
Bab.106.
Dy menyuruh Aby istirahat di Rest
Room, supaya tidak mengganggu
pekerjaan Dy dan Yudha. Yudha memeriksa ruangan kerja Aby
dengan seksama dan mendapatkan
alat penyadap Agent yang sengaja
di tempelkan di bawah meja Aby.
Alat itu mirip seperti StingRy, seperti
kepunyaan Agent.
Tentu saja Dy menjadi curiga dan
otaknya berputar. Tidak mungkin
Ghama mempunyai pemikiran untuk menyadap Aby dengan alat itu.
Hanya Agent yang mempunyai alat
itu, disamping itu harganya sangat
mahal. Dengan cepat Dy menatap
tajam Yudha, sekali gerak tangan
Dy menekan tubuh Yudha ke tembok.
Yudha heran mendapatkan serangan mendadak dan Dy sudah menodong
kan pistol ke pelipisnya. Benda dingin
itu menempel, membuat Yudha kaget.
"Siapa Kau!!," bentak Dy membuat
Yudha gugup, Dia tidak menyangka
Dy akan berbuat begitu.
"Tenang Dy, turunkan senjatamu, Kamu telah melanggar pasal XPostOne yang melarang menodongkan pistol kepada teman yang lagi tugas," kata Yudha berusaha menguasai dirinya. Wajah
Dy hanya beberapa senti dari wajah nya. Yudha menikmati hembusan nafas Dy yang menyapu wajahnya.
"Kamu bukan teman tapi musuh dalam selimut," sahut Dy marah.
"Kamu jangan banyak bergerak, ada nyawa dalam perutmu," kata Yudha santai. Akhirnya Dy menurunkan senjatanya, baru menyadari keadaan
nya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan siapaaa...,"
Ufs.....Dy tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Yudha mengambil kesempatan sepersekian detik untuk mendaratkan bibirnya. Semua telah terjadi, begitu cepat dan bermakna.
Dy langsung terhenyak, tidak tahu
harus berkata apa. Dy begitu kaget dengan serangan.fajar yang tiba-tiba mengingatkan Dy.dengan Dilan.
Bibir Yudha terasa hangat dan Dy
pasrah ketika di cium. Duuhhh...
"Kamu kurang ajar!!" teriak Dy sambil
menendang Yudha yg cepat berkelit.
"Dy...ada apa, kenapa kalian malah
berantem," Aby tiba-tiba nongol dari
Rest Room.
"Maaf Pak JM, Dy cuma salah paham, Saya menyuruhnya istirahat karena
Dy lagi mengandung, tapi Dy tidak
mau," sahut Yudha cepat.
"Seharusnya Kamu duduk saja, biarkan Yudha yang mengerjakan," kata kepada
Dy, kemudian Aby menuju Kamar mandi.
Dy memilih duduk dengan mata kesal
ke Yudha. Ada perasaan malu yang terpancar dari wajahnya. Dy jengah di permainkan oleh Yudha, ingin Dy menggigitnya saking keselnya. Yudha tersenyum karena merasa ada di zona aman.
Saat ini Yudha ada di belakang Meja
kerja Aby menempelkan Sensor manegtik. Cukup jauh dari jangkauan tangan Dy yang dari tadi ingin memukulnya.
"Awas Kamu!! Aku akan balas," kata
Dy setengah teriak.
"Silahkan balas, rupanya yang tadi
belum puas ya. Nih...Aku tambahin,"
sahut Yudha tersenyum menggoda.
Dy menjadi salah tingkah, baru mau
bangun untuk memberi tinju kepada
Yudha, Aby sudah keluar dari Kamar
mandi dan duduk di sebelah Dy.
Terpaksa Dy diam, menenangkan perasaannya yang bergemuruh, Dy menghabiskan sisa Teh tadi yang
belum habis di minum.
"Maaf Pak JM, Saya sudah selesai
memeriksa semuanya dan untuk
keamanan tolong Bapak jangan sembarangan memasukkan orang,"
kata Yudha ikut duduk.
"Habiskan minumannya, setelah itu
Kamu boleh meninggalkan Kami,"
ucap Aby, hatinya menolak menerima kehadiran laki-laki di depannya ini.
Ada perasaan kurang senang dan cemburu yang menggelora.
enak rasanya," sindirnya menghabiskan Teh sisa Dy, karena Teh nya sendiri
sudah dihabiskan Dy.
"Apa...," suara Dy dan Aby kompak terdengar. Wajah Dy memerah karena malu, baru Dy sadar bertukar minum dengan Yudha. Tadi Dy cepat-cepat minum dan tidak memperhatikan gelas.
Dy tahu gelasnya berisi bekas lipstik.
Kalau sudah tahu Dy salah minum, kenapa Yudha malah minum bekasnya. Dasar Cowok ganjen!! Bathin Dy. Ingin sekali Dy menendang atau memukul Yudha. Dy betul-betul gregetan.
"Tidak apa-apa Pak JM, tidak masa lah buat Saya, Saya biasa dapat sisa,"
sahut Yudha seolah omongannya ada artinya. Dy semakin curiga kepada Yudha yang mirip Dilan. Matanya terus memandang Yudha untuk mencari sesuatu yang bisa membongkar kedok Yudha ini.
"Pak JM, Saya di tugaskan mengawal Anda dari XPostOne, supaya Bapak
tahu kehadiran Saya ini tidak untuk
sehari dua hari, tapi untuk seterusnya sampai masalah Bapak tuntas," jelas Yudha memandang Aby.
"Berarti Kamu akan menginap di Suite Room begitu maksudmu?"tanya Aby kurang suka.
"Ya... Bapak jangan sungkan, Saya akan tidur di Sofa panjang di Ruang tamu," sahut Yudha.
"Agent kalau tugas mana boleh tidur di Kamar, namanya menjaga orang,"
tungkas Dy.
"Aku cukup di jaga Dy saja," celetuk
Aby.
"Pak JM tidak kasihan sama Dy yang
lagi hamil?, bagaimana kalau penjahat datang? Saya memikirkannya saja merasa ngeri," sahut Yudha kurang senang mendengar pernyataan Aby
yang selalu berlindung dibelakang Dy.
"Terserahlah asal Kamu mengerti batasan, masalahnya Kamu mirip
Dilan, Saya menjadi curiga," sahut
Aby menatap Yudha.
Yudha cuma tersenyum menanggapi semua kecurigaan Aby. Matanya
sesekali melirik Dy yang menatapnya
dengan garang. Uhh...si cantik mulai
bersinar. grutu Yudha membuat Aby dan Dy tambah tajam menatapnya.
"Kamu ini mencurigakan, jangan katakan Kamu ini Dilan yang hidup kembali," kata Aby merasa merinding.
"Seandainya Saya Dilan bagaimana tanggapan Pak JM," tantang Yudha.
"Aku tidak percaya orang mati hidup
kembali," sahut Aby menghalau rasa gelisahnya.
"Pak JM, Saya Yudha bukan Dilan tidak usah khawatir. Semua akan baik-baik
saja Pak," sahut Yudha tersenyum tipis.
"Aku merasa tidak nyaman atas kehadiranmu," kata Aby terus terang.
"Saya akan meminta Agung untuk mengirim teman baru kesini untuk
menggantikan Saya. Semoga saja
ada, karena waktu itu semua teman sudah ada tugas masing-masing.
Maaf Pak kalau Bapak kurang nyaman," sahut Yudha berkilah, Yudha merasa
geli melihat mulut Dy yang manyun karena belum sempat membalas kekesalannya.
"Bukan begitu Yudha, Aku sangat
berterimakasih sama Agung, tidak
usah menghubungi Dia lagi," kata
Aby cepat.
"Oke kalau begitu Pak, Saya akan menjalankan tugas Saya dengan
baik," sahut Yudha enteng.
"Mari Kita ke Suite Room sudah jam
lima Sore," kata Aby mengalah.
""Ayank lebih baik Kita makan ke Restoran dulu, supaya tidak repot
lagi," kata Dy berusaha mesra.
"Aku sudah bilang, Aku malu ngajak Kamu karena Kamu hamil,"
"Owh maaf," sahut Dy menunduk.
Sungguh Yudha merasa terpukul atas
pernyataan Aby. Tapi Dia tidak mau
ikut campur untuk selanjutnya, sekarang Dia tahu sebatas mana perhatian Aby kepada Dy.
Dy memakai Jaketnya untuk menutupi perutnya, supaya para Karyawan tidak
tahu kehamilannya. Mereka keluar
dari Ruang JM,
"Selamat Sore Pak," sapa Asisten Manager Aby dengan hormat.
"Saya duluan Sri, pintu ruangan Saya sudah di kunci, kalau ada apa-apa WA Saya," pesan Aby.
"Barusan ada Surat dari ke Polisian,
ini Surat nya Pak," Kata Sri menyodorkan
Amplop putih.
Dy cepat mengambilnya, Dy tidak ingin ada drama yang di buat oleh Aby.
Akhirnya Mereka berjalan berendeng,
menuju Suite Room.
*******
.