
Bab.125.
Langit di ufuk barat berubah menjadi Jingga sebentar lagi kepekatan malam akan menyapa. Desir angin yang dingin menambah suasana menjadi magis.
Saat malam mulai merambat terdengar suara Binatang malam. Dy beranjak dari duduknya berusaha tegar menghadapi masalah yang selalu menimpa dirinya.
Hidup harus terus berlanjut, seperti air
yang mengalir ....
"Sayank Kita pulang," bisik Yudha lalu
membantu Dy bangun. Yudha Seorang laki-laki yang setia menemaninya saat
ini. Bagi Dy, Yudha bukanlah pengganti Aby atau Dilan, malah lebih cocok di
sebut sosok misterius yang menjadi
target tembak di catatan Dy.
Pertama bertemu dengan Dy sampai sekarang hatinya tetap sama, cintanya tidak terbatas, dalam hati Yudha hidup
matinya untuk Dy.
"Sayank minumlah," kata Yudha menyodorkan air mineral kepada Dy.
"Aku merasa sangat kehilangan atas
meninggalnya Bibi dan Jelita," sahut
Dy sambil minum. Dengan perasaan
hancur Dy bersandar dalam dekapan Yudha. Air matanya seolah sudah mengering.
"Kita ketempat Jelita mengajak Agung
pulang, kasihan Agung," kata Yudha
prihatin. Mereka berdua melangkah mendekati Agung yang duduk terpekur sambil sesekali menghela nafas.
Jefri dan Dina saling mendekap dan menumpahkan lesedihannya masing-masing. Sungguh sangat tragis,
Anggota XPostOne satu persatu gugur
di tangan manusia psychopath.
"Agung Kita pulang, sudah mau gelap
udara akan semakin lembab," ajak
Yudha mendekati Agung. Dengan terpaksa Agung berdiri. Tidak ada
kata-kata yang lebih berharga di persembahkan kepada Jelita, selain
air mata yang terus keluar. Ada pertemuan dan ada pula perpisahan. begitulah selanjutnya sampaiJiwa
bosan berada di Raga.
Akhirnya Mereka semua bangun dan menuju Mobil masing-masing.Tidak
ada kata yang terlontar dari bibir
jMereka. Yudha memapah Dy menuju
Mobil dan membukakan pintu Mobil. Setelah saling memberi klakson
Mereka meninggalkan Pekuburan
Astana XPostOne.
"Ayankk...Aku sebentar akan mampir
ke Restoran cepat saji untuk membeli makan teman-teman," kata Yudha membuka percakapan setelah Mereka berada di Mobil.
"Ya...tolong beli lebih karena ada Ibu,"
sahut Dy datar. Wajahnya sangat pucat
menahan sedih.
"Aku kadang lupa kalau ada Ibu," kata
Yudha memacu Mobilnya dengan
tenang.
"Aku juga lupa, mungkin karena sudah ada Bibik yang mengurus. sekarang
Bibik telah tiada Kitalah yang harus
selalu memperhatikannya dan Kamu
lebih banyak menyempatkan diri
mengurusnya," sahut Dy.
"Aku merasa malu kepadamu," kata
Yudha polos.
"Hemm.. ," Dy tidak menanggapi, ada
rasa Jenuh membahas keterpurukan dirinya saat ini.
Mobil berbelok ke Restoran cepat saji.
Yudha memilih drive thru. Antrian
cukup panjang, maklumlah Mereka berada di Kawasan Legian Kuta, yang kawasan Wisata yang sangat ramai.
Yang memenuhi Restoran semua
Tamu Bule.
"Ayankk, Aku tahu Kamu terpaksa
dan cuma berpura-pura perhatian
sama Ibu, padahal Kamu curiga dan kurang simpati kepada Ibu," kata
Yudha menoleh kepada Dy.
"Aku memang curiga kepada Ibu,
tapi tidak berpura-pura dengan
sikapku, Aku hanya mencari hari
yang tepat untuk membekuk
kalian berdua," sahut Dy ketus.
"Dy!!, sikapmu tidak sopan sama
sekali, teganya Kamu berkata
begitu kepada Ibu, prasangkamu
yang belum tentu benar," Bentak
Yudha kurang senang. Dy boleh
memaki dirinya, tapi jangan
membawa nama Ibunya.
"Kamu marah?, Kamu sakit hati?,
apa Kamu lupa menendang ku
supaya bisa menyelamatkan
Ibumu pada saat suasana Rumah
gelap gulita," sahut Dy mengejek.
"Aku yang menendangmu dengan
pelan untuk menyelamatkan Ibuku
dari dirimu yang waktu itu dengan
gegabah menodongkan pistol ke
Ibuku. Aku berbuat begitu supaya
Kamu tidak lepas kontrol, karena
dalam hal ini Ibu tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi.
Ibuku dalam kondisi sakit," Jelas
Yudha dongkol.
"Aku tidak akan berkomentar, mari
Kita lihat selanjutnya," sahut Dy
malas.
Baginya tidak ada gunanya berdebat
dengan Yudha, karena akan membuat
ambil Mobil kembali melaju dengan
tenang. Dy bersandar di Jok Mobil
sambil memejamkan matanya.
"Kamu tidak ada membeli apa lagi,
misalnya bahan untuk bersih-bersih
atau untuk mencuci. Sekarang tidak
ada Bibik, Kita harus mencari Bibik
baru untuk membereskan rumah,"
Yhudha mengingatkan.
"Aku akan memakai jasa laundry
dan untuk masak Kita Online dulu,"
sahut Dy tetap memejamkan
matanya.
"Untuk membersihkan Rumah siapa
disuruh," tanya Yudha kembali.
"Aku akan menyuruh teman-teman membersihkan diatas. Kalau yang
di bawah Kita berdua," sahut Dy
enteng.
"Tidak masalah bagiku asalkan Ibu
jangan dilibatkan dengan masalah
pembagian pekerjaan," kata Yudha.
Jam menunjukan pukul 18.21 wita,
Dy menaruh makanannya diatas
Meja dan Mereka duduk memutari
meja makan tanpa berkata-kata.
"Malam ini Kita semua akan istirahat,
agar ada jeda. Dari waktu ini Kita
berkutat dengan masalah yang menguras pikiran dan tenaga. Aku merasa lelah lahir dan bathin," kata
Agung berusaha tegar menerima
cobaan ini.
"Mari Kita makan, untuk sementara
waktu Aku minta tolong kepada
kalian semua....," timpal Dy lalu mulai
menjabarkan rencana pembagian
tugas sebelum ada Bibik yang Baru.
"Tidak apa-apa Non, Kita semua siap membantu, lagipula belum ada misi
baru," sahut Jefri dibarengi anggukan
kepala dari Anggota lain.
"Kita sekarang sudah mulai sedikit,
Aku akan menerima Agent baru
untuk di latih. Saat ini mungkin belum
ada permintaan dari client, Aku yakin bulan depan keadaan akan pulih
kembali," ucap Agung.
Ini adalah malam yang berat bagi
Mereka, perasaan sedih bercampur
menjadi satu membuat Anggota
XPostOne yang tinggal 5 orang dan
yang terdiri dari Agung, Dy, Yudha,
Jefri, dan Dina. Dan Anggota pelatih
terdiri dari Dedy, Darma, Putra, Ryan
dan Faizal.
Mereka akan membagi teman dan
tidur dikamar masing-masing.
Yudha dan Dy tidur dibawah, Agung
dan Dedy, Dina dan Jefri, Ryan dan
Darma, serta Faizal dan Putra akan
tidur diatas. Tidak lupa Mereka
melengkapi dirinya dengan Pistol.
"Kamu mandi duluan, Aku hari ini
akan lama mandinya karena aku
akan berendam di Bathub," kata
Di setelah sampai di Kamar.
"Kalau begitu Aku duluan mandi,"
sahut Yudha menuju kamar mandi.
Setelah Yudha mandi Dy keluar dari
Kamar dan menuju Kulkas. Mata
Dy melirik Meja makan, perasaannya
heran melihat Meja makan yang
kosong. Tadi masih banyak makanan
tersisa diatas Meja, kenapa sekarang
habis. Temannya tidak mungkin
mengambil lagi. Apakah Ibu yang
menyimpannya. pikir Dy menuju
Kamar Ibu. Sebelum Dy membuka
pintu bahunya di tepuk dari belakang.
"Kenapa Yank?, ada masalah?," Kata
Yudha memandang curiga kepada
Dy. Bersamaan dengan itu pintu
kamar Ibu terbuka.
"Ada apa ribut-ribut, apa ada yang
terbunuh lagi?" tanya Ibu dengan
mata merah.
"Ibu masuk ke Kamar tidak ada yang
membuat Ibu khawatir," kata Yudha
mendorong tubuh Ibunya.
"Aku mau menanyakan makanan di
Meja kemana larinya, koq bisa habis. Tidak mungkin Ibu makan sendiri,
apa Ibu menyimpannya?!" ucap Dy
heran.
"Mungkin juga," sahut Yudha pendek.
*******