I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
GUGUR LAGI



Bab. 128.


Mendengar perkataan Dedy, Made menjadi ragu, bisa jadi Herman


berjalan keliling. pikirnya. Made


kembali ke Ruang keluarga sambil


terus berteriak memanggil Herman. Ruang keluarga berjarak 300m dari tempat makan, sehingga teriakan


Made kurang jelas terdengar. Dedy datang ke Meja makan membawa sekeranjang minuman ringan dan


air mineral.


"Hari ini Kita puas makan minum,"


kata Jefry mengambil Kopi kocok


dan air aqua setelah Dedy menaruh Minuman diatas Meja.


"Kalian lihat Herman nggak, Made bingung mencari temannya," kata


Dedy enteng, tidak peduli.


"Koq loe nggak ikut mencari," sahut


Dina heran menatap Dedy. Dina lalu


berdiri merasa tidak enak. Serta


merta Mereka berdiri dan semua


berlari ke ruang keluarga.


"Kenapa Kamu tidak memberitahu


Kami," Bentak Putra kesal karena


Dedy tidak peka terhadap  masalah


yang ada.


"Kenapa Kamu marah, ini persoalan XPostOne  bukan masalah Kita,"


sahut Dedy kurang senang.


"Masalah XPostOne adalah


masalah Kita, karena Kita mencari


makan disini," sahut Putra menatap


Dedy dengan mata melotot.


"Itu menurut mu," kata Dedy marah


dan mengayunkan tinjunya ke tubuh


Putra yang tinggi jangkung.


"Aihhh...kalian berdua apa sudah


gila, Jangan menambah masalah,


Kita lagi kehilangan Herman," teriak


Dina kesal.


Walaupun cuma sepintas mendengar


perdebatan Putra sama Dedy, sudah


cukup bagi Dy untuk mengerti Dedy. Ternyata sifat egois dan kurangnya


empaty bersemayam dalam tubuh


Dedy.


"Kalian berhenti berantem, kalau


merasa hebat lawan pembunuh,"


kata Agung Menampar kedua


pelatih.


"Maaf kan Aku boss," sahut Putra mengusap Pipinya yang di tampa Agung. Dedy langsung lari keatas


karena kesal. Dia tidak terima di


Mereka sudah berkeliling mencari


tapi belum bertemu dengan Herman. Pikiran Mereka semua tertuju kepada


si pembunuh.Serta merta Agung menghubungi Polisi karena Herman


tidak termasuk Agent XPostOne.


"Kita semua mencari dengan cara


berpencar," Teriak Dy melompat ke


lantai 2. Pistolnya siap ditangan.


Yudha juga melompat ke lantai 2,


semua kamar telah di geledah.


Dy dan Yudha merasa tidak ada


masalah.


"Aku mendengarkan sesuatu," kata


Dy membalikkan badannya.


"Kita turun saja, tidak ada siapa,"


sahut Yudha memasukkan pistol


nya ke Holster.


"Aku yakin, ambil senjatamu lagi,


kita keserambi belakang," kata Dy


tetap waspada.


Yudha terpaksa menuruti Dy dan


mulai bergerak di belakang Dy.


Dengan kasar Yudha menendang


Pintu yang menghubungi lorong


menuju serambi belakang.


Sepanjang lorong tidak ada yang mencurigakan. Keadaan bersih


sebab tadi pagi teman XPostOne


sudah mengepel sampai kesana.


Dy menurunkan senjatanya dan


berdiri melihat ke bawah. Tumben


Dy berada disini. Ternyata semua kegiatan di bawah terlihat dari sini. Berarti si pembunuh dari sini


mengontrol keadaan dibawah.


Kenapa dirinya baru tahu, sesal


Dy sambil berguman.


"Ada apa?," tanya Yudha sembari


memandang kebawah.


"Aku merasa pembunuh dari sini mengontrol kegiatan  XPostOne


di bawah," kata Dy membalikan


badannya. Yudha mengangguk.


"Mari Kita turun," kata Dy merasa


aneh melihat mata Yudha.


"Aku merasa mual dan pusing,"


ucap Yudha memijat keningnya.


"Mari Kita turun, mungkin Herman


sudah Mereka temukan," sahut Dy


berbalik.


Ketika Dy berjalan setetes cairan menimpa lengannya. Dy cepat


mencium cairan itu. Wajahnya


tengadah keatas.Ternyata ada


lubang besar yang biasa sebagai ventilasi penghubung ke plafon.


ventilasi dalam keadaan terbuka


dan cairan itu yang tidak lain


adalah darah terus menetes.


"Siapa Kau, menyerah atau Aku


tembak," teriak Dy mundur tiga


langkah sambil mengacungkan


pistolnya. Mendengar teriakan


Dy Anggota yang lain berlarian


datang.


"Herman belum ketemu," kata


menodongkan pistol ke lubang


ventilasi.


"Ternyata Dedy juga tidak ada,"


kata putra berlari datang


"Sudah Kamu periksa Kamar?"


sahut Faizal menghampiri Putra.


"Sudah semua Kamar Aku periksa,


tapi Dedy tidak ada di kamar," kata


Putra merasa bersalah. Karena Dia


yang membuat Dedy lari naik ke


atas. Kalau terjadi sesuatu pasti


dirinya menyesal seumur hidup.


"Tolong ambil tangga Aku akan mengambil mayat diatas," teriak


£Yudha lantang


membuat ke curigaan Dy kembali


luntur. Yudhapun sudah tahu tidak mungkin si pembunuh jongkok


diatas menunggu mayat, pasti Dia


sudah pergi. Apalagi di kepung.


Bak pahlawan Yudha naik keatas.


Bau menyengat darah yang sudah


mengering menusuk Hidung Yudha. Diatas sangat gelap, badan Yudha


sudah setengah masuk keatas.


Tangannya menarik tubuh lelaki 


yang tidak lain adalah Dedy dengan


pelan. Darah mengucur membasahi


baju Yudha. Semua anggota menarik nafas haru melihat tubuh Dedy yang lehernya digorok diturunkan dari atas.


Made yang tumben melihat mayat


pembunuhan  langsung pingsan,


untung ada Faizal di belakangnya. Setelah jasad Dedy dibawah


Yudha lagi naik keatas menutup


pintu ventilasi.


Tidak bisa di bayangkan kesedihan


Dy melihat kenyataan ini. Hatinya


merasa terkoyak, air matanya tidak


bisa di bendung lagi. Dina juga ikut


menangis. Mereka membungkus


mayat Dedy untuk di bawa ke Rumah


Sakit supaya di otopsi.


Sampai di bawah sudah ada Polisi.


Dy merasa heran, pintu gerbang di


kunci kenapa Polisi bisa masuk?.


"Agung cepat membawa Polisi


keatas dan menunjukan apa yang


terjadi. Akhirnya Polisi mengaku


bahwa Dedy adalah informan Polisi


yang sengaja di tugaskan untuk


memantau XPostOne.


"Kita akan membawa jenasah Dedy


dan kalian membawa Jenasah yang


lagi satu," kata Polisi.


"Jenasah yang mana Pak Polisi,"


tanya Dy heran.


"Itu yang berada di luar," kata Polisi


menunjuk keluar. Dy langsung berlari


keluar, terlihat tubuh Herman dengan


beberapa bacokan terbujur kaku.


"Dy histeris, tidak bisa menguasai


dirinya. Dadanya terasa sesak.


Amarahnya meluap. Dina juga ikut


menangis. Jiwa Agent Mereka


mengkerut menerima kenyataan


yang terus menerus menimpa


Mereka.


"Pak Polisi Kami dari XPostOne akan


ke Rumah Sakit. Dan Kami juga ikut


berbela sungkawa atas meninggalnya


Informan Anda," kata Agung.


"Ini adalah resiko pekerjaan, semoga


kalian tabah menghadapi ini semua.


Kita akan tetap bekerja sama, untuk


kedepannya semoga XPostOne bisa


kembali bangkit seperti semula,"


sahut Pak Polisi bijaksana.


Sore ini semua Anggota XPostOne


pergi ke Rumah Sakit untuk Otopsi


Keluarga kedua belah pihak sudah


datang. Sebagai ketua XPostOne


Agung mengucapkan sepatah dua


patah kata kepada keluarga Dedy


dan Herman. Dy juga memberi


santunan kepada keluarga Mereka.


"Setelah ini Kita mau kemana, gue


merasa kehilangan arah," kata Dina


mengusik lamunan Jefry.


"Kita tanyain yang punya uang," sahut Jefry hampir berbisik. Dina berdiri


dan mencari Dy.


"Loe punya rencana baru nggak, gue ngikut loe aja deh," kata Dina datang


dan duduk di lantai disamping Dy.


"Kita akan ikut ke Kuburan, Mereka


akan dibawa ke Astana XPostOne,"


bisik Dy.


"Terus untuk selanjutnya loe mau


tidur dimana?, jangan bilang loe akan


pulang,"


"Kita akan mencari Home stay atau


Villa untuk sementara waktu," sahut


Dy berpikir keras.


"Yudha menurutmu bagaimana, Aku


memikirkan Ibu," kata Dy melihat Ibu


Dilan yang ketiduran. Sekarang ini


Mereka berada di Lobby Rumah Sakit


menunggu Kepemakaman.


*******