
Bab.90.
Semua nasehat atau saran tidak bisa menghalangi kepergian Dilan. Hatinya tidak bisa diajak kompromi.
Rasa khawatir yang sangat terhadap
keadaan Dy membuat jalan pikiran Dilan buntu.
" Boss, ini pertaruhan nyawa, bagaimanapun Boss harus hati-hati bertindak. Lebih baik Kita mencari tahu dulu dimana Non. Dy di sandra. Sedikitnya Kita punya bayangan tentang wilayah itu." Kata Agung berusaha memberi saran.
" Aku nervous dengan keadaan ini,"
Sahut Dilan berkeringat dingin.
Satu persatu senjata Agent dia keluarkan. Sebuah Revolver magnum dan AK.47
sebagai pilihan Dilan untuk Misi ini.
" Aku ikut Boss." Kata Fery berdiri.
" Oke...Kita go dengan Privat Jet penerbangan pertama." Sahut Dilan
sambil memutar selongsong peluru Magnum. Jelita membantu mengeluarkan pakaian rompi dan sepatu PDL.
" Sebaiknya Boss dan Fery istirahat sekarang, Aku, Jelita dan Dina akan
gantian di belakang layar." Ujar Agung.
" Kunjungi Agent Kita dengan Brozer Agent, katakan keadaan sangat darurat. Jangan lupa suruh mengantisipasi Wilayah dekat Distrik Wat Arun," perintah Dilan.
" Boss terlambat, Kita sudah duluan memberitahu Agent XP no 20 untuk
menyusuri Istana Mr Chaow.
" Syukurlah Kamu cepat tanggap, berarti Kamu ikuti Sensor XP no.20."
Kata Dilan sedikit lega.
" Oke Boss." Sahut Agung mulai sibuk di belakang layar.
Keadaan layar seketika berubah ketika
terdapat tangkapan layar yang menampilkan gencatan senjata di sebuah gedung yang gelap gulita.
" Boss Kita telah menemukan." Teriak
Agung mulai meng "zoom" keberadaan Agent XP no 20.
Semua yang berada dibelakang layar menahan nafas ketika Sosok Dy keluar dari gedung itu dengan seorang Laki-laki yang tidak lain dari Mr Chaow. Dy memeluk dari belakang Mr Chaow sebagai sandra.
Ak.47 berada di tangannya dalam ke adaan terkokang.
" Jatuhkan senjata kalian." Suara dari
XP no.20 terdengar lantang.
" Jangan mau, Kita perang," sahut Mr Chaow mengira yang datang Dilan.
" Tembakan kembali terdengar dari senjata XP no.20 dan mengenai pengawal Mr Chaow.
" Aku akan menembakmu kalau Kamu tidak mau menjatuhkan senjata." Teriak Xp no 20 kepada Pengawal Mr Chaow.
Dy mengoper sandra ke XP no 20 dan mulai menembakan senjatanya ke pengawal Mr Chaow yang bersembunyi di dalam gedung.
Tidak ada balasan yang berarti. Karena Dy dan XP no 20 berlindung dibalik Mr Chaow. Tentu Mereka tidak berani bertindak.
" Katakan kepada anak buahmu untuk menyerah, karena sebentar lagi Aku akan memanggil Aparat." Kata Dy kepada Mr Chaow.
Mendengar pernyataan Dy, Mr Chaow
langsung mengamuk.
" Bunuh Aku supaya Kamu puas." Sahut Mr Chaow menendang XP no 20.
Dan sebuah tembakan mengenai Kaki kiri
Mr Chaow. Sudah tidak ada basa basi lagi. Makian Mr Chaow dalam bahasa Thai membuat Dy semakin emosi. Walaupun Dy tidak mengerti apa yang di katakannya.
" Aku akan merangsek ke dalam."
Kata Dy melesat kedalam.
" Nona balik." Tapi sudah terlambat sebuah timah panas menumbangkan tubuh Dy.
DI BELAKANG LAYAR
Teriakan Mereka menyeruak menembus malam yang tidak bertepi.
Suara tangisan Jelita dan Dina meraung. Dilan terhenyak kaku.
Apa arti semua ini??
Dadanya seketika sakit, seolah seluruh
Jiwanya melayang meninggalkan raga. Dilan duduk terpaku.
Agung menghela napas karena layar tiba-tiba gelap.
Berarti sensor dari XP no 20 jatuh atau kena tembak.
" Apakah tidak ada pesawat kesana saat ini"? Tanya Dilan. Suaranya tersekat, sesekali terdengar dia menarik nafas.
" Tenang Boss, Kita jangan lupa berdoa, segala sesuatunya ada di tangan Tuhan."
Sahut Agung berusaha tenang supaya tidak menimbulkan masalah baru.
" Aku bertanya jam berapa bisa ke Thai, Kita tidak boleh menjadi penonton terus. Harus bergerak."
Kata Dilan menatap layar yang gelap.
Kemudian channel di pindah ke sensor Agent lain.
" Berangkat dari sini pukul 06.15. Itu penerbangan pertama. Sepertinya Boss lebih baik menumpang Pesawat biasa saja. Karena saat ini disana terjadi Kudeta Militer.
Berarti Boss ke Bandara sebelumnya untuk Boarding Pass." Kata Agung menatap Dilan yang tertunduk lesu.
" Ini sudah pukul 02.45 wita, Aku mau siap-siap dulu," sahut Dilan masuk ke Kamarnya.
Jelita dan Dina mengambil Ponselnya
Mereka berdua sibuk mencari berita dari Thailand.
Belum ada liputan memuat Insident yang terjadi di Istana Mr Chaow.
"Kita berdoa semoga Agent Kita selamat dan urusan ini cepat bisa di selesaikan oleh Agent setempat.h
" Kamu sudah menghubungi Atase yang ada disana"?. Tanya Jelita memandang Agung.
" Itu pertama kali ku lakukan, mengingat Mr Chaow masih menjadi target pemerintah. Agent Kita sudah berkolaborasi dengan Agent disana.
Aku harap semua baik-baik saja."
Sahut Agung berharap.
Dilan dan Fery sudah keluar dari Kamar dengan pakaian lengkap Agent.
Fery menyeret koper serta tas ransel
Yang akan di bawa kesana.
" Dina antar Kami ke Bandara," perintah Fery mendekati Dina.
" Oke, tunggu Aku akan cuci muka.
Kalian bikin kopi dulu supaya tidak mengantuk." Sahut Dina turun kebawah.
Bibi sudah bangun mungkin mau Sholat,
Dina tidak menyapa, pikirannya tertuju
kepada peristiwa tadi.
" Dina... tunggu." tiba-tiba saja Fery sudah
berada di belakangnya.
" Ada apa"? tanya Dina menahan langkahnya.
" Jangan Kamu pergi dari sini seandainya
Aku belum datang."
kata Fery dengan muka sedih.
" Nnggak bakalan, Aku akan selalu menunggumu sebagai temanku." sahut
Dina tersenyum tipis.
" Lho koq sebagai teman, Kita sudah PDKT
Kamu sudah setuju menjadi pacarku."
kata Fery mengerjitkan alisnya.
" Aku masih patah hati, kamu harus mengerti
itu. Aku belum bisa sepenuhnya menerima
Kamu." sahut Dina.
" Aku kira Kamu sudah menerima ku, tapi apa artinya ciuman mu tempo hari"? tanya Fery
menatap Dina.
" Aku melakukan karena Aku suka denganmu,
Kamu begitu baik selalu menghiburku, dan
Aku sangat berterima kasih atas semua itu."
sahut Dina sejujurnya.
" Aku salah menafsirkan." kata Fery merasa
kecewa.
" Fery Kamu kenapa?, Aku agent wanita yang
selalu berurusan dengan laki-laki, jadi Aku
merasa Kamu adalah target Ku selanjutnya."
ujar Dina menggoda Fery.
" Semoga Aku target yang menyenangkan."
sahut Fery tersenyum kecut.
Pembicaraan Mereka berhenti karena sudah
ada panggilan dari Agung.
Dina cepat masuk kedalam Kamar, sedangkan
Fery ke Dapur meracik kopi.
Hampir saja Fery lupa karena ke asyikan ngobrol dengan Dina.
Saat ini Fery merasa panah asmaranya
sudah tertuju kepada Dina. Tidak ada
alasan untuk menolak cinta yang
berkembang di dalam hatinya.
Fery tidak peduli apapun predikat yang
disandang Dina.
Sebelum berangkat Mereka minum kopi bersama dengan pikiran masing-masing.
Terlihat dari wajah Mereka kesedihan yang
dalam. Dilan dan Fery berdiri.
"Aku akan berangkat, Aku mohon Doa kalian
untuk Agent Kita. Semoga Mereka selamat."
Kata Dilan kepada teman-temannya.
" Aku akan selalu berdoa untuk Dy dan Agent
no.20, serta untuk kalian."
Kata Jelita sedih. Dilan dan Fery melangkah turun di ikuti oleh Dina.
******