I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
CHANGI AIRPORT



Bab.5.


Ini adalah perjalanan Dy, yang untuk kesekian kalinya menuju Singapora.


Kalau dulu Dy kesini sekedar berlibur, tapi sekarang Dy kesini untuk menjalankan tugas dari XPostOne.


Seorang Aktor membutuhkan jasanya untuk menjadi Bodyguard.


Antrean cukup panjang di depan pintu boarding pass.


Dengan langkah tegap Dy menuju boarding, tidak ada tersirat dari wajahnya


Penyesalan atau duka yang mendalam.


Semua Dy lakukan dengan keputusan yang matang.


Masuk ke kabin kelas bisnis, Dy disambut ramah oleh pramugara dan pramugari yang semuanya berparas Asia.


Mereka tidak berhenti tersenyum sambil menawarkan minuman selagi menunggu pesawat landas.


Dy memesan makanan Book the Cook


dan mencicipi Foie Gras atau hati angsa, serta dessert .


Dy meng aktifkan tombol Do Not Disturb, supaya tidak di ganggu, saat Dy tidur di fully-flat bed.


Biasanya pramugara atau pramugari yang lewat pun tidak berhenti bertanya apakah ada minuman atau makanan yang ingin dipesan.


 


Changi airport...


Dy turun dari pesawat dengan pakaian yang sudah di ganti.


Sekarang Outfitnya terdiri dari Celana pendek denim dan kaus halter yang ketat tak berlengan.


Sentuhan terakhir adalah Blazer panjang warna hitam. Kaca mata hitam dari Agent dan sepatu Sneaker, sebuah jam tangan Agent melingkar di pergelangan tangannya.


Sebuah Taxi telah menunggunya.


Dy berharap Dilan menjadi Sopir Taxi, tapi harapannya pupus, karena seorang laki-laki setengah baya tersenyum manis menyambutnya.


" Selamat Sore Nona, Saya akan mengantar Nona sampai ke tempat tujuan


Silahkan Nona duduk, Saya akan menyimpan koper Nona" Kata Sopir itu ramah. Dy tersenyum dan membalas salam.


Perjalanan menuju Hotel memakan waktu kurang dari 30 menit.


Ingatan Dy kembali ke Aby.


Dua hari yang lalu Aby mengajak Dy ke Rumah Mamanya.


Mereka disambut gembira oleh Tante Tami. Banyak hal yang Dy tanyakan kepada Tante Tami.


Salah satunya adalah rahasia dirinya.


" Maaf Tante, Aku ingin tahu siapa sebenarnya diriku. Masalah ini menjadi ganjalan dalam pikiranku.


Sudah lama Aku ingin tahu, tapi Beck selalu mengulur waktu". Kata Dy membuka percakapan setelah Mereka bersantai di Ruang keluarga.


" Dy...apapun yang Tante ceritakan, jangan sampai membuat Kamu berkecil hati, marah atau mendendam Papamu.


Anggap cerita ini adalah masa lalu yang tidak harus menjadi beban pikiranmu" Tante Tami mulai bertutur...


Dy dan Aby mendengar dengan seksama, sesekali Tante Tami menarik nafas panjang. Wajah tuanya menyiratkan kesedihan.


" Beck sangat baik kepada Kami, jadi waktu Beck menjalin asmara dengan Adik sepupu Tante, yaitu Mamamu, Kami semua menyetujuinya.


Tidak ada sebab yang membuat Kami harus menolak lamarannya."


" Setelah Mereka tunangan, Beck sering bertugas ke seluruh Dunia dan jarang memberi khabar. Pada suatu hari temannya Beck datang mengabarkan bahwa Beck tidak ada khabar setelah di tugaskan ke Libya, Afrika Utara."


" Maa...minum dulu." Aby menyodorkan air Mineral kepada Tante Tami.


" Trimakasih Nak." Suara Tante Tami lirih memandang Aby.


"Namanya Faisal, hampir setiap hari datang menemui Mamamu.


Faisal ini kemudian malah mendekati Mamamu. Dan mamamu hamil, padahal Kami semua selalu menasehati Mamamu supaya menjauhi Faisal, tapi Mamamu bandel. Waktu itu Kami semua ketakutan ketika Beck tiba-tiba datang.


Faisal lari keluar Negeri dan terakhir di beritakan Dia sudah meninggal.


Ntah benar atau tidak, karena sampai sekarang Kami tidak pernah bertemu.


Sedangkan Mamamu diajak Beck ke Jakarta, tapi tidak dinikahi.


Setelah Kamu lahir Mamamu meninggal karena sering di siksa Beck". Kata Tante Tami pelan.


"Kenapa Tante tidak melarang Beck membawa Mamaku ke Jakarta"?.


"Siapa yang berani sama Beck?. Lagi pula Mamamu yang salah, Nenek tidak bisa melarang. Beck itu Orang baik, Dia sangat bertanggung jawab. Dia yang mengurus biaya Kakek dan Nenek sampai Mereka meninggal. Dia juga rela mengurusmu.


Cintanya terlalu besar kepada Mamamu."


Kata Tante Tami menatap Dy.


Cerita ini begitu tragis dan sangat menyentuh.


Dy tidak tahu harus ngomong apa, yang jelas perasaan Dy ikut hanyut mendengar cerita Orang tuanya.


Dy sangat yakin Papanya di bunuh oleh


Beck dan mungkin Aku adalah tumbal berikutnya. Pikir Dy sedih.


SAMPAI DI HOTEL.


" Nona sudah mau sampai, apakah benar Hotel ini tujuan Anda." Kata Pak Sopir membuyarkan lamunan Dy.


" Ya Pak, tolong sampai Lobby." Sahut Dy.


Taxi itu memasuki Areal Hotel setelah sebelumnya Scurity memeriksa Mobil dengan Sensor ke amanan.


" Trimakasih Pak," Kata Dy turun dari Mobil dan memberikan Tip.


" Selamat Sore Nona.


Nona telah datang di tempat yang tepat, Kami akan melayani Nona dengan baik."


Seorang Concierge datang menghampiri Dy dengan tersenyum ramah.


Gadis itu memakai bahasa Inggris yang fasih.


"Saya membutuhkan Kamar untuk semalam." Sahut Dy tersenyum.


" Silahkan Nona, Anda bisa memilih yang standart atau Murphy Room." Kata gadis itu memperlihatkan list Kamar.


" Saya memilih Murphy Room." Sahut Dy langsung Check in. Seorang F.O lalu menyerahkan kunci kepada Dy.


Dy juga tidak perlu Kamar yang mewah, mengingat Dy cuma semalam disini.


Murphy room ini adalah tipe kamar hotel yang menyediakan sofa bed, digunakan sebagai tempat tidur pada malam hari dan ruang tamu di siang hari.


Ya lumayanlah untuk beristirahat, harganya juga sangat murah.


Seorang Bell boy mengangkat kopernya ke Kamar nomor 127 lantai 2.


Dy mengunci pintunya dan menyetel AC.


Senyumannya mengembang ketika memperhatikan Sofa bed nya.


Di Hotelnya tidak ada Kamar Murphy, ini sebuah ide bagus untuk di tiru, untuk menghemat lahan.


Dy meraih GSM nya dan mematikan sensor ke pusat.


Perasaannya sudah hancur, mengingat Beck yang tega membunuh Papanya, atau menyiksa Ibunya.


Kemungkinan sekarang Beck juga ingin membunuhku lewat tangan orang lain, makanya Beck terus memberi Aku tugas.


Pikir Dy.


Dy membekukan hatinya supaya tidak rindu kepada Papanya.


Betapa hatinya tidak mau sinkron dengan keadaan real yang membayangi hatinya.


Dimana wajah tua Beck selalu dalam hentakan langkah Dy.


Hati Dy masgul....


Tidak ada yang bisa menggantikan sosok Papa di hatinya.


Bagaimanapun Dy berusaha membenci Papanya tapi tidak bisa.


Dy terlalu sayang kepada Beck.


Sangat sayang.


Sekarang Dy cuma membawa GSM sebagai alat komunikasi.


Masalah internal yang menyangkut kehidupannya ingin Dy lupakan.


Itu semua kejadian masa lalu yang tidak perlu di permasalahkan.


Boleh di kenang, tapi tidak boleh merusak pikirannya.


Sore berganti malam Dy ke Kamar mandi.


Fasilitas standar sesuai dengan uang keluar. Tidak apa, yang penting ada sabun dan peralatan lainnya.


Lumayan, air shower cukup hangat membasahi tubuhnya.


Selesai mandi Dy berencana mau ke Bar, kepingin tahu Dunia malam disini.


Siapa tahu ada konsep baru yang bisa di tiru untuk Hotelnya di Bali.


Dy memakai Outfit yang casual, tidak lupa Revolver Agent terselip di pinggangnya.


Penampilan Dy yang Charming membuat banyak mata memandangnya.


Saat ini Dy tidak memakai kaca mata, cukup Jam sensor saja.


Dy sengaja mengambil tempat duduk di pojok supaya Dy bisa mengamati Orang-orang yang berada di Bar.


Keyakinan Dy akan di dekati lelaki menjadi kenyataan.


Seorang lelaki mendekatinya.


Dan duduk disampingnya dengan tampang cengengesan.


" Kamu sendiri?, Aku boleh duduk disini".


Suara lelaki itu meluncur menyapa Dy.


" Oke silakan." Sahut Dy ngambang.


" Aku Samuel Fang ". Kata lelaki itu sambil duduk di kursi kosong di depan Dy.


" Aku Dy." Sahut Dy pendek.


" Aku traktir Kamu minum." Kata Dy lalu menuju meja Counter.


Seorang Pramutama melayani Dy.


“Saya mau 1 margarita dengan es batu dan 2 pint Guinness. Terima kasih!”


“Bisa pesan satu gelas Chardonnay yang diproduksi bar"? Kata Dy ingin tahu racikan Bartender disini.


Pramutama menulis pesanan Dy.


Dy memberikan Kartu kredit untuk Open tab selanjutnya.


Perasaannya mengatakan bahwa akan ada pesanan berikutnya.


*******