I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
DIPECAT



Bab.87


Tidak ada yang perlu di sesalkan, karena semua mengalir dengan sendirinya.


Hidup harus tetap di jalankan mengikuti jarum jam, hari, bulan dan tahun......


Dina duduk terpaku memasang muka sedih. Sebuah berita yang lagi Trending Topic menghalau jiwanya


Yang sudah terpuruk.


Wajah ganteng Dagobe menghiasi Sosial media dan berita itu mengerucut tajam menyentuh ketemtraman XPostOne yang Agent nya mission fails.


" Gue heran bisa-bisanya loe jatuh cinta dengan Dagobe


Apa loe gak sadar lagi tugas," kata Dy mengoyak perasaan Dina yang lagi


sedih.


" Mana gue ngerti, cinta begitu saja datang tidak bisa di tolak. Dagobe juga sama, kita dalam asmara yang


terlarang," sahut Dina.


" Kasihan karier loe, untung loe teman gue kalau gak loe udah tamat," kata


Dy menatap kasihan kepada Dina.


Tentu Dina sangat merindukan kehadiran Dagobe disisinya. Seperti


dirinya yang sangat rindu akan kasih sayang Dilan.


" Gue sudah lebur menjadi debu, hancur


Dy.....". Sahut Dina menghapus air bening mengalir di pipinya.


" Sebaiknya loe mandi dulu," kata


Dy mengajak Dy pergi ke Kamarnya.


" Loe boleh tidur disini, nanti gue diatas," kata Dy berbaik hati.


" gue numpang tidur dulu sampai masalah ini mereda. Pasti gue menjadi target anak buahnya Dagobe sekarang,"


Sahut Dina khawatir.


" Kemungkinan itu kecil, karena semua


Anak buahnya sudah di gulung pemerintah," kata Dy.


" Syukurlah, gue agak tenangan dikit,"


Sahut Dina tersenyum tipis. Mereka ngobrol saling mencurahkan perasaan


Yang hancur.


Siapa yang harus disalahkan dalam masalah percintaan Mereka?.


Apakah situasi?.


Dy berjalan keluar kamar membiarkan Dina sendiri dengan keterpurukannya.


Kemudian Dy mengayunkan kaki ke Mini Bar. Sudah lama perasaan Dy tidak minum.


Kulkas ini sangat lengkap, dari minuman ringan sampai minuman


Beralkohol. Dy mengambil sebotol Champagne.


Gelembung alkohol yang terdapat di dalam champagne biasanya menghasilkan karbon dioksida dan dapat membuat hangover


berkepanjangan. Mungkin karena cepatnya alkohol masuk ke dalam peredaran darah.


"Jika Anda minum Champagne dalam keadaan perut kosong, bersiap-siaplah untuk segera mabuk,"


Suara keras membuat Dy kaget.


Dilan sudah berdiri kaku memandangnya tajam.


" Apa yang Kamu lakukan, Kamu mau bunuh Anakmu?".


" Aku udah makan dan mau minum sedikit," sahut Dy mempermainkan


gelas Champagnenya.


Tanpa basa basi Dilan kembali menaruh Minumannya di kulkas dan mengambil gelas dari tangan Dy.


" Apa sih maumu?, Aku sungguh tidak


mengerti. Makin kesini Kamu semakin aneh. Aku sudah cukup bersabar selama ini," kata Dilan duduk di kursi


Bar dengan nada suara tinggi.


Bibi yang berada di Dapur cepat-cepat


datang dan menghampiri Mereka.


Perasaannya tidak enak melihat Mereka berdua selalu bertengkar.


" Ada apa lagi Tuan?," tanya Bibi tidak simpati kepada Dilan.


" Bi Aku yang salah," kata Dy cepat.


" Jangan sering bertengkar Non, tidak


baik, lebih baik di bicarakan berdua,"


Saran Bibi melirik Dilan. Kemudian Bibi


kembali ke Dapur sambil geleng-geleng kepala.


" Ya Bi trimakasih," sahut Dilan duduk


menghadap Dy. Hatinya sudah mantap


untuk mengajak Dy kerumahnya dan


mohon Doa restu sama ibunya.


" Aku akan menikahimu, Kita akan menghapap Ibu," kata Dilan menatap


mata Dy.


Tidak ada jawaban apapun dari Dy, karena Dy sudah punya komitmen


bahwa Dy tidak akan menari diatas


Penderitaan Mila dan Ibunya Dilan.


" Atau kita ke Aussie untuk menikah,


terserah Kamu,"


" Buat apa Aku menikah denganmu, yang membuat Mila dan Ibumu menderita?,"


" Aku malas bicara denganmu yang kaku, bicaranya mutar-mutar melulu.


Akan aku lakukan apa yang Aku bisa,"


Kata Dilan pendek.


"Terserah!". Sahut Dy ketus. Bibirnya manyun.


" Kamu mau tidur dimana? di kamarmu sudah ada Dina,"


" Di bangku panjang di atas, jangan harap Aku akan tidur di Kamarmu.


" Ya sudah tidak apa-apa, bila perlu tidur di garasi," sindir Dilan kemudian


Naik ke lantai 2.


SORE BERANJAK MALAM.


Rasa canggung sangat terlihat kental dari semua penghuni Meja makan.


Dilan sama Dy saling tatap dan sok cuek.


" Silahkan makan Non Dina, baru bisa


bertemu lagi. Melihat Non Dina Bibi


jadi ingat Tuan Beck," kata Bibi tersenyum.


" Ya Bi trimakasih," sahut Dina.


" Jelita Kamu dapat tugas lagi?, kalau


ada Aku ikut," ucap Dy memandang


Jelita.


" Aku akan....."


" Tidak ada! Semua Agen akan Rolling


mulai bulan depan. Jelita akan belajar


di belakang layar," potong Agung cepat.


" Aku sama Nona Dy akan belajar di


belakang layar, kalian para cowok boleh pergi, kecuali Boss Dilan."


Jelita cepat menyambung perkataan


0Agung.


" Kalian selalu mendiskreditkan Aku.


Gak pernah ngasi Aku peluang."


Sahut Dy merasa Mereka sekongkol


membatasi geraknya.


" Semua sayank ma Kamu, kami ini untukmu," sahut Jelita tersenyum.


"Ayo Kita milai makan." Kata Fery memandang Dina yang duduk di sebelahnya.


" Hemmm... Fery jaga mata." Agung


langsung menyindir Fery yang sering


menatap mesra ke Dina.


" Dari pada mata di anggurin lebih baik di pakai menatap bidadari di sebelah." Sahut Fery tersenyum.


Dina jadi salah tingkah dan matanya langsung


melotot kepada Fery.


" Mari Kita makan," ajak Dilan.


Bibi sudah selesai menyiapin makanan dan


Mereka mulai mengambil piring.


" Yank, Kamu makan apa"?. tanya Dilan melihat Dy yang hanya duduk bengong.


" Aku ingin Mie Udon yang super pedes,"


sahut Dy keceplosan.


" Bangun, Kita keluar beli." sahut Dilan cepat.


Dy jadi tidak enak hati kepada teman-teman yang lagi mau makan.


" Ini baru Suami siaga." kata Jelita tersenyum.


" Aku pergi dulu ya, jangan kalian iri." kata


Dilan memegang tangan Dy.


" Senang lihatnya, semoga selalu damai


jangan bikin rusuh," ujar Agung.


" Doain semoga Kami selalu rukun." sahut


Dilan sambil melirik Dy.


" Pasti!!, kami selalu mendoakan Kalian."


sahut Mereka hampir berbarengan.


Mobil Lamborghini AVentador itu menyusuri


jalan By Pass. Lagu Déjame quererte para siempre dari Jaci Velasquez mengalun merdu. Dy sangat tersentuh mendengar


bait terakhir dari lagu itu.


"Biarkan aku mencintaimu selamanya


Memberi Anda semua yang pantas Anda dapatkan..."


" Kamu sengaja menyetel lagu ini"?, tanya


Dy menatap Dilan dari samping.


" Ya, untuk mewakili perasaanku. Daripada


setiap Aku bicara Kamu ngambek, lebih baik lagu yang berbicara tentang isi hatiku,"


kata Dilan tersenyum memandang Dy yang


hari ini seolah berdamai dengan dirinya.


" Hari ini Aku berdamai dengan hatiku, karena Aku ingin Mie Udon, tapi setelah itu Aku akan


ngambek lagi," sahut Dy ikut tersenyum.


" Terserahlah, yang penting Kamu tetap di sampingku. Biarpun cuma bisa memandang saja, tidak bisa di sentuh," sahut Dilan mengedipkan sebelah matanya.


" Tapi kemarin Aku sempat konsultasi sama Dokter kandungan, Dokter mengatakan saat


Janin mulai tumbuh Ibunya harus berpikiran damai dan Janin sering-sering disiram."


" Disiram pakai apa"?, sahut Dy heran.


" Ya itu...Kita harus tidur berdua tiap malam,"


" Kamu mulai mesum ya,"


" Untuk menyempurnakan, mungkin kupingnya belum dibikin, atau kakinya,"


sahut Dilan tertawa. Tentu saja Dy menganggap guyonan Dilan serius.


*****