
Bab.103
Wajah Aby begitu rupawan dan kadang membuat Dy mencari celah untuk membandingkan dengan ke gantengan Dilan. Baginya Dilan tidak ada duanya, dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, Hanya satu kesalahan Dilan pergi lebih dulu meninggalkan dirinya dalam keadaan nestapa.
"Sayank, Kamu yakin dalam keadaan hamil, Kamu bisa melindungiku?" tanya Aby memandang Dy.
"Pertanyaanmu kurang berkualitas,
tidak ada rasa iba di dalam hatimu melihat Aku," sahut Dy sinis. Semenjak
Dy bertunangan dengan Aby, sering
sekali terjadi perdebatan yang saling menyalahkan. Kadang Aby mengungkit nama Dilan sebagai Laki-laki yang membuat dirinya hamil.
Aby begitu cemburu dan tidak mau menyentuh Dy saat Mereka berdua.
Kalau sudah begitu Dy akan diam dan merajut kesedihannya sendiri.
"Apakah Aku salah bertanya? atau
Kamu yang terpaksa menjaga Aku,"
kata Aby mencari-cari kesalahan Dy.
"Aby mengapa Kamu menjadi sensitif sekali, setelah Kita bertunangan?,
Semua yang Kita lakukan atas nama Cinta dan Perusahan. Jangan sampai Saham anjlok gara-gara sifatmu yang Amburadul belakangan ini," kata Dy mengingatkan.
"Aku tidak mengerti mengapa Aku
tidak bisa menerima keadaanmu.
Aku selalu berperang dengan
perasaan cemburu kalau ingat Dilan
dan bayi yang ada di perutmu. Aku sampai jijik menyentuhmu," sahut Aby terus terang. Jantung Dy berdegup mendengar pernyataan Aby. Keterus terangannya membuat Dy terhenyak.
"Aby, kenapa Kamu baru mengucapkan kata-kata itu setelah Kita bertunangan. Apakah senajis itu Kamu memandang diriku?" tanya Dy tersekat.
Aby diam seribu bahasa, Dy adalah
gadis yang Aby idam-idamkan selama
ini. Tapi mengapa kecemburuannya
baru timbul setelah pertunangan?.
"Aku berharap setelah Aku melahirkan Kamu bisa berubah dan tidak jijik menyentuhku," sahut Dy berusaha bersabar. Banyak pertimbangan di otaknya yang membuat Dy harus bersabar. Tentu yang paling utama
adalah menutupi ke hamilannya dari mata umum.
"Aku akan menata hatiku dan tolong Kamu mengerti, apalagi masalah yang Aku hadapi sekarang ini menguras pikiranku. Setelah semuanya selesai
Aku akan menikahimu," janji Aby
menatap Dy.
"Aku akan menjagamu mulai sekarang, semoga tidak terjadi sesuatu yang merugikan Kita. Kita akan konsultasi dengan Lawyer Admesh juga harus di kabari," kata Dy sedih.
"Aku akan pasang badan, Perusahan
akan hancur kalau Admesh sampai terseret. Aku sudah memikirkan semua ini," sahut Aby pasrah.
"Aby!! Ini bukan masalah sepele, kalau sampai Kamu di tangkap hukuman mu bisa sangat berat. Karena di rencanakan," tandas Dy.
Aby menarik nafas panjang, pikirannya
terasa buntu. Terlintas di otaknya dinginnya Kamar penjara dibalik jeruji besi yang mengurungnya. Badannya bergidik!!. Ingat sama Mama Ida dan
Om Burhan.
"Semua berpangkal dari rasa cemburu dan sakit hati menyadari Kamu telah mengandung anaknya Dilan, Admesh tidak tega melihat Aku prustasi, Dia bertindak tanpa sepengetahuanku. Dan Aku salah karena melanjutkan Skenario itu sampai sempurna," kata Aby.
Ingin rasanya Dy memeluk Aby dengan kasih, tapi Dy takut mendahuluinya.
Lebih baik Dy diam sambil memikirkan jalan yang terbaik supaya Aby bisa
kembali seperti dulu. Atau Dy akan mengajak Aby ke pshocoligi.
"Aku memesan makanan untuk Sore nanti, Kita makan disini tidak usah ke Restoran," jelas Aby sambil memainkan Ponselnya.
"Kenapa?, Aku lebih senang A La Carte langsung di Restoran," sahut Dy menatap Aby.
"Aku malu mengajak Kamu ke Restoran, karena perutmu sudah buncit. Aku tidak mau ada gosip.Apa kata Karyawanku sedangkan Kita masih tunangan," kata Aby membuat Dy serba salah. Menyesal memakai baju ketat, tahu begini Dy memalai baju longgar.
"Bilang saja Kamu benci karena yang menghamiliku Dilan, bukan Kamu,"
sahut Dy kesal.
"Aku tidak serendah Dilan, dari dulu
Kita pacaran tidak melampui batas.
Aku menghormatimu, itu perbedaan
Aku dan Dilan," kata Aby kesal.
Diam adalah emas, Dy mengatur
nafas supaya tenang dan membiarkan keadaan ini berlalu sampai malam menjelang. Satu persatu lampu Hotel
di nyalakan, Dy berjalan berendeng dengan Aby menuju Suite Room. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Mereka berdua. Dy akan menginap di Suite Room menjaga Aby dari ancaman
Ghama.
Jarinya. Aghata disini sebagai Intelijen bukan sebagai Tunangan Aby. Untuk itu Aghata menekan perasaannya terhadap tingkah Aby yang uring-uringan.
"Aku akan memakai Kamar di sebelah, Kamu istirahat saja," kata Dy menyeret Kopernya ke Kamar sebelah.
Ruangan ini terdiri dari 2 kamar tidur Utama dengan kamar mandi Bathub mewah, serta Ruang tamu, Ruang keluarga, Mini bar dan Kichen. Luas
Ruangan sekitar 200 meter persegi.
Ada Kolam Renang pribadi yang hanya
di batasi tembok rendah dari Laut luas.
Setelah mengunci pintu Kamarnya, Dy berencana akan mandi. Tapi teriakan
Aby mengurungkan niatnya. Dengan cepat Dy lari ke Kamar sebelah.
"Yank buka pintunya!!" teriak Dy panik.
Dy terus berteriak, sampai pintu terbuka, terlihat muka Aby sangat pucat. Tangannya menunjuk keatas tempat
tidur. Seekor Tarantula berada persis diatas bantal guling.
"Cari tempat kaca untuk binatang ini.
Aku akan menangkapnya," Aby cepat
memberi kotak kaca kepada Dy.
Terkadang rasa cinta berpacu dengan cemburu, membuat Rasio tidak berjalan. Dy tersenyum tipis menerima kotak itu. Pikiran Aby sudah terbaca. Semua sandiwara yang sering Aby lakukan
selalu membuat Dy sedih.
Mungkin Aby ingin seranjang dengan
Dy, tapi malu nengutarakan. Dengan adanya tragedi Tarantula Aby pasti
minta di lindungi.
"Aku merasa tidak nyaman tidur disini, lebih baik Aku tidur di Kamar sebelah saja," kata Aby pura-pura acuh.
"Kamu di sebelah saja, Aku akan menjagamu di luar," sahut Dy cepat sambil tertawa dalam hati.
"Sebaiknya Kita tidur di dalam, Aku
takut ada Tarantula lagi,"
"Tidak ada, Aku sudah memeriksa
pakai Sensor. Semua aman!"
"Aku tetap khawatir, Aku tidak ingin
Kamu di luar dalam keadaan hamil,"
sahut Aby menatap Dy.
"Ya....Aku di dalam, di sofa panjang,"
sahut Dy menuju Kamar.
DI RUMAH DY
Malam semakin larut, bibik sudah
menguap terus. Ibunya Dilan juga
mengantuk. Rumah terasa sangat
sepi, hanya terdengar suara Binatang malam saling bersautan.
"Apa Dy tidak pulang ya," kata Ibunya
Dilan pelan.
"Tidak, sekarang Dy berada di Kantor
XPostOne," sahut Bibik.
"Aku sudah ngantuk, mari kita tidur,"
sahut Bibik selanjutnya.
Ibunya Dilan bangun masuk ke Kamar nya. Kamar Mereka berjejer, jauh di belakang dekat Dapur. Seandainya ada yang datang bertamu Mereka tidak tahu, karena Pintu gerbang di depan jauh.
Seperti malam ini Mereka tidak tahu
bahwa ada yang datang dan masuk
lewat pintu gerbang dengan gampang. Yang tahu kode pintu gerbang hanya
Dy dan Anggota XPostOne yang Stay
di Kantor.
Lelaki itu dengan tenang menutup pintu gerbang dan masuk ke ruang utama. Duduk di ruang tamu sambil
menempelkan cctv magnet. Kemudian Dia naik ke Lantai atas. Kebetulan kamar tidak di kunci, jadi lelaki itu bebas
melihat isi setiap Kamar.
******