
Bab.105
Pagi ini sangat cerah, namun tidak secerah hati Aby. Wajah nya sedih
memohon supaya Dy mau tinggal
bersama nya di Hotel. Dy malas
tinggal lebih lama karena aby selalu
mengungkit tentang Dilan dan kehamilannya. Kadang Dy jenuh
akan pertunangan ini, tapi Dy kasian
sama Tante Tami dan Kakak Admesh yang telah banyak berkoban demi terlaksananya perjodohan ini.
"Yank tinggalah disini, temani Aku.
Kalau Kamu risih tidur bersamaku
Aku akan kembali ke Kamar sebelah
yang penting Kamu tetap disini," kata
Aby menatap wajah Dy yang cantik.
"Bukan itu masalahnya, Aku merasa
Pertunangan Kita membuat Kamu
selalu cemburu dan sering terjadi pertengkaran. Dulu sebelum terjadi
pertunangan, Kamu malah lebih
mesra dan perhatian," sahut Dy.
"Aku juga tidak tahu kenapa Aku
begitu sekarang, Aku minta supaya
Kamu jangan pulang, siapa tahu ini
hari terakhirku bersamamu. Aku
merasa keputusan yang Aku pilih
sudah final," kata Aby lagi. Terlihat kesedihan di dalam raut wajahnya.
"Sudahlah kalau begitu, Kamu harus
pindah ke Kamar sebelah. Aku harap
Kamu jangan mengungkit masa laluku, supaya Kita tidak bertengkar terus,"
kata Dy.
"Trimakasih Sayank, Aku akan pindah
tidur. Semoga Kita bisa mesra seperti dulu lagi," kata Aby menghabiskan sarapan paginya.
Dy cuma tersenyum memandang Aby, hatinya tetap tidak percaya kepada ucapan Aby. Kenapa hidupnya tidak
bisa jauh dari kemelut, selalu saja
ada penderitaan yang mengikuti kegembiraannya.
"Aku akan makan siang di Restoran,
semoga Kamu bisa menemaniku,"
kata Dy tersenyum.
"Tidak usah ke Restoran, Aku akan
memesan makanan kesukaanmu,"
sahut Aby cepat. Aby tidak ingin
melihat Dy berada di tempat umum karena perutnya kelihatan sudah
buncit. Apa kata Karyawannya nanti
kalau sampai Mereka tahu Dy hamil
karena Orang lain.
"Aku ngidam rujak manis.....,"
"Yank Aku mau ke Hotel dulu," potong
Aby tidak mengacuhkan permintaan
Dy. Hatinya mendadak panas kalau
sudah menyinggung calon Bayi Dilan.
"Yank masih pagi kenapa harus buru-buru," kata Dy.
"Kerjaanku menumpuk, tolong jangan ganggu Aku, kamu jangan membuatku
malu dengan datang ke Restoran,"
"Malu bagaimana?, apa selama ini
Kamu malu mengajak Aku keluar?"
Dy mulai emosi.
"Ya Aku malu karena perutmu sudah
buncit sebelum Kita menikah, dan
Aku akan tambah malu kalau staff
tahu bahwa yang menghamili adalah
Orang lain," kata Aby tandas.
"Okelah kalau begitu," sahut Dy
berusaha menenangkan hatinya.
Air matanya tumpah, hatinya sakit.
Dy membiarkan Aby pergi tanpa
kiss byee atau kedipan mesra.
Hubungan Mereka begitu garing,
apalagi sekarang Aby di terpa
masalah besar terasa sekali Aby
semakin sensitif. Dy tidak mau menyalahkan Aby, dirinyalah yang
salah begitu gampang menerima perjodohan ini. Seharusnya Dy
berpikir tidak semua Orang bisa menerima masa lalu pasangannya.
PERTAMA BERTUGAS
Setelah mendapat banyak wejangan
Yudha mulai mempersiapkan diri
untuk bertugas menjaga Aby. Dia
Agent pemula yang perlu banyak
berlatih, walaupun sebelumnya Dia
pernah menangani kasus secara
free lance, tapi tidak menjamin
bahwa Dia cakap menjalankan tugas.
Semoga dibawah bimbingan Agung, Yudha bisa menjalankan tugas dengan lebih baik. Melihat dari penampilannya, Yudha mempunyai dedikasi tinggi dengan otak brelliant. Agung yakin
suatu hari nanti Yudha bisa menjadi Pimpinan XPostOne yang qualified.
dari XPostOne dan Celana Jean serta
Sepatu Lars. Topi Eager menutupi
kepalanya, tidak lupa kaca mata Agent menghiasi wajahnya yang ganteng. Sebuah Holster paha yang terselip Pistol FN Berpeluru kaliber 5,7 mm x 28 mm, kecepatan peluru, 650 m/s (2,133 ft/s) (SS190); 625 m/s (2,050 ft/s) (SS195);
520 m/s, Jarak jangkauan adalah : 1,510 m (4,950 ft). Semua sudah Ready dan
tinggal berangkat ke Romero Hotel.
Panas sekali, sudah lama tidak turun hujan, Yudha melajukan Mobilnya
dengan kecepatan sedang, suara dari
The Weeknd menemani perjalanannya
ke Romero Hotel. Call Out My Name
lagu itu seolah menyentuh jiwanya.
Raut Wajah Dy terlintas, membuat asmaranya meronta. Sungguh sesuatu yang harus Dia elakkan.
Akhirnya Mobil Jeep Wrangler sport itu
memasuki Gardu Scurity dan meluncur
ke Basement untuk parkir. Yudha berjalan dengan gagah sambil menggendong
tas ranselnya. Tidak ada senyuman manis dari bibir Aby atas kedatangannya di Ruang Manager Romero Hotel. Malah terlihat Aby sangat Nervous menatap Yudha yang mirip dengan Dilan.
"Kamu siapa?" tanya Aby kurang senang.
"Saya Yudha Pak Manager, apakah Dy, tunangan Bapak tidak mengatakan bahwa Saya akan bertugas untuk menemani hari-hari Bapak disini?" kata Yudha menggelitik hati Aby yang sensitif.
"Jadi Kamu sudah kenal dengan Dy tunangan Saya," sahut Aby curiga.
"Kemarin Saya ke Suite Room, Saya
lama disana berbincang-bincang
dengan tunangan Bapak mengenai banyak hal," kembali Yudha sengaja
melemparkan kata-kata yang membuat Aby cemburu.
"Begitukah?, Saya hampir cemburu, untung Saya tahu bahwa tunangan
Saya adalah sosok cewek yang setia
dan jujur," kata Aby mencoba memposisikan dirinya.
"Kenapa Bapak cemburu dengan Saya, tugas Saya menjaga Bapak," sahut
Yudha tersenyum.
"Karena Kamu mengingatkan Saya
dengan seseorang,"
"Apakah Orang itu Dilan yang Bapak
bunuh dengan sengaja?" suara Yudha
masih terkontrol dan datar.
Aby diam dengan keringat membasahi wajahnya. Dia merasa seperti pesakitan di depan Yudha. Ingin rasanya Dia berteriak dan mengusir Yudha yang sangat mirip dengan Dilan.
Siapakah Yudha, apakah Dia Duplikat
Dilan yang sengaja di datangkan untuk
menghukumnya?
"Pak JM boleh Saya duduk?" tanya
Yudha memecah lamunan Aby.
"Silahkan...," kata Aby. Kemudian Aby kembali ke Meja kerjanya. Sedangkan Yudha mulai mengeluarkan beberapa CCTV magnet yang akan di pasang di
Ruangan Aby.
GSM Yudha menyala, ada.perintah dari
Agung untuk mengecek CCTV Hotel
sebulan sebelumnya. Yudha menyalakan
Jam tangan Sensornya. Suara alarm
yang menandakan bahwa Ruangan ini
telah di sadap.
"Yudha ada apa ini, kenapa Kamu
terlihat gelisah. Apa ada Bom?" tanya
Aby ingin tahu. Dengan cepat Aby
menelpon Dy. Kepanikan Aby membuat
Yudha mematikan Jam sensornya.
"Maaf Pak JM, tidak ada Bom disini,
suara itu adalah pertanda bahwa....,"
"Yudha!! jaga perkataanmu," teriak Dy
sudah berada di Pintu. Dy menutup
pintu dengan pelan. Yudha terkesima
melihat penampilan Dy yang maskulin.
"Dy...maafkan Aku," sebagai Agent
pemula tentu banyak yang belum
Yudha mengerti tentang peraturan
di XPostOne.
"Kamu tidak boleh memberitahu
apapun kepada client, supaya Dia
tidak panik dan Kamu berusaha
menenangkan client," kata Dy
menatap mata Yudha.
"Maafkan Aku Dy, tolong ajarkan Aku
mana yang boleh dan tidak boleh,"
kata Yudha tersenyum tipis. Dy
merasa Yudha sengaja berbuat itu
supaya Dy datang.
"Aku tidak mau mengajarkan ikan
berenang atau tupai melompat,"
sindir Dy merasa Yudha keterlaluan.
"Dy ..temanin Aku disini, Aku sangat
takut," kata Aby membuat Dy terpaksa
melepaskan jaketnya dan terpaksa
ikut duduk menemani Aby.
*******