I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
TERBUNUHNYA SI PEMBUNUH



Bab.131


Bisa saja Dy menembak si pembunuh  atau Yudha, tapi Dy ingin tahu apa yang


terjadi sehingga Yudha sangat marah.


Apa permasalahan yang sebenarnya. Dy menunggu dengan harap-harap cemas. Apakah akan terjadi pembunuhan atau hanya sekedar basa basi saja. pikir Dy.


"Keluar Kamu dari persembunyianmu," teriak si Pembunuh, suaranya terdengar serak, agak di dalam. Si pembunuh tetap dengan posisi memunggungi Dy. Tapi Dy tahu teriakan itu untuk dirinya. Dy keluar dengan siaga, pelatuk pistol tinggal ditarik seandainya pembunuh melawan.


Kakinya ringan mendekati target. Dy melihat Ibunya Dilan duduk di Meja


makan dengan wajah pucat, matanya


ke lihatan merah darah.


"Untuk apa Kamu mengikutiku," kata Yudha kesal.


"Untuk membunuh kalian," sahut Dy ketus.


Yudha menarik nafas mendengar perkataan Dy yang menyakitkan hati.


"Apakah Kamu tidak ingin tahu apa yang


menyebabkan Ibu sakit dan Aku terpaksa


membunuh Mereka," kata si pembunuh


tetap dengan posisi semula.


"Aku tidak peduli, Aku hanya tahu Kamu


terus membunuh , bagiku tidak ada


alasan  untuk membiarkan Kamu hidup,"


Sahut Dy dengan suara meninggi.


"Setelah tahu Kamu akan menyesal Yank!" kata si pembunuh dengan suara  dalam.


"Dilan!!, Aku mengerti segalanya, otakku


diatas ratarata. Jangan mengajari Aku


tentang tata kerama dan sebab musabab.


Bagiku pembunuh tetap pembunuh," sahut Dy lantang.


"Dy....Kamu tidak punya hati. Kamu lihat


keadaan Dilan?, itu semua karena ulah Aby dan Admesh. Kalau Ibu menjadi psychopath itu karena penderitaan Dilan yang hampir mati mengisap racun. Lihatlah Wajah Dilan sekarang, gara-gara racun itu menyebabkan Wajah Dilan hancur seperti tidak berbentuk," ucap Yudha mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Aku memang tunangan mu, tapi yang sekarang berdiri disini adalah Agent


XPostOne," kata Dy tidak terpengaruh


oleh dalih Dilan.


"Aku tahu sifatmu yang pantang menyerah, bunuhlah Aku," sahut Dilan


pasrah. Namun sebelum Dy menarik


pelatuk Ibu tiba-tiba bangun dan menyerang Dy. Pistol Dy terlempar


cepat Dilan menangkapnya. Dy sangat


kaget menerima serangan mendadak


dari Ibu. Tentu saja Dy berusaha terus


mengelak setiap bacokan dari Ibu.


"Kau mau lari kemana Anakku, kesinilah


mendekatiku. Setetes darahmu akan


membuat Aku hidup," kata Ibu nya Dilan


seperti orang kerasukkan.


"Ibu sadarlah, Aku Dy," teriak Dy.


"Ibu inilah Dy musuhmu, Aku akan membunuhnya untuk Ibu hahaha...,"


teriak Dilan tertawa senang melihat


Dy yang tidak berani melawan Ibunya.


Mungkin Dy sungkan melawan orang


tuanya Dilan.


"Bunuhlah Dy untukku Anakku, Aku


akan bersenang-senang," sahut Ibunya


Dilan tertawa.


"Dilan, jangan Kamu lakukan Itu, Dy


adalah tunanganmu," kata Yudha keras.


Tapi Dilan tidak menghiraukannya dan


membidikan pistolnya ke tubuh Dy yang


sedang berusaha menghindari Ibunya


Dilan.


"Duuaarrrr.....," suara pistol beruntun terdengar. Tubuh Dilan jatuh dengan


berlumuran darah. Bersamaan dengan


itu Anggota XPostOne datang berlarian.


Yudha diduk bersimpuh dengan mata


berkaca-kaca. Sesuatu yang pantang Dia lakukan, kini Dia lakukan karena cinta.


"Dilannnn....," teriak Yudha lari memeluk


tubuh Dilan yang sudah tidak bernyawa.


Tadi Yudha terpaksa menembak Dilan


karena Dy mau ditembak oleh Dilan.


Ketika dada Dilan di tembak pistol yang


di pegang Dilan juga ikut berbunyi dan peluru Dilan mengenai tubuh Ibunya.


"Dy...syukurlah Kamu selamat, Kami


sangat khawatir denganmu," kata Agung


membangunkan Dy. Air mata Dy jatuh


mengingat kejadian tadi. Dengan rasa


haru Dy menghampiri Yudha yang meratapi saudara kembarnya.


"Maafkan Aku Yudha," kata Dy duduk


disamping jasad Dilan. Perasaannya


ngeri melihat Wajah Dilan yang tidak


ada hidungnya. Beberapa jahitan ada


di lehernya dan di pipi.


"Ini akibat Dilan menghisap Racun dari


Admesh dan Aby. Untung waktu itu


belum begitu terlambat, Dilan cepat di


kirim ke Singapore dengan alasan


Dilan sudah meninggal," tutur Yudha


lirih, suaranya terbata-bata.


"Terus siapa yang di kubur?" tanya Dy


penasaran.


"Waktu keluar dari Kamar Rumah Sakit,


Kami sekeluarga melakukan ini demi


Dilan dan sepakat mengubur peti


kosong," sahut Yudha sedih. Saudara


yang sangat Dia sayangi mati di tangannya.


"Yudha, posisikan dirimu sebagai Anak


buah Beck, sebagai Agent tidak ada


yang namanya saudara, semua orang


yang melanggar hukum dan merugikan


Masyarakat harus di hukum," kata Agung


Bijak.


"Aku minta maaf karena pikiranku terbelah selama ini," sahut Yudha lagi.


"Akupun minta maaf karena terus marah


dan mencurigaimu," kata Dy mengusap


punggung Yudha.


"Kami Anggota XPostOne ikut berbela sungkawa dan minta maaf atas semua


prasangka buruk kepadamu," sahut


Anggota XPostOne hampir berbarengan.


Mereka akhirnya mengangkut Jenasah


Dilan dan Ibunya ke Rumah Sakit untuk


di otopsi. Bagi Anggota XPostOne hari


ini adalah hari yang membuat perasaan Mereka lega dan terbebas dari rasa


takut yang berkepanjangan.


"Dy loe tidak apa-apa?" tanya Dina menyodorkan air mineral kepada Dy.


"Aku sedih dan akan selalu sedih kalau


terus menjadi anggota XPostOne," sahut


Dy sambil menghapus air matanya.


"Resiko menjadi Agen adalah kalau


tidak membunuh, akan terbunuh," kata


Agung.


"Mungkin Aku akan berhenti menjadi


Agent dan akan terjun ke Bisnis Pariwisata," kata Dy memandang Yudha yang sangat bersedih.


"Apapun Kamu lakukan yang membuat


Kamu senang, Aku pasti mensuport mu.


XPostOne selalu berada dibelakangmu,"


sahut Yudha lagi.


Pagi beranjak Siang, Matahari bersinar


sangat panasnya. Keluarga XOostOne


kembali berada di Lobby Rumah Sakit


menunggu Jenazah yang di bawa ke


Astana XPostOne. Dy termenung lesu, Yudha dan Agung masih mengurus di dalam.


"Gue berharap supaya tragedi ini cukup


sampai disini. Semoga pamor XPostOne


kembali bersinar," kata Dina yang duduk


disamping Dy.


"Semoga saja," sahut Dy pendek lalu berdiri, karena Jenasah sudah akan di


berangkatkan. Ada perasaan kosong


yang menyelimuti hati Dy.


Kembali Dy duduk terpekur disamping


Yudha dengan perasaan tidak menentu.


Sekarang Dy yang menghibur Yudha.


memaksa Yudha supaya mau pulang.


"Yudha Kita pulang, anak-anak sudah


menunggu," kata Dy. Walaupun Yudha


tidak ingin pulang, Dy memaksanya


karena dari pagi Anggota XPostOne


belum ada yang makan. Tentu saja Dy


merasa bertanggung jawab atas rasa


lapar yang Mereka derita, karena Dy


tidak menyiapkan sarapan di Home


Stay.


"Aku yang Menyetir," kata Dy mengambil


kunci Mobil jeep wrangler dari tangan


Yudha.


Sebelum naik ke Mobil Dy memberitau


semua Anggota untuk singgah di Hotel,


karena Hotel Uvassa tidak begitu jauh


letaknya.


"Lagi sekali Aku minta maaf, atas ke


curigaanku selama ini," kata Dy


membuka percakapan. Mobil melaju


dengan kecepatan sedang.


"Lupakanlah, Aku tidak mau mengingat


sesuatu yang membuatku sakit," sahut


Yudha memalingkan mukanya dari Dy.


"Yudha Aku melihat sinar matamu aneh,


apakah Kamu membenciku?" tanya Dy


sesekali menoleh kepada Dy.


"Aku tidak bisa membencimu, cintaku


melebihi sakit hatiku," sahut Yudha.


"Aku berterimakasih Kamu tetap setia


padaku, walaupun Aku merasa Kamu


mempecundangiku," kata Dy. Yudha


terdiam seribu bahasa.


*******