
Bab.95.
Polisi mulai menyiarkan hasil dari penangkapan yang di lakukan oleh
Agent XPostOne.
"Dari TKP berhasil disita barang bukti, yaitu tembakau sintetis 24 kilogram.
Liquid vape 7 liter
dan serbuk cannabinoid atau bibit tembakau sintetis 500 gram. Dari keterangan tersangka mereka mempunyai home industry, mereka mengelola sendiri dan hasil produksi diedarkan melalui online oleh tersangka yang lain. Banyaknya peminat membuat tersangka lalai dan mem blow up hasil Industrinya secara terang-terangan.
"Kami dapat informasi dari informan
yang warganya sangat terganggu karena seringnya orang keluar masuk dengan tingkah yang mencurigakan.
Seperti tempat itu digunakan untuk pabrik narkotika," kata Aparat.
Dari tempat tersangka, Aparat mendapatkan bukti transaksi liquid vape yang mengandung narkoba gorilla. Terdapat barang bukti sejumlah 253 botol liquid vape berisi narkoba gorilla ukuran 5 ml dan 24 botol liquid vape ukuran 100 ml.
Di sana juga ditemukan beberapa botol liquid, sudah jadi bentuknya sekitar 243 botol liquid dan vape five fluoro ADB, yang mengandung tembakau gorilla, ada juga 24 botol liquid siap pakai isinya 100 ml.
Seluruh tersangka disangkakan pasal 114 ayat 1 dan 112 ayat 1 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman di atas 5 tahun.
"Seharusnya di hukum seumur hidup."
gerutu Jelita kesal.
"Temannya 3 tertembak dan satu meninggal.
syukurlah mereka semua bisa di lumpuhkan.
gue akan siap-siap ke Rumah Sakit," kata Dina berdiri, ekor matanya melirik Dy yang duduk terpekur. Wajahnya kelihatan pucat dengan mata sembab.
"Gue ikut, tapi gue mau memakai pakaian Agent." kata Dy berdiri, kakinya dengan gontai menuruni anak tangga. Tatap matanya kosong. Sudah 5 hari Dilan belum sadarkan
diri, itu yang membuat Dy hancur.
Pikiran terburuk tentang Dilan selalu menghantuinya.
"Kita jalan bersama, Agung sama Fery lebih baik di suruh disini, karena Agent Kita masih banyak menjalankan Misi," sahut Jelita.
"Untuk sementara waktu kita Close dulu penerimaan client, tunggu sampai
keadaan Dilan kembali normal." saran Agung tegas. Sebagai Asistennya Dilan, Agung bisa memutuskan atau mengambil tindakan darurat sesuai situasi yang di hadapi.
"Tarik semua Agent di seluruh post, mulai dari NTT sampai NTB, yang berada di Luar Negeri juga," ujar Jelita.
"Mulai besok Kita akan bekerja step demi step" kata Fery.
"Aku mengharap Dilan cepat sadar dan kembali berada di tengah-tengah Kita.
Aku merasa belum cukup Ilmu kalau disuruh menangani pekerjaan ini." jelas Agung.
"Jangan pesimis, mungkin kalau misi keluar Negeri Kamu tidak bisa meng handle, tapi kalau ada misi dalam Negeri kita ambil saja," sahut Jelita menyemangati Agung.
"Atau Kita menggandeng Mantan Intelijen." Kata Fery.
"Bagus juga ide itu, cari seperti sosok Beck.
biasanya banyak mantan Intelijen yang minta berkelaborasi," sahut Agung.
"Aku akan mandi dulu," sahut Fery.
Mereka diam seketika mendengar suara tapak kaki Dy menaiki tangga. Dy memakai pakaian Agent lengkap dengan Holster di pangkal paha yang berisi senjata Revolver 229. rambutnya di kuncir kuda. wajahnya polos tanpa di polesan.
"Kenapa kalian belum siap?" tanya Dy pelan. Matanya memandang Jelita tanpa ekpresi.
"Aku sudah siap, Agung dan Fery akan
menunggu disini," sahut Jelita lalu berdiri.
Dy akhirnya pergi bertiga membawa dua Mobil. Dy sendiri membawa Lamborghini, Dina dan Jelita membawa mobil Jazz milik Agung. Tidak ada aturan untuk saling mengikuti, kata hati Dy tidak bisa diajak kompromi. Dy membiarkan Dina dan Jelita melaju dengan kencang.
Sudah pukul 16.15 Wita, Dy menaiki Mobil Lamborghini dengan kecepatan sedang, sengaja Dy membuka atap Mobil supaya
Angin Senja menerpa wajahnya yang pucat, membuat pikirannya melayang.
Kesedihan meradang menguasai jiwanya. Kapankah penderitaan ini berakhir?
Di dalam kehampaan jiwa, Dy bertanya dalam hati, haruskah kesengsaraan terus melata membawa hati yang luka?
Dy menarik nafas panjang, berusaha
membuang sesak di dadanya.
Ketika Mobil memasuki plataran parkir Rumah Sakit Bhayangkara hati Dy kembali terguncang.
Dengan kasar Dy menghapus air matanya, tangannya reflek menyentuh perut buncitnya yang terus berkembang.
Dy turun dari Mobil berjalan dengan mata kosong. Sepasang mata terus menatap keberadaan Dy yang tidak peduli. Penampilan Dy yang fashionable membuat banyak mata menatapnya. Kecantikan Dy tidak diragukan lagi, wajahnya yang pucat tidak mempengaruhi inner beauty nya.
"Loe mau melihat Dilan?, gue tadi udah. Kata Dokter Dilan harus Operasi otak karena ada darah di otaknya."
bisik Dina ketika Dy sudah sampai.
Jelita berusaha menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba jatuh.
Dy diam seribu bahasa, pantatnya Dy hempaskan di kursi tunggu Rumah sakit. Otaknya sudah buntu.
"Kasitahu Agung supaya menghubungi Ibunya, hanya Ibunya atau Istrinya yang bisa memutuskan."
sahut Dy lirih. Jelita cepat menghubungi Agung, supaya Ibu dan Istrinya datang ke Rumah sakit.
"Seharusnya dari pertama kali Kita harus memberitahu Ibunya dan Istrinya. Bisa saja Mereka marah, walaupun maksud kita baik." Kata Dina agak khawatir.
"Tidak apa Mereka marah, bilang saja Polisi memerintahkan kita tutup mulut." kata Jelita.
"Atau terus terang saja, kita berkata bahwa kita takut memberitahukannya karena Ibunya punya penyakit jantung dan Deabet," sahut Jelita.
"Gue mau kedalam dulu," kata Dy berdiri menuju ruangan ICU. Dy memakai Baju pelindung yang sudah disiapkan oleh Rumah Sakit.
"Yank, kamu mendengarku? Tetap semangat melawan penyakitmu.
Aku selalu menantimu, kamu harus sehat demi anakmu," bisik Dy dengan suara tersendat.
Air matanya kembali jatuh. Jari tangan Dy membelai lembut Pipi Dilan. Wajah Dilan yang ganteng terpejam tenang seperti Dilan hanya tertidur pulas.
"Ayank....sadarlah, Aku merindukan sifat cemburumu yang membabi buta.
Atau sifat Protektifmu yang membelengguku. Aku rindu semua itu, sangat rindu....," bisik Dy lagi.
"Maaf Nona, waktu anda sudah habis," tegur seorang perawat menghampiri Dy.
"Maaf, aku segera keluar." sahut Dy mengecup kening Dilan.
"Ayank, aku menjagamu diluar.
Aku mencintaimu, sangat merindukanmu," kata Dy sedih.
Dengan berat hati Dy keluar dari ruang ICU. Perasaan hampa menyerangnya.
Jelita memandang Dy yang datang dengan muka kusut. Siapapun akan bersedih kalau berada di posisi Dy.
"Duduklah!, sebentar lagi Ibu dan Mila akan datang, Aku minta Kamu bersikap wajar."
kata Jelita menyodorkan tissue basah kepada
Dy.
"Aku merasa ada seseorang yang sering kesini menaruh bunga yang sama setiap hari."
sahut Dy heran memandang bunga mawar putih di atas meja. Buket bunga dari semua kolega dan teman memenuhi ruang tunggu yang khusus untuk Dilan.
Ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu. Waktu itu bunga mawar putih memenuhi ruang tamunya. Buket bunga itu tanpa identitas, sehingga Beack mencurigai Mr Chaow yang mengirimnya. Tapi sekarang Mr Chaow telah tiada, siapakah yang setiap hari mengirim buket bunga yang sama untuk Dilan? adakah hubungannya dengan buket bunga sekarang dengan buket bunga yang dulu?
********