
Bab. 130.
Setelah Anggota XPostOne yang lain keluar Yudha mengunci pintu Kamar. Sudah selesai drama yang harus Dia perankan. Sebuah lakon yang selalu membuat hatinya berontak. Yudha lalu duduk di Sofa panjang, Dia melirik jam yang berada di atas Meja, menunjukkan
pukul 02.00 dini hari.
Malam ini Yudha tidak akan berusaha membenarkan dirinya, Dia akan mulai mengikuti arah pikiran Dy. Dirinya sudah lelah lahir bathin menghadapi ini semua. Seandainya Dy menembak dirinya Yudha tidak akan melawan, baginya jiwanya
sudah mati ketika Dy selalu mencurigai
gerak geriknya. Menganggap dirinya
target. Sedikitpun tidak ada rasa kasihan atau sinar cinta terpancar dari mata Dy, yang ada rasa ingin membunuhnya.
Yudha lalu merebahkan badannya di
Sofa panjang sambil berusaha menutup
matanya.
Di tempat tidur Dy gelisah, perasaannya masih dongkol, pikirannya melayang tidak menentu, baginya diamnya Yudha adalah pengakuan tidak tertulis yang membuat Dy tambah kesal. Ingin sekali
Dy berkelahi dengan Yudha, menendang,
memukulnya sampai pengakuan keluar
dari mulut Yudha.
Kepala Dy terasa sakit, malam terus
merambat. Walaupun kedua orang yang bertikai itu masih sama-sama galau, toh akhirnya mata Mereka bisa tertutup juga. sampai Pukul 05.30 wita.
Dy menggeliat bangun perasaannya khawatir tidak mendapatkan Yudha di Sofa. Hatinya seketika tidak enak, jangan sampai Yudha melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Dy melompat dari tempat tidur keluar dari Kamar. Dengan pelan
Dy mendekati dirinya ke Kamar Ibunya
Dila.
"Ibu Aku mohon, Kita pergi ke Rumah Sakit sebelum semuanya terlambat. Kasianilah Anak Ibu. Aku merasa Ibu telah menyiksa perasaan Anak Ibu,"
Samar-samar Dy mendengar suara
Yudha dari balik pintu.
"Aku tidak mau ke Rumah Sakit, kalau Kamu merasa tersiksa pergilah dari hadapanku," sahut Ibunya enteng.
"Mengertilah Bu, Aku sudah menjadi target kemarahan Dy, Aku tidak berdaya,"
keluh Yudha kepada Ibunya.
"Sifat kerdilmu itu yang membuat Aku
membuangmu, beda sekali dengan
Dilan yang rela mempertaruhkan nyawanya untukku," kata Ibunya marah.
"Aku sangat mencintai Dy, Aku tidak bisa
melakukan apa yang Ibu suruh," sahut
Yudha menolak permintaan Ibunya.
"Kau Anak durhaka, memang tidak pantas menjadi anakku....," sahut Ibunya geram.
"Aku akan melindungi Dy dan....,,"
Plokk...plokk...plokk...
Belum selesai Yudha berkata tamparan
dari Ibu sudah melayang ke pipinya.
Yudha meringis berusaha menggigit bibirnya, sakit di pipinya tidak sesakit hatinya. Jiwanya bergoyang menerima perlakuan Ibunya.
"Ibu selalu memukulku, tidak pernah Ibu
punya perasaan kasih kepadaku," sahut
Yudha berdiri. Hati Dy bergetar, ternyata
Yudha di bawah kendali Ibunya. Dulu
Dilan juga begitu. Dy yang sedang
menguping cepat minggir dan pergi ke Kamarnya.
Walaupun Dy tidak tahu yang Mereka debatkan tapi Dy merasa Ibunya Dilan
telah membicarankan dirinya secara
tidak baik atau boleh disebut Ibunya
Dilan tidak senang padanya.
Dy ke Kamar mandi dengan perasaan
bercampur. Tekadnya sudah bulat untuk
menghabisi pembunuhan itu dengan tangannya sendiri. Siapapun orangnya
Dy tidak peduli. Dy menghubungi Dina
supaya mengawasi Yudha.
"Yudha loe mau kemana? pagi-pagi
udah rapi, emangnya Dy udah bangun, atau loe di usir Dy," tegur Dy ketika
Yudha mau keluar Rumah.
Yudha kaget ketika Dina telah berada di sampingnya.
"Aku mau keluar sebentar," kata Yudha
gugp dan berusaha menghindar.
"Keluar kemana, sebagai Anggota, loe
harus membuat laporan yang jelas.
Jangam main nyelonong,"
"Aku ada penting sebentar, paling 10 menit setelah itu Aku balik," sahut Yudha.
"Biarin Dia keluar," seru Dy yang baru nongol dari Kamarnya.
Dina menoleh ke belakang melihat Dy yang datang menghampirinya. Sedangkan Yudha langsung melangkah pergi tanpa menoleh.
selalu membandingkan dirinya dengan Dilan.
Yudha melanjutkan perjalanannya, sampai di pinggir jalan sebuah Taxi online telah menjemputnya, Yudha naik ke Taxi di ikuti oleh pandangan Dy dan
Dina. Mereka tersenyum penuh arti.
"Loe sudah tempel Sensornya?" tanya
Dy memandang Dina.
"Sudah beres, loe tenang aja," sahut Dina
tersenyum.
"Mari Kita ikuti," kata Dy menarik tangan
Dina.
"Ayo...sebelum Yudha jauh, Aku yang setir Mobilnya, loe yang mengikuti sensor," sahut Dina. Mereka menuju ke Garasi Mobil.
Suasana Home Stay masih sepi karena belum ada yang bangun. Dina dan Dy
naik ke Mobil Jazz milik Dina dan keluar
dari Rumah.
"Mulai kapan loe curiga dengan Yudha?"
tanya Dina sambil menoleh ke Dy.
"Setelah Yudha masuk ke XPostOne.
Tadinya gue tidak begitu curiga dengan Yudha, tapi semenjak terus terjadi pembunuhan gue jadi curiga," jelas Dy
sambil memencet play musik. Sebuah lagu dari Alec Benjamin, let me down slowly. menghibur Mereka.
akhir-akhir Ini suasana hatinya tidak
baik. Dy melihat sensornya, ternyata Mobil yang di tumpangi Yudha menuju
ke Rumahnya. Detak jantung Dy terasa tambah kencang, mengingat semua tragedi yang telah terjadi di Rumahnya.
"Perasaan gue jadi tidak enak, kenapa
Yudha ke Rumah loe. Kita lanjut atau
Kita memanggil Anggota," bisik Dina
meminggirkan Mobilnya.
"Kita lanjut!!," sahut Dy mantap.
Sebelum Mobil melaju lagi, sebuah
Taxi kembali berhenti di depan pintu gerbang Rumah Dy dan Dina kaget karena yang turun dari Taxi itu adalah Ibunya Dilan.
"Dy, kenapa Ibu kesini apa mau pindah?,
mungkin Dia tidak betah sama Kita,"
kata Dina memandang ke depan.
"Aku mau turun, loe diam disini dulu menunggu teman-teman," kata Dy membuka pintu Mobil.
"Dy gue ikut, jangan sendirian," sahut
Dina, tapi Dy sudah cepat melangkah.
Kebetulan setiap Rumah jaraknya jauh
antara Rumah yang satu dengan yang lain, setiap Rumah berisi taman buatan
disampingnya, sehingga Dy dengan leluasa menyelinap di antara pohon
hias yang tumbuh rimbun.
Dy dengan enteng meloncat ketembok.
Baginya tidak begitu sulit melakukan
ini, Ilmu meringankan tubuhnya sudah cukup sempurna. Hanya 3 orang yang mampu meloncat seperti Dirinya
yaitu Yudha dan Dilan.
Dy kemudian turun pelan ke serambi belakang untuk melihat ke bawah.
Masih terlihat bekas darah Herman
yang sudah mengering. Dy melongok
ke bawah, terlihat Dilan berdiri dan berdebat dengan seseorang yang
hanya kelihatan punggungnya saja.
Tapi Dia yakin itu pasti si pembunuh. Darahnya langsung mendidih, Dy lalu mencabut Revolver nya dan lari
dengan cepat. Kakinya mendadak berhenti saat Dy mendengar suara Yudha ....
"Aku mohon hentikan semua ini. lebih baik Ibu dibawa ke Rumah Sakit atau
ke psikolog," ucap Yudha kesal.
'Apa Kamu mau membuang itu Ibu?,
dasar anak durhaka, " Ibunya marah.
"Mengertilah Bu, semua ini demi Ibu,
dan deni kebaikan Ibu bersama," sahut
Yudha lagi.
"Begini saja, ini yang terakhir kalinya
setelah itu Ibu harus ke Rumah Sakit, karena Ibu sudah semakin parah
sakitnya," kata Yudha lagi.
Dy dengan pelan mulai melangkah
Pistol sudah siap di tangan.
******
.