I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
KECURIGAAN DY



Bab. 124.


Rasanya sangat senang melihat


Mereka makan dengan lahap, hanya Agung, Faisal dan Putra yang tidak


ada, kareña mengantar Jenasah Dy


ke Rumah Sakit Angkatan Darat untuk diotopsi.


"Yank Kamu tidak makan?" tanya


Yudha menoleh kepada Dy.


"Kamu saja yang makan, Aku minum


kopi, kepalaku terasa pusing," sahut


Dy ikut duduk bersama temannya.


"Makanlah Non, Kita semua harus


sehat karena pekerjaan Kita semakin bertambah," kata Jefri memandang


Dy dengan rasa kasihan.


"Ya Nona Dy,  Kamu harus sehat,"


Dedy ikut menimpali.


"Dy loe makanlah, gue tidak mau


makan kalau loe kagak makan,"


sahut Dina menatap Dy yang pucat.


Dy terpaksa mengambil Cream Soup


Jagung dan menghabiskannya cepat.


Setelah Mereka selesai makan Dy


mulai bercerita bahwa Bibik terbunuh.


Mereka semua terhenyak, dan merasa


ngeri. Bisa saja besok lusa Mereka


menjadi korban selanjutnya.


"Aku tidak mengerti pikiran manusia


ini, kenapa harus seorang pembantu


menjadi korban. Sungguh diluar akal sehat. Dan Dia membunuh selalu


memakai racun," kata Dina emosi.


"Kita seharusnya waspada dan mulai


menggeledah semua barang yang


terdapat di sini tanpa kecuali," sahut


Jefri khawatir.


"Semua barang yang berada di Dapur


dan diKamar Ibunya Dilan di geledah," sahut Dina ikut marah.


"Ini manusia psychopath yang tega


membunuh lawan dengan 60 kali


tusukan," Yudha ikut nimbrung.


Dy menahan dirinya untuk bertanya


kepada Yudha. Darimana Yudha tahu bahwa Jelita ditusuk 60 kali.


"Sungguh sadis!!," sahut Jefri kesal.


"Kapan Kita mulai misi ini, jangan


sampai korban berjatuhan lagi," kata


Dina sambil mengepalkan tangannya.


"Mungkin besok karena hari ini Kita


akan ke Astana XPostOne," sahut


Yudha.


"Yudha akan membawa jenasah


ke Rumah sakit dan Aku dan Dina


akan di Rumah membuat laporan


ke Polisi," kata Dy sedih.


Dy merasa sangat kehilangan atas


kepergian Bibik yang sudah Dy


anggap sebagai pengganti Ibunya.


"Aku tidak punya siapa lagi," kata


Dy lirih.


"Sabar Dy, Kita semua saudaramu


tidak mungkin Kita membiarkanmu


sendiri," sahut Dina memeluk Dy.


Hati Yudha terenyuh melihat Dy yang terus mengalami cobaan. Ingin Yudha memeluk Dy seperti dulu, tapi apa


daya Dy seolah cuek dan terus


memusuhinya.


"Mari Kita bawa Jenazah Bibik ke


Rumah Sakit," kata Jefri beranjak


dari duduknya.


Jenazah Bibik akhirnya di bawa ke


Mobil XPostOne, karena Mobil


Ambulance yang di pakai untuk


mengangkut Jenasah Jelita.


"Setelah Aku selesai membuat


laporan  Aku akan menyusul," kata


Dy berjalan ikut mengantar Bibik


sampai di Mobil. Air matanya terus mengalir. Hatinya sangat sedih


kehilangan Bibik.


Setelah Mereka pergi Dy dan Dina


masuk kedalam Rumah. Terasa


Rumah sepi dan mati, ada rasa ngeri yang membuat bulu kuduk Dina


berdiri. Padahal sekarang baru.jam sepuluh pagi. Bisa jadi karena terus


terjadi pembunuhan sehingga


membuat suasana Rumah seperti Kuburan. Pikir Dina.


"Dy loe ngerasa merinding,?" tanya


Dina.


Matanya menoleh kesana kemari


karena takut. Pistolnya terus berada


di tangannya dalam keadaan siaga. Sebagai Agent seharusnya Dia tidak boleh menjadi pengecut. Hidungnya mencium Bau Karbol yang Khas membuat pikiran Dina berada di


Kamar mayat.


"Koq ada Agent takut sama hantu,"


ejek Dy sambil menghapus air mata


nya.


"Sumpah, gue tumben merinding.


Dy apa loe curiga dengan Yudha?" 


tanya Dina membuat Dy menatap


Dina.


"Kenapa harus curiga?" Dy balik


bertanya.


"Karena semenjak ada Yudha, terus


terjadi pembunuhan,"  sahut Dina


polos.


"Aku sama sekali tidak curiga,


karena setiap terjadi pembunuhan


dan Admesh saling tembak Yudha


ada bersamaku dan Agung. Ketika terbunuhnya Bibi supari, Yudha ada bersama Kita. Terbunuhnya Staf XPostOne, Yudha juga bersama


Aku dan Agung, serta yang tadi ini


Yudha bersamaku," penjelasan Dy


membuat Dina mengangguk dan


berusaha menerima Alibi Dy.


Namun sesungguhnya hatinya


tetap curiga kepada Yudha.


"Dy jangan loe marah ya, Yudha itu


siapa sih, koq gue lihat  loe cepat


banget nempel sama Dy. Apa


karena Wajahnya mirip Dilan,"  kata


Dina membuat Dy kembali harus


bertutur.


"Gue belum cerita sama loe dan


yang lain, menurut Yudha, Dia itu


kembar identik dan Yudha itu yang menemani gue waktu Dilan nikah


dengan Mila. Mereka sepakat mengelabui gue," tutur Dy panjang


lebar membuat Dina berdecak


kagum akan tipu muslihat Dilan


dan Yudha


"Begitu rupanya ya," sahut Dina.


"Gue merasa kesal setelah tahu dari


mulut Yudha," kata Dy menatap laptop.


"Dy gue ngerasa ada suara di bawah,"


bisik Dina berdiri. Dy mempertajam


pendengarannya.


"Ya..," sahut Dy mengambil pistolnya


dan melompat turun tanpa melewati


tangga, sedangkan Dina berlari


kencang menuruni tangga. Ilmunya


tidaklah secanggih Dy.


"Siapa Kau cepat menyerah," teriak


Dina berlari sambil melepas tembakan


peringatan keatas.


Dina dan Dy lari ketempat datangnya


suara. Sampai di Meja makan Mereka


berdiri bengong memperhatikan asal


suara yang tidak lain dari Ibunya Dilan Dengan santai Ibunya Dilan duduk


sambil makan Burger yang sengaja


di sisain. Sebotol Minuman ringan


ada di depannya diatas Meja.


"Ibu kirain siapa, kenapa tidak naik


keatas seperti biasanya," kata Dina


duduk disamping Ibunya Dilan.


"Ibu kira tidak ada orang, Rumah


sepi sekali," jawab Ibunya Dilan acuh.


"Ibu tahu ada pembunuhan disini,"


tiba-tiba mulutnya Dina nyerocos.


"Tahu!!" sahutnya cepat. Dina dan Dy


kaget dan cepat bertanya lagi.


"Ibu tahu yang terbunuh?" tanya Dina


spontanitas.


"Non Jelita," Dina langsung pindah


tempat duduk kesamping Dy,


tangannya siaga dengan pistol yang


siap menyalak.


Dy dengan sigap menyetel jam


tangan Agent untuk merekam semua


pernyataan dari mulut Ibunya Dilan.


Tahu begini dari kemarin-kemarin


bertanya. Pikir Dy bersemangat.


"Apakah dari dulu Ibu tahu semua


pembunuhan yang terjadi disini,


maksudku yang menimpa Kami,"


tanya Dy seperti Wartawan yang


menanyakan sumber berita.


"Semua Ibu tahu karena ada di HP,""


katanya mnembuat Dina tertawa


ngakak.


"Yaelahh...dari tadi keq bilang begitu,"


Kata Dina menahan sakit perut karena


tertawa ngakak. Dina lalu menuju


Kulkas dan mengambil dua botol air


mineral dan Sneak ringan.


Setelah berbasa-basi dengan  Ibunya


Dilan Dy dan Dina kembali keatas


untuk melanjutkan laporannya.


Ibunya Dilan tersenyum penuh arti


memandang Dina dan Dy naik ke


tangga.


"Din, loe nggak boleh melepaskan


tembakan peringatan sebelum loe


lihat target dan itupun kalau target


tidak mau menyerah," Dy langsung


memperingati Dina dengan serius.


"Maaf Dy gue grogi," sahut Dina.


"Loe harus buat laporan tertulis atas kehilangan peluru loe satu," kata Dy


mengajari Dina prosedur yang benar.


"Dy loe ngerasa gak Ibunya Dilan


aneh, harusnya Dy kaget waktu gue nembak keatas, pistol gue gak ada peredam dam bunyinya keras," kata


Dina setengah berbisik.


"Gue juga ngerasa begitu, Kita coba


meminjam Handphonenya yuk," kata


Dy merasa Ibunya Dilan berbohong.


"Loe khan baik sama Dia, loe aja yang


pinjam, nanti gue yang ngembaliin,"


ucap Dy membuat Dina melotot.


******