
Bab.113.
Sebulan telah berlalu, pasca Dy
keguguran. Badannya semakin sehat. Kesedihannya sudah diambang batas. Kini Dy kembali mengangkat senjata, kehilangan membuat jiwanya sakit.
Dy bertekad mencari pembunuh yang telah membuat XPostOne mengalami kejatuhan. Bermula dari kematian Aby dan Admesh, terus Pencurian Pistol, kematian Bibik Supari, kematian lima
orang Staf XPostOne dan keguguran Kandungannya. Tekadnya sudah bulat, walaupun Yudha melawan keinginan
Dy tapi Dy tetap maju. Emangnya
Yudha itu siapa?? pacar bukan!!.
Waktu Dy keguguran tempo hari, pada saat pulang dari Rumah Sakit, Dy langsung mengatakan bahwa dirinya
baru saja habis keguguran kepada
Ibunya Dilan, Tapi Ibu Dilan tidak peduli, sungguh aneh. Dy berpikir Ibu Dilan
akan marah atau sedih, ternyata orang tua itu biasa saja. Mukanya datar, tidak ada ekspresi yang menunjukan prihatin.
Malah Ibu nya Dilan memberi saran
Kantor XPostOne dipindah lagi kesini,
alasannya karena merasa sepi. Agung
sudah minta izin, untuk memindahkan Kantor sementara waktu ke Rumah Dy, sedangkan latihan tetap diadakan di
Markas. Lagipula sekarang Markas sedang menjadi tempat penyelidikan,
Polisi dan Agent. Tragedi OXpostOne
menjadi Viral. Police Line masih mengelilingi Markas.
Kini Dy sudah kembali kerumah, tiap
hari dihabiskan untuk berlatih, nge
gym atau berenang. Rumah memang terasa kembali ramai semenjak Kantor XPostOne pindah lagi kesini. Ibunya
Dilan dan Bibik merasa senang dengan
kehadiran XPsrOne.
Seperti siang ini, Ibu Dilan sudah ikut duduk di ruang kerja. Matanya kadang menatap aneh kepada Yudha, ntahlah
Dy juga tidak tahu pikiran Ibunya Dilan.
"Kita sudah tidak punya Income lagi, semua Cellaent menarik diri, untuk menggaji kalian akan ada bantuan
dari Uvassa Hotel yang belum bisa
di rinci. Yang pasti kalian tidak akan
mendapat uang Insentif," kata Agung ketika Dina bertanya masalah gaji.
"Tidak apa-apa Kita juga merasa
prihatin dan mengerti keadaan saat
ini. Saya pribadi bertrimakasih kepada Nona Dy atas bantuannya yang terus menerus kepada Kami," sahut Jefry memandang Dy.
"Kita adalah Saudara, semasih Aku
bisa membantu Aku akan bantu
semoga saja bermanfaat. Aku juga
mengalami kerugian di Romero Hotel karena kejadian tempo hari. Mudah-mudahan semua cobaan ini cepat
berlalu, dan keadaan normal kembali,"
kata Dy.
"Sekarang Kita bagi tugas, siapa saja yang akan berangkat," yudha ikut nimbrung.
"Yang jelas Aku," kata Dy mantap.
"Kalau Kamu ikut harus ada orang
yang mendampingi, karena Kamu
lama vacum," samber Yudha.
"Aku akan bersama Dina," kata Dy
bersemangat.
"Lho koq gue?, Yudha ajak, gue mau
di belakang layar," sahut Dina
berusaha menolak.
"Aku tidak mau dengan orang yang
tidak jelas, semenjak Dia ada hal
buruk beruntun terjadi. Aku merasa
Dia bangkit dari kuburan," ceplos
Dy tanpa tedeng aling-aling.
Mereka semua diam, secara reflex
Mata Mereka tertuju kepada Yudha.
"Dy mulutmu bisa membawa fitnah,
Kamu suudzon saja," kata Yudha
marah, Dy sudah kelewatan baginya.
Yudha langsung beranjak dari tempat duduk dan meloncat tanpa melewati tangga. Tentu saja pelatih XPostOne
yang ikut berkumpul merasa kagum.
Dy melirik ke Ibunya Dilan, tidak ada
reaksi apapun dari wajahnya. Bisa
saja tidak ada hubungan Yudha dan
Dilan. pikir Dy.
Yudha melangkah ke Bar, berusaha
menahan marahnya karena terus
dituduh sebagai dalang dari semua musibah yang menimpa XPostOne. Yudha duduk sendiri sambil minum
air mineral.
"Yudha loe marah ketika di cuekin
oleh Dy?, loe khan Yudha bukan Dilan kenapa juga Dy harus baik sama loe,"
kata Dina duduk disamping Yudha.
"Setidaknya Dy ada empaty sedikit
Padaku. Kerjanya selalu menuduh.
Malas Aku ikut nimbrung,"
"Itu kenyataan, semenjak loe datang
semua terjadi, wajar orang curiga
sama loe. Lagian wajah loe mirip
Dilan," kata Dina minum air mineral.
"Kalau yang lain menuduhku Aku tidak apa-apa, tapi kalau Dy ikut menuduhku Aku kesal. Apa Dy gak ingat waktu keguguran, siapa yang mengurusnya. Kalau Aku penjahat waktu itu Aku udah
bunuh Dia," tungkas Yudha.
"Maklumi aja Dy lagi berduka," sahut
Dina berusaha membuat Yudha mau
mengerti.
mendatangi Mereka. Wajah Dy
terlihat muram.
"Dy kenapa loe?" sapa Dina.
"Gue mau minum," sahut Dy pelan
hampir berbisik. Kemudian Dy ke
kulkas mengambil minuman ringan
dan duduk di Sofa tidak jauh dari
meja Bar. wajah Dy kelihatan sedih.
Perasaan kasihan Yudha lebih besar
dari rasa kesalnya, makanya Yudha
menghampiri Dy dan ikut duduk di
sebelah nya.
"Ada apa Dy," tanya Yudha halus.
"Aku sedih saja ingat dengan nasib
jelekku. Mulai besok Aku akan pergi
ke Markas, mempelajari semuanya,"
sahut Dy.
"Aku akan menemanimu," sahut
Yudha menatap Dy.
"Iyain aja, apa susahnya. Daripada
loe tugas sendiri siang malam,"
kata Dina dari kursi Bar.
"Ya Deh...," sahut Dy mengangguk.
"Habis makan siang Kita akan
mempelajari rekaman cctv," kata
Yudha merasa senang kalau Dy
mau mengajaknya bertugas.
"Kamu yakin akan mengambil tugas
ini, masih ada Jefry, Agung Dina dan Jelita,"
"Aku sangat yakin, daya ingatanku
tajam," sahut Dy.
"Ya kalau begitu, besok Kita mulai
dari Markas," kata Yudha.
"Aku akan membenahi Administrasi
karena semua Staf sudah meninggal.
Jelita akan membantuku," Kata Dina
mulai pindah ke Meja Makan. Agung
dan teman XPostOne terlihat turun
karena sudah Jam makan Siang.
Dy heran melihat Ibunya Dilan ikut
berada di antara Jelita. Ibunya Dilan
tidak sebodoh yang mereka pikirkan.
Dulu pernah Ibunya Dilan membawa
kue ternyata kuenya beracun. tapi
Ibunya Dilan mempunyai Alibi yang
tidak terbantahkan lengkap bukti
dan saksi. Dy heran.
"Mari makan, sekarang Aku Tuan
Rumah, tapi sebelum makan perlu
anda cuci tangan dulu," seru Dina
sambil membantu Bibik.
Suasana siang ini membuat Dy
sedikit terhibur. Kecurigaannya
terhadap Yudha tidak bisa hilang.
Dy merasa ada sesuatu yang ada
di Otak Yudha. Kemiripan wajah
Yudha dengan Dilan membuat
kecurigaannya semakin tebal.
Dy sangat hafal kebiasaan Dilan,
makanya sekarang Dy diam-diam
memperhatikan Yudha. Sebelum
Yudha duduk Dy diambilkan nasi
kemudian Yudha berbisik "makan
yang banyak", hampir copot jantung
Dy, karena kebiasaan itu ada pada
Dilan. Mata Fy seketika melotot
memandang Yudha dan kedipan
sebelah mata Yudha membuat Dy
bertambah penasaran.
Semua kebiasaan kecil itu hanya
Dy yang tahu. Sepertinya Yudha
belajar mirip Dilan. bathin Dy.
Manusia ini pasti ada maunya pikir
Dy dalam hati. Baginya Tidak ada
teori yang membuat orang yang
sudah di kubur hidup kembali.
Aku akan meladeni permainanmu!!
kata Dy dalam hati.
VALUMA UVASSA (Dy).
Agent no.6xp.
kembali mengangkat Senjata.