
Bab.122.
Mata Dy yang sangat terlatih menemui sesuatu yang Dy ingin pungkiri.
Owh...Yudha, Kamu akan membuat
dirimu terjebak dalam tanganku.
Dy berusaha menahan amarahnya dan membiarkan Yudha melakoni sandiwaranya.
"Yank...," teriak Yudha langsung
membantu Dy berdiri. Tangannya
yang kekar menggendong Dy
ke Sofa panjang.
"Pinggangku seperti mau patah ditendang dengan kuat dari samping," kata Dy menatap Yudha.
"Astaga..apa sakit sekali?" sahut
Yudha seperti menyesal. Dengan
kasih Yudha mencium kening Dy.
"Jelas sakit, namun bisa juga hanya keseleo," sahut Dy.
"Maaf sayank, Aku terlambat datang karena Meteran Listriknya di rusak,"
kata Yudha. lalu merebahkan Dy di Sofa panjang. Selalu ada buah Simalakama, seperti kutukan yang selalu mengikuti Yudha.
"Jangan Aku di urus, bangunin semua teman, tolong ambil Alkohol dan kapas, sekalian ambil salep keseleo" ujar Dy menunjuk kotak P3K yang terletak dipojok.
"Siapa yang menjadi korban?" tanya
Dy ketika Yudha menutup tubuh
korban dengan kain XPostOne.
"Aku sebentar memeriksanya," sahut Yudha mulai membangunkan Agung
dan teman-temannya satu persatu. Hatinya menolak keadaan yang
berulang kembali. Tapi apa yang
harus Dia lakukan?.
"Agung sadarlah....bantu Aku menyadarkan yang lain. Kalian kurang waspada dan terlalu gegabah," bentak Yudha berusaha mengusir perasaan galau di hatinya.
"Ada apa ini," suara Agung mulai terdengar.
"Bangun!! tolong bantu Aku ada pembunuhan," teriak Yudha lagi.
Agung meloncat dari duduknya sambil minum Susu kemasan. Kesadarannya mendadak pulih, walaupun Kepalanya sangat sakit. Mulut Agung langsung
menjerit ketika membuka kain yang
Jasad Jelita yang terbujur kaku
dengan beberapa tusukan di badan
dan di Wajahnya. Dy yang terbaring berusaha duduk.
"Yank...jangan bergerak," kata Yudha menahan Punggung Dy.
"Tidak apa-apa Kamu lanjutin dengan menyadarkan anak-anak," kata Dy memperhatikan Agung yang histris.
Dy membiarkan Agung menumpahkan kesedihannya kepada Jelita sang Kekasih. Air mata Dy merembes, ingat pertama kali Dy bertemu Jelita di Pesawat menuju Singapore.Kebaikan Jelita kepada dirinya membuat Dy
merasa sangat sedih.
Kemudian satu persatu Anggota
pelatih siuman dan suara tangis Dina mulai terdengar. Kutukan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Siapa yang berbuat sesadis ini,
hanya manusia psychopath yang
bisa melakukan ini," teriak Dina
marah sambil menangis.
"Tenanglah, semua ini telah terjadi.
Untung Aku dan Dy cepat pulang,"
kata Yudha berusaha memegang
Dina yang sedang mengamuk.
"Din...perbuatanmu tidak bisa menyelesaikan masalah, malah
membuat barang-barang hancur,"
kata Yudha lagi.
"Semenjak Loe datang pembunuhan berantai terus terjadi dan yang menjadi korban orang-orang terdekat," telunjuk Dina langsung menuding Yudha.
Giginya gemeletuk
"Dina jaga emosimu, tidak boleh menuduh gue dan Yudha baru selesai membasmi komplotan penjahat yang berusaha menghancurkan XPostOne," kata Dy dengan suara tinggi.
"Pacar loe bangkit membawa kutukan, katakan padanya gue yang akan mencabut nyawanya," bentak Dina
kepada Dy.
"Gue tabok mulut loe kalau kagak
bisa diam. Ini musibah, tidak ada
diantara Kita yang berperan ikut membunuh, itu harus loe sadari
dan mencoba berjiwa besar
menghadapi musibah ini.
Bukankah yang jaga loe, dimana
letak tanggung jawab loe sehingga sampai bisa terjadi tragedi ini,"
kata Dy ikut emosi.
Dina langsung diam mendengar
ceramah dari Dy, tapi kembali Dy nyerocos.
"Lha loe juga ngapain duduk manis,"
"Gue udah jelasin, malam tadi gue bertempur sengit dengan kelompok Ghama, sehingga pinggang gue kena tendang," sahut Dy berusaha membuat posisi Yudha aman.
Yudha langsung merasa dadanya
teriris, selama bertugas belum
pernah Dia sesedih dan se kacau ini.
Dia mengakui kecerdasan Dy diatas
rata-rata yang sulit bisa diimbangi.
Ingin rasanya Dia bersimpuh di kaki
Dy untuk minta maaf. Yudha cepat
membuang mukanya ketika Dy meliriknya.
"Ya sudah kalian diam!!, bukannya mencari pembunuh malah kalian
bertikai," kata Agung suaranya serak.
Tidak bisa dilukiskan kesedihan
yang kini Dia alami.
"Agung, untuk sementara waktu Aku
tidak bisa membantumu. Pinggangku sakit,"
"Tidak apa-apa, untung kalian cepat datang kalaú tidak mungkin Kita
semua sudah menjadi mayat," cetus Agung berusaha menjaga emosinya.
"Apa Nona perlu tukang urut keseleo,
yang tradisional," seorang Anggota
pelatih mendekati Dy.
"Aku akan menyuruh Bibik, biasanya
Bibik Yang memijat kalau keseleo,"
sahut Dy menatap Anggota pelatih .
"Kamu dari klub mana, sepertinya
Kamu orang baru disini," tanya Dy.
"Tidak Non, Saya bersamaan datang
nya dengan Mereka, cuma Saya
sendiri tidak ada Klub. Saya freelance," jawab Anggota itu yang bernama Dedy.
"Kamu mempunyai sertifikat untuk melatih?"
"Punya Non...tapi di Rumah, soal
melatih Agent Saya sudah biasa,"
sahut Dedy berusaha meyakinkan.
Dedy tahu dari selentingan Agent
lain bahwa Dy adalah Agent yang
genius. Disamping cantik Dy
adalah penembak 300 meter gugur,
Dy mirip seperti Beck cara kerjanya.
"Setelah Aku sembuh, Aku perlu
melihat cara kerjamu," kata Dy.
"Dy Aku mau ke porensik dulu, tolong hubungi Keluarganya," kata Agung.
"Jasad Jelita kemudian di gotong
oleh ianak-anak baru menuju
ambulance.
"Gue sama yang lain akan bekerja
membersihkan lantai dan
mengurusnya, loe istirahat dah
maaf tadi gue emosi," kata Dina memandang Dy.
"Din..loe gak salah, gue saja emosi,
tapi mau gimana lagi," sahut Dy
merasa konyol.
"Yud..tolong Aku mau ke Kamar," kata
Dy memandang Yudha.
"Owh ya, Aku bersihin dulu setelah
bersih baru Aku mengajakmu ke
Kamar," sahut Yudha turun tanpa menunggu persetujuan Dy.
"Gue ngerasa Kopinya berisi
campuran obat bius. Tapi yang bikin
Kopi gue dan yang bawa kesini Bibik, masak gue harus curiga sama Bibik
yang setiap hari masakin Kita," ucap
Dina bimbang.
"Mungkin Kopi yang loe beli sudah
di campur obat bius," sahut Dy cepat.
"Gue beli Kopi sachet yang di kemas.
tertutup dengan rapi," kata Dina.
"Dy Kamar nya sudah bersih dan
Bibik sudah menunggu di Kamar,"
ucap Yudha datang tergopoh-gopoh.
"Jefri tolong temani Dina," perintah Dy.
"Ya Non...semoga cepat pulih kembali,"
sahut Jefri dengan wajah kusut. Tentu
Jefri sangat bersedih dan ketakutan karena pembunuh sampai sekarang
belum tertangkap.
"Trimakasih Jef...," sahut Dy.
Yudha kemudian menggotong badan
Dy turun dan menuju Kamar.
"Yudha, tolong sebentar Ranselku
dan Ponsel ku di bawa kesini," kata
Dy setelah sampai di Kamar.
"Aku yang ngurus semuanya Kunci pintunya kalau Aku sudah keluar,"
kata Yudha lalu membaringkan Dy
di Kasur.
"Apanya yang sakit Non...," Bibi
yang dari tadi menunggunya sangat khawatir atas musibah yang Dy
alami.
"Kunci dulu pintunya Bik," kata Dy
sambil duduk membuka Bajunya.
"Bibik yang membuka bajumu, Apa
tidak boleh berheti menjadi Agent.
Lebih baik Non Dy menikah," kata
Bibik membuat Dy tersenyum.
"Pasti akan menikah setelah pelaku
pembunuhan tertangkap. Semoga
urusannya cepat selesai, apa Bibik
tahu sesuatu sebelum ada
pembunuhan disini,"
Bibik tidak menyahut, Dy hanya menangis.
********