
Bab.84.
Bahagia itu sederhana, dengan mendengar Dy mengandung Dilan sudah merasa melambung.
Apapun keputusan Dy tidak masalah
bagi Dilan. Mau dibilang anaknya si A,B atau C, Dilan tidak peduli.
Masalahnya Dilan sudah tahu sifat Dy
kalau lagi marah, ngawur!!.
" Yank, makan sedikit saja, Kamu belum sarapan lho," kata Dilan.
" Aku mual, tidak enak badan," sahut
Dy merem.
" Jangan sok baik dech, Kamu bukan suamiku, bukan pacarku dan ini juga bukan anakmu," sambung Dy lagi.
" Sebagai sahabat baik, Aku menyarankan supaya Kamu memberi Anaknya makan. Kasihan Dy dari pagi
belum makan, akibat Mamanya kerjanya marah terus," kata Dilan ngeloyor pergi. Ngeladenin Dy marah-
marah tidak akan ada habisnya.
Duhh...hati Dy merasa tersentuh, Dy harus makan demi anaknya.
Suka tidak suka, wajib hukumnya!!.
Dy berusaha bangun berjalan keluar
Kepalanya betul-betul sakit.
Jalannya sempoyongan tidak keruan.
"Non..mau kemana?" Tanya Fery memegang Dy yang badannya oleng.
Dilan sengaja menyuruh Fery menemani Dy supaya mau makan.
Dilan hanya memantau dari ruang kerja. Fery sudah memakai jam sensor.
"Antar Aku ke Meja makan Fer...".
" Ya Non," sahut Fery menuntun gadis
cantik itu. Seandainya Aku yang punya
Istri ini , Aku sangat bahagia. Kata Fery
dalam hati.
" Makasi Fer... Kamu duduk temanin
Aku makan, Aku takut muntah," kata
Dy mulai melihat menu yang ada.
Tidak ada selera makan sama sekali.
" Bibi... Aku ingin yang asem-asem,"
Kata Dy memanggil Bi Minah.
" Nanti Bibi bikinin rujak Mangga, tapi sekarang Non Dy makan dulu demi anaknya," kata Bibi.
" Aku minum susu sama roti saja, Aku
Tidak mau makan nasi,"
" Ya Non, Kata Tuan Dilan Nona harus
minum susu ini,"
" Ya Bi...Aku nurut saja dech yang penting Bayinya sehat," sahut Dy mengalah.
Dengan susah payah Dy makan roti dan berusaha menghabiskannya.
Tapi kalau Dy di kasi Mangga muda
sangat lahap.
" Fery, Aku ingin tahu tentang Aby pada saat Aku menyuruhmu menyelidikinya," tanya Dy menatap Fery yang sibuk chattingan.
" Begitulah Non, Aby di guna-gunain oleh Vivi. Aku kurang mengerti pada
saat itu karena yang mengurus Beck
dan keluarganya Aby.
" Beck? Papaku?," Dy sungguh kaget
" Ya Papamu dan ternyata yang membuat rencana ini adalah
Gama cs, supaya Kamu jatuh ke tangan Gama dan Aby ke tangan
Vivi," kata Fery menarik nafas
Panjang.
"Terus.....".
" Waktu itu Beck sangat marah,
hampir terjadi baku tembak, untung ada Tante Tami dan Admesh yang menghalangi terjadinya pertumpah
darahan".
" Aku baru tahu, Beck tidak pernah bercerita tentang semua ini,"
Sahut Dy pelan.
" Setelah terjadi keributan itu hubungan Aby dan Vivi agak renggang, akhirnya Vivi mau melepaskan Aby dengan syarat di
beri harta benda,"
" Apakah Aby sakit atau bagaimana, sehingga Mereka bisa memastikan
kalau Aby kena guna-guna,:
" Pertamanya Aby sempat pingsan kemudian dibawa kerumah sakit.
Setelah itu Aby seperti orang linglung
dan setelah ketemu Vivi sakit Aby
hilang. Aby menjadi sangat mencintai
Vivi, tidak ingat sama keluarganya.
Kesimpulan Mereka Aby kena guna-guna, sempat dibawa ke orang pintar
tapi sadar sebentar, terus kumat lagi.
Akhirnya Beck mengancam Vivi suruh melepaskan guna-guna," jelas Fery.
" Tapi Nona tidak boleh mencari Aby
lagi, sekarang sudah akan ada Bayi, fokus satu nama yaitu Boss Dilan,"
Kata Fery memandang Dy yang pucat.
" Aku tidak mau menyakiti hati Ibunya dan Istrinya. Aku tahu diri, lebih baik Aku single parent," sahut Dy.
" Kasihan anaknya, lebih baik menikah Nona, kasian Boss tiap hari sedih,"
Kata Fery prihatin, Dy baru lihat Fery memakai jam sensor, tentu percakapannya di dengar Dilan.
Atau Dilan sengaja menyuruh Fery
menemaninya.
" Nanti lama-lama juga terbiasa.
Mungkin Aku akan tinggal di Jakarta
bersama anakku," kata Dy lagi.
" Jangan Nona, disini saja,"
" Tidak Fer....Aku harus pergi jauh, supaya Aku dan Anakku tidak bisa
Atau Aku akan menikah dengan
Jojo mumpung hamilku masih
kecil. Daripada disini Aku terus
sakit hati, punya pacar mental
tempe. Tidak cocok mmenjadi
Figur seorang Ayah," Dy sengaja
berbicara begitu supaya Dilan
dengar.
Perasaan Dilan langsung berdebar
ketika Dy berbicara begitu dengan
Fery. Pikirannya langsung merubah
Pasword pintu gerbang dan pintu
utama.
" Nona Saya mau ke atas dulu,"
kata Fery ketika Dilan datang menghampiri Mereka.
" Yank, sudah makan?," tanya Dilan
basa-basi. Dy diam mematung.
" Yank, Kita menikah di catatan sipil,
Aku sudah tidak mau tahu lagi,"
Kata Dilan mengharap.
" Aku tidak akan menikah, kita punya
kehidupan berbeda,"
Sahut Dy berdiri, Dilan cepat memegang Dy sampai ke Kamar.
" Yank, Aku akan menjagamu selama
Kamu hamil," kata Dilan setelah Mereka sampai di Kamar.
" Asal Kamu tidur di Sofa," sahut Dy
merasa lemas.
" Aku akan tidur di sofa, yang penting
Aku bisa menjagamu," kata Dilan senang.
Dy naik ke tempat tidur dengan pikiran bercampur, karena tiba-tiba saja keinginan
untuk di peluk Dilan menguasai perasaannya.
mau bilang gengsi, kalau gak bilang bawaan
bayi. serba salah.
" Yank boleh Aku memijat Kakimu?," tanya
Dilan berharap.
" Kepalaku pusing dan Aku merasa meriang,"
kata Dy berusaha memancing Dilan supaya
memeluknya.
" Kata Dokter tidak boleh minum sembarang
obat. Aku akan memijatmu saja," sahut Dilan
mulai memijat Dy dengan minyak zaitun.
Dilan merasa kasihan melihat Dy yang
telah tidur pulas. Banyak sekali yang
harus Dy hadapi semenjak tinggal di Bali.
setelah Dy betul-betul pulas Dilan keluar
dari Kamar dan menuju keatas.
" Apa Dy marah, Boss kelihatan muram,"
kata Agung prihatin.
" Aku malah sekarang lagi senang, karena
Dy mengijinkan Aku tidur di Sofa," sahut
Dilan tersenyum tipis.
" Pertama di Sofa dulu, setelah itu baru
mengunjungi ranjang," kata Agung
tersenyum.
" Aku ingin menikahi Dy secara sah
di catatan sipil, supaya Anakku punya
status," kata Dilan merasa senang.
" Baguslah Boss!, terus istri Boss yang
itu di bawa kemana?' tanya Fery heran.
" Itu Aku bingung, aku mau terus terang kepada Ibuku bahwa Aku sudah menikah
disini."
" Memang harus begitu, jangan sampai
Boss salah pilih," kata Agung selanjutnya.
" Boss ini Agent kita yang berada di Libya.
keberadaan Agent Xp.17 tidak bisa di
deteksi," Kata Agung.
" Aku tidak bisa mengirim Agent kesana
resikonya banyak," sahut Dilan memperhatikan layar.
" Fery dan Bapak Martin Aku printahkan
sekarang untuk ke Rumah Zayn dengan
membawa keperluan yang telah di tetapkan,"
Kata Dilan kepada Fery yang sibuk chattingan.
" Siap Boss," sahut Fery berdiri.
" Kamu hati-hati disitu, bisa saja anak buah
Dagobe ada disitu," pesan Dilan merasa
khawatir.
" Ya Boss Aku akan membawa peralatan Agent yang kira-kira sangat relevan", kata
Fery beranjak ke Kamar belakang.
******