
Bab.56.
Seminggu Dy berada di Jakarta, otaknya belum bisa berpikir jernih
dy masih diliputi oleh kesedihan yang
Mendalam. Baginya Beck adalah
hidupnya, serasa separuh jiwanya melayang. Dy mengurung dirinya di
Kamar Beck, menunggu mimpi tentang keberadaan Beck. Atau sekedar mencium bekas bau badan Beck di Bantal.
Serasa sudah kering air mata Dy karena setiap saat menangis.
Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Dy yang melambung tinggi
membelah awan mencari sosok Beck
dan Dy selalu bertanya, adakah Beck
diantara awan itu?.
" Maaf Nona dipanggil oleh Tuan Dilan". Kata Bibi suaranya agak keras.
" Aku sudah dengar tidak usah nge gas. Katakan sama Dilan Aku malas keluar, kalau Dy perlu suruh datang kesini". Sahut Dy kurang senang. Hatinya marah kepada Dilan karena sifatnya 100% berubah. Tidak ada manis-manisnya dan sangat acuh.
Dilan masuk ke Kamar Beck dengan
terpaksa. Dy malah tetap tidur miring
dan berusaha cuek dengan kedatangan Dilan. Akhirnya Dilan duduk di Sofa sambil menjawab WA teman XPostOne.
" Kamu sarapan dulu sudah pukul 10.09, nanti malah sakit". Kata Dilan tampa menoleh.
" Biarin Aku sakit, tidak usah pura-pura perhatian ". Samber Dy cepat.
" Aku cuma mengingatkan. Kalau Kamu sakit pasti Aku juga yang repot".
" Makanya jangan urus Aku kalau
merasa beban pergi saja dari sini".
Sahut Dy emosi.
" Koq jadi melebar, Aku pasti pergi
Kalau Kamu tidak membutuhkan
Aku lagi ". Kata Dilan menahan emosi.
Dilan merasa Dy tambah bertingkah
Apalagi Dilan merasa cinta Dy tetap
tertuju kepada Aby.
" Nanti Aku tidak akan membutuhkanmu setelah Aku berada di Bali, Kamu akan bebas". Sahut Dy bangun dari tempat tidur. Hatinya panas, melihat sikap Dilan akhir-akhir ini.
Dy ingat waktu Dilan chatt sama calon
Istrinya yang mau di jodohkan oleh
Ibunya. Dasar buaya darat waktu ada Beck manis, setelah Beck tiada langsung kelihatan belangnya.
Bisa juga Dilan berubah karena harta.
Pikir Dy.
" Aku ingin supaya Kamu transparan
terhadap semua asset dan pemasukan pokoknya semuanya....". Kata Dy memandang Dilan.
" Kamu meragukanku?!".
" Mungkin dulu tidak namanya
manusia, lihat harta langsung tergoda".
" Piciknya pikiranmu, teganya Kamu...".
Kata Dilan langsung keluar dari Kamar Dy.
" Pergi Kamu...cari cewekmu". Gerutu Dy kesal. Semua bantal Dy buang ke lantai. Dasar buaya, manis di mulut, busuk dihati.
" Non...kenapa marah-marah sendiri?,
Kasihan Tuan Dilan". Kata pembantunya memunguti bantal yang berantakan dilantai.
" Gapapa Bi, lagi kesal saja".
Sahut Dy.
" Kalau Aku ke Bali Bibi ikut ya.
Disana tidak ada yang menemani Aku".Sambung Dy lagi.
"Terus disini bagaimana Non?".
" Disini Aku mau kontrakin, mungkin Bibi Jum dan Pak Supri yang akan mengawasi disini". Jelas Dy.
" Nona sudah bicara dengan Tuan Dilan?? Supaya Tuan memerintahkan Kami mengepak barang-barang Nona".
" Bibi saja bilang, Aku tidak ingin bicara dengannya". Sahut Dy sambil duduk di Sofa.
Bibi Minah adalah pengasuh Dy
dari kecil sudah seperti Anak sendiri.
Bibi Minah sudah hafal akan sifat Dy.
Jadi kalau sekarang Dy marah sama
Tuan Dilan kemungkinan besar Dy cemburu, atau bisa tersinggung oleh perkataan Tuan Dilan.
" Sekarang makan dulu Non". Kata
Bi Minah mengajak Dy keluar.
Dy tidak menyahut tapi mau keluar.
Mata Dy tertuju ke lantai bawah, terlihat Dilan sedang menelpon sambil ketawa ketiwi. Langsung pikiran buruk mengusai
dirinya. Dengan sengaja badan Dy menyenggol badan Dilan, hampir ponsel Dilan jatuh.
" Hee..masa badan segede gini Kamu
gak lihat ". Kata Dilan kaget.
" Kamu mau apa, ayo Kita berantem di
Lapangan, mumpung Aku pingin makan Orang ". Sahut Dy emosi.
terputus ". Kata Dilan sibuk kembali
dengan ponselnya.
Merasa dicuekin Dy langsung me
nendang pas bunga. Suara keramik
pecah membuat Bibi Minah buru-buru
datang.
" Ada apa lagi Non?, istighfar Non..
nyebut...". Kata Bi Minah memegang
tangan Dy yang emosi.
" Marah-marah melulu, bawa saja ke dukun Bi, siapa tahu udah kena santet".
Sahut Dilan berkelit ketika Dy menyerangnya.
" Non...stop..stop...". Teriak Bibi ketika
Dy kembali menendang Dilan.
Bibi yang lain berada di luar ketakutan
menyaksikan Nonanya mengamuk.
Walaupun Dilan bisa berkelit terus,
tapi ada perasaan kasihan melihat kaki Dy berdarah kena pecahan keramik.
Akhirnya Dilan ke Kamarnya dan mengunci pintu.
Bi Minah dan kelima temannya sesama PRT ikut menangis melihat Dy menangis sedih. Dilan di Kamar tidak mengerti harus berbuat apa. Semenjak Aby datang Dy terus marah-marah.
Apakah Dy kena guna-guna. pikirnya.
Khayalan bersenang-senang dengan
Dy pupus sudah. Malah setiap hari Dy
marah-marah tidak keruan.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dilan, dengan malas dia membuka pintu ketika Bibi Minah
mengetuk pintu. Bi Minah menangis
sesenggukan.
" Bi ada apa?". Tanya Dilan lembut sambil menyodorkan tissue.
" Bibi kasihan sama Non Dy, baru Papa
nya meninggal Tuan sudah mengajak Nona Berantem. Untuk apa Tuan ikutan marah, Kita sudah tahu Non Dy lagi sedih. Sekarang kakinya terluka Tuan malah lari. Non Dy juga tidak makan dari pagi".
Bi Minah nyerocos sambil menangis.
" Bibi, Saya turun sekarang". Sahut Dilan cepat, malas Dilan menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya Dilan ragu menemui Dy, masalahnya Dy kaku.
" Bibi mana Dy?". Tanya Dilan celingukan.
Mereka hanya bengong melihat Dy
naik Bugatti Veyron keluar dari Rumah.
Dilan menjadi panik karena Dy pergi
dalam keadaan marah.
Berkali-kali ponsel Dy berbunyi, tapi
Dy tidak mau menanggapi.
Hatinya terlanjur sakit oleh sikap Dilan yang cuek.
Bugatti Veyron itu meluncur di antara
keramaian jalan Rasuna Said dan masuk Ke Perumahan Elite Puri gading. Dy membunyikan klakson ketika berada didepan sebuah Rumah mewah milik Dina.
Seorang gadis cantik membukakan pintu utama.
Tadi Dilan sudah menghubunginya karena Dilan yakin Dy pasti ke rumah Dina. Dy memarkir Mobil dengan kasar dan membiarkan Dina mengurus Mobilnya.
" Kapan loe dewasa kalau setiap ada masalah loe lari. Hadapi masalah itu
dengan sikap dewasa". Kata Dina
menaikan kedua Kaki Dy ke pahanya.
" Loe tahu sendiri, gue paling sebel kalau sudah di kacangin. Semenjak Papa meninggal tingkahnya berubah". Sahut Dy sambil meringis karena Dina membersihkan luka Dy dengan Alkohol.
" Emangnya Dilan salah apa, sampai loe tega nuduh dia mencuri harta loe. Gue mah gak bela Dilan, tapi loe tahu sendiri khan.. Dilan itu perfect banget". Kata Dina
membela Dilan.
" Apa loe udah ajak tidur Dilan, sampai segitunya loe bela dia ". Sahut Dy kesal.
" Bacot loe sadis Dy, mana berani gue naksir Dilan. Levelnya tinggi banget.
Kalau gak loe kabur mana pernah dia
nyapa gue".
" Biarin, gue kagak urus...pokoknya dia harus transparan. Hanya dia yang tahu berapa pendapatan dari XPostOne atau dari post-post lain". Sahut Dy tegas.
" Loe khan udah tahu, itu urusan Bendahara, ngapain Dilan loe obok-obok. Gue pikir loe cemburu deh, kalau Dilan mau di jodohin sama Ibunya",.
" Loe tahu dari mana kalau Dilan mau
dijodohin?". Tanya Dy serius.
" Dari mulut Dilan". Sahut Dina tersenyum tipis. Perkiraannya tidak salah, Dy pasti cemburu. Padahal Dilan tidak sampai ngomong sejauh itu.
" Dasar mulut lamis. Senang kali bergosip.Apa lagi dia bilang?!". Tanya Dy antusias.
"Cuma gitu doank, loe tenang aja deh, setelah Dilan nikah, dia akan cabut dari XPostOne ". Sahut Dina membuat Dy berdiri dan melangkah keluar.
"Hee..Dy loe mau kemana?, baru gue mau ngajak loe ke Hay Lay....". Teriak Dina melihat Dy menuju Mobil.
" Gue pulang dulu, nanti loe kerumah bantuin gue beres-beres". Sahut Dy
naik ke Mobil.
Dina cepat masuk kedalam dan mengirim rekaman pembicaraan Mereka ke Dilan.
******