I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
KE BAR



Bab.96.


Mata tua itu memandang tajam kepada Dy. Raut wajah marah terlihat jelas dari kerut keningnya. Dy hanya bisa menangis ketika satu persatu umpatan kasar dilontarkan kepadanya. Dina dan Jelita diam tertunduk. Bagaimanapun kata-kata Ibunya Dilan memang benar adanya. Memang Dy lah yang salah, kenapa baru memberitahu keadaan Dilan? Dy menghapus air matanya, mencoba memaklumi. Menahan sabar untuk ego yang terhempas.


"Maafkan Aku Bu, waktu itu Aku takut memberitahu Ibu karena


mempertimbangkan kesehatan Ibu.


Sungguh tidak ada maksud lain," kata Dy sesenggukan.


"Karena kamu tidak peduli kepadaku, yang kamu ingini hanya anakku, tidak seperti Mila yang setia menemaniku." sahut Ibunya Dilan, kata-katanya menohok, langsung menghujam jantung Dy. membuat Dy terhenyak tak bermakna.


"Makanya jadi orang jangan murahan, suami orang kau embat juga. Aku diam karena Mas Dilan memilih kau, tapi setelah keadaan begini Kau dengan merendah minta maaf. Sungguh Kau tidak punya rasa malu,


sekarang Kau mohon pengertian kepadaku supaya mau menanda tangani operasi Dilan.


Tentu saja Aku tidak setuju Mas Dilan di operasi lagi," suara Mila ketus, rasa marah yang tertunda sekarang dia lampiaskan dengan sukarela. Dina dan Jelita sampai tidak enak hati melihat Dy dicaci maki, beruntung tidak ada tamu lain di ruang tunggu, sehingga rasa malu terhindar sedikit.


"Aku harap kalian tidak tebal muka berada disini. Dilan anakku, Aku yang bertanggung jawab atas semuanya. Jadi enyahlah kalian dari sini," kata laki-laki yang bersama Mereka. Dy punya firasat laki-laki itu adalah Bapaknya Mila.


"Lebih baik kalian pergi, kalian sudah membuat Dilan celaka," Mila kembali nyerocos.


Setelah puas mencaci maki Dy, Ibu dan Istri Dilan ngeloyor pergi menuju ruang ICU.


Rasa gusar dan kesel kepada Mila tersirat di wajah Dina dan Jelita.


"Sabar Dy, mereka hanya menumpahkan kesedihannya. Mungkin kalau Kita di posisi mereka, Kita juga akan berbuat yang sama," hibur Jelita sambil menyodorkan tissue basah kepada Dy.


"Aku tidak apa-apa, cuma Aku merasa tidak berdaya menyelamatkan Dilan untuk selanjutnya." sahut Dy.


"Loe tidak usah memberi komentar apapun, biarkan Dokter yang berbicara," kata Dina menyodorkan air mineral. Dy menghapus


air matanya dan membersihkan wajahnya dengan tissue basah. Kemudian Dy minum


air mineral untuk menenangkan hatinya.


"Belagu banget istrinya Dilan, gue jadi gak simpati kepadanya. Tadinya gue merasa empati melihatnya, tapi empati gue luntur ketika dia memaki loe. Apalagi loe dibilang ngembat suaminya, apa gak ke balik." kata Dina gusar.


"Biarin saja, orang Mila lagi emosi kapan lagi bisa memaki Dy. Ini moment yang tepat untuk menyalahkan Dy." sahut Jelita tersenyum kecut.


"Bagaimana Kita sekarang?, apa tetap disini atau pulang?" tanya Dina memandang Dy.


"Kita pulang, pantau Dilan dari layar, Agung kemarin sudah menaruh cctv mini di ruangan Dilan," sahut Jelita.


"Kalian pulanglah Aku akan ke Bar,"


kata Dy berdiri.


"Dy, loe jangan bikin ulah, ada bayi di perut loe, pake akal sehat. Lebih baik gue temenin loe," sahut Dina khawatir. Dy tetap menuju mobil tanpa menjawab ocehan Dina.


"Jelita gue temenin Dy, loe pulang sendiri ya," kata Dina mencolek Jelita.


"Ya temenin dah, jangan dikasi minum-minum, cepetin pulang," sahut Jelita menuju tempat parkir.


"Oke...gue yang jaga," sahut Dina berjalan cepat menuju mobil Dy.


Dy sudah menghidupkan mesin mobil tapi pintu masih terangkat keatas.


Cepat Dina menjatuhkan pantatnya ke jok mobil, kemudian pintu tertutup. Terdengar Dina menarik nafas.


Mobil keluar dari Rumah Sakit Bhayangkara dan meluncur mulus menuju Jalan Sudirman.


Ada perasaan terkoyak dihati Dy, orang yang Dy cintai harus ditinggal demi ego seorang Ibu. Tidak terasa air matanya kembali turun. Mengetahui Dy lagi menangis Dina menjadi khawatir.


"Kalau mau nangis loe minggir dulu dech, atau gue yang setir," kata Dina sambil


melirik Dy.


"Gue gapapa," sahut Dy sambil menghapus air matanya.


"Loe kudu sabar Dy, namanya hidup pasti banyak cobaan. Kadang kita senang, kadang sedih," kata Dina berusaha menghibur Dy.


Mobil memasuki Jalan Tol Bali Mandara, ingatannya langsung ke Aby.


Sudah lama Dy tidak pernah bertemu dengan Aby, walaupun masih sering Chattan, tapi belum pernah bertemu lagi.


Dy memencet tombol playlist mobil. Terdengar lagu dari James Blake yang berjudul When The Party's Over mengalun


"Lagu ini bikin gue ingat sama mantan, cari lagu yang bikin semangat jangan bikin sedih." Kata Dina.


"Ya ntar juga ada yang gembira," sahut Dy pendek.


"Mana ada, semua lagu sedih," protes Dina ketika lagu Dejame Quererte para siempre mengalun lembut.


Mobil lamborghini itu berbelok memasuki kawasan Nusa Dua. Suasana ramai dari tamu asing memenuhi areal parkir. Dy langsung


mengambil lajur kiri menuju ke Romero Hotel. Lampu-lampu Hotel menghiasi sepanjang jalan menuju lobby.


"Selamat malam Nona," seorang Scurity menahannya. Dy menurunkan kaca mobil dan memperlihatkan kartu member.


"Maaf Nona, silahkan masuk." Kata Scurity itu hormat. Dan pesan berantai sudah sampai ke Lobby yang mengatakan Owner dari Romero Hotel datang. Dy memarkir mobilnya di depan Lobby.


"Selamat malam Nona, bisa Kami bantu." Seorang Concierge menghampiri Dy.


"Aku mau ke Bar," sahut Dy memperlihatkan Kartunya.


"Silahkan Nona." Sahut laki-laki itu hormat, seraya mengawal perjalanan Dy dan Dina.


Semua karyawan memberi hormat dan Mereka sangat mengagumi Dy dan Dina yang berjalan tegap. Tentu saja yang menjadi perhatian adalah Holster tempat Revolver yang berada


di pangkal paha Dy. Ingatan Mereka kembali ke masa-masa JM Mereka berpacaran dengan Nona Dy. sementara itu seorang F.O langsung menelpon Aby sang Jenderal Manager.


Akhirnya sampai juga Dy di Bar, Dy dan Dina langsung duduk di kursi Bar. Mereka berdua menjadi pusat perhatian. Banyak Bule mulai


mendekat dan menawarkan diri untuk bisa


minum bersama. Padahal baru pukul 21.17


Wita Bar sudah kelihatan ramai.


"Selamat malam Nona, Kami akan meracik pesanan Nona dengan atraksi juggling," kata seorang Bartender dengan ramah.


"Oke silahkan," sahut Dina pendek.


"Aku memesan 2 gelas Cocktail," sahut Dy.


"Loe punya Hotel ini?, tadi gue lihat di Kartu Owner nya Loe," tanya Dina menatap Dy.


"Gue cuma punya saham 25%, selebihnya


punya Aby." sahut Dy pendek.


"Siapa itu Aby?" tanya Dina lagi ingin tahu.


"Pacarnya Dy, " suara berat mengagetkan


Dina dan Dy. Senyuman Aby mengembang


memandang Dy.


"Yank koq tahu aku berada disini?" ucap Dy merasa surprise.


"Aku tahu dimanapun Kamu berada, karena Kamu selalu di hatiku," sahut Aby menatap bola mata Dy.


"Kenalkan ini temanku Yank," kata Dy tersenyum tipis. Mata Dina berbinar


melihat ketampanan Aby.


Aby dan Dina saling berjabat tangan dan


memberi salam. Aby ikut duduk di kursi


Bar. Tangannya cepat mengambil minuman Dy dan memindahkan kepinggir.


"Yank Aku mohon jangan Kamu minum, kasihani yang ada di perutmu." kata Aby


memelas. Dy tidak bisa berbuat banyak


kecuali mulutnya manyun.


*******(