
Bab.27.
Malam ini Dy akan pulang sebentar untuk
mandi, karena dari pagi belum sempat
Pulang. Kebetulan Nyonya Sherly sudah datang untuk menggantikannya.
" Jojo Aku pulang sebentar ya mau mandi,
nanti Aku kembali ".
" Beb..jangan lama", Sahut Jojo terpaksa memberi Dy pulang.
"Nyonya Saya mohon diri dulu". Kata Dy
kepada Nyonya Sherly.
" Ya hati-hati Dy ". Sahut Nyonya Sherly
pendek. Jojo memandang kepergian Dy dengan perasaan bercampur.
Untuk sementara Jojo mengenyampingkan emosi jiwanya, dan berharap hari esok Dy berada disampingnya.
Mamanya mendekatinya dengan wajah lusuh. Masih terlihat garis-garis ke cantikannya pada gurat wajahnya yang menua.
" Mama kenapa tidak ke Apartement aja?, Aku sudah sembuh, tidak perlu di tungguin". Kata Jojo tersenyum tipis.
" Tidak sayang...Mama akan menemanimu disini. Apakah Kamu punya ide untuk mempertahankan Dy?".
" Aku akan menghamilinya ". Sahut Jojo mantap. Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk membuat Dy tetap menjadi istrinya.
Mereka berdua sangat yakin bisa menundukkan Dy.
Dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit tidak sepatah katapun Dy berbicara.
Tidak ada yang perlu di bicarakan, semua telah terjadi.
Bukankah hidup harus di jalanin?
Dy menghapus setitik air yang jatuh dari matanya.
DIlan meminggirkan Mobilnya.
" Ada apa sayank?". Tanya Dilan pelan.
" Aku tidak bisa meninggalkan Jojo!!".
Sahut Dy tegas di antara linangan air matanya.
" Apa Kamu sudah di pelet seperti Aby?".
Sahut Dilan, suaranya bergetar.
Dia tidak menyangka...
" Maksudmu?".
" Gak usah di bahas!". Kata Dilan memutar Mobilnya. Mobil itu melaju kencang menembus gelapnya malam. Hati Dilan terkoyak. Dadanya sesak mendengar ucapan Dy.
" Kemana Kita?". Tanya Dy menghapus air matanya.
Dilan mengunci mulutnya.
Mobilnya meluncur menuju The Esplanade Roof Garden.
Kawasan ini terletak di tepi sungai Singapura.
" Untuk apa Kamu mengajak Aku kesini?".
Tanya Dy sambil melihat pemandangan Marina Bay Sands saat malam.
Bagi Dy Dilan bukanlah lelaki seperti Aby atau Jojo yang meraung sedih bila ditinggal....
Dilan adalah laki-laki dewasa yang banyak ditempa pengalaman hidup.
Dilan sangat bertanggung jawab dan mempunyai dedikasi tinggi.
" Kenapa Kamu ingin melanjutkan pernikahanmu?". Tanya Dilan tanpa menoleh.
Bayangan wajah Dilan yang ganteng terlihat samar di antara sinar semburat lampu jalanan.
Dihati kecilnya Dy sangat mengagumi cowok ini.
"Karena Aku sudah punya Ponsel, dan ponsel inilah yang membuka apa yang Kamu sembunyikan saat ini.
Aku sudah tahu mengenai Aby!!.".
Kata Dy pelan.
Dilan tidak bereaksi, karena Dilan tahu cepat atau lambat Dy bakalan tahu, bahwa Aby sudah menikah dengan Vivi.
Angin malam yang lembab menusuk pori-pori kulit Dy. Hatinya terasa sangat sakit.
" Apakah Kamu tidak mempertimbangkan perasaanku?". Tanya Dilan sesat.
" Aku hanya ingin melanjutkan apa yang telah terjadi. Aku tidak mau melibatkan Kamu dalam masalahKu.
Pulanglah Kamu ke Indonesia, Kamu lebih di butuhkan disana dari pada Aku". Kata Dy. Suaranya tersekat.
" Yeah...kalau itu maumu, Aku akan pulang ke Indonesia.
Mungkin dengan melanjutkan pernikahanmu dengan Jojo, Kamu bisa lebih bahagia ". Sahut Dilan lalu berdiri.
Dy mengikuti dari belakang dengan hati terkoyak.
Tapi semua yang Dy lakukan untuk ke bahagiaan masa depan Dilan.
Dengan berlalunya waktu semua akan baik-baik saja.
Dilan akan bisa melupakannya dan akan mendapat pasangan baru.
Biarkanlah hidup ini seperti air yang mengalir.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Mereka berdua membisu dengan pikiran masing-masing.
Sampai di Condominium Dilan mencoba menahan langkah Dy.
" Ambil sisa pakaian mu disini". Kata Dilan membuka pintu utama.
Dy melangkah masuk menuju Kamar Dilan.
" Aku harus bilang apa sama Beck?". Tanya Dilan duduk di pinggir pembaringan.
Dilan mencoba menguasai hatinya.
Matanya yg tajam memandang Dy dengan kasih.
" Katakan Aku sudah mati, bukankah itu yang Beck inginkan?".
Sahut Dy serak, matanya berkaca-kaca
Kesedihan Dy terlalu dalam menyentuh sanubarinya.
Air matanya jatuh, Dy menangis sesenggukan.
Dy tidak menyangka Aby mengkhianati dirinya.
Walaupun Admesh mengatakan Aby kena guna-guna, Dy tetap tidak yakin.
Hanya banci saja yang mengkambing hitamkan guna-guna.
Dy muak dengan sifat Aby yang merasa tidak sadar apa yang Dia lakukan.
Seharusnya Aby tidak perlu sembunyi di balik perbuatannya.
Tangisan Dy sungguh membuat hati Dilan sedih. Dilan berusaha tidak tergoda untuk memeluk Dy. Kesedihan itu Terlalu dalam membuat dadanya sesak.
Tidak ada kata-kata yang bisa di rangkai untuk menyejukan hati Dy.
Rahang Dilan mengeras menahan emosi.
Ingin rasanya Dia melenyapkan Jojo dan Ibunya.
" Pikirkan sebelum Kamu bertindak, hidup bukan untuk saat ini saja.
Perjalanan hidup itu masih lama, kecerobohan di awal akan menggali petaka dalam pertengahan kehidupan dan kesengsaraan akan dirasa terakhir". Kata Dilan bijak.
" Aku tidak bisa berpikir dan tidak mau memilih, Aku menjalankan apa yang telah tersedia. Ntah bagaimana nanti itu urusanku". Sahut Dy pasrah.
" Yank...apakah Kamu tidak memikirkan perasaanku?". Akhirnya keluar juga keluhan dari hati Dilan.
Lama Dilan menunggu jawaban dari Dy.
" Karena Aku memikirkan masa depanmu Aku melepaskanmu. Aku tidak mau Kamu tersangkut dengan masalahKu". Sahut Dy menatap Dilan.
" Kamu sungguh pintar dengan teorimu, sehingga tahu Aku akan berbahagia kalau lepas dari kehidupanmu". Balas Dilan menatap Dy.
" Apapun komentarmu Aku tidak peduli, Aku sudah capek berpikir". Sahut Dy membawa pakaiannya keluar melewati Dilan yang duduk terpaku.
Dy pergi menuju kondo sebelah lewat belakang, karena pintu depan memakai sidik jari Jojo.
Dy langsung ke Kamarnya dan menaruh pakaiannya begitu saja di Almari.
Dadanya begitu sesak, membayangkan tempat ini akan mengekangnya begitu lama. Perjanjian itu sudah terukir dibibir Jojo dan Dy, dimana Dy akan mendampingi Jojo selama sebulan atau lebih. suka atau tidak suka.
Manusia selalu disuruh memilih, tapi terkadang bingung yang mana harus di pilih. Karena Kita tidak tahu hari esok.
Dy memilih tidur di Sofa panjang dengan sepatu masih terpakai.
Pikirannya malas diajak kompromi, Dy berusaha membuang perasaan sedihnya dengan cara memejamkan matanya.
Tidak menunggu lama Dy telah tertidur pulas.
Dengan pikiran ragu Dilan melangkahkan kakinya ke Balkon dan berdiri di realing balkon, kemudian melompat menuju ke Kondo Jojo.
Pintu belakang selalu tidak terkunci membuat Dilan leluasa menuju ke Kamar Dy. Pelan-pelan Dilan masuk kedalam Kamar.
Dilan memandang wajah Dy yang cantik, mengaguminya dan mengecup bibir ranum itu.
Kamu adalah hidupku, bagaimana Aku bisa meninggalkanmu dan menyerah kepada nasib yang Kamu pilih.
Tangan Dilan membuka sepatu Dy satu persatu dan membersihkan kaki Dy dengan Tissue basah.
Sekarang badan Dy sudah diangkat dan pindah ke Kasur.
Dy menggeliat ketika badannya menyentuh kasur.
Dilan mengunci pintu dan mengganti lampu Kamar menjadi lampu tidur.
Kemudian Dilan berbaring disamping Dy.
Malam semakin larut....