I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
SALING CURIGA



Bab.107


Sampai di Suite Room Aby dan


Dy mempersilahkan Yudha duduk


di Meja Bar. Dy permisi masuk


Kamar duluan mau mandi.


Walaupun sudah Sore, masih


terasa sangat panas. Dy tidak peduli


atas keberadaan Yudha yang telah membuat hatinya galau. Perasaannya bercabang dan penuh gejolak. Situasi


ini menjadi beban pikirannya.


Selesai mandi Dy langsung


merebahkan badannya di Kasur,


rasanya nyaman. Gara-gara


Yudha Dy tidak mau keluar Kamar.


Malas banget bertatap muka


dengan Cowok itu.


"Yank, keluarlah Kita sudah lapar,"


Aby memanggil Dy sambil mengetuk


pintu. Ini sudah panggilan ketiga,


dengan terpaksa Dy membuka pintu


dan mengikuti Aby ke Meja makan.


Dy tidak mau memandang Yudha


dan sengaja cuek. Hatinya masih


kesal atas perbuatan Yudha tadi.


"Mari makan," tegas Aby mulai mengambil piring.


"Trimakasih...," sahut Yudha sopan.


Aby masih seperti dulu melayani


Dy dengan sangat teliti. Yudha


merasa dirinya tidak bisa seperti


Aby yang sangat telaten. Manusia


memang tidak sempurna, ada saja


kekurangan dan kelebihannya


begitupun perasaan Aby, selalu


merasa terabaikan ketika sosok


Yudha muncul.


Mereka bertiga mulai melahap


makanannya. Dy mengambil Roti


Gandum dan kuah Kare. Ekor


Mata Dy melirik ke Wajah Yudha


yang ganteng. Dadanya berdesir


melihat Yudha yang sedang


menatapnya. Seketika muka Dy


memerah. Cepat Dy membuang


Muka


Malam ini Yudha akan tidur di


Sofa panjang, sambil berjaga.


Aby dan Dy sudah masuk di


kamar masing-masing. Tidak


seperti dulu, Aby dan Dy tidur


bersama. Sekarang Mereka


malah merasa Asing.


Yudha mengeluarkan GSM nya


semua ruangan Dy monitor dan


mulai bekerja. Beberapa CCTV


telah terpasang, Dia tahu pasti


Dy yang memasang. Yudha ke


Living Room dan menengok ke


bawah. Lampu pijar berkelap


kelip di sepanjang pantai, sejauh


mata memandang. Suara deburan


Ombak terdengar bergemuruh.


Ada perasaan sunyi mengiris


sanuabari Yudha. Kapan semua


ini berlalu, pasti ada yang tersakiti


apabila sebuah rencana mulai


direalisasi. Haruskah Aku menari


diatas penderitaan orang lain?,


atau Aku membiarkan semua ini


berlalu dengan porsinya masing-


masing.


Sudah pukul 02.00 dini hari,


Yudha tahu Dy pasti tidak bisa


tidur. Yudha mengambil ponselnya


dan mengirim WA kepada Dy.


-Tidurlah, tidak baik begadang


untuk kesehatan Janinmu-


Kirim....


Tentu saja Dy kaget bukan main


mendapat WA dari Dilan. Nomor


Dilan muncul seketika. Dy cepat


berdiri dan keluar dari Kamar.


Dengan air mata berlinang Dy


berjalan menghampiri Yudha


kyang berbaring di Sofa panjang.


"Yudha, jangan permainkan Aku.


Jiwaku masih sakit dan belum


sembuh," kata Dy memelas, air


matanya terus mengalir.


"Kembali ke Kamarmu dan tidur,


tidak elok kelihatan kalau Kamu


berada disini. GSM ku lagi ON,


semua Ruangan berisi CCTV,"


kata Yudha tanpa menoleh.


Dy baru sadar, dengan cepat Dy


menjauh dan kembali masuk ke Kamarnya. Ingin membalas WA


Yudha, tapi keinginan itu Dy tahan. Posisinya sudah berbeda sekarang


Dy adalah Tunangan Aby.


******


Agung menatap Jelita yang mulai


menguap, sudah jam tiga dini hari.


Mata Agung tidak lepas dari GSM


yang di kirim oleh semua Agent.


Ada beberapa ke janggalan yang


di perlihatkan oleh Yudha. Dengan


cermat Agung menterjemahkan


Kode-kode dari Yudha.


Sementara Jelita terlelap, Agung


sendiri merasa merinding.


Seolah-olah kode Agent itu yang


menulis Dilan. Hanya Dilan dan


Agent dengan bahasa sandi.


"Jelita bangun," kata Agung menggoyangkan badan Jelita.


"Ada apa, baru juga Aku tidur,"


sahut Jelita mengucek matanya.


"Lihat Kode sandi yang di kirim.


Yudha, Aku jadi merinding," kata


Agung memperlihatkan Layar GSM


nya. Mata Jelita melotot.


"Sandi itu kalau di terjemahin


berbunyi, "Aku bangkit" kata Agung.


"Aku merasa heran, kenapa Yudha


menulis begitu, Aku merasa kata


Itu di arahkan ke padaku, karena


yang membaca hanya Aku,"


kata Agung saling tatap, matanya


menyapu keliling ruangan. Jelita


merapatkan duduknya dengan


Agung, bulu romanya berdiri.


Pikirannya langsung ke Mistik


atau sesuatu hal gaib yang tidak


bisa di cerna dengan akal sehat.


"Aku merasa Yudha itu Dilan, tidak


ada yang bisa membedakan," kata


Jelita sambil menyeruput sisa kopi


nya.


"Hanya Dy yang bisa membedakan,


Kita tahu luarnya, tapi Dy tahu


semuanya. Kita introgasi Dy supaya


mengaku perasaannya pada Yudha.


Dy kuncinya," sahut Agung.


"Besok Kita Telegram Dy, Aku rasa


semua yang terjadi belakangan ini,


bukan suatu kebetulan tapi sebuah rekayasa besar yang ingin


menggoyang saham di Remero


Hotel," kata Agung antusias.


"Sekarang Kita sudah mempunyai


Staff, apa boleh Aku meminjam Eny


untuk menemaniku?" tanya Jelita.


Sekarang Management di XPostOne


sudah berubah, karena sudah bisa


berdiri sendiri. Ada 5 Staff yang mengurus Administrasi XPostOne


dan 5 lagi dibagian pelatihan.


"Besok Aku akan menemui Dy,


Kamu boleh minta tolong kepada


salah satu Staff untuk menemanimu,


Eny bukan Staff XPostOne Dia hanya Treaning, jadi Kamu jangan gegabah,"


"Tapi Eny sangat berpotensi, Dia


bisa menjadi Agent handal di


kemudian hari. Bagiku Dia sudah sepatutnya diangkat menjadi Staff,"


"Jelita..... pekerjaan Kita penuh


resiko pikirkan itu, Aku yang tahu


dan akan memutuskan. Jangan


karena Dia sering mentraktir mu


akal sehatmu hilang. Kita harus


selalu waspada, Rival Kita banyak


yang ingin menjatuhkan XPostOne


atau Romero Group," ujar Agung.


"Maafkan Aku, terkadang Aku lupa


kalau Eny mulai minta rekomendasi


supaya bisa duduk sejajar dengan


Kita. Tadinya Aku merasa biasa


saja karena itu hal yang wajar, tapi


mendengar argumen mu Aku jadi


mempunyai rasa kurang percaya


kepada Eny," sahut Jelita bimbang.


"Aku malah sudah curiga karena dua


kali memergoki Dia masuk weapons


Room (tempat senjata rahasia).


Ketika Aku menegurnya Dia bilang


nyasar, sungguh tidak masuk akal,"


jelas Agung mulai menguap.


Pebincangan Mereka terhenti karena


suara Bibik Supari sudah terdengar.


Pukul. 05.23 Wita, saat nya meng input


semua Data ke flashdisk.


"Tolong hubungi Dy, Aku sekitar jam


sebelas siang akan meluncur kesana.


katakan juga Aku akan membawa


makanan untuknya," kata Agung.


Jelita mengangguk dan mengambil


Ponselnya. Dia menghubungi Dy


melalui Telegram. Belum terjawab


mungkin Dy masih tidur. pikir Jelita


menaruh Ponselnya.


Baru saja Jelita mau merebahkan


badannya di Sofa panjang, suara


Bibik dibarengi dengan ketukan


pintu membuat Jelita terpaksa


bangun dan membukakan pintu.


"Selamat Pagi Non Jelita," sapa


Bibik sambil menaruh 2 gelas


kopi panas dan pisang goreng.


"Trimakasih Bik, untuk sarapan


Aku ingin Bubur Bali yang pedas.


Kalau Agung Nasi Balinya saja,"


kata Jelita sambil memberi


Bibik uang.


"Ya Non, Saya pergi dulu," sahut


Bibik keluar dari Ruangan.


"Aku mau mandi dulu, silahkan


minum kopinya Gung,"


"Yaya...ini lagi sedikit, jangan pergi


dulu temani Aku minum Kopi," seru Agung. Jelita berhenti dan berbalik.


Bibir Agung tersenyum melihat Jelita


mulutnya manyun. Tumben Agung


minta di temani, biasanya Agung


minum sendiri sambil mengkhayal.


******