I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
DI SUITE ROOM



Bab.98


Kemarahan Dy melihat foto lelaki itu memuncak. Dengan memakai pakaian Agent dan pistol terselip di Holster Dy melajukan mobilnya dengan kencang.


Mungkin Aku harus minum sedikit. Pikir Dy lalu membelokkan mobilnya


ke Romero Hotel.


Seperti biasa, Semua Karyawan akan menghormatinya, tersenyum semanis madu atau berpura-pura amnesia, lalu menyapa supaya bisa selfe bareng.


Dy berjalan ke Bar setelah lelah ber selfe ria dengan para Karyawan.


Tapi baru saja Dy mau duduk di kursi Bar Aby sudah menggamit tangannya.


"Yank, Kita ke Suite Room," bisik Aby.


Dy kaget melihat Aby yang sudah berada di sampingnya.


"Kamu seperti Intel, baru Aku datang Kamu sudah tahu,"


"Penciumanku melebihi Anjing pelacak. Jangankan Kamu yang datang, baru desiran angin mu saja Aku sudah tahu," sahut Aby mengajak Dy ke Suite Room. Ingatan Dy kembali ke masa lalu.


Dy berjalan beriringan dengan Aby, perasaannya bercampur aduk.


"Yank, Aku turut berduka cita atas...,"


"Tidak usah di bahas, itu semua takdir.


Tapi Aku bersyukur Aku bisa memelihara benih cintaku dengan Dilan," potong Dy sinis.


Aby diam, dia membuka pintu dengan sidik jari. Dy langsung masuk. Deretan bunga mawar putih telah menyambutnya.


Serta merta Dy marah dan mencabut pistolnya.


"Aku akan membunuhmu," bentak Dy menodongkan pistolnya ke Aby.


"Bunuhlah Aku, itu yang kutunggu. Sudah lama Aku menunggu kesempatan ini," kata Aby lalu membuka bajunya.


Dy kaget, karena ada Bom bunuh diri melilit di badan Aby.


"Aby apa maksudmu?, you crazy?"


teriak Dy melangkah mundur.


"Aku gila dan tergila-gila padamu, Aku selalu gila kalau membayangkan Dilan memelukmu...," sahut Aby tanpa ekpresi.


"Itukah yang menyebabkan Kamu meracuni Dilan?, harusnya Dilan sudah sembuh 4 hari pasca operasi.


Tapi mendadak Dilan koma karena menghirup racun dari bunga mawar Yang selalu Kamu bawa ke Rumah sakit," tungkas Dy.


"Jadi Kamu sudah tahu semua, berarti Aku tidak perlu menjelaskan lagi.


Aku akan memencet tombol bom ini


dan Kita akan mati bersama," kata Aby mengancam. Dy heran Aby yang dulu pengecut tiba-tiba menjadi berani begini.


Apa yang telah terjadi.


Apakah Aby sudah menjadi psychopath?


"Aku menyerah, Kamu gila, Aku tidak mau mati sekarang. Katakan apa maumu sehingga Kamu tega meracuni calon suamiku," kata Dy melempar senjatanya ke lantai.


"Aku hanya ingin menjadi suamimu,


dan Bapak dari anak yang Kamu kandung," sahut Aby berharap.


Dy tidak menjawab, Dy cuma merasa selama ini Aby pasti selalu memata-matainya, karena Aby semua tahu tentang dirinya.


"Buka bom mu dan Kita akan minum bersama sampai mabuk," kata Dy pergi ke meja Bar.


Tentu saja ajakan Dy merupakan angin segar bagi Aby. kemudian Aby memungut pistol


Dy dan menaruh di filling cabinet beserta bom yang tidak jadi di ledakan.


Kemudian Aby keluar dari kamar dan menemui Dy.


"Yank, Kamu jangan minum," teriak Aby terlambat. Dy ternyata sudah minum


Sake yang berada di kulkas.


"Kamu manusia kurang ajar, tidak berpikir ada bayi di perutmu.


Bayi bisa mengalami kondisi serius yang disebut fetal alcohol syndrome (FAS). Sindrom ini ditandai dengan adanya kelainan mental dan fisik," ujar Aby marah sekali.


Dengan kasar Aby menarik tangan Dy dan membawanya ke Kichen.


"Kumur dulu mulutnya, setelah itu lap dengan tissue basah. Aku akan membuat Susu hangat," kata Aby khawatir.


Dy hanya menurut.


Perhatian Aby selalu berlebihan. Kemarahan Dy yang menggebu-gebu ingin menembak Aby sirna sudah.


"Yank minum Susunya setelah itu baru Kamu membunuhku," kata Aby duduk disamping Dy.


"Aku kesini memang akan membunuhmu," kata Dy enteng sambil minum Susu.


"Tapi sebelum Kamu membunuhku, Aku duluan akan menembakmu dengan cintaku," sahut Aby mengedipkan sebelah matanya.


"Dan tembakanmu meleset, Aku berkelit," sahut Dy cepat.


"Yank jangan menggodaku, Suamiku baru saja meninggal, Aku masih berduka," kata Dy sedih.


"Suamimu atau suami Mila, jangan naif Yank.... Aku selama ini marah karena Kamu terlalu murahan dan mau saja di perdaya oleh Dilan."


"Kami saling mencintai," sahut Dy pendek.


"Apa dulu Aku tidak mencintaimu?,


Aku sangat mencintaimu, makanya Aku tidak mau merusak hubungan kita dengan kesenangan sesat.


Aku menghormatimu."


Mendengar pernyataan Aby, tentu saja Dy merasa malu.


"Aku memang murahan, Aku akan pulang," kata Dy berdiri, mulutnya langsung manyun.


"Ya pulanglah, Aku mau tidur," sahut Aby berdiri dan menuju Kulkas untuk mengambil minuman ringan.


Dy heran Aby begitu cuek, terpaksa Dy berdiri dan mencari pistolnya yang tadi Dy lempar kelantai.


"Yank lihat gak pistolku tadi di lantai?"


"Lihat, sudah Aku taruh di filling cabinet,"


"Ambil Yank, Aku mau pulang,"


"Ambil sendiri Aku mau tidur,"


"Kenapa Kamu sekarang cuek sama


Aku ?" tanya Dy kesal.


"Karena Aku mencintaimu." sahut Aby


langsung ke Kamar yang diikuti oleh


Dy. Ketika Dy sudah di Kamar Aby langsung mengunci pintu.


"Yank jangan berulah, Aku sleding juga Kamu," ancam Dy.


"Ibu hamil di larang banyak bergerak?," kata Aby mendekati Dy.


"Yank Kamu jangan mendekat, apa Kamu tidak punya rasa Empati atas


penderitaanku?" Kata Dy berkelit ketika Aby mau memeluknya.


Ponsel Dy berdering, ada panggilan dari Dina.


"Loe ada dimana, Kita di Rumah khawatir," suara Dina terdengar tanpa basa basi.


"Aku ada di .....,"


"Jangan khawatir Dy berada di tempat yang tepat dengan laki-laki yang tepat." teriak Aby ngeselin.


"Abyy....bisa diam gak," protes Dy.


"Hallo...hallo....," ternyata Dina sudah menaruh Ponselnya. Dy menjadi malu, pasti Dina mengira dirinya murahan.


"Yank kenapa sih Kamu membuat Aku malu,"


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Apa Kamu ingin terus bersedih. Kamu harus bangkit dari keterpurukan, masa depanmu


masih panjang," kata Aby serius.


"Aku malu kalau teman-teman berpikiran aneh-aneh kepadaku," sahut Dy menunduk.


"Orang akan memaklumi, apalagi kalau mereka tahu bahwa Kita sudah berhubungan


dari dulu. dari pada kamu pergi minum-minum lebih baik Aku menyemangati


jiwa mu," kata Aby menatap Dy.


"Yank, Aku tidak ingin bertele-tele dan sok munafik. Aku sangat mencintaimu dan


akan menikahimu," sambung Aby lagi.


"Aku tidak mau menjawab, tanah kuburan.Dilan masih merah. Aku tidak


ingin ada konspirasi di antara kita."


"Kamu tidak perlu menjawab, atau berpikir


tentang pernyataanku saat ini. Yang Aku


minta cuma menyayangi anak yang Kamu kandung dan mencarikannya Ayah, sebelum


umum tahu bahwa Ayah yang sebenarnya adalah suami orang," sindir Aby membuat Dy diam seribu bahasa.


"Aku merasa Kamu bukan Aby yang dulu, karena bicaramu nyelekit, padat berisi dan menohok hatiku," kata Dy.


"Aku tetap Aby yang dulu, mungkin karena banyak Kamu sakiti membuat sifatku berubah," sahut Aby tersenyum.


dy ikut tersenyum, walaupun agak kaku.


******