I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
PEMBUNUH BERTOPENG.



Bab.127


Bekerja dengan Dina kerjanya istirahat


saja, ada saja alasannya supaya bisa mengobrol dengan  Dy. Tapi yang lebih


lucu adalah Dy yang tidak bisa nyapu,


mengepel atau melakukan semua Pekerjaan Rumah.


"Aku mau memanggil Staf Cleaning service yang ada di Hotelku," kata  Dy cepat ketika Dina menyuruhnya mengepel.


"Bukannya dari tadi, gue udaah pegal banget. Kalau begitu gue istirahat,:


sahut Dina duduk di ruang keluarga.


Sedangkan para  cowok masih sibuk membahas masalah strategi yang akan dilakukannya ketika menghadapi si Pembunuh nanti. Mereka sudah ada


bayangan kalau si Pembunuh seorang


laki-laki yang suka mendengus dan


suaranya serak.


Dilain tempat Yhudha tampak duduk termenung, matanya kosong


memandang hamparan  rumput hijau yang mulai tinggi di halaman depan.


"Yudha, gimana tanggapananmu tentang


rencana yang akan Kita lakukan itu,"


tanya Jefry menghampiri Yudha.


"Dalam sebuah pertempuran pasti ada


yang kalah dan menang, hidup juga begitu, Kita lakonin saja sesuai porsinya masing-masing," sahut Yudha.


"Kamu ngomong tidak mambung," kata


Jefry memandang Yudha.


"Apa yang Kamu  harapkan dariku? apa


sebuah pernyataan yang membuatmu


terhibur yang pasti menyakitkan atau


sesuatu misteri yang tidak perlu Kamu


ketahui dan di ingat," kata Yudha membuka ponselnya.


"Ngomong sama Kamu membuatku


tambah blunder," sahut Jefry menjauh.


Yudha membuka Ponselnya Whatsapp


Dy yang ada di Ruang keluarga. Saat ini


Yudha ingin memeluk Dy dan tidur dipangkuannya. Hatinya sangat sedih


dan kosong.


"Dy Aku kangen,"😍😍 kirim.


"Aku tidak!!"😠 balas.


"Hahaha...lain di mulut lain dihati," kirim.


"Kenyataannya memang begitu," balas.


"Oke, Aku tidak mengapa," 😭 kirim.


Dy tersenyum tipis sambil menutup


ponselnya. Hatinya merasa senang bisa


membuat Yudha sedih.


"Dy..sudah Siang, gue mau keatas mandi,


loe jadi memesan makanan  untuk siang


ini. Kalau gue maunya beli sendiri," kata


Dina.


"Tunggu cowoknya selesai babat rumput.


Sebentar lagi cleaning service akan datang sekalian membawa makanan," kata Dy.


"Kalau gitu gue tunggu disini," sahut Dina


kembali duduk.


"Yudha sudah selesai kerjanya didepan,"


tanya Dy ketika Yudha masuk.


Yudha tidak menjawab malah langsung


pergi tanpa menoleh. Dy langsung


berdiri dan mengejar Yudha. Tidak biasanya Dia ngambek. Pikir Dy.


"Yud, mau kemana, Kamu nggak dengar


Aku memanggilmu dengan suara hati,"


kejar Dy berlari kecil.


"Aku mau minum, emangnya Kamu butuh Aku, atau cuma berbasa basi," sahut Yudha menuju Meja makan.


"Kamu ngambek ya, kenapa harus marah, Aku mengatakan yang sebenarnya,"


tanya Dy ikut duduk di Meja makan. Yudha diam saja. Dy jadinya serba salah kemudian Dy bangun mengambil  dua botol minuman ringan.


"Maaf kalau Aku ada salah, sekarang minumlah," kata Dy menyodorkan sebotol


minuman ringan.


Ibu datang dan ikut duduk, tidak biasanya


Ibu barengan duduk bersama Dy. Wajah Ibu sangat pucat. Ibu  memandang Dy tanpa bersuara.


"Ada apa Bu, apa Ibu sakit?" tanya Dy


hati-hati menatapnya.


"Ibu lapar," sahut Ibu pendek. Dy kaget


dan merasa bersalah.


"Sebentar Bu, nah ini orangnya sudah datang. Ibu nisa sekarang makan," kata Dy ketika 2 Cleaning Service datang.


"Siang Nona, maaf Kami agak terlambat,"


Katanya hormat, sambil menaruh beberapa Box makanan diatas Meja.


"Herman dan Made sudah makan?, kalau


belum makan dulu," kata Dy memandang


kedua Cleaning Service itu, yang sudah


biasa datang membersihkan Rumah.


"Kami sudah makan di Hotel, mungkin Kami akan minta minum saja," kata


Herman.


"Kalau mau minum ambil saja di Kulkas,


disana juga ada Kopi Kocok dari Hotel,"


kata Dy menunjuk Kulkas.


Herman dan Made, Dua Cleaning Service ini sudah biasa bekerja di Rumah Dy, jadi tidak perlu di arahkan lagi, Mereka sudah hafal kamar yang harus di bersihkan.


"Nona Kami mau naik keatas," kata Made


sambil membawa minuman. Dy sudah


akan membersihkan Rumah. Tapi baru


Mereka berada diatas sebuah bayangan


memukul Herman sampai pingsan.


Made berteriak, seperti peluru lari Dy


dan Yudha. Sampai diatas Dy melihat seseorang menyeret salah satu tubuh Cleaning Service  dengan  cepat.


"Berhenti keparat!!," teriak Dy meloncat dan menendang orang itu. Tapi Orang


itu cepat melempar tubuh yang diseret dengan kuat ke tubuh Dy. Badan Dy


oleng ditimpa badan Cleaning Service. Sekejap orang itu sudah lenyap ntah kemana perginya.


Teman-teman XPostOne berhamburan datang setelah mendengar teriakkan. Mereka cepat menolong. Syukurlah kedua Cleaning Service selamat, cuma


Badannya saja yang lecet-lecet.


Mereka semua sibuk memeriksa setiap Kamar. Sungguh aneh, jejak Orang itu


tidak ada bekas sama sekali. Mereka


turun semua dan duduk di Ruang tamu.


Yudha memeriksa CCTV dan yang lain


mengurus Herman. Keadaan sangat


kacau karena menurut penuturan Made


Orang itu bermuka buruk dan sangat


menyeramkan.


Dy ingat dengan manusia bertopeng


yang selalu mengirim Whatsapp kepada


nya dan mengatakan dirinya "bangkit".


Dulu Dy berpikir itu pekerjaan Yudha


atau Ibu karena memakai Ponsel Dilan.


Tapi sekarang Dy berpikir Ponsel Dilan


ada yang mencuri dan di pakai senjata


untuk meneror dirinya.


"Malam ini Dia pasti datang lagi, tidak


usah melakukan kegiatan apapun, lebih baik Kita fokus kepada masalah ini,"


Kata Agung kelihatan kesal.


"Sebaiknya begitu, Kita nanti malam


berkumpul di atas semuanya. Tidak


boleh ada yang berpisah," Dedy ikut


bersuara.


"Mari Kita makan dulu," kata Dy bangun


menuju Meja makan.


Akhirnya semua ikut menuju Meja


makan. Herman yang masih tiduran di Sofa panjang Mereka tinggal karena katanya masih pusing. Made terpaksa ikut karena dipaksa oleh Dina.


Ibu sudah tidak ada di Meja makan


beserta 4 Box nasi ikut lenyap. Yudha


dan Dy saling pandang. Hanya Mereka


yang tahu Nasi nya hilang.


"Tumben Kita di jamu dengan nasi


Hotel, biasanya makanan cepat saji, sampai enek saking seringnya," kata


Dina sembari membuka Kulkas.


"Din..keluarin minumannya semua,


Aku sisain Kopi kocok," kata jefry.


"Aku juga minta Kopi," kata Agung.


"Kopi habis, loe minta gih sama Dy,


supaya di bawain dari Hotel," sahut


Dina menaruh minuman diatas Meja.


Dy merasa senang melihat temannya sangat menikmati suguhan Hotelnya.


Kecurigaannya kepada Anggota


pelatih menjadi luntur ketika melihat


dengan mata kepala sendiri pembunuh


itu menyeret Herman.


"Kalau sudah ada yang selesai makan,


tolong lihat Herman dan ajak kesini


supaya Dia minum bersama Kita. Aku


sudah memesan Minuman dan Kopi


kocok," kata Dy.


"Saya saja Non yang kesana," sahut


Made berdiri.


"Minumannya sudah datang, tolong


buka pintu gerbangnya," kata Dy


kembali. Dedy yang sudah selesai


makan berdiri.


"Aku yang akan mengambil," sahut


Dedy berjalan keluar. Badannya yang


tinggi kekar bertabrakan dengan


badan Made yang berlari kencang.


"Made ada apa? kenapa Kamu?,"


tanya Dedy heran.


"Herman hilang," sahut Made gemetaran.


"Jangan panik, mungkin Dia berjalan-


jalan karena capek tidur," sahut Dedy


meneruskan jalannya ke pintu gerbang.


Made bengong melihat tingkah Dedy


yang cuek.


******


"