
Bab.111.
Polisi sudah mengelilingi Markas XPostOne dengan Police Lines.
Wajah Mereka merah seperti
kepiting rebus. Ini adalah tragedi
diluar nalar yang memalukan.
Pertama kejadian di Hotel yang menewaskan Admesh dan Aby.
Belum masalah ini sempat di
selidiki sudah ada kejadian baru
yang sangat sadis.
Bibik Supari Pembantu Mereka
dibunuh dengan kejam. Anggota tubuhnya di cingcang ngawur,
sebagian di masak dan sebagian
lagi di taruh dalam Kulkas.
Sedangkan tulangnya di bungkus
dengan Karung goni dan dibuang
di tempat sampah. Pembunuh
yang tidak profesional, dan gila.
Bibik Supari adalah pembantu
yang baru di pekerjakan oleh
Jelita, belum ada sebulan, Bibik
termasuk ulet dan tidak neko-
neko. Selama ini kerjanya bagus
dan tidak pernah mengeluh.
Sekarang semua barang bukti
telah di angkut ke Kantor Polisi. XPostOne dan Polisi bekerja
sama untuk mencari si pelaku.
semoga tidak ada korban lagi.
Mereka juga menyewa 5 Orang
Cleaning Service yang akan di
suruh membersihkan Kantor
dan halaman di Markas.
Sebagai Badan Intelijen Swasta
Mereka sangat terpukul dengan
kejadian ini. Sekarang peristiwa
ini sudah ke blow up, beberapa
cellaent memutuskan kerja
samanya dan mencari Agent
freelance yang Notabene lebih
murah bayarannya.
Padahal Mereka semua sudah
deal serta sudah menanda
tangani MoU, apa boleh buat,
tragedi di Hotel membuat
Cellaent berpaling atau masih
menunggu. Yang membuat
bingung pistol yang dipegang
Oleh Aby dan Admesh milik
XPostOne. Berarti ada orang
dalam yang ikut campur.
Siapakah itu?
"Boss..bagaimana Bibik bisa
di bunuh?" tanya Rina ingin
tahu.
"Aku belum bisa menjawab apa
Yang kalian tanyakan. Kronologis
kejadian akan keluar apabila Kita
bisa menangkap si Pelaku," kata
Agung emosi. Dari tadi Staf nya
bertanya tentang masalah ini.
"Maaf Boss, Saya tidak mengerti,"
kata Rina sambil menunduk.
"Cepat selesaikan pekerjaan ini,
kalian malam ini akan tidur disini.
Tidak ada yang boleh pulang, Aku menyandra Kalian. Seluruh tenda
akan di pasangi CCTV supaya
Kita tahu siapa dalang dari semua
ini. Tidak ada yang mengeluh,"
Perintah Agung.
"Boss, Kita mau mandi tapi takut,
gimana donk," Esta sebagai staf
Administrasi dari tadi mengeluh
dan kurang setuju rencana yang
digagas oleh Boss nya.
"Semua ada yang mengantar,
tidak usah takut. Aku sudah
meng-indivikasi pembunuhnya,
tinggal di bekuk," sahut Agung
melirik Yudha.
"Bekuk aja Boss..supaya kelarr
Hidup loe," sahut Yudha acuh.
"Lihat saja nanti, Aku berani
bersumpah akan memberi
timah panas," sahut Agung.
"Percaya Boss....," ledek Dina.
"Siapa yang mau mandi Aku
yang mengantar," kata Yudha
setengah teriak.
"Tidak usah repot sudah ada
Agent lain yang bertugas
mengantar setiap yang mau
mandi," sahut Agung.
"Ya sudah, Aku mengantar
Dy saja," sahut Yudha lagi.
Dikantor XPostOne sekarang
ada 15 Orang. 6 Agent yang
terdiri dari Agung, Jelita, Yudha,
Dy, Jefry dan Dina. Dan Staf
ada 5 orang, tapi alfa 1 orang
yaitu Eny karena anak treaning.
Sekarang yang tinggal adalah,
Rina, Esta, Kumala, dan Puput.
Dan 5 orang pelatih yaitu, Faisal,
Dedy, Putra, Darma dan Ryan.
"Agung sampai kapan Kita akan
di tenda?, Aku lagi mengandung.
Badanku terasa sangat lemah,"
kata Dy lirih.
"Maafkan Aku Dy, Kamu boleh
tidur di Mobil Ambulan dengan
Jelita. Aku bersama Yudha akan
tetap memantau Agent Kita
yang lagi bertugas. Sedangkan
Jefry dan Dina akan menjaga
Di tenda," kata Agung.
"Aku akan ikut Kamu di Kantor
saja, lebih baik Aku tidur di Sofa
panjang," sahut Dy.
"Ya sudah kalau begitu, Jelita
tugas di tenda," kata Agung
berdiri dan menuju Kantor.
kata Jelita menguap.
"Belum apa-apa menguap,"
kata Jefry tegang.
"Aku lelah lahir dan bhatin,"
sahut Jelita lagi.
"Semua lelah dan tegang,"
sahut Dina ikut menguap.
"Kalian seperti bukan Agent,
tidak boleh bermental tempe.
Ini baru hari pertama, untuk
selanjutnya Kalian harus lebih
energik dan mawas diri, rugi
lBeck melatih Kalian siang dan
malam," kata Yudha.
"Aish ..banyak bacot loe, kasi
contoh bahwa loe berani dan
energik, Loe Beck saja kagak
kenal jangan sok petuah loe,"
sahut Dina sebel, matanya
yang merah menahan kantuk
seketika melotot melihat Wajah
Yudha.
"Loe mirip banget sama Dilan,
jangan-jangan loe hantunya
Dilan, iihhh....ngeri," seru Dina
setelah memperhatikan dengan
seksama Wajah Yudha.
"Dina!! Jangan bikin takut deh,"
sahut Jelita.
"Lebay..loe lihat Dy, mana takut,
malah nempel terus, Dy pikir
Yudha itu Dilan," sindir Dina lagi.
"Din...mulut loe jaga, gue lagi
gak enak badan. Seandainya
Yudha hantunya Dilan, gue
yang pertama minta dicekik,
udah bosen gue menderita,"
sahut Dy putus asa.
"Stop!! Jangan dilanjutin, kasian
Dy, Aku yang akan menjaganya,"
kata Yudha berdiri.
"Sorry Dy, gue hanya bercanda,"
sahut Dina menatap Dy.
"Kita ke Kantor supaya Kamu
bisa berbaring," kata Yudha
memegang tangan Dy.
Yudha menuntun Dy menuju
Kantor XPostOne, kira-kira
jarak Kantor dan Tenda ada
sekitar 300m, tidak begitu
jauh. Sudah dipasang lampu
di segala penjuru, halaman
menjadi terang benderang.
"Yudha, Aku tidak ingin marah
dan berdebat denganmu. Aku
sebagai Bos memberi perintah
kepadamu untuk menangkap
Pembunuh Bibik Supari dan
mencari tahu siapa orang dalam
yang mrmberi Aby dan Admesh
Senjata Api," kata Agung ketika
Yudha dan Dy sampai di Kantor.
"Persilahkan dulu Aku duduk
setelah itu baru bicara," sahut
Yudha tenang.
Agung tertawa, ingat dulu, kalau
Dilan sebagai Bos bicara, Agung
selalu berkata begitu.
"Kenapa Bos tertawa, ingat masa
menjadi bawahan ya," celetuk
Yudha cuek.
"Istirahatlah Dy, jangan banyak
berpikir, biarkan Yudha yang
menyelesaikan tugas ini, kalau
hantu biasanya mempunyai
Indra penciuman lebih," sindir
Agung. Yudha malah tertawa.
"Aku mau tidur, kalian berdua
aneh," sahut Dy merebahkan
Badannya di Sofa panjang.
Malam mulai merambat, mata
Agung tetap melotot ke layar.
Yudha bangun menggerakan
otot-ototnya yang kaku. mata
Yudha menatap wajah Dy yang
pucat. Jauh di lubuk hatinya
perasaan kasian menggelora
melihat penderitaan Dy yang
terus berlanjut.
"Gung Aku akan melihat tenda,
perasaanku tidak enak," kata
Yudha mau pergi.
"Jangan, diam disini, Aku lagi
mengawasimu. Sampai ada
kejadian lagi, pasti kamu yang
membuat ulah. Aku sudah tahu
dan menyimpulkan Kamu ada
di balik tragedi ini," kata Agung
tegas.
"Aku salut sama Bos ku, ajari
Aku soal simpul menyimpul,"
sahut Yudha kembali duduk.
"Alahhh.. Kamu duduk saja,:
kata Agung meremehkan.
"Aku sudah pantau Mereka,
tadi ada yang membeli Kopi
keluar dan Mereka lagi ngopi.
Santai sajalah," sahut Agung
melihat CCTV.
"Kalau begitu Aku tidur," sahut
Yudha sambil bersandar di
Kursi. Mata Agung juga mulai
mengantuk...Pada saat kepala
Agung terantuk ke Meja, ada
teriakan yang membuat Agung
dan Yudha melompat. Mereka
berdua mendapatkan Dy sudah
di lantai....
******