
Bab.24.
Kalau Orang lain menerima tendangan
Dy pasti sudah babak belur, tapi Dilan
hanya berkelit saja.
" Kamu bisanya berkelit saja, dasar banci.
Balas pukulanku...". Teriak Dy langsung menangis. Hatinya sedih dan merasa terhina. Dilan lalu mendekati Dy dan memeluknya. Dy berontak dan memukul Dilan sembarangan.
Duuhhh...anaknya Beck emosinya tinggi, tunggu saja Aku akan memperdayaimu. Bisik Dilan dalam hati.
" Pukul Aku sampai Kamu puas, kalau belum puas ambil senjatamu dan tembak jantungku". Kata Dilan mempererat pelukannya.
" Jangan Kamu sentuh badanku, Aku jijik sama Orang jahat sepertimu". Sahut Dy tetap menangis.
" Aku memang laki-laki miskin dan terhina.
Tidak sepantasnya Aku mencintaimu.
Aku dengan Aby memang tidak sebanding. Dari dulu harusnya Aku mundur, selamat tinggal semoga Kamu bahagia".
Kata Dilan melepaskan pelukannya.
Hati Dy langsung berdebar. Terbayang Dilan akan bunuh diri.
" Kamu mau kemana?". Tanya Dy spontan.
" Ke Kamar mandi, siapa tahu ada senjata disana ". Sahut Dilan pura-pura sedih.
Dy secepat kilat berlari ke Kamar Mandi dan mengambil semua senjatanya.
Jangan sampai senjata ini di temukan oleh Dilan.
Semua senjata Dy bungkus pakai handuk dan di sembunyikan di tempat baju kotor.
Dy keluar dari Kamar mandi dan duduk di Sofa. Matanya tidak lepas dari Dilan dan apa yang Dilan bawa ke Kamar mandi.
Air matanya sudah mengering.
" Mandi tidak perlu lama-lama, Aku akan ngomong penting denganmu". Kata Dy sekenanya.
" Ini kuncinya, Kamu boleh pulang sekarang ". Dilan menaruh kunci diatas meja. Dy tidak menyahut dan pura- pura tidak melihat.
Diam-diam Dilan mengunci Almarinya, jangan sampai Dy memakai kemejanya.
Kalau hanya memakai Piyama saja Dy pasti malu keluar.
"Tidak usah di kunci Kamar mandinya, siapa juga mau mengintip Orang jelek".
Kata Dy tanpa menoleh.
Dilan tidak menjawab.
Dy melirik dengan ekor matanya, ternyata Dilan lagi membuka tempat senjata Agentnya.
Dada Dy berdebar....
" He..ngapain lihat senjata, ini Papaku yang punya, cepat Kamu mandi. Nanti ada Razia orang jelek, Kamu ketangkap lagi".
Kata Dy cepat menarik koper Dilan dan menguncinya.
" Kembaliin kopernya, Aku mau mengambil satu senjata". Sahut Dilan memandang Dy.
" Aku mau tidur diatas koper, Kamu mandi saja ". Sahut Dy sambil memeluk koper.
" Oke kalau begitu, awas kopernya meledak ada senjata rakitan di dalam".
" Gapapa...Aku pasrah, biar Aku meledak dengan senjatanya ". Sahut Dy kekeh.
" Ya udah Aku mandi....". Kata Dilan menuju kamar mandi.
Dilan senang Dy ternyata masih mengkhawatirkannya.
Benar kata Beck, Dy akan keras kalau di kerasin. Tapi akan luluh kalau Kita mengalah. Dy Orangnya gengsian.
Dy menaruh Koper Dilan setelah merubah kata sandinya.
Iseng Dy menuju kamar mandi, suara air masih terdengar, hatinya lega. Tidak mungkin Dilan bunuh diri.
Yang membuat Dy penasaran mengapa Dilan marah-marah dan melarangnya ke tempat Jojo.
Dy mengambil kunci pintu dan keluar dari Kamar Dilan.
Pertama yang di tuju kulkas, Dy bengong karena yang ada cuma air mineral.
Beda banget dengan isi kulkas Aby atau Jojo. Dy mengeluarkan satu botol air mineral dan langsung menghabisinya.
Hatinya sedih mengingat kata-kata Dilan yang mengatakan bahwa dirinya bekerja karena uang.
" Aku Orang tidak punya, hartaku adalah Ibuku. Tapi Aku bersyukur semenjak kerja di Beck, Aku bisa membelikan Ibu sepetak sawah, Seekor Sapi dan ada sedikit Deposito". Kata Dilan waktu itu.
Tidak banyak Orang beruntung seperti Aby atau Jojo. Dy membuka pintu belakang dan menuju Balkon.
Angin Sore menerpa wajahnya terasa dingin.
Matanya bebas memandang kebawah dan sekelilingnya.
Dy naik di Realing Balkon dan meloncat ke Balkon Jojo.
Ternyata gampang kalau mau pindah Kamar.
Pelan-pelan Dy masuk, pintu ini tidak pernah dikunci karena Dilan sering keluar masuk. Jojo belum pulang.
Kemudian Dy kembali ketempat Dilan.
" Hati-hati lewat sana, nanti Kamu bisa jatuh ke bawah". Kata Dilan sudah ada di hadapannya.
" Terus Aku harus gimana, pintu depan di kunci Jojo ".
" Kamu bisa nyuruh Aku". Kata Dilan
" Gak perlu, Aku juga bisa. Aku tidak perlu bantuanmu, titik". Sahut Dy melangkah lebar ke Kamar Dilan.
Dilan cuma tersenyum melihat tingkah Dy.
Sekarang baru sebagian baju yang pindah, siapa tahu besok lusa semua sudah pindah termasuk Orangnya.
Dilan tersenyum.
Dilan memutar otak mencari jalan supaya bisa membuat Jojo menceraikan Dy.
" Dilann...". Teriak Dy dari Kamar.
" Ada apa Yank??". Tanya Dilan khawatir.
" Kamu ambil senjataku ya?".
" Oohh..kirain. Aku simpan di Koper". Sahut Dilan.
" Mana mungkin, Kopermu sudah Aku kunci ".
" Aku Intelijen, jangankan buka Koper, buka hatimu Aku bisa". Sahut Dilan mendekati Dy.
Dan...satu tarikan memutar tubuh Dy sudah di peluk dari belakang oleh Dilan.
" Aku sangat mencintaimu, Aku tahu tidak bisa memilikmu, tapi izinkan Aku mendekapmu sesat". Bisik Dilan lirih dan membalikan tubuh Dy.
Bibir Dilan mengecup kening Dy.
" Dilan..jangan bikin Aku sedih, bikin Aku membencimu. Aku tidak mau berbagi, Aku milik Aby". Sahut Dy berusaha melawan gelora hatinya.
Kalau mau jujur Dy merasa lebih enjoy bersama Dilan. Walaupun Dilan bukan Orang kaya.
" Jangan takut, Aku akan selalu menghantui hatimu. Walaupun Aku jauh darimu". Rayu Dilan.
" Dilan apa Kamu mau bunuh diri??". Tanya Dy sedih balas memeluk Dilan.
Dilan cuma tersenyum senang.
Permainan belum selesai Dy. Bathin Dilan lalu melepaskan pelukannya.
Dilan lalu naik ketempat tidur dan berbaring.
Dy ikut naik dan duduk menatap Dilan.
" Dilan, apa masalahmu sehingga Kamu sampai putus asa begini?".
" Masalahnya adalah kamu pakai Piyamaku dan CD ku". Sahut Dilan tertawa.
" iihhh...semprul..". Dy langsung memukul Dilan. Tapi tangannya langsung di tarik oleh Dilan.
Tubuh Dilan yang kekar sudah berada diatas tubuh Dy.
Kemudian....
Dengan lembut Dilan ******* bibir Dy..
Inilah Cinta, menggelora, berjalan semau gue...tanpa perasaan, mencari titik asrat...
" Sadar broo...". Bisik Dy menahan tangan Dilan yang usil.
" Aku bisa gila kalau Kamu sampai dipeluk Orang lain". Kata Dilan merapatkan pelukannya.
" Aku tidak percaya laki-laki. Aby dulu bilang begitu, tapi baru beberapa hari Aku tinggal, Aby sudah menerima pelukan Vivi". Sahut Dy sedih.
" Darimana Kamu tahu?". Tanya Dilan.
" Sebelum kesini Aku memasang CCTV di beberapa titik di Ruangan Aby dan Dirumahku. Aku tidak menuduh, hanya Papa yang bisa melepaskan CCTV itu".
Kata Dy pelan.
Dilan sedih melihat Dy, apalagi kalau Dy tahu keadaan Aby sekarang pasti Dy akan terluka. Ingin rasanya memberitahu Dy, tapi kalau di beritahu sekarang, Dy bisa menerima perkawinannya dengan Jojo.
Diam adalah emas....
Mari mendulang emas didalam wanginya tubuh Dy...
" Dilan apa Kamu tahu kabar Aby?". Tiba-tiba Dy bertanya mengagetkan Dilan.
" Aku tidak pernah bertemu.
Datang dari Cina Aku langsung di suruh tugas disini".
Jawab Dilan berkilah.
Sebenarnya kisah Aby sudah terekam di otak Dilan, tapi untuk mengutarakan ke Dy Dilan tidak mau gegabah.
Beck lebih berwenang.
Kalau Dilan sebatas mencabut CCTV di Ruangan Aby.
Itu juga atas suruhan Beck.
Kadang-kadang ke inginan tidak sesuai dengan kenyataan.
*********