
Bab. 126.
Yudha Juga tidak habis pikir, tadi ada
lima paket Nasi dan Burger diatas
Meja Memang Ibunya punya penyakit Gula atau Diabetis, tapi tidak mungkin Ibunya makan Burger begitu banyak
Sedangkan Ibunya sudah makan Nasi paketan. Pikir Yudha
"Yank lebih baik Kita ke Kamar, bisa
saja Ibu menyimpannya untuk besok,
Ibu suka pikun," kata Yudha mengajak
Dy ke Kamar.
"Ibu lebih baik dibawa ke Dokter," sahut Dy mengikuti Yudha ke dalam Kamar.
Yudha tahu Dy tidak begitu percaya, Ibunya pasti akan terus di awasi dan
menjadi target XPostOne.
"Yank Aku minta membuang pikiran negatifmu kepada Ibu. Aku kasihan
kepadanya. Sebenarnya Aku tidak
dekat dengan Ibu karena Ibu tidak mengasuhku, tapi bagaimanapun
Ibu adalah Orang tuaku yang sampai
saat ini harus Aku jaga dengan baik.
Dia yang melahirkanku," Kata Yudha
setelah Mereka di Kamar.
"Aku cuma mengawasi saja tidak ada
maksud buruk," sahut Dy menuju kamar
mandi.
"Aku cuma menjaga amanah dari Dilan
supaya menjaga Ibu. Terakhir kali saat
Dilan menghembuskan nafasnya yang
terakhir, Dia berpesan supaya Aku mau
menjagamu dan Ibu, dua Orang yang
Dia cintai dan selalu di hatinya," kata Yudha merebahkan tubuhnya di Sofa panjang.
Seketika Dy menoleh, dan menahan
langkahnya ke Kamar mandi. mana pernah Dilan siuman di Rumah Sakit.
Tapi bukankah waktu Dilan sakit Ibu
dan keluarganya tidak mengijinkan
teman dari XPostOne menengok dan
menunggunya. Dy semakin curiga
kepada Yudha. Masalahnya Yudha
sering berkata tidak masuk akal dan
kadang kurang fokus kalau lagi
berdua.
Ketika Dy masuk ke Kamar mandi
Yudha dengan hati-hati keluar dari
Kamar. Dia harus menemui Ibunya supaya tidak terjadi salah paham
antara Ibunya dan Dy. Yudha juga
ingin tahu makanan apa yang harus
di siapkan setiap hari.
Sampai di depan Kamar Ibunya, baru
Yudha mau memegang Handle pintu
tiba-tiba sebuah pukulan membuat
Dia jatuh tersungkur. Keadaan Rumah
yang sedikit gelap membuat sosok itu
tidak leluasa menyeret tubuh Yudha untuk membawanya ke kamar Dy.
Setelah Yudha tergeletak dan merasa aman sosok itu meloncat hilang.
Dy yang berencana mau berendam di
Bathub mengurungkan niatnya dan
keluar dari Kamar mandi. Hampir Dy
menjerit melihat tubuh Yudha yang
tergeletak di lantai. Dengan sigap Dy
mengambil pistol nya dan menyetel
Jam sensornya.Tidak ada sinyal yang mencurigakan, Akhirnya pintu dikunci
dari dalam. Dy langsung memeriksa
urat nadi Yudha, syukurlah Yudha
cuma pingsan.
Badan Yudha yang tinggi tegap agak
membuat Dy susah memindahkan
ke tempat tidur. Tidak berapa lama
Yudha siuman. Matanya terbuka memandang Dy yang berada tepat
disampingnya. Dengan lembut Dy menghapus Wajah Yudha memakai
tissue basah.
"Apa kepalanya masih pusing?" tanya
Dy membantu Yudha bangun dan memberi minum air mineral.
"Aku tadi pingsan?" tanya Yudha lalu
bangun dan pindah ke Kasur.
"Apa yang terjadi?" tanya Dy menatap
Wajah Yudha.
Kemudian Yudha bercerita apa adanya. Tapi Dy merasa Yudha bohong dan sengaja membuat openi baru supaya
Dy tidak berprasangka buruk kepada Ibunya. Mana ada orang memukulnya
lalu menaruhnya di Kamar. Biasanya
yang terjadi adalah langsung dibunuh,
mungkin pembunuhnya salah sasaran akhirnya Yudha di kembalikan.
"Aku ingin keluar melihat situasi," kata
Dy mau bangun.
"Tolong jangan keluar, situasinya
masih rawan. kalau ada apa-apa Aku tidak bisa membantu. Lebih baik
malam ini Kita istirahat, besok Kita
mulai menyelidikinya," kata Yudha menarik tangan Dy.
"Ya tidurlah, Aku juga merasa lelah,"
kata Dy merebahkan badannya.
"Mengapa Kamu tidur dipinggir nanti
Jatuh Aku tidak akan mengganggumu,
Aku lelah," kata Yudha memiringkan
tidurnya.
"Tidur sajalah, jangan koment lagi,"
PAGI CERIA
Hanya manusialah yang selalu gelisah
dan menyalahkan Alam. Kalau panas
Mereka mengeluh, kalau Hujan Mereka
mengeluh juga. Maunya apa sih??
Seperti pagi ini sangat panas padahal
baru pukul 08.00, Dina yang menyapu
sudah berkeringat. Dari tadi mulutnya
mengoceh karena sangat panas.
"Gue mau turun mengambil minuman,"
kata Dina.
"Jangan sembarangan makan minum,
lebih baik beli lewat Online, Aku sudah
trauma dengan makanan, minuman
yang ada disini," sahut Jefry menarik tangan Dina.
"Kita mengambil yang di kulkas.tidak mungkin pembunuh membuka botol
satu persatu dan menutupnya lagi.
pasti ada bekas nya," sahut Dina tetap
mau turun.
"Kalau gitu Aku ikut, sekalian Kita ke
Kamar Dy utuk membangunkan Dy,"
kata Jefry ikut turun.
Sampai dibawah masih sepi, Dina
dan Jefri menuju Kulkas. Mereka
berdua berlomba mengeluarkan minuman dan mulai memeriksa
botol satu persatu.
"Segelnya masih bagus," kata Dina dengan muka berseri.
"Kita duduk dulu disini," sahut Jefry
duduk di Meja makan sambil minum
kopi kemasan.
"Rupanya penganten baru belum
bangun," kata Dina menunjuk Kamar
Dy sambil mesem.
Baru saja Dina berkata begitu Dy dan
Yudha sudah nongol di pintu.
"Panjang umur, baru gue omongin loe
udah bangun. Gimana tidurnya apa serasa berbulan madu," celoteh Dina memandang Dy dan Yudha.
"Tidak ada bulan madu Kita masih
tahap penjajakan," sahut Dy manyun.
"Jangan percaya, tadi malam Aku
sudah mengukir 10 jejak drakula di tubuhnya," sahut Yudha membuat
tangan Dy reflek meraba lehernya.
Jefry dan Dina tertawa.
"Tidak mungkin, kita berdua tidak
ada berbuat yang aneh-aneh," sahut
Dy dengan wajah.malu.
"Dina coba lihat dadaku ada merah
nggak," kata Yudha membuka satu
kancing ke mejanya.
"Ada. Ada...gue melihatnya 3," sahut
Dina berbohong, padahal Dina melihat bekas di kerok.
"Ya udah jangan di bahas, hari ini Kita
makan apa?" tanya Dy menahan malu.
"Kita pesan lewat Online saja, suruh
catat apa yang Mereka suka supaya seragam dan belinya satu tempat,"
sahut Yudha membuka ponselnya.
"Diatas teman-teman sudah bangun
semua, Mereka ingin minum kopi
tapi takut di racun," kata Dina.
"Kita beli kopi Sachet, kemudian Kita
membuat Kopi sendiri-sendiri supaya
tidak saling curiga," kata Dy.
"Aku keatas menanyakan Mereka apa
yang Mereka pesan," ucap Yudha lalu
naik keatas.
"Dy tadi malam gue terbangun karena
mendengar suara mendengus," kata
Dina merasa merinding.
"Kenapa loe nggak keluar," tanya Dy
penasaran.
"Gue takut hantu, kalau itu manusia
gue pasti keluar," sahut Dina.
"Kenapa Kamu tidak bangunin Aku,
Kita bisa tembak Dia," kata Jefry.
"Daripada mati lebih baik gue diam
tanpa suara," sahut Dina.
"Gue pernah mendengar dengusan itu sebelum Jelita meninggal ketika gue
menelpon kesini," kata Dy kembali
ingat suara mendengus itu.
"Berarti itu manusia dong,"
"memang manusia, karena sewaktu
gue diculik oleh sopir Ambulance,
gue terus mendengar dengusan nya, seolah hidungnya lubangnya besar
dan suaranya serak pecah," kata Dy.
"Berarti itu pembunuhnya, mulai saat
ini Kita harus waspada," kata Jefry
tegas. Dina mengangguk.
*****
.