
Bab.34.
Keluar dari Bandara Dy tidak mengharap ada yang menjemput, apalagi meliput.
Maklumlsh Dy sekarang adalah Istri Jojo sang Super Star.
Jojo telah memperingati Dy supaya memakai masker, kaca mata dan Sweater.
Walaupun semua penyamaran itu di lakukan tetap saja beberapa Wartawan menyerbunya.
Dy berpikir ada fihak-fihak tertentu yang bekerja sama dengan para wartawan.
" Selamat Siang Nyonya Jovan, Kami tidak melihat Suami Nyonya ikut ke Bali. Apakah pasca menikah Nyonya baik-baik saja, mengingat suami Nyonya adalah seorang Aktor terkenal ". Seorang Wartawan melempar pertanyaan kepada Dy. Rasa risih dan tidak nyaman membuat Dy melangkahkan kakinya lebih cepat.
" Aku cuma berlibur ke Bali, Kangen
sama Bali, suamiku tidak bisa ikut
karena sedang sibuk". Akhirnya Dy menjawab demi menjaga nama Jojo.
Dy tidak ingin di bilang sombong atau arogan gara-gara salah bersikap.
Sekarang bebannya berat karena ada nama Jojo yang harus Dy lindungi.
Tahu begitu Dy naik private Jet.
" Berapa lama Anda akan di Bali, atau
ada sesuatu yang tidak nyaman melanda Rumah Tangga Nyonya". Wartawan itu kembali mencerca Dy.
Dilan sengaja menjaga jarak supaya
tidak ikut tersangkut. Dia merasa nasibnya selalu sial, dulu ada Aby, sekarang ada Jojo. Aku selalu men-
jaga jodoh orang. gerutunya.
Dilan menuju mobil Taxi yang menjemputnya, seorang porter mengangkut koper Mereka ke Taxi.
Dy merasa heran kenapa Dilan pergi
dengan Taxi dan dirinya di tinggal.
Apa Dilan mendadak Amnesia??.
Batinnya.
Tapi ke heranan Dy cepat terjawab, sebuah Supercar Maclaren 720S
warna hitam Dof menunggunya.
Pintu Mobil naik ke atas dan Wajah
Beck menyambutnya dengan rindu.
Dy cepat berlari dan masuk kedalam Mobil, maklumlah antrean di belakang banyak. Pintu Mobil cepat tertutup dan Mobil meluncur keluar dari Bandara.
Dy membuka Masker mulutnya.
" Kenapa Sayank, apa Kamu tidak ingin memeluk Papamu". Tanya Beck menggoda. Dy terharu memandang Papanya dari samping.
" Aku ingin menangis saking rindunya sama Papa, Aku tidak menyangka akan bisa bertemu denganmu. I Love You Papa".
Sahut Dy menghapus air matanya.
" Aku sayank kepadamu, Kita akan kembali bersama". Kata Beck tancap
gas.
"Paa..mobilnya keren". Puji Dy.
" Mobil ini untukmu, Lambhorgini nya untuk Dilan. Aku tertarik sama
Rear Wing yang diukir dengan kutipan kalimat dalam bahasa Arab yang
berbunyi :
‘Life is measured in achievement, not in years alone’ (Kehidupan diukur berdasarkan pencapaian, bukan berdasarkan tahun).
" Memang benar, biarpun Papa sudah
tua tapi masih greget kalau ngebut". Sahut Dy tertawa. Mereka berdua
tertawa senang.
Mobil menuju ke Perumahan Elite yang ada di Renon. Bayangan Aby langsung melintas di benaknya. Dy diserang rasa rindu kepada Aby. Dadanya terasa sesak mengingat Aby.
" Tahan air matamu, inilah namanya
hidup. Ada pertemuan dan ada perpisahan.
Buanglah masa lalu yang menyakitimu dan raih masa depan yang menantimu".
Kata Beck dengan bijak.
Sampai sudah di Rumah mungil Dy
yang asri. Dilan sudah lebih dulu berada
di Rumah Dy, tapi tidak bisa masuk kedalam.
Maklumlah pintu memakai sidik jari atau password.
" Siang Boss...". Dilan menghampiri Beck dan mengambil alih kendaraan untuk di bawa ke garasi.
Ada perasaan kagum melihat Rumah Dy, tapi Dilan pura-pura acuh.
" Sayang...Kamu pintar menghias Rumahmu, semua kelihatan serasi".
Kata Beck memeluk Dy dan mengecup keningnya.
" Bukankah Papa yang mengisi furniture Rumah ini?". Tanya Dy heran.
" Bukan sayang...., jangan-jangan Aby yang menghias Rumahmu ". Sahut Beck merasa kasihan kepada Aby.
Dy menjadi terdiam.
" Mari Kita duduk, dan bertukar khabar". Kata Beck cepat mencairkan suasana.
Dy membuka kaca matanya dan menaruh diatas meja.
Dilan menyalakan AC dan memperhatikan meja atau kursi yang tidak berdebu, padahal AC mati.
" Boss, ku rasa ada yang membersihkan ruangan secara berkala". Kata Dilan.
" Makanya tidak ditutup Slipcover.
lihat saja CCTV siapa yang suka kesini ". Sahut Beck.
Dy bangun dan mengambil sebuah
sensor yang menempel di pigura besi.
" Aku yakin Aby pasti mematikan CCTV nya, Aku sudah memasang sensor ". Kata Dy pelan.
Dy kemudian menghubungkan Sensor ke USB Televisi.
Pertama yang terlihat adalah Aby duduk terpekur sambil memainkan ponsel Dy yang sengaja ditinggal.
Kemudian air mata Aby mulai menetes dan untuk hari-hari selanjutnya adalah Aby yang bersedih serta minum-minum.
Tidak ada perempuan atau Vivi disini.
Yang ada adalah seorang cleaning service.
Dy langsung menangis pilu melihat Aby, Beck juga seperti bersedih.
Dilan bangun mencari dapur untuk mengambil minuman.
Sebuah Bar mini terletak di belakang dan ada kolam renang juga.
" Boss Kita ke Bar...". Ajak Dilan menghampiri Beck dan Dy.
" Oya..mari, hapus air matamu. Sekarang Kamu hidup real ". Kata Beck memberi Dy tissue.
Mereka berpindah duduk ke mini Bar.
Dilan mulai meracik Cocktail.
Dari minuman yang tersedia.
" Lengkap sekali kulkasnya, semua merk minuman keras ada". Kata Dilan kagum.
" Kalau begitu Filling Cabinetnya siapa yang menaruh di kamarku?". Tanya Dy ingin tahu.
" Itu pindahan dari Hotel. Semua barangmu di bawa kesini ". Sahut Beck.
Dy langsung memeluk Papanya. Selama ini Dy merasa Beck yang punya ulah.
" Maafkan Aku Papaa..". Kata Dy lalu bercerita tentang kebodohannya selama ini. Yang bikin Dy tidak mengerti mengapa Aby tidak terus terang bahwa semua yang ada di Rumahnya adalah pemberian Aby.
" Aby bukan orang yang senang gembar gembor dan pamrih". Sahut Beck.
" Kamu rubah password Ruang Utama dan Password remote pintu gerbang.
Tidak baik kalau Aby terus kesini, karena Aby sudah menikah. Disamping itu Kamu juga jangan keluar sebulan ini untuk menghormati keputusan Jojo. Papa sudah bicara dengan Mamanya ". Jelas Beck panjang lebar.
" Ya Paa, tapi Aku ingin sekali bertemu dengan Aby". Kata Dy menunduk.
" Jaga sikapmu, jangan ke kanak-kanakan.
Aby sudah punya istri". Dilan langsung menyela.
Aku tidak ingin terus jadi cadangan. Bisik Dilan dalam hati.
Dy langsung manyun.
Sifat asli Dy sudah keluar, membuat Dilan gemes. Tunggu Beck pergi Aku akan membuat Kamu tidak ingat dengan Aby lagi. Bathin Dilan menatap Dy.
" Kita pasti sering akan bertemu Aby, karena Kita keluarga. Disamping itu Kita punya saham di Romero Hotel". Sahut Beck mulai mencicipi racikan Dilan membuat Cocktail.
" Boss Saya mau pergi dulu, Kita rayakan kebebasan Dy dengan makan enak". Kata Dilan berjalan keluar.
" Jangan lama, Kita sudah lapar". Sahut Beck cepat.
" Sayank, bagaimana hubunganmu dengan Dilan?". Pertanyaan Beck membuat Dy gugup, karena Beck pernah melarang Dy berpacaran dengan Dilan.
" Aku..aku..tidak ada apa-apa". Sahut Dy pelan. Beck tersenyum.
" Terus siapa yang membuat merah-merah di lehermu?, Hantu!!". Dy reflek memegang lehernya dan langsung mukanya tengkurap di meja.
Beck langsung tertawa membuat Dy
malu.
********