I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
KE BALI



Bab.60


Dy memarkir Mobilnya agak jauh


dan mulai mengendap-endap menuju


Apartement. Jelita yang mengenal


situasi Kamarnya meloncat ringan


lewat belakang dan mengendap ke


Kamar. Dy menunggu situasi selan-


jutnya.


Tapi keadaan berubah karena Dy mendengar ada suara benda jatuh.


Dengan cepat Dy menuju pintu bela-


kang .... ada tiga orang lelaki


mengeroyok Jelita. Serta merta Dy meluncurkan tendangan ke arah


lawan. Walaupun Mereka bertiga


tapi tidak membuat Dy dan Jelita kewalahan. Malah ada satu orang


yang ambruk tanpa di pukul,


sepertinya orang itu "Sakaw".


Mereka dibawah pengaruh kokain


karena pada saat Mereka bicara terdengar suara latah.


Dy dan Jelita cepat beraksi dengan


Memberi tendangan beruntun kepada


Mereka yang semakin agresif.


Tentu saja perlawanan Mereka ngawur


dan tidak terkendali.


Dy mengakhiri permainan ini dengan tendangan Roundhouse Kick.


Tendangan dimulai dari bawah, lalu naik ke arah samping, kemudian pada puncaknya, badan diputar sedikit ke samping agar arah tendangan benar-benar memotong sasaran.


Jelita memborgol ketiga orang itu


dan cepat mengambil koper


Kemudian lari lewat pintu belakang.


Dy menyeret Kopernya dengan buru


buru. Sudah jam lima dini hari.


Mereka berdua memilih naik Taxi


karena terlalu riskan kalau kembali


memakai Mobil itu. CCTV pasti sudah


merekam semuanya.


Tidak berapa lama Mobil Taxi telah


datang, Pak Sopir mempersilahkan


Dy dan Jelita naik ke Taxi.


Sebelum sampai di Bandara Dy menghentikan Taxinya.


" Maaf Pak, sampai disini saja". Kata


Dy membayar tarip Taxi.


" Tidak ke dalam Bandara Nona?".


" Tidak Pak, Trimakasih". Sahut Dy


lalu menurunkan kopernya.


Mereka mencari kamar mandi umum untuk mengganti pakaian.


Dy mengeluarkan topeng latexnya dan mulai berdandan. Mereka juga mengganti pakaian seadanya. Untuk lewat ke Bandara Dy dan Jelita mengeluarkan Kartu Intelijen, Rekomendasi membawa Senjata dan Alat Agent.


" Sudah sempurna mari Kita keluar".


Kata Dy menarik Kopernya.


" Kita numpang apa jalan kaki?", tanya


Jelita tidak mengerti. Karena Bandara


masih jauh.


" Kita pakai jempol". Sahut Dy tersenyum.


Tidak ada 5 menit Dy dan Jelita sudah


dapat tumpangan.


" Pagi Mr, Kami merepotkan Anda ".


Kata Dy ber basa basi, untung orangnya


bisa berbahasa Inggris, pembicaraan


menjadi nyambung. Jelita menyenderkan Punggungnya di Jok dan mulai menutup Matanya.


" Anda mau pergi kemana?". Tanya Mr.


Wang menatap Dy dari kaca sepion.


"Kami akan ke Thailand, kebetulan ada


Sponsor yang membiayai Travelling


Kami ". Sahut Dy cepat.


" Saya sudah pernah ke Phuket, ke


Pattaya dan sekitarnya".kata Wang


selanjutnya.


Pembicaraan terhenti karena Pak Wang mengambil tiket Parkir.


Mobil lanjut ke dalam Bandara, Dy yakin pasti ada orang dari Geld Kiil yang mencari Mereka.


" Mr. Wang Kami sangat berterimakasih, Anda sangat baik". Kata Dy sebelum turun dari Mobil.


" Nona terlalu memuji, ini sudah


kewajiban Saya. Semoga Kita bertemu


kembali di lain hari". Sahut Mr Wang sambil tersenyum.


Dy membangunkan Jelita yang tidur


lelap. Dengan berat hati Jelita terpaksa ikut turun.


" Aku belum puas tidur". Kata Jelita


menyeret kopernya.


" Hati-hati ada sekelompok Orang


Mendadak kantuk Jelita hilang


mendengar perkataan Dy.


Mereka puas di turunkan di tempat


parkir, terpaksa Mereka berjalan cukup Jauh untuk melanjutkan Boarding Pass.


Untunglah penyamaran Mereka


sempurna, sehingga kelompok Gled Kill yang menunggu Mereka tidak mengenali wajah Mereka.


Selesai Boarding Pass Dy langsung menuju keberangkatan. Tidak ada Delay sehingga penerbangan terasa lancar saja. Dy dan Jelita balapan merebahkan kursi Business class


dan menurunkan sandaran tangan, kemudian tidur di fully-flat bed. Mereka memesan Book the Cook.


Setelah itu Jelita menggantungkan


No disturb. Dy menarik selimut dan


Dengan sekejap Mereka sudah lelap.


Jelita membangunkan Dy, karena lagi


beberapa menit Pesawat akan landing.


" Bangun Boss ". Colek Jelita mengingatkan Dy untuk ke Toilet membersihkan Wajahnya.


" Ada berapa menit Jel?". Tanya Dy bangun dari bed.


" Seputuh menit". Sahut Jelita. Ternyata Jelita sudah rapi dan wajahnya sudah bersih. Dy pergi ke Toilet dan mulai membersihkan dirinya.


" Non Kamu cantik sekali, Aku sesuatu


padamu", kata Jelita tersenyum.


" iihh...dasar genit". Sahut Dy tersenyum.


" Makan Boss... kalau gak mau Aku kuat 2 porsi". Kata Jelita yang tumben naik Class Business.


" Ambil saja nanti Aku makan di Bali".


Sahut Dy minum Joice Mix dari Beet.


Mungkin yang paling berbahagia saat ini adalah Dilan. Mobil Lambhorgini Aventador itu meluncur mulus keluar dari jalan Toll menuju Bandara. Dan di belakangnya ada Agung dengan Mobil


Jazz mau menjemput Jelita.


Dilan membuka atap Mobil dan meluncur ke tempat Dy menunggu.


Muka Dy langsung merona merah


tatkala tahu yang menjemputnya Dilan.


Pintu Mobil terangkat keatas. Jelita


cepat menarik tangan Dy dan mendorong tubuh Dy pelan ke Mobil.


Tidak ada kata-kata puitis yang keluar


dari mulut Dilan. Hanya tatapan matanya yang berbicara banyak mengenai kerinduannya yang teramat sangat.


Mobil Lambhorgini Aventador itu meluncur dan berbelok ke sebuah


Rumah makan Nusantara.


" Kita makan dulu ". Ajak Dilan turun


dari Mobil. Dy berusaha berdamai


dalam hati melihat sikap Dilan yang


baik. Tapi tetap saja Dy merasa ada


pembatas. Mereka masuk Ke Restoran


Nusantara dan mengambil pilihan


sendiri, seperti prasmanan.


" Yank, katakan sesuatu, apa Kamu tidak rindu padaku?". Tanya Dilan lembut setelah Mereka duduk.


" Heemm...Aku tidak selera bicara".


Sahut Dy tanpa menoleh.


Dilan cuma menahan nafas.


" Apa semua barangku Kamu pindahin dari Jakarta?". Tanya Dy menatap Dilan dengan tatapan tidak bersahabat.


" Semuanya, Sampai Bibi Minah. Aku


Juga mengontrakkan Rumah itu selama 2 tahun, semua ada pembukuannya jangan khawatir Aku tidak mungkin korupsi".


Sahut Dilan berusaha menahan diri.


" Makan dulu setelah itu pembicaraan dilanjutkan di lapangan. Kita berantem saja sekalian". Sahut Dilan membuat Dy menahan senyum.


" Atau Kita balapan berenang, supaya Kamu bisa menipuku".


" Bagaimana kalau Kita berantem di Ranjang?". Kata dilan sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Mulai genit...". Ucap Dy tersenyum.


Mereka mulai menyantap makanan


sambil berbincang-bincang.


Dilan sangat senang melihat Dy mulai bisa diajak bercanda.


" Dessert nya". Dilan menyodorkan makanan penutup.


" Mobilnya semua Kamu bawa kesini?".Tanya Dy memandang Dilan.


" Ya...mau di apakan Mobil sebanyak


itu. Tapi terserah Kamu, kalau Aku ngomong selalu salah nanti Kamu menuduhku korupsi".


" Aku mau jual semua".


" Koq semua?, sisain satu untukmu".


Sahut Dilan heran.


" Aku mau pakai Lambhorgini Aventador nya saja ". Kata Dy.


" Tapi itu punya perusahaan, kamu tidak rela kalau Aku pakai?". Sahut Dilan.


Dy cuma tersenyum. Sejatinya Dy cemburu akan kegantengan Dilan kalau naik Mobil.


" Aku cemburu melihat Kamu pakai Mobil,


tambah ganteng banyak cewek melirik ke


Kamu ". kata Dy terus terang.


" Aku juga cemburu melihat Kamu di pelukan


Gled kill ". kata Dilan.


Dy tersenyum melihat Dilan yang cemberut.


gemesin !!.


******


"