
Bab.81
Malam ini Dy pergi dengan hati kesal.
Dilan telah memperdayainya, dengan
Ikut tidur disampingnya.
Walaupun Dy masih mencintainya, bukan berarti Dy harus menjarit kembali untaian cintanya.
Hatinya terlalu luka dan sulit diajak
Kompromi. Apalagi Dilan masih
tetap menjadi suami Orang, jangan sampai sebutan pelakor mampir pada dirinya.
Dy berjalan menyisiri pantai Kuta seorang diri, mengenang kepahitan
hidup yang di alaminya.
Aku harus berbenah dan menata hidupku sedini mungkin.
Bathin Dy sedih.
Wajah cantik dan harta melimpah
bukan jaminan untuk hidup bahagia.
Perjalanan hidupnya membuat
dirinya semakin dewasa dan lebih
hati-hati mengarungi hidup ini.
Malam semakin gelap, lampu-lampu Hotel kelihatan gemerlapan sepanjang pantai, membuat suasana
sangat romantis.
Dy beranjak dari pantai menuju Mobilnya, kembali menyusuri jalan padat di malam hari.
Akhirnya Dy berhenti di sebuah Bar.
Malam ini Dy ingin minum untuk menghilangkan ke galauan hatinya.
Seorang Bartender datang menghampirinya setelah Dy ke counter.
“Dua Bacardi dan soda, Aku akan Open Tab. Makasi...". Kata Dy lalu
menaruh Kartu kreditnya. Suasana
Bar cukup ramai.
Dy duduk di kursi Bar sesekali menjawab sapaan dari pengunjung
Bar yang iseng.
" Aku akan turun mencari Dy," kata Dilan setelah sampai di Bar.
" Jangan dulu Boss, biarkan Dy mabuk dulu," sahut Agung.
Dilan memang sengaja memasang sensor di setiap mobil Dy, karena Dilan tahu Dy pasti akan pergi kalau
sudah pikirannya galau.
Tadi Sore Dilan memang membiarkan
Dy marah-marah padanya dan pergi.
Kesalahan memang terletak pada dirinya, tapi mau bagaimana lagi.
Hidupnya terletak dibawah Kaki Ibu.
Dilan selalu beralasan keluar Negeri
kalau Mila mau bertemu.
Tapi sampai kapan bisa begitu?, suatu saat nanti Mila pasti akan
menuntut kebutuhan biologis.
Saat ini Mila mau diam karena setiap
bulan Dilan mengirim uang cukup
banyak ukuran hidup di kampung.
Kalau sudah menyangkut Orang tua
Dilan paling takut di bilang anak
Durhaka.
" Boss, jangan melamun Dy pasti sudah mabuk," kata Agung menyarankan supaya Dilan mencari
Dy. Dengan langkah mantap Dilan
masuk ke Bar. Matanya sibuk mencari
Sosok Dy.
Dan darahnya mendidih ketika Dy berada di pelukan seorang laki-laki.
" Sorry...". Kata Dilan meninju cowok
Itu dan menarik Dy kepelukannya.
" Suasana menjadi riuh, ketika pengunjung lain tidak terima dengan ulah Dilan yang asal memukul.
" Anda terlalu arogan ini Bar, jangan
main hakim sendiri," bentak Manager
Bar memandang Dilan.
" Aku tidak terima, istriku di perdaya
dalam keadaan mabuk,"
Sahut Dilan dengan marah.
" Istrimu yang gatal merayuku," teriak
Cowok itu kesal. Terlihat di sudut
Bibirnya ada darah bekas kena pukulan.
Dilan cepat mengambil pistolnya dan
memuntahkan peluru keatas tanda
peringatan.
Agung masuk mengambil alih situasi dengan cara mengacungkan pistol keatas dan mempetlihatkan Kartu Agent.
" Kami aparat!! Anda jangan bergerak,
Kami sedang menjalankan tugas,"
Seru Agung mengawal Dilan yang
menggendong Dy keluar Bar.
Suasana sedikit mencekam.
" Trimakasih Gung, Aku tadi kurang
Kontrol ". Kata Dilan menuju ke Mobil
Maclaren yang di tunggangi Dy.
Sedangkan Agung memakai Mobil
Lamborghini Aventador.
" Itulah gunanya teman " sahut Agung
naik ke Mobilnya.
Wajah Dy kelihatan sangat lelap bersandar di Jok Mobil.
Dilan memacu Mobilnya dengan kencang. Suasana hatinya kurang
bagus, ingin dia memarahi Dy yang
terlalu ceroboh membawa diri, tapi
hak untuk memarahi Dy sudah tidak
berpungsi.....semua mati suri.
Dilan menarik nafas dan membuangnya kasar.
Hidup ini harus dijalani seperti air
yang mengalir.
Agung membantu Dilan setelah Mereka sampai di Dirumah.
Dilan menggendong Dy ke Kamar
dan Agung kembali melanjutkan
tugasnya ke lantai 2. Ada Fery yang
" Bagaimana Nona Gung?," tanya Fery
berwajah khawatir.
" Mabuk aja, hampir Boss di kroyok
Satu Bar," sahut Agung mengingat
Peristiwa tadi.
" Astaga...koq bisa begitu?,"
" Biasa...masalah cemburu, besok
Dy harus kesana mengambil Kartu kreditnya yang ditahan disana. Kebiasaan open tab sih,"
" Kasihan Nona," sahut Fery serius.
Dilan dengan lembut membaringkan
Dy di Ranjang. Satu persatu sepatu
Dy dibuka dan telapak Kakinya dibersihkan memakai tissue basah.
Perasaan kasihan menyelimuti hati
Dilan ketika membersihkan muka
Dy dengan tissue basah.
Maafkan Aku sayank, semua yang
terjadi padamu adalah salahku, Aku
terlalu egois atas dirimu. Harusnya
Aku membiarkan kamu pergi untuk
mencari nuansa baru.
Aku terlalu mencintaimu dan belum
Sanggup melihatmu bersanding dengan cowok lain.
Dilan berkata dalam hati sambil menyelimuti Dy.
Dilan kemudian mengganti
Pakaiannya dengan piyama.
Lalu ikut masuk keselimut Dy.
Gairahnya mengalir lembut menyapu
hati yang rindu akan asrat yang tertunda. Tapi Dilan terpaksa merubah
rindu dengan menahan gejolak karena
Dy lelap sekali dalam mabuknya.
Untungnya Dy tidak pernah muntah
kalau mabuk sehingga, lebih gampang
menanganinya.
Dy tersadar dari mabuknya dan mendapatkan dirinya sudah ada di pelukan Dilan.
Dadanya langsung berdebar mesra
melihat bibir Dilan yang sexy.
Ingin sekali Dy sekedar mengecup
Bibir itu tapi Dy tahan.
Harga diriku terlalu tinggi untuk
Lski-laki tak setia. Gumam Dy terus
menggeser tubuhnya.
Dy menarik nafas lega setelah berada
di Kamar mandi dan mulai memenuhi
Bathub nya dengan air hangat.
Lamunannya melayang kemana-mana
yang membuat hatinya sedih sekali.
Selesai mandi Dy sudah rapi memakai
Celana jeans dan baju kaos putih, sangat sederhana.
Sudah pukul 05.43 wita, Dy kembali
merebahkan tubuhnya di Sofa panjang, berusaha menguntai mimpi
berharap mimpi ini lebih indah
dari mimpi sebelumnya.
Baru mata mau merem suara ketukan pintu terdengar.
Dy cepat meloncat bangun dan membuka pintu, Agung berdiri pucat
didepan pintu.
" Ada apa Gung?," tanya Dy merasa
tidak enak.
" Agent kita ada yang gugur. Dy cepat
berlari dan meloncat ke lantai 2 tanpa menaiki tangga. Agung terkesima melihat kehebatan Dy dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Suara tangis Dy pecah ketika matanya menatap layar. Mayat Zayn hancur
kena sasaran tembakan Dagobe.
" Bangunin Dilan!!." bentak Dy kepada
Agung. Dengan cepat Agung berlari
turun.
" Sabar Nona...itu sudah resiko," kata
Fery menenangkan Dy.
" Apa Kamu bilang, apa mulutmu belum pernah kena jeb ku," teriak Dy
marah.
Dilan datang tergesa-gesa langsung
kebelakang layar.
" Kamu sengaja membunuh Zayn padahal Aku sudah menyarankan
Zayn di tarik. Kita tidak perlu uang
banyak kalau toh itu membahayakan
Agent Kita. Aku jadi benci padamu."
Kata Dy meraung sedih....
" Yank, mengertilah sudah ku bilang
Zayn tidak bisa ditarik karena ada
Dina di tempat Dagobe,"
Sahut Dilan berusaha tenang, sebagai Boss XPostOne tentu Dilan sangat berduka atas gugurnya Zayn.
" Pasca pembajakan di pesawat, Kamu seharusnya sudah menarik
Mereka dan mengembalikannya ke
Post masing-masing," kata Dy suaranya tetap meninggi.
" Aku salah Yank, kurang cepat bergerak, seharusnya hari itu
Aku tarik Zayn. Mereka sudah
terlanjur masuk," sahut Dilan
merasa lalai.
Ucapan Bela sungkawa memenuhi layar dari XPostOne.
Respon cepat mengalir memenuhi layar dari segenap anggota XPost0ne.
" Agung, tolong hubungi keluarganya.
Kita akan memberi pesangon selama setahun penuh," perintah Dilan kepada Agung.
*******