
Bab.79.
Mata Zayn terbelalak melihat moncong pistol itu sekarang mengarah ke jantungnya.
" Get Up!!". Bentak Dina keras membangunkan Dy..... Zayn menjadi serba salah, tidak tahu
apa yang terjadi. dan mengapa Dina menodongkan pistol kepadanya.
" Ada apa ini, Dina??...you crazy??.."
Ujar Dy meloncat bangun. Dy kaget sekali melihat semua ini.
Zayn bangun mengikuti perintah Dina yang menyuruh keluar dari Kamar. Dy sungguh
tidak mengerti apa yang terjadi.
" Dy, loe borgol Zayn !! " perintah Dina.
Dy yang tidak tahu duduk persoalannya memborgol Zayn.
Zayn diam di borgol oleh Dy dan
disuruh duduk di kursi kayu.
Dina menurunkan senjatanya dan
mengarahkan GSM pc ke Dilan.
"Boss...bagaimana kelanjutannya?".
XP.no. 17.
Dy baru mengerti permasalahannya
ketika wajah Dilan ada di layar dengan
muka kaku. Ini nih biang keladinya. bathin
Dy dengan muka marah.
" Aku pasang badan untuk Zayn, Jangan mengada-ada, kami tidak pernah mesum.
Jangan campur adukan masalah pribadi
dengan tugas ".
XP.no.6.
Wajah Dilan hilang di layar dan berganti dengan adegan Dy dan Zayn berpelukan. Busyet!!. Dy betul-betul tidak tahu.
"Aku tidak tahu karena Aku duluan
Tidur, Kamu akan membunuhku, I am ready!!".
XP.no.6.
"NO...
IM KILL NO.1 ...
Boss.
" ABSURD "
XP.no.6
"Dua opsi.
Pulang atau Kill ".
Boss.
Dy mengacungkan jari tengah ke Dina yg pura-pura cuek dan hanya melirik.
Zayn juga diam pasrah.
"AKU PULANG"
XP.no.6
LAYAR MATI....Dilan merasa menang!!.
Dy langsung menendang Dina yang lari cekikikan.
" Dasar manusia kardus...datang tidak bilang-bilang ". Kata Dy ikut tertawa.
" Mau menjebak, ternyata benar...
Loe pada haha hihi ". Sahut Dina sambil melepaskan borgol Zayn.
" Tahu loe datang, gue langsung main film biru, yang tadi itu mah nanggung.
Tuduhan yang mengada-ada,"
Kata Zayn merasa kecewa akan di tinggal Dy.
" gue akan pulang untuk menikmati sakit hati yang tertunda ". Kata Dy muram. Hatinya merasa jengkel di perdaya oleh Dina.
" Pulanglah, Sang pangeran kerjanya marah- marah melulu ". Kata Dina menatap Dy yang
enggan pulang.
" Bukankah sudah ada permaisuri?"
Tanya Dy tanpa ekspresi.
"Mengapa Aku harus pulang? Apa dia gak bosen nyakitin Aku " sambung Dy lagi.
" Mungkin Dilan butuh 2 permaisuri"
Sahut Dina membuat Dy tambah lemas.
" Aku pulang demi nyawa Zayn, bukan karena Dilan " kata Dy berdiri.
" Aku tidak butuh pertolonganmu tapi Aku butuh cintamu " ucap Zayn serius.
" Jangan membuat langkah ku terhenti dan hatiku berbunga " sahut Dy bercanda.
" Sadar broo ...percakapan kalian masuk ke GSM boss " kata Dina memperingatkan.
" Sengaja, supaya boss baca dan melarang
Aku pulang ke Bali " sahut Dy
" Jangan bikin masalah semakin meruncing, Boss Dilan tidak main-main. Kita ikuti saja keputusan ini ".
Kata Dina lebih lanjut takut Dilan merubah
pikiran.
" Oke...kalian ngobrol tentang tugas, Aku akan bersiap dlu " sahut Dy terpaksa manut sama perintah Boss.
Tidak ada pilihan lain untuk membela
Zayn, kecuali mengikuti kemauan Dilan.
Beda waktu dari Tripoli ke Bali sekitar
Enam jam. Dy menyeret kopernya dan
Menaruh di Bagasi.
Perpisahannya dengan Dina dan Zayn membuat Dy sedih. Mereka adalah teman yang baik, yang mau mengerti tentang permasalahan yang Dy hadapi.
Saat ini Dy sengaja memilih penerbangan
dikelas Ekonomi untuk menghindari
Mata-mata target yang banyak berkeliaran.
" Kenalkan saya Sait dan Mbak siapa?"
Kata sait menatap mata Dy dengan tajam. Sekarang teman duduk Dy di pesawat adalah seorang pemuda yang wajahnya Timur tengah banget.
" Dyana " sahut Dy pendek. Kebiasaan
menatap lawan atau peace 2 peace kalau bicara adalah kebiasaan di Libya.
" Kamu Wartawan?". Tanya Sait menaikan
alisnya.
" Aku seorang Traveling " jawab Dy
Sekenanya dan berusaha sedikit bermuka bedmood, supaya Sait bisa melepas tatapannya dari Dy.
Tapi tidak bisa, Sait terus melempar pertanyaan yang membuat Dy semakin jengkel.
" Aku tidak percaya, seorang Traveling
sejati bukan seperti Kau " kata Sait.
" Apakah Kamu menyangsikanku?" tanya
Dy ingin tahu.
" Ya... semoga saja Kamu tidak dari Pemerintahan " sahut Sait cepat.
" Tiarap!! Pesawat Anda telah Kami bajak, tangan semua diatas kepala" terdengar suara nyaring dari depan. Seorang laki-laki tinggi besar dengan membawa Mikrofon mini menatap semua penumpang.
Dada Dy berdebar, baru kali ini Dy mengalami
kejadian pembajakan.
Seorang Pramugari dan Co Pilot menjadi sandra Mereka.
Suasana Jadi mecekam, Dy sudah berpikir untuk mengambil senjata pelontar yang bisa membius lawan. Tapi urung mengingat Pilot bisa ikut terbius.
Terjadi dialog antara Pemerintah dan
pemberontak dibawah pimpinan Dagobe.
Terdengar suara dari ATC yang menyarankan supaya tenang.
PENGHUNI PESAWAT YANG TERCINTA KAMI SARANKAN SUPAYA KALIAN TENANG. SEKARANG ANDA BERADA DI KETINGGIAN 38 RIBU KAKI, DENGAN 6 CREW DAN 130 PENUMPANG.
Kemudian terdengar tanya jawab dari
Pemerintah dan Anak buah Dagobe.
Intinya Dagobe meminta Pemerintah mengeluarkan anak buahnya yang ditangkap bulan Juni kemarin Akibat kerusuhan di Distrik Rehel di Tripoli. Insident itu memakan
korban yang tidak sedikit.
Tidak terjadi kesepakatan dan tiba-tiba AK.47 menyalak. Seorang Pramugari bersimbah darah. Rahang Dy mengeras saking marahnya.
ATC ( air traffic controller) mengarahkan supaya pesawat mendarat di Airport.
Untuk mengisi bahan bakar.
Akhirnya, pesawat tersebut mendarat di apron Bandara pada pukul 14.45 Wita.
Suara tembakan kembali datang ketika Pemerintah masih dalam negosiasi.
Dilan, Agung dan satu pasukan Elite
Mengelilingi Pesawat dengan berjarak
300 meter. Senjata Ak 47 terkokang dari
tangan para Pasukan Elite.
Seorang pembajak mulai menggiring
semua penumpang kedepan.
" Kamu kesini!!" bentak seorang pembajak kepada Dy dan menodongkan AK-47.
Sait yang berada di sampingnya hanya
tersenyum sinis.
Kecurigaan Dy tentang Sait menjadi kenyataan, Sait adalah salah satu dari
anak buah Dagobe.
Dy cepat mendekat dan menembakan
jarum beracun dari sarung tangannya.
Kekacauan terjadi saat Anak buah Dagobe jatuh tersungkur.
Dy cepat menguasai keadaan dengan
menodongkan Revolver 229 kepada salah satu anak buah Dagobe.
" Jatuhkan senjata kalian atau teman kalian akan Aku tembak!!" Teriak Dy.
Suara Dy terdengar di luar karena tersambung dengan GMS Dilan....
Tanpa di komando pasukan dari XPostOne meluncur ke Pesawat. Suasana tambah mencekam karena Pasukan Elite juga berada
dalam pesawat dengan Senjata dikokang.
Dilan cepat menarik Dy dan melindunginya.
Sesuai dengan konfirmasi, pesawat tersebut mengudara dalam kondisi dibajak di kawasan udara selama 40 menit. Untuk mendarat, pesawat tersebut hanya dipandu petugas
ATC layaknya penerbangan normal. Tidak
ada pengawalan atau panduan dari pesawat militer seperti lazimnya pembajakan udara.
Setelah mendarat, pesawat tersebut berada dalam kondisi vakum selama beberapa menit. Hingga akhirnya, pada pukul 15.40 Wita, kondisi dinyatakan aman dan pesawat tersebut berhasil bebas dari pembajak.
Pada saat itu yang ada hanya rasa syukur
yang tidak terkira.
******