
Bab.75.
Dua cangkir kopi menemani Dilan dan
Agung di Pagi hari ini. Banyak sekali
tugas yang minta penanganan khusus, karena bulan ini kebanyakan
Agent berada di luar Negeri di Daerah
komplik. Agung menghalau kantuk
dengan menyeruput kopinya.
" Lagi sedikit Gung, arahkan Agent
Kita untuk bersembunyi dari target,
karena target bergerombol dengan
Orang-orang sipil," kata Dilan mengajari Agung menangani Agent.
" Boss... Aku lancang, apa Boss tega
Dy menjadi umpan gembong Mafia Dagobe, Orang ini sangat sadis dan
Normal, tidak seperti Chaow Gost,"
Kata Agung penasaran.
" Biarin!!, supaya Dy tahu rasa. Kesel
Aku sama tingkahnya yang kekanak-kanakan. Di suruh pulang malah tidak
mau," sahut Dilan menahan marah.
" Boss Dy begitu karena terluka,
semua Gadis akan begitu kalau ditinggal nikah oleh pacarnya,"
ucap Agung memberi pengertian sama Dilan.
" Sudah Aku bilang, pernikahanku hanya di atas kertas untuk menyenangi Ibu saja. Dy terlalu
cemburu dan sangat cepat
mengambil sikap yang merugikan
dirinya sendiri,"
" Apa ada perjanjian begitu dengan
Istri Boss, bagaimana kalau dia
menuntut supaya di hamili atau
Ibu Boss yang ingin punya cucu?,"
Sahut Agung menohok. Tidak ada
jawaban dari mulut Dilan.
Matanya berkaca-kaca.
Akhirnya Dilan meneteskan air mata
Yang pantang dia keluarkan.
" Aku sangat mencintai Dy, perjuanganku mendapatkan
cintanya tidaklah mudah. Cintaku selalu mendapat cobaan. Aku
seperti Orang yang sangat bodoh
membiarkan Dy menderita sendiri,"
Kata Dilan lirih.
" Boss Aku sendiri merasa sangat
kasihan kepada Dy, yang selalu menjunjung tinggi ke hormatannya,
disaat Dy menyerahkan segalanya
kepadamu Kamu begitu gampangnya
mengirimkan surat undangan kepada
Dy. Aku sendiri mengutuk petbuatanmu," kata Agung terang-terangan membela Dy.
Dilan seketika pindah duduk, dan kini
Mereka berhadapan. Dilan mengusap
air matanya yang sempat jatuh.
" Aku tidak pernah membuat kartu Undangan. Pernikahanku sangat
sederhana dan di hadiri oleh sanak
keluarga saja," sahut Dilan heran.
Agung cepat bangun dan mengambil
Kartu undangan warna merah jambu.
dan melempar di depan Dilan.
" Kurang ajar!!, ini pasti perbuatan
Mila yang sok alim itu," kata Dilan
Marah. Rahangnya mengeras.
" Aku sangat menyesal mengawini
Perempuan itu," sambungnya lagi.
Agung tidak perduli dengan ocehan
Dilan, hatinya ikut sakit melihat penderitaan Nona nya.
" Untung Beck sudah meninggal,
kalau tidak hidupmu tinggal Nama,"
Sindir Agung.
" Agung sudahlah.... seumur hidupku
Aku akan merasa berdosa dengan
Dy. Aku akan membayar semua kesalahanku dengan jiwaku," sahut
Dilan mantap.
" Jangan banyak berjanji nanti
Ambyar.... ". Kata Agung mengalihkan
suasana yang tadi terlanjur pilu.
Dilan tersenyum tipis dan mengambil
tissue basah untuk membersihkan mukanya.
" Minum kopinya Boss supaya tidak
tegang ".
" Kamu memang best friends, Aku bertrimakasih padamu atas segala
sindiran pedasmu tadi," ucap Dilan
menatap layar. Dimana di layar terlihat
Dy lagi sarapan sendirian.
Hatinya terenyuh melihat mata Dy sembab habis menangis.
" Bagaimana kalau istri Boss datang
dan langsung memeluk," pancing Agung karena terlihat Istri Dilan menaiki tangga. Agung sengaja membiarkan Mila naik. Ingin tahu reaksi Boss nya. Kamera Sensor
terarah ke Dilan.
" Jangan sampai dech, amit-amit,"
Sahut Dilan berdiri. Tapi....sebuah
Pelukan mesra mengunci badan Dilan, dan dengan sikap rindu Mila mengecup pipi Dilan.
" Sayank ...Aku rindu kepadamu," suara
Mila terdengar merayu.
Muka Dilan.merah membara dan berusaha melepaskan tangan Mila.
Agung tutup!!, teriak Dilan menyuruh
menutup sensor karena Dy lagi On.
Agung menutup sensor dan bergegas turun ke lantai bawah.
Hatinya kesal melihat kenyataan ini,
kelakua Dilan.
" Mila!! Apa-apaan Kamu. Aku sudah peringatkan jangan Kamu datang kesini, ini bukan Rumahku". Bentak
Dilan merasa terganggu.
" Aku istrimu Mas, kita sudah menikah. Aku wajib menuntut hak ku
sebagai istrimu," sahut Mila.
" Jaga sikapmu, Aku menikah denganmu karena Ibu,"
Kata Dilan emosi.
" Aku heran kenapa Kamu sangat
cinta kepada pacarmu, Apa karena pacarmu selalu berpakaian minim. Aku juga bisa begitu,"
Ucap Mila lalu melepas kerudungnya dan Dasternya.
Terlihat Mila memakai Celana pendek
dan tang top. Rambutnya di semir merah.
Waduhh....
Dilan justru kaget!! dan berusaha menghindar ketika Mila mau nemeluknya.
" Mila sadar Kamu, pakai pakaianmu,"
Kata Dilan turun ke lantai bawah.
Dibawah sudah ada Jelita, bibi serta Agung yang menatapnya sangar.
" Aku tidak ada ngapa-ngapain," ujar Dilan ikut duduk di Sofa. Nafasnya bergemuruh seperti di kejar hantu.
" Tidak ada yang bertanya, biarpun Boss
haha hihi toh Boss sudah menjadi Suaminya.
kita mah penonton," sahut Jelita.
" Maaf Boss, tadi Dy ada privart chatt dengan Saya memakai GSM, tolong ikut dibaca,".
kata Agung menyodorkan GSM nya.
Agung bersihkan sampah dirumah ku,
muntah Aku melihatnya !!.
Xp.6.
Tidak sepatah katapun keluar dari mulut
Dilan. Rasa sakit di hatinya membuat matanya ber air. Dilan tahu betapa Dy sangat
terluka akibat perbuatannya.
" Dy pasti salah persepsi, Aku merasa
kalian semua berpihak kepada Dy," kata
Dilan sedih.
sini
" Kami hanya tidak tahu bagaimana
caranya melaksanakan tugas dari Dy,"
sahut Agung menyindir Dilan.
" Jelita suruh pergi Mila dari sini,"
perintah Dilan kesal.
Jelita naik keatas menemui Mila yang
lagi berbaring di Kamar Dilan.
Perasaannya geli melihat dandanan Mila
yang menor.
" Maaf mbak Mila, kenapa tidur disini?."
tanya Jelita berusaha bersikap wajar.
" Kamu siapa?, saya jni istri Mas Dilan,"
sahut Mila kurang senang.
" Sama mbak, Saya juga istrinya," kata
Jelita bohong. Wajah Mila langsung
berubah.
" Apa maksudmu?," tanya Mila berdiri.
" Santai saja mbak, Mas Dilan memang
senang mengumpulkan istri. Saya mah
tidak masalah mbak, yang penting tiap
malam Saya bisa tidur berdua dengan
Mas Dilan," wajah Mila semakin pucat,
cepat-cepat dia memakai kembali
dasternya dan turun ke bawah.
" Dasar manusia mata keranjang!!," teriak
Mila melempar kerudungnya ke muka
Dilan.
Dilan mau berdiri tapi cepat di tahan oleh
Agung. Mila mencaci maki Dilan membabi
buta.
""Mbak silahkan.keluar, jangan membuat
keributan disini ". teriak Jelita turun dari
tangga dan menarik Mila keluar dari Rumah.
Suasana menjadi hening setelah kepergian
Mila. Mereka di bawa pikiran masing-masing.
" Bibi sudah menyiapkan sarapan, kalian
pergi ke dapur," kata Bibi berdiri terus melangkah ke Dapur.
Tidak ada yang ingin bergerak dari Sofa
Mereka merasa pagi ini sangat pahit.
Tanpa di komando akhirnya Mereka ke
Ruang makan.
Jelita melayani Agung dengan mesra,
biasanya Dilan melayani Dy dan saling
suap, namun hari ini Dilan di layani
oleh Bibi.
" Kenapa Bibi tidak mengatakan bahwa
ada Mila?". kata Dilan memperhatikan
Bi Minah yang sibuk menuangkan Juice.
" Setiap bikin Juice ingat Non Dy, apakah
Dy sudah makan disana?," kata Bibi tanpa
menjawab pertanyaan Dilan.
" Bibi disana Dy berdua bersama teman,
pasti Dy sudah makan". sahut Agung.
" Syukurlah, semoga Dy selamat di Negeri
orang," kata Bibi.
Mereka menyelesaikan sarapannya dengan
ditutup Dessert dari buah semangka.
*******