
Bab.110.
Air mata Dy menganak sungai, kakinya
terasa mengambang seperti tidak
menginjak Lantai. Kembali kehancuran ada di depan matanya. Wajah Aby
begitu tenang seolah tersenyum dalam tidur panjangnya. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri, ini bukan mimpi!!.
Jelita ikut menangis Dia memeluk
Dy dengan erat, Raungan kesedihan mengharu biru bersautan di dalam
Kamar Mayat. Dy tidak perduli akan dirinya, Dia terus memeluk Jasad
Aby dengan rasa kehilangan yang
sangat. Selalu saja penderitaan itu
membuntutinya. Baru Dy berencana
untuk menata hatinya dan berusaha
sabar menghadapi ke cemburuan
Aby, tiba-tiba tragedi lagi terjadi.
Jelita menarik Dy dari Jasad Aby
Disitu terlihat Tante Tami mamanya
Aby dan Admesh menangisi kedua
Putra tersayangnya. Ada Ardi adik
Aby dan 2 menantu perempuan
Tante Tami. Kesedihan Dy terasa
berlipat, Aby dan Admesh adalah sepupunya dan Aby juga adalah tunangannya.
"Tolong semua keluar dulu, Kami
akan Autopsi korban dan bagi
Kepala keluarga mohon ketempat
Administrasi dan menanyakan
proses selanjutnya," kata seorang
Dokter Rumah Sakit.
"Dokter, Saya sebagai Adiknya dan
sekaligus penanggung jawab dari
Korban menerima dengan Iklas
takdir ini. Untuk itu Kami tidak akan mengizinkan dilakukan Autopsi
kepada Korban," kata Ardi Adiknya Admesh.
"Kalau begitu Anda tinggal lapor
dan menanda tangani Surat
penolakan autopsi untuk korban,"
sahut Dokter itu.
"Trimakasih Dok atas kerjasama
nya, Saya akan mengurus surat-
suratnya dulu," kata Ardi keluar
dari Kamar mayat.
Kesedihan terpancar dari raut
wajah Ardi. Semua manusia akan
menemui ajalnya, tapi Ardi tidak
rela menerima kenyataan bahwa
Kakaknya meninggal dengan
saling tembak, dimana Mereka
mendapat senjata?. Banyak hal
yang perlu di pertanyakan, tapi
ya sudahlah....
Ardi lebih memilih mengurus
Perusahan nya yang lagi terpuruk.
Astana XPostOne.
Lokasi ini cukup mudah dicapai menggunakan sepeda motor atau
mobil pribadi. Dari Pasar Rakyat
menuju ke sebuah perbukitan kecil, melalui jalan arah Makam Umum
dan lembah Raja. Di pertigaan arah makam ada plang yang bertulisan
Astana XPostOne dan Kerabat.
Dy terpekur menatap tanah merah
yang di tutupi beraneka kelopak
Bunga mawar. Sudah 3 kali Dy kehilangan, rasanya hidup sudah
tidak berarti. Jiwanya sakit...
"Dy Kita pulang, semua sudah
pergi, tidak enak dengan teman
yang lain. Mereka menemanimu,
dan ikut berduka," bisik Jelita.
Tidak ada jawaban dari bibir Dy,
badannya terhuyung hampir jatuh.
Yudha cepat menggapainya,
sebuah pemandangan yang perlu
di pertanyakan dan di kupas habis.
Jelita dan Agung serta keluarga
XPostOne yang lain saling lirik.
Dy jatuh kedekapan Yudha.
"Hati-hati...minumlah dulu," kata
Yudha menyodorkan air mineral
dan tissue basah.
"Hapus air matamu," bisik Yudha.
Tidak ada alasan bagi Dy untuk
membantah. Baginya itu hal yang
wajar, semua teman akan begitu
Hanya Agung yang selalu senzi
mengintai gerak gerik Yudha yang
selalu mencurigakan.Saat ini Dy
harus pulang, dan kembali merajut
kesedihannya yang panjang.
"Kita semua berkumpul di Markas
dulu, ada yang perlu di selesaikan.
Jangan ada yang pulang," seru
Agung setengah memerintah.
"Aku akan semobil dengan Dy,"
Yudha cepat berucap ketika
Jelita menggamit tangan Dy
ingin mengajak Dy semobil.
"Okelah, jangan mampir kemana-
mana, Bibik sudah mempersiap-
kan makan malam untuk Kita,"
Sahut Agung.
Semua Agent yang lagi off dan
Staff ikut mengantar Jenazah
Aby dan Admesh. Atas Inisiatif
Agung Aby dan Admesh di
kebumikan di Astana XPostOne.
"Yud..perdebatan Kita belum usai,
harap Kamu melatih mengeles,"
Bisik Agung ketika Yudha menuju
Mobilnya.
"Aku punya 100 kebohongan yang
akan membuat otakmu membeku.
Alibiku terlalu kuat untuk Kamu
sentuh," sahut Yudha tersenyum.
"Kamu boleh tersenyum senang
saat ini, sepandai-pandai tupai
melompat...,"
"Aku bukan tupai, tapi sesuatu
yang tidak bisa Kamu cerna
dengan rumus XPostOne,"
potong Yudha sambil masuk ke
Mobil Keluarga XPostOne keluar
beriringan. Warna langit terlihat
jingga, tatapan Dy menerawang
jauh, ada kesunyian didalam
relung hatinya. Ingin Dy bertanya
kepada Tuhan tentang bencana
yang selalu menimpanya.
"Masih ada dadaku yang bisa
Kamu sandar kan bila Kamu
bersedih," kata Yudha ketika
mereka berada di Mobil.
Dy tidak menjawab.
"Apakah waktu Dilan meninggal
Kamu sesedih ini?, atau malah
Kamu hanyut di pelukan Aby?"
Omongan Yudha membuat Dy
mendadak panas hati.
"Aku tidak bisa mengukur
kesedihanku, tapi waktu itu Aku
sangat berduka dan kehilangan,"
"Mana lebih sedih antara ditinggal
Aby atau Dilan?"
"Yudha!! Aku merasa Kamu tidak
punya empaty terhadap Aby.
Aku merasa lebih sedih ditinggal
Dilan karena Dia menitipkan Janin
di perutku,"
"Hemm....," Yudha tersenyum.
"Kamu selalu membuat Aku kesal,
apa tidak ada pembicaraan yang
lebih bermutu,"
"Masih Aku rangkai kata-kata
mesra di hatiku dan akan Aku
tebar bila saat nya tiba," sahut
Yudha meraih tangan Dy.
"Aihh...apa-apaan Kamu, jangan
genit kalau masih ingin bernafas.
Aku tidak segan-segan menggali
kuburan untukmu,"
"Tidak pernah Anaknya Beck quay
mengalah, kalau bicara membuat
jantungku berdetak," sahut Yudha
terkekeh.
Akhirnya Mereka semua sampai
di Markas XPostOne. Tidak ada
yang absen. Hampir seharian
Mereka pergi, rasa lelah dan
haus membuat Mereka saling
sikut menyerbu Kulkas. Tapi
Mereka kecewa, tidak ada
satupun minuman yang bisa
didapat. Semua Kulkas berisi
daging.
"Boss kenapa tidak ada Minum
di Kulkas?" kata Dina ke hausan.
"Tidak mungkin, kemarin Kulkas
penuh," jawab Jelita.
"Minumannya Ada di Meja makan
mungkin Bibik menaruh disini,"
teriak Agung heran.
"Bos, siapa yang membeli daging
banyak sekali?" tanya Jelita.
"Aku tidak tahu, mungkin Bibik,"
sahut Agung. Mereka semua
duduk di Meja makan.
"Bos kapan makannya?, cletuk
Rina merasa kelapara.
Diatas Meja makan tersedia
banyak daging yang di masak
dengan tampilan nikmat.
Mereka seperti tidak sabar
untuk mencicipi, tapi Agung
tetap menunggu kehadiran Dy.
Yudha datang memapah Dy,
tapi baru masuk ruangan Dy
muntah. Bau amis ruangan
membuat Dy mual.
"Aku mencium bau anyir dan
sangat menyengat," kata Dy
pelan.
"Aku juga...." Mereka berseru
hampir serempak.
"Kita tunda makannya, coba
ke tempat sampah dulu,"
perintah Agung cepat.
Mereka berpencar mencari
asal bau amis itu. Agung juga
sibuk mencari Bibik yang dari
tadi belum kelihatan. Tidak
biasanya Bibik hilang kalau
Mereka lagi makan.
"Bossss....," suara teriakan
Jefri mengagetkan semuanya.
Agung cepat berlari menemui
Jefri yang sibuk membuka
karung goni di krubuti semut.
Bau menyengat dan lalat ikut
andil membuat perut mual.
"Apa yang terjadi Jef," kata
Jelita menerobos masuk.
Lima belas pasang mata
melotot melihat isi karung.
Dy kembali muntah dan
badannya langsung rubuh.
Yudha yang selalu bersama
nya cepat membawa Dy ke
Mobil Ambulans XPostOne.
Otak Agung bergulat dengan
semua teori yang terpatahkan.
Tidak ada teori yang membuat
hatinya bersorak, kehadiran
Yudha ibarat hantu di setiap
kejadian. Mata Agung tajam
menatap Yudha yang sibuk
membuat Dy siuman.
********