I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
KECURIGAAN DY



Bab.129.


Setelah dicapai kesepakatan bersama


Mereka Akhirnya memilih menyewa 


Home Stay untuk beberapa Minggu 


kedepan. Sebagai Bos XPostOne Agung


berhak mengambil tindakan represif


untuk pengendalian tragedi yang terjadi


belakangan ini. Dia mengakui ilmunya


kalah jauh dengan Dilan apalagi dengan


Beck di dalam mengendalikan XPostOne.


Syukurlah Dy selalu membantu didalam


finansialnya, kalau tidak ada kebaikan


dari Dy mungkin sudah lama XPostOne


tinggal nama.


"Melamun terus tidak akan berfaedah


untuk mengembalikan pamor XPostOne


kepada umum. Mosi tidak percaya


terus berlangsung, kecuali pembunuh


itu bisa ditangkap. Tapi Aku jamin kamu tidak bisa menangkapnya," celetuk


Yudha, saat Agung memikirkan Anggota


XPostOne yang kian menyusut. Yudha


lalu duduk disamping Agung.


"Jelaslah Aku tidak bisa menangkapnya


karena Kamu ada di belakang tragedi


ini. Sebagai Anggota Kamu juga tidak


punya gagasan cemerlang," samber Agung kesal, suaranya meninggi.


"Kalau Kamu yakin Aku pembunuhnya


tangkap Aku, bila perlu tembak ditempat,"


sahut Yudha tersenyum sinis.


"Tunggu saja, Aku akan mulai menjadikan


dirimu target utama," sahut Agung.


"Hahaha...khayalan mu terlalu tinggi, sakit


kalau jatuh," ejek Yudha.


"Jangan berdebat sudah malam, masuk


Kamar dan istirahat, mulai besok kita


akan bekerja keras mengejar pembunuh.


Semoga ada akhir yang baik," kata Dy


berdiri di depan Mereka berdua.


"Duduklah Dy, Kita bicarakan masalah


pembunuhan malam ini sampai tuntas,


Mumpung Kita bertiga belum tidur, "


ucap Agung memandang Dy.


"Apa yang harus di bahas, semua sudah


transparan, pembunuhnya Kita sudah


tahu adalah manusia bertopeng," sahut


Dy lalu duduk.


"Semua Kita sudah tahu, tapi Kita tidak


bergerak untuk menangkap, kalau dulu


Beck belum pernah selambat ini menangani masalah," kata Yudha membuat muka Agung terasa ditampar oleh kata-kata Yudha.


"Berarti Kamu menyangsikan ke


pemimpinanku, atau Kamu berharap Aku


turun dari Kursi XPostOne," kata Agung


menatap mata Yudha.


"Aku cuma membandingkan, tidak ada


keinginan untuk mengganti posisimu,"


sahut Yudha cepat.


"Stop...Aku tidak ingin mendengar kalian


berdebat. Agung masuklah ke Kamar,


sangat rawan berada diluar sendiri.


Agung berdiri dengan perasaan dongkol


dan menuju Kamarnya. Suasana sangat


sepi, Anggota yang lain pasti sudah tidur


semua. Maklumlah Mereka lelah lahir


dan bhatin.


"Aku juga mau tidur," kata Dy masuk


Kamar. Sebelum pintu di tutup kaki


Yudha cepat mengganjal pintu.


"Aku tidak ada Kamar, tidak mungkin


juga Aku tidur dengan Ibu," kata Yudha


mencoba supaya Dy mengerti.


"Jadi dari tadi Kamu tidak tidur karena tidak ada Kamar, Kamu bisa sekamar


dengan Agung," kata Dy.


"Agung sangat mencurigaiku, mana


bisa Aku tidur dengannya," sahut Yudha


memasang muka sedih.


"Ya sudah Kamu boleh tidur disini, dan


ingat!! tidak boleh ada perlakuan yang


membuat Aku menendangmu," kata


Dy membuka pintu lebar-lebar.


Memang malam ini sungguh melelahkan


setelah Yudha dan Dy membersihkan


diri Mereka langsung tidur. Yudha yang


kelihatan wajahnya sangat kuyu cepat


terlelap, begitupun Dy.


Tengah malam kuping Dy yang terlatih


mendengar suara mendengus diluar


lewat di depan kamarnya dan tiba-tiba ponsel Yudha menyala. Dengan cepat


Dy mengambil ponsel Yudha dan melihat


layar depan ada Whatsapp dari Dilan.


"Mana ibuku," tulisan itu pendek. Dy lalu


menaruh ponsel Yudha dan pindah tidur


ke Sofa panjang. Dadanya bergemuruh.


Otaknya tiba-tiba buntu. Seperti Dy di


hadapkan dengan buah si Malakama.


Apa yang harus Dy perbuat??.


Dy akhirnya bangun dengan perlahan serta mengambil senjata dan keluar


dari Kamar. Dengan mengendap Dy


menuju Kamar Ibunya Dilan, karena


hanya Kamar itu lampunya menyala.


Tapi baru saja Dy menempelkan


nya Dilan, tiba-tiba pintu terbuka.


Dy kaget dan cepet mengejar sosok


yang melesat jauh menembus gelapnya


malam. Suara tembakan dari Dy yang keras membuat semua penghuni Kamar keluar. Yudha ikut mengejar sambil membawa pistol.


"Menyerah atau Aku menembakmu,"


teriak Dy membidikan pistolnya.


Sosok itu lalu berhenti memunggungi.


Suara dengusannya terdengar keras,


"Angkat tanganmu, kalau tidak Aku


tidak segan-segan menembakmu,"


teriak Dy kembali, telunjuknya sudah


mau menarik pelatuk pistolnya, ketika


sebuah pukulan di tengkuk membuat


Dy jatuh tersungkur.


Yudha dan Anggota XPostOne datang


dengan tergesa-gesa. Mereka heran


mendapatkan tubuh Dy tergeletak


di jalan.


"Kita terlambat datang," kata Agung.


"Kita tidak terlambat, malah cepat


datang, sehingga pembunuh itu belum sempat membawa Dy," sahut Jefry


merasa bersyukur.


"Mari Kita angkat Dy kedalam, Aku


tadi merasa yakin kalau Pembunuh itu


bisa tertembak, tapi kenyataannya


malah Dy yang pingsan," kata Agung


mau mengangkat Dy.


"Aku yang ngangkat," Yudha cepat maju


dan mengangkat tubuh Dy.


Sampai di Home Stay Mereka ngobrol


di Ruang tamu karena Dy sudah diurus


oleh Yudha. Mata Yudha berkaca-kaca


melihat wajah Dy yang pucat. Hatinya


merasa terluka dan sedih.


"uhk...uhk....uhk...," Dy mulai siuman.


Yudha cepat mengambil minuman dan


Tidak begitu lama Dy siuman, Yudha mengambil air mineral, membantu Dy


duduk.


"Minumlah Yank....,"


"Plookk...," tangan Dy cepat melayang


dan menampar pipi Yudha.


"Pergi Kau dari hadapanku," teriak Dy


beringas. Matanya merah menyala.


"Yank ada anak-anak di Ruang tamu,


Kamar ini tidak ada peredam suara,"


kata Yudha mengingatkan.


"Aku tidak peduli, enyah Kau dari sini.


Apa maksudmu semua ini," kata Dy


melompat dari tempat tidur. Dengan


cepat Dy meraih pistol, menodongkan


ke jantung Yudha.


"Bunuh Aku Yank, posisiku serba sulit.


Aku memukulmu supaya Kamu tidak


membunuhnya," sahut Dy lirih.


"Aku akan membunuhmu dengan


senang hati," kata Dy menarik pelatuk,"


"Duaarrr....," suara keras dari peluru


Dy membuat semua Anggota menuju


Kamar Dy.


"Ada apa ini, Dy Kamu tidak kenapa?"


teriak Agung menghampiri Dy yang


berdiri kaku dengan pistol di tangan.


Agung mengambil pistol Dy serta


menaruhnya di laci Meja.


Plafon gypsun yang kena tembakan


Dy berjatuhan dari atas. Yudha tetap


berdiri sambil menunduk. Putra dan


Anggota lainnya membersihkan


remahan gypsun yang berserakan.


Untung tidak begitu gede lobangnya.


"Tenang Dy, loe jangan panik, keadaan


ini pasti akan ada akhirnya. Gue minta


maaf karena tadi nggak bisa bantu loe.


Kita semua udah berlari kencang, tapi


tetap saja Kita tertinggal," kata Dina


memeluk Dy. Air mata Dy jatuh saking


menahan marahnya. Kebenciannya


sama Yudha sudah menumpuk, Dy


semakin sadar siapa pembunuh itu.


Dina merasa Dy marah karena tidak


ada yang membantu, padahal Dy


marah karena di pukul Yudha.


"Duduklah Dy, semua masalah bisa di


rembukan, jangan mengangkat senjata


kalau pikiran buntu. Kita disini semua


saudaramu yang akan menjagamu,"


kata Agung lagi.


"Aku minta maaf karena membuat


kalian kecewa. Mungkin kalian sangat


ingin melihat si pembunuh tertangkap,


tapi ilmu si pembunuh lebih tinggi


dariku," kata Dy sambil menghapus air


matanya.


"Tidak masalah Dy, marilah bersama


saling percaya dan saling bantu. Kita


sudah semakin sedikit," kata Agung


berusaha membuat semua tenang.


******


.