
Bab.121
Malam ini Yudha membiarkan Dy tidur lebih dulu. Walaupun Dia sendiri merasa Badannya sangat lelah, tapi demi menuntaskan pekerjaannya Yudha tetap berusaha terjaga. Dia membuka laporan dari penyidik tentang Rahayu dan Eny. Mereka ternyata
di bawah perintah Ghama untuk melenyapkan XPostOne.
Yudha kembali membuka GSM
dan mulai mengirim sinyal
kepada Agung. Dia mentransfer semua Data tentang kejadian hari
ini. Sekalian mengirim Laporan
dari penyidik masalah keterlibatan
Rahayu melalui Whatsapp lewat
Data seluler.
Setelah selesai mengirim data Agung langsung bertanya kepada Yudha lewat Whatsapp.
"Kalian berada dimana?" tulis
Agung
"Di sekitarmu," balas Yudha bercanda.
"Aku bertanya supaya gampang meringkusmu," tulis Agung.
Bagaimanapun Agung tetap belum percaya kepada Yudha, karena Yudha mirip dengan Dilan.
"Kamu pasti mengkhawatirkan
Dy bukan?, dan menganggap Aku hantunya Dilan hahaha....
Aku memang hantu yang bergentayangan," tulis Yudha sambil tertawa. Yudha ingat dulu
waktu Dia menyamar jadi Dilan
Agung sering diajak bercanda.
"Jangankan hantu, Neneknya
hantu Aku tidak takut," balas
Agung sambil tersenyum.
"Ya sudah, mumpung Kamu tidak takut sebentar lagi Nenek hantu akan mencekikmu, yang melek cuma Kamu saja," tulis Yudha
sambil menguap.
Seketika bulu kuduk Agung terasa
berdiri. Badannya merinding darimana Yudha tahu bahwa Dia yang masih melek. Dengan cepat
Agung minum kopi yang tersisa
segelas.
Yudha merasa puas mengerjai Agung, Dia menaruh ponselnya sambil tersenyum Tentu saja
Yudha tahu karena Yudha membawa wireless CCTV mini yang tidak bisa dilacak oleh
sensor XPostOne.
Yudha menuntaskan pekerjaan terakhirnya yaitu membereskan alat-alat Agent yang berserakan diatas Meja. Setelah itu Dia lalu
membaringkan badannya di sisi
Dy. Tangan Yudha menyibakan rambut Dy yang menutupi wajah cantiknya.
Dulu Yudha selalu ber ambisi memiliki Dy seutuhnya, tanpa
harus ada embel-embel nama Dilan. Sekarang ke inginan itu
telah terwujud, Yudha merasa sangat ambisius untuk memiliki
Dy. Kadang Cinta itu sangat buta sehingga melalaikan akal sehat.
pikir Yudha dalam hati.
Yudha membelai rambut Dy dan mengecup bibirnya. Wajah Dy begitu cantik alami.Yudha menarik nafas berusaha menghalau gairah yang datang menggebu.
Seandainya malam ini bisa mendadak menjadi pagi tentu
ada alasan meloncat dari tempat tidur dan duduk ngopi, tapi malam ini tidak bisa diajak kompromi membuat akal sehat Yudha terhempas.
"Ayankk...," bisik Yudha semakin gila membuat Dy terjaga.
"Yud..sadar, Aku musuhmu," sahut Dy memiringkan tubuhnya
menghadap tembok.
"Tahu gini aku pura-pura menjadi Dilan supaya Kamu terus ketipu," kata Dilan sebel.
"Aku ngantuk, Kamu tidurlah besok Kita akan pulang, Aku kangen Bibik," kata Dy tetap memejamkan matanya.
"Tidur yang benar jangan miring ketembok tidak ada yang akan mencolekmu," sahut Yudha
bangun sambil memencet lampu kamar.
"Silau...silau...ganti lampunya,"
kata Dy lalu tidur tengkurap.
berdiri dan mengambil Mini TV
serta menyambungnya dengan CCTV Wireless. Yudha sangat kaget melihat pemandangan di Kantor XPostOne.
"Yank bangun Kita pulang," seru Yuda sambil berdiri.
"Ada apa?" tanya Dy masih mengantuk.
"Ada pembunuhan," sahut Yudha membereskan barangnya.
"Dimana ada pembunuhan, Kamu tahu dari mana?" tanya Dy kurang percaya. Yudha serba salah, Dia tidak mau ada yang tahu bahwa dirinya memasang wereless di Kantor XPostOne.
"Tadi Aku mengirim laporan ke Agung dan Dia menyuruh pulang. Aku kasian sama Agung bekerja sendiri, disamping itu Aku merasa curiga dengan Anggota pelatih," sahut Yudha berdalih.
"Besok saja," sahut Dy kembali tidur.
"Aku telpon dulu Agung kalau begitu," kata Yudha mencari cara supaya bisa pulang.
Yudha mengambil ponselnya
dan menelpon Agung, tidak ada jawaban. Hampir semua Dia
telpon dan terakhir yang mengangkat telponnya adalah seseorang yang tidak mau berbicara seseorang yang hanya mendengus.
"Yank..tidak ada yang menjawab semua orang sudah Aku hubungi. Ketika Aku menghubungi Jelita malah seseorang mengangkat teleponku dan Dia cuma mendengus," kata Yudha risau.
"Coba Aku yang telepon...," Dy mengambil ponselnya dan mulai menghubungi semuanya. Benar kata Yudha teleponnya diangkat tapi hanya ada suara mendengus.
"Hee...siapa Kamu, awas terjadi sesuatu Aku akan membunuhmu," teriak Dy kesal.
Hubungan telepon terputus, Dy meloncat bangun menuju Kulkas dan mengambil air mineral.
"Minum dulu baru Kita ke Lobby check out," kata Dy menyodorkan Kopi kocok yang sudah dingin.
Dy mengambil tissue basah dan mengelap wajahnya.
Dy menyuruh Yudha memakai tissue basah juga. Dengan nggan Dy menggendong Ranselnya dan
keluar dari Kamar.
"Mari Kita berangkat," kata Yudha
gelisah.
Sudah Jam dua dini hari Dy dan Yudha masih berada di Jalanan. Yudha sekarang menyetir Mobil,
karena Dy merasa tidak enak
badan. Sayup-sayup terdengar lagu I Miss You dari Clean Bandit menemani Mereka pulang.
Dy menyandarkan kepalanya ke Jok Mobil.dirinya merasa sangat lelah dan mengantuk. Baginya hanya satu obatnya yaitu tidur. Tidak ada yang lebih nikmat daripada tidur. Atau mungkin Dy
mau PMS. pikir nya.
Akhirnya sampai juga Mereka di depan gerbang, Mobil masuk perlahan. Yudha merasa dadanya berdebar. Tadi di CCTV Wereless Yudha melihat tubuh diseret dari kursi. Aku tidak mungkin salah lihat. bathin Yudha. Suasana tampak sunyi, Mereka turun dari Mobil dan berjalan menuju pintu utama.
Perasaan Dy mendadak tidak enak waktu membuka pintu utama, tangannya reflek mencabut pistol
dari Holster. Keadaan sangat gelap, Dy menuju lantai 2 dan menyalakan tombol listrik. Tapi listrik tetap padam.
"Dy boleh siaga, tapi jangan menembak kalau Kamu belum pasti pelakunya karena keadaan gelap," kata Yudha memperingati.
"Ada yang sengaja mematikan
skring listrik," ucap Dy.
"Hati-hati," Yudha cepat menahan
badan Dy ketika mau jatuh. Bau anyir menusuk hidung. Pikiran Dy sudah tidak karuan, ingat kejadian
Bibik Supari tempo hari.
"Agung, Jelita....," teriak Dy, tapi tidak ada suara yang menyahut.
Malah Yudha hampir jatuh
karena kakinya terantuk benda yang di perkirakan tubuh Manusia.
"Aku mau melihat meteran lampu dulu, Kamu diam disini," kata
Yudha turun ke lantai satu. Dy mepet ketembok dan berjongkok, pendengarannya dipertajam.
Tangannya meraba tas untuk mengambil Ponsel dan Dy cepat menyalakan senter.
"Kamu!! teriak Dy berdiri ketika senter menyinari wajah di depannya, Dy mengarahkan pistolnya kepada sosok itu.
Tapi tendangan telak mengenai tubuhnya dari samping. Dy kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa sesuatu. Pistol
dan Ponselnya terlempar. Dy berusaha bangun ketika mendengar suara berlari cepat turun dan keadaan kembali
senyap.
Dalam kegelapan Dy mencoba meraba-raba Ponsel dan Pistolnya.
Matanya melihat sinar lampu Ponsel masih menyala jauh darinya. Tendangan yang Dy terima cukup keras membuat Dy meringis kesakitan.
Perasaannya heran ketika Yudha lama menyalakan lampu, dirinya betul-betul khawatir. Walaupun Meteran Listrik ada di depan tapi tidak mungkin lama begini. Akhirnya lampu menyala juga
dan Yudha datang berlari.
*******