungguh-sungguh".
" Berani Kamu belajar dengan Aby, Aku akan perkosa Kamu. Sekarang Aku tidak main-main!! Sedikit saja Kamu berulah Aku akan seret Kamu ke Penghulu. Sudah bosan dipermainkan". Sahut Dilan geram.
" Yank, kenapa Kamu menunggu waktu
menyeret Aku ke Penghulu, bukankah
yang bermasalah Kamu??". Sindir Dy.
Dilan diam mengalihkan matanya ketempat lain.
" Seharusnya Aku yang marah kepadamu, karena Kamu menggantung Aku". Lanjut Dy lagi.
" Maafkan Aku Sayank, Aku belum menemukan solusinya". Ucap Dilan lirih.
" Kenapa Kamu harus repot berpikir, nikahi Mila sudah beres".
" Kamu tidak mencintaiku?". Tanya Dilan menatap Dy.
" Tidakkkk...". Teriak Dy lalu berdiri.
Dilan langsung menghadang Dy yang
mau pergi.
" Katakan kalau Kamu tidak mencintaiku". Bentak Dilan memepet tubuh Dy ke tembok. Dagu Dy diangkat sejajar dengan Wajah Dilan. Dy tidak kuasa menahan air matanya yang berhamburan memenuhi pipinya. Dilan seketika memeluk Dy.
" Maafkan Aku Sayank, seharusnya Aku tidak melibatkan dirimu dengan
masalahku. Tapi Aku terlalu mencintaimu, Aku tidak kuasa melepaskanmu".Sahut Dilan sedih. Baru kali ini Dy melihat Mata
Dilan berkaca-kaca.
" Aku juga mencintaimu, tapi Aku akan
melepaskanmu kalau itu membuat Ibumu bahagia". Suara Dy tersendat, hatinya sungguh pilu. Air matanya membasahi Pakaian Dilan.
" Bersabarlah...pasti ada solusinya".
Kata Dilan mengecup kening Dy.
Dy cuma bisa mengangguk dan mengikuti Dilan yang mengajaknya duduk di Sofa.
"Yank, Aku mau ke Markas dulu Aku janji dengan Agung, tidak lama koq". Kata Dilan berdiri.
" Aku akan menunggumu". Sahut Dy ikut berdiri. Rasa kasihan Dilan mengharu biru melihat kesedihan Dy yang terpancar dari mata indahnya. Ingin sekali dia membahagiakan Dy, tapi tuntutan Ibunya supaya Dilan cepat menikah dengan Mila
membuat pikirannya terbelah.
" Yank, tolong Kamu duduk di belakang Laptop, lanjutkan tugasku. Mumpung Aku keluar, Kamu nitip apa?". Tanya Dilan memeluk Dy.
" Aku cuma nitip rindu". Sahut Dy asal.
" Sayank...sebenarnya Aku tidak ingin melepasmu". Kata Dilan, bibirnya kembali menyapu bibir Dia.
Mereka bermesraan sesat setelah itu Dilan dengan berat hati meninggalkan Dy yang berdiri sedih.
Dy menghempaskan Pantatnya kembali ke Sofa. Nafsu bekerjanya lenyap semenjak Dilan
mengutarakan masalah yang sedang di hadapinya. Baginya masalah ini sangat ruwet dari pada masalah yang selalu dihadapinya pada saat tugas.
Benarlah Beck melarang Dy jatuh cinta supaya pikirannya tidak terbelah.
Dy turun menuju ke Ke Mini Bar untuk
mencari minuman ringan.
Bibi minah terlihat sibuk mencuci.
" Sudah, apa Non Dy mau makan?".
" Tidak Bi, Aku mau minum". Sahut Dy membuka Kulkas.
" Non Dy, katakan yang sebenarnya ada apa sehingga Non sering terlihat sedih?". Tanya Bibi menghampirinya.
" Tidak ada apa Bi, mungkin karena Aku kangen sama Papa". Sahut Dy sekenanya.
" Non, Bibi yang mengurus Non dari bayi, Bibi mengerti sifat Non. Kalau memang Tuan Dilan sudah di jodohkan Non Dy harus menghormati keputusan Ibu nya.
Jangan menjadi duri di dalam daging.
Non masih muda dan sangat cantik 10 Dilan bisa Non dapati, tapi gadis
Itu tidak akan bisa mendapatkan 1 Dilan pun". Ucapan Bibi membuat air mata Dy kembali meluncur.
Bibi Minah sudah seperti Ibunya. Perkataan Bibi selalu bijaksana, selama hidupnya Bi Minah tidak menikah karena tidak mau meninggalkan Beck dan Dy.
" Bibi Aku sudah hancur, Aku seperti menerima Karma atas perbuatanku atas Jojo yang sangat mencintaiku". Sahut Dy terbata-bata.
" Bersabarlah Non, Jangan cepat mengambil keputusan pada saat marah. Tidak ada hal yang Tidak mungkin, Rejeki dan Jodoh sudah di atur Tuhan". Kata Bibi membelai rambut Dy.
"Hapus air matanya, tidak baik terus menangis. Lebih baik pikirin jalan keluarnya". Sambung Bibi menyodorkan tissue.
" Bibi...Apakah Aku harus memutuskan
cintaku dengan Dilan?".
" Kalau putus cinta atau patah hati,karena, kehancuran paling setahun dua tahun, tapi kalau Non menikah dengan Tuan Dilan seumur hidup
Non akan tersiksa melihat Istri tua Dilan".
Dy termenung. Perkataan Bibi sangat benar. Dengan kasar Dy menghapus air matanya dan menghabiskan sebotol minuman ringan. Sekarang sudah terbuka ñmatanya.
Dy kembali menuju lantai 2, kata-kata
Bibi membuat Dy sedikit tenang.
Sampai di Ruang kerja, Dy merasa ada
yang aneh. Dy merasa seperti ada suara di Kamar Dilan. Dy cepat ke Kamar Dilan dan betapa kagetnya Dy melihat seorang Ibu tua dan seorang gadis duduk santai diKamar Dilan.
" Maaf...Ibu siapa ya". Tanya Dy mendekati Mereka.
" Aku Ibu yang punya Rumah ini dan ini calon istrinya. Kamu siapa?".
Duhh...mungkin kalau ada bom meledak Dy tidak seterkejut mendengar pernyataan Ibu songong ini.
" Apakah Ibu Orang tua Dilan?".
" Ya, mana Dilan. Saya mau ajak ke Kampung untuk menikahkan dengan Mila". Sahutnyalagi.
" Dilan keluar sebentar Bu. Maaf Bu, kenapa ibu bisa masuk kesini ya".
Tanya Dy penasaran.
" Saya punya kodenya". Sahut Mila cepat Memperlihatkan kertas yang berisi angka yang berarti Bravo.
Hati Dy langsung sesak, pantesan
Dilan tidak mau merubah kata sandi,
mungkin supaya calon istrinya bisa leluasa keluar masuk Rumahnya.
" Ibu maaf Saya permisi dulu". Kata Dy
mohon diri.
"Silahkan...". Sahut Ibu Dilan acuh.
Dy meloncat turun dari lantai atas tidak melalui tangga.
Hatinya sudah bulat pergi dari Rumah ini. Selama ini Dy merasa tertipu oleh Dilan.Ternyata Dilan cuma memanfaatkan durinya.
Dasar keparat!! Teriak Dy menendang pintu Kamarnya.
Dy menarik kopernya dan memasukkan beberapa pakaian dan sebuah Pistol Revolver. Terlihat Bibi menangis melihat amukan Dy di kamarnya. Pecahan beling dimana-mana.
" NON...". Teriak Bibi mengikuti Dy ke
Garasi. Muka Dy sudah merah padam rahangnya mengeras.
Dy mengeluarkan Mobil Mclaren dari garasi dan meluncur keluar dari Rumah. Saat ini jiwanya Dy pasrahkan kepada nasib, kalau saat ini Dy mau tabrakan dan terguling hancur, Dy sangat bersyukur!!.
*******
.