I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
DY COMEBACK



Ba.102


Mobil Maclaren itu melaju sedang, membelah jalanan yang ramai. Bali


selalu ramai dan semarak. Adat istiadatnya sangat kental, Dy sering


terpesona melihat Gadis Balinya


memakai kebaya. Bali is the best.


Aku sangat terbius dengan Bali. bisik


Dy dalam hati.


Hari ini Dy mengikuti Agung pergi ke


Kantor Markas XPostOne, Dy terpaksa


kembali mengambil tugas Intelijen


untuk melindungi Aby yang tertimpa


masalah. Biasanya Aby datang ke


Rumahnya untuk memecahkan setiap


masalah yang menyangkut Hotel. Tumben dari kemarin Aby tidak ada


menelponnya atau sekedar DM, WA


untuk menyampaikan khabar. Rupanya


Aby sengaja menutupi masalah yang


menimpa dirinya.


Lagu dari camila cabello yang berjudul Never Be The Same menemani rasa galau di hati Dy. Perjalanan Dy menuju


Kantor XPostOne memakan waktu 25 menit dengan laju Mobil sedang.


Rasa rindu berpetualang dengan maut membuat jiwanya bergolak. Dulu Dy sering merasa jemu kalau bertugas, sekarang malah Dy membutuhkan.


Mobil memasuki halaman Kantor XPostOne, beriringan dengan Mobil


Agung. Rasa rindu kepada Beck


menyusup dalam hatinya. Bayangan


Dilan berkelebat memenuhi perasaan


nya yang lagi sedih.


"Aghat, Aku merindukanmu," teriak


Jelita berlari kecil menyambutnya.


"Aku juga merindukanmu, lama sekali


kita tidak bertemu," sahut Aghata memeluk Jelita.


"Bagaimana keadaanmu?" kata Jelita


setelah Mereka duduk di Ruang Tamu. Agung juga ikut duduk dan meletakkan kue pemberian Ibunya Dilan.


"Ini kue dari Ibunya Dilan, tolong jangan


di makan. Kita akan mengambil sempel untuk tes Lab," kata Agung memakai sarung tangan.


"Apakah ada masalah dengan Ibu


nya Dilan?" kata Jelita heran sambil mengerjitkan alisnya. Agung lalu menjelaskan semua yang menimpa


Aby. Karena itulah Agung menjadi


curiga kepada Ibunya Dilan.


"Aku berharap kecurigaan Kita meleset, Aku kasihan melihat Ibu Dilan yang sebatang kara," celetuk Aghata.


"Anak satu-satunya sudah meninggal, sekarang tinggal menunggu kelahiran Cucunya. Kalau sampai Dia terlibat


dalam kasus pemerasan yang di


lakukan oleh Ghama, sungguh sangat sayangkan," sahut Jelita merasa iba.


"Aku minta senjataku dan Stun Gun.


Lengkap dengan Holster, masker mulut dan kaca mata Agent," kata Dy mengalihkan perhatian.


"Kamu mau aktif lagi?, ingat kandunganmu," kata Jelita heran.


"Aku cuma mau menjaga Aby di Kantor. Sebenarnya ingin sekali Aku bertugas lagi, tapi apa boleh buat keadaan tidak mengijinkan," kata Dy sambil mengelus perutnya.


"Istirahatlah, Aku dan Agung bisa menangani,"


"Aku istirahat di Hotel saja untuk sementara waktu, supaya Aby merasa nyaman juga," sahut Dy.


"Oke...kalau ada apa-apa Kamu cepat


kasi sinyal. Sekarang XPostOne sudah merengkut 10 Orang Intelijen baru, masih dalam tahap pelatihan, nanti Kami akan menempatkan 1 Orang di Rumahmu," kata Jelita sambil mempersilahkan Dy minum.


"Aku akan mempersiapkan senjatamu, boleh juga sekalian membawa Filling Cabinet kalau mau," kata Agung lalu berdiri.


"Aku bawa senjata saja supaya tidak ribet. Lagi pula Aku hanya butuh Pistol sama Stun Gun," kata Dy.


Sementara Agung masuk kedalam,


Jelita mulai bergosip ria tentang murid baru yang akan bertugas


"Ada yang ganteng mirip banget dengan Dilan, sampai Aku kaget waktu pertama kali bertemu," kata Jelita dengan wajah genit.


"Aku jadi penasaran dengan murid baru itu. Kalau Mereka sudah bertugas, bawa 1 orang yang mirip Dilan ke Rumahku," sahut Aghata cekikikan.


"Beres...tapi jangan sampai Kamu jatuh Cinta dengan orangnya,"


"Tidak mungkin Aku jatuh cinta, lagi


pula Aku tunangan Aby. Setelah masalah Aby selesai Aku akan menuntut kepada Aby untuk di nikahkan,"


"Semoga masalah ini cepat selesai


dan Kalian bisa menikah secepatnya.


Aku merasa ragu menanganinya, ada perasaan takut kalau Aby yang sebenarnya membunuh, bukan Admesh,"


"Jelita!!, Kamu bicara apa, Dy sedang


mengandung, jangan Kamu ber asumsi yang tidak-tidak," Agung setengah teriak, suaranya meninggi.


"Maaf Agung, Aku tidak bermaksud


menyakiti perasaan Dy, Aku hanya


mengeluarkan uneg-uneg hatiku,"


sahut Jelita memandang Dy.


"Sudahlah, Aku tidak apa-apa, semoga Aku bisa melewati cobaan ini dengan harapan baru,"sahut Dy pelan. Wajahnya kelihatan pucat.


Dy mulai memasang Holster di paha


dan memasukan Pistol kaliber 99mm. Kemudian Dy memasukkan Stun Gun


ke tas nya. Tidak lupa Dy memakai


Kaca Mata Agent, serta Sarung tangan. Perutnya yang sedikit buncit tidak menghalangi penampilan nya yang Elegant.


Hari ini Dy memakai Celana Jean dan


Kuda, sebuah Topi Eager menutupi kepalanya.


"Aku akan ke Hotel, Aku minta CCTV magnet untuk ruangan dan Kancing


baju manegtik," kata Dy memandang Agung.


"Sudah jadi 1 kotak dengan Stun


Gun tembak dan Masker wajah,"


sahut Agung khawatir. Perasaannya


sedih melihat Aghata yang terpaksa kembali mengangkat senjata.


"Aku akan selalu mengabarimu


setiap langkah yang Aku ambil,"


kata Dy beranjak pergi. Agung


dan Jelita mengantar Dy sampai


di Mobil.


"Kamu harus hati-hati bertindak,


jangan sampai terjadi percecokan


dengan Ghama. Lebih baik Aby


menggandeng Lawyernya sebelum


Ghama bertindak lebih jauh," pesan Agung sambil membukakan Pintu


Mobil yang berbentuk Butterfly Doors.


"Aku pergi dulu, Aku mohon Doanya,"


kata Dy tersenyum. Jelita memeluk


Dy dengan haru.


Dy naik ke Mobilnya dan meninggal


kan Agung dan Jelita. Kini perjalanan


nya menuju ke Romero Hotel tidak


sampai 1 jam.


Dy membelokan Mobilnya menuju


Gardu Scurity, kaca mobil diturunkan.


Dua Orang Scurity kaget melihat


Dy yang tersenyum.


"Nona Dy!! rupanya Anda, silahkan


masuk," kata Scuryti nya sopan.


Dy memasukkan Mobilnya menuju


Basement. Semua masih seperti dulu.


Dy menuju kantor JM nya. Seorang


Gadis menyambutnya dengan ramah.


"selamat siang, apa bisa Saya bantu?"


tanya Asisten Manager (Asmen) Aby.


"Aku mau menemui JM," sahut Dy.


"Saya komfirmasi dulu kepada Bapak


JM. Maaf nama Anda siapa?" tanya


Sri, Asmen Aby merasa ngeri melihat


penampilan Dy yang seperti Tentara.


"Namaku Dy," sahut Dy pendek.


Sri yang tidak tahu bahwa Dy adalah tunangan Aby dan Owner nya, tidak


canggung bercanda lewat Intercom


dengan Aby.


"Halo Bapak JM yang terhormat, ada seorang tentara mencari Anda.


Apakah Bapak bersedia menemuinya. atau Saya katakan Bapak tidak Ada,"


"Tentara?, katakan Aku tidak ada," sahut Aby gugup. Ingatannya langsung ke masalah Ghama.


"Apakah Kamu selalu berbuat begitu


dengan JM mu?, bagaimana kalau


Orang penting yang datang. Harusnya


Kamu bertanya detil kepada Tamu


yang datang dan tidak boleh Kamu


memencet Intercome di depan Tamu


seandainya Kamu mencurigai Tamu.


Kamu kurang profesional," kata Dy


ketus lalu membuka pintu ruangan


Aby.


"Nona jangan sembarangan masuk


ini sudah peraturan," teriak Sri ikut


masuk ke ruang JM.


"Maaf Pak JM, Nona ini menerobos


masuk," kata Sri kepada Aby.


"Kenalkan ini Tunangan Saya dan


sekaligus Owner Hotel ini," kata Aby


membuat Sri terpana.


"Nona tolong maaf kan Saya, hari


ini Saya membuat kesalahan besar,


Saya tidak tahu Anda Owner disini,"


kata Sri lirih.


********