I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
MISI DARI MR.X



Bab.93


Sebagai penumpang Premium


Flatbed. Mereka bertiga lebih dulu


naik ke Pesawat dari pada yang lain.


Dy merasa nyaman melihat fasilitas yang


di suguhkan oleh Maskapai ini.


Kursi luas yang dapat semakin diperluas menjadi ranjang datar sesuai keinginan.


Kursi ini juga diberi layar pribadi, penyangga kepala dan kaki yang dapat diatur, juga


bantal dan selimut untuk kenyamanan maksimal. Selain itu, kursi ini juga disertai dengan


lampu baca dan stop kontak universal. Dengan bantal halus dan selimut yang lembut.


Duh nyaman banget!!


Dy memakai noise-cancelling headphone


di dalam pesawat.


Matanya melihat Agung yang langsung menutup badannya


dengan selimut.


"Yank, Aku istirahat sebentar ya." kata


Dilan tanpa menunggu jawaban, dan


ikut berbaring.


Maklumlah Mereka berdua belum


sempat tidur dari kemarin.


"Oke Yank!" sahut Dy pendek.


Perasaan Dy lega karena sebentar lagi


sudah akan menginjak Bali.


Sebuah misi besar yang sering menghantui pikirannya telah tuntas.


Sekarang Dy tinggal memikirkan masa


depannya saja.


"Apakah Anda akan merubah pesanananya?" seorang Pramugari


datang menghampiri Dy dengan sopan. Sebagai penumpang Premium


Flatbed Dy bertiga memang wajib memesan makanan terlebih dahulu sesuai ketentuan.


"Tidak ada, trimakasih." sahut Dy tersenyum.


"Kami akan mempersiapkan pesanan Anda, semoga berkenan, trimakasih."


kata Pramugari itu lalu pergi.


Langit sangat cerah, Pesawat


mengudara dengan tenang. Dy memandang Matahari yang mengintip dari balik awan.


Begitu indah dan sangat sempurna.


Ingatannya kembali ke Beck, hatinya


sangat rindu kalau memikirkan Papanya. Seolah Beck ada diantara


Awan yang berlari menuju matahari.


Dy menarik nafas rindu dan menghembuskannya dengan kasar.


Dy membalikan No Disturb yang berada di Flatbed Dilan dan tangan lembutnya mengusap pipi Dilan.


"Bangun Sayank." suara lembut Dy


membuka mata Dilan. Wajah itu sangat ganteng dan sexy. Matanya yang tajam menatap Dy dari balik selimut.


"Aku mau ke Toilet," sahut Dilan akhirnya berdiri.


"I Love You handsome." kata Dy tersenyum tipis memandang Dilan.


Dilan mengedipkan sebelah matanya


dan berlalu menuju Toilet.


BANDARA NGURAH RAI.


Dy mengambil bagasi yang di letakan di kompartemen kabin, sebuah tas gendong yang isi peralatan Agent.


Dilan dan Agung mengikuti, kemudian


menuju gedung bandara.


Mereka segera menuju tempat pengambilan Baggage Conveyor. Memperhatikan informasi maskapai dan nomor penerbangan di layar.


Setelah mengambil bagasi, Mereka langsung menuju pintu keluar bandara.


"Kita ke Solaria, Aku mau ngopi dulu, setelah itu baru pesan Taxi."


ajak Dilan menyeret kopernya dan koper Dy.


"Aku bawa Kopernya, tanganmu masih sakit." Kata Dilan mengambil koper Dy.


"Aku bisa koq, sudah agak mengering, hanya kepalanya saja masih pening." Kata Dy.


"Aku sudah memanggil Dr. dari XPostOne untuk memeriksa mu sampai di Rumah." Kata Dilan.


"Lebih baik Nona istirahat dulu, supaya Nona betul-betul sehat." Agung ikut nimbrung.


"Ya Gung, trimakasih." sahut Dy.


Mereka masuk ke Solaria dan mencari


tempat duduk yang nyaman.


Tiba-tiba Sensor jam tangan Dilan bergetar. Fery mengirim pesan bersambung dari Mr.x yang berada di daerah Kuta selatan.


"Dy Kamu pulang sendiri, Aku akan


mengambil Misi hari ini," kata Dilan


berdiri.


"Hee gak jadi pesan makanan?" sahut


Dy ikut berdiri. Agung juga ikut berdiri.


"Kita beli roti saja sama minuman ringan," bisik Dilan menuju Kasir.


Mereka keluar dengan tergesa-gesa.


Wajah Dilan kelihatan tegang.


"Boss Kita membawa ransel Agent


saja, kalau Koper Kita titip kepada Dy


supaya dibawa pulang." kata Agung


"Ya....Kita cari Pom bensin untuk memasang


alat Agent." sahut Dilan seraya memanggil salah satu sopir Taxi yang berderet di Bandara.


"Pagi Pak, apa bisa Saya bantu?"


kata Sopir Taxi menghampiri Dilan.


"Tolong antar istri Saya ke Prumahan


Elite di Renon." sahut Dilan cepat.


"Hati-hati Yank, Aku menunggumu di


Rumah." kata Dy tangannya melingkar


di leher Dilan.


"Aku akan menyelesaikan Misi ini dengan cepat." kata Dilan mengecup bibir Dy sekilas. Merekapun berpisah.


Dilan dan Agung lalu pergi mencari Taxi lain untuk pergi ke Kuta. Sebelumnya Agung sudah menyuruh


Jelita datang dengan Mobil. Lamborghini dan Senjata AK.47, Senjata Pelontar dan Perisai.


Perjalanan Dilan memakan waktu sekitar 20 menit karena mampir


ke Pom Bensin untuk memasang senjata Agent. Untung Toilet dalam


keadaan bersih, sehingga Dilan bisa lebih santai memasang Senjata Agentnya di Badan.


Akhirnya sampai juga Dilan sama Agung di jalan alas arum yang di laporkan oleh Mr x sebagai tempat


yang di curigainya.


"Sampai disini Pak." kata Dilan menyuruh Sopir berhenti, sekitar 200 meter dari tempat target.


"Trimakasih Pak." sahut Pak Sopir sambil mengambil Tip dari Agung.


Agung cuma mengangguk dan mulai


mendekati Rumah Target.


"Boss, Kita masuk ke CK dulu sambil menunggu Jelita." kata Agung menahan langkah Dilan.


"Oh ya, mari...." sahut Dilan menuju CK


yang berada di seberang jalan.


Mereka berdua menjadi perhatian orang yang berada di CK karena ada


Senjata di Holster di pangkal paha mereka. Apalagi Dilan yang memiliki wajah ganteng dan badan yang tinggi tegap membuat para gadis ingin memiliki.


Tidak berapa lama Mobil Lamborghini itu


sudah datang. Dilan dan Agung keluar dari


CK dan menghampiri Jelita.


Merekapun mencari tempat yang agak tersembunyi mengingat Rumah target berada


di tempat padat penduduk.


Mereka bertiga memakai Masker karena


akan menembakan senjata pelontar.


" Halo saudara-saudara yang berada di dalam rumah, silahkan Anda keluar dengan.tangan berada di Kepala. Kami adalah Petugas.


Rumah Anda sudah dikepung.


teriak Dilan memakai Long Speaker.


Ketika Mereka mau bergerak maju terdengar


suara senapan menyalak.


Akhirnya Dilan memuntahkan senjata pelontar 3 kali.


Kemudian Mereka kembali ke Mobil membuka Masker dan mengganti senjata


dengan Revolver Magnum.


Jelita kembali merangsek masuk dan di belakangnya ada Agung dengan senjata


siap di tembakan.


"Silahkan kalian keluar dengan baik-baik,


tapi kalau kalian melawan Kami tidak segan-segan menembak kalian." kembali Dilan


berteriak memakai Speaker sehingga tetangga berhamburan keluar dan peristiwa


itu menjadi tontonan.


Kembali senjata target menyalak. Dilan meloncat kedalam ruangan dan berguling


di lantai. Agung dan Jelita menyisir arah


gudang dan disambut oleh timah panas


yang melesat keluar dari target.


Agung berpencar dengan Jelita dan sembunyi di balik tiang besar.


Baku tembak tidak bisa dihindari.


Dilan menerjang ruangan yang menghubungi


ke sebuah ruangan gelap. Bau menyengat


menusuk hidung Dilan, seperti bau tembakau.


Cepat Dilan keluar, kaca matanya meng Zoom


pergerakan target yang berada tidak jauh dari


tempat dia sembunyi. Dilan membidik target


dan DOOAARRR....timah panas mengenai


salah satu tersangka.


Teriakan temannya rupanya membuat target


lain ikut panik dan kembali menembak membabi buta.


Agung lari ke sebuah Kamar yang terkunci


dan menendang pintu sampai rubuh.


Seorang pria gendut terdapat di dalam Kamar dalam keadaan "Sakaw"


Jelita cepat memborgol tangan pria itu


dan menyeretnya keluar.


******


 


 


.