
Bab.82.
Tangisan Dy tidak bisa dibendung, Dilan
serba salah. Apalagi Dina ada
di Markas Dagobe.
Untuk menarik Dina agak sulit karena
Dina melepas atribut Agent nya untuk
sementara, supaya Dagobe tidak curiga. Pembajakan tempo hari yang di basmi oleh XPostOne membuat Dagobe ke bakaran jenggot, sehingga
Zayn menjadi target bidik dari Dagobe.
" Kemungkinan Dina akan ke blow up
Boss, Aku curiga tidak ada tanda gerak
dari sensor Dina,"
Kata Agung menatap layar.
" Atribute di simpan, Dina kosongan,
mungkin saat ini perannya berubah
karena Dina cukup sexy," sahut Dilan
sambil melirik Dy yang masih sesenggukan.
" Aku benci padamu!!," kata Dy emosi
memandang Dilan.
Dilan bangun menghampiri Dy.
" Yank, maafkan Aku, pada saat itu Aku
terlalu sibuk memikirkan Kamu
sehingga lalai merespon saranmu,"
Kata Dilan berdiri dengan sikap siap
menerima hukuman, karena Dy adalah
Owner perusahan XPostOne.
Yang bisa bertindak sesuai peraturan
XPostOne.
" Fery bacain tugas yang ada," perintah
Dy keras.
" Nona..Boss adalah pemimpin XPostOne mana boleh menerima tugas. Ingat nyawa orang di tangan
Boss dan di tanganmu Nona," ujar
Agung memperingati Dy.
" Kalau begitu beri Aku tugas," sahut
Dy berdiri bersiap.
"Hemm...mm...sepertinya kosong 5 bulan kedepan Nona," sahut Fery. Dengan cepat tugas di ship ke flashdisk dan delete di laptop.
" Coba mana? Jangan kamu nipu
Aku, kalian jadinya ketularan Boss
mu suka nipu," kata Dy kesal.
Ke tiga cowok itu menahan ketawa.
Sebenarnya Dy lucu, tapi karena terus
dapat masalah lucunya terpendam.
Dengan muka cemberut Dy membaca
lap top nya yg di bagian tugas kosong.
Cuma ada tulisan "nihil".
" Oke Aku percaya pada kalian bertiga.
Berarti kalian ga Aku gaji 5bulan,"
" Nona....,: teriak Agung sama Fery
bersamaan, setelah sadar Mereka diam. Mereka saling pandang.
" Lima bulan sangat lumayan, apalagi
yang punya istri tercinta dikampung,"
Sindir Dy kepada Dilan.
" Aku mencintaimu," Dilan nyahut juga.
" Siapa boleh mencintaiku, tapi Aku akan
jaga cintaku supaya tidak jatuh lagi.
Tiap cintaku mau jatuh ku angkat lagi
biar gak jatuh-jatuh," kata Dy Kesal.
" Dramanya pindah ke Kamar saja Boss disini sumpek," usul Agung
senyum-senyum.
" Makasi Gung, Aku mau mandi...
Kamarku pindah di bawah sekarang,
yang mau ikut, ....ngekor....," kata
Dilan turun ke Kamar Dy.
" Siapa juga mau ikut sama pembohong," sahut Dy sebel.
" Jasad Zayn akan di pulangkan segera Oleh Pemerintah dan di bantu
Konsulat Kita disana. Mungkin pukul
15.45 WIB baru sampai. Dan dari XPostOne akan di wakilkan oleh Agent
XP.no.9 dan XP.no.20 post Jakpus,"
Agung mulai membaca pesan dari
Agent Jakarta.
" Aku akan datang," sahut Dy.
" Jangan dulu Nona, wajah Nona tertangkap layar pada saat pembajakan berlangsung, saat ini
Nona adalah target dengan imbalan
1M untuk kepala Nona. Karena
yang Nona tembak adalah Adiknya
Dagobe," kata Agung mengingatkan.
" Ohh....
Apakah Dagobe mengaku bertanggung
jawab atas kematian Zayn?," tanya Dy.
" Ya!!, Dagobe sendiri yang mengatakan Perang. Aku berharap
Nona jangan keluar dulu karena
keadaan belum kondusif,"
Kata Agung mengingatkan.
" Ya.. Aku pasti tidak keluar,"
" Nona turun dulu sarapan, karena
Nona akan mengganti Kami.,"
Kata Fery pura-pura serius.
" Lho...kalian mau kemana?,"
Tanya Dy.
" Aku sama Agung ada tugas keluar,
" Aku tidak mau sendiri, lagian Aku
tidak bisa di layar," sahut Dy cepat.
" Maaf Nona, nanti Nona sendiri mengatakan sama Boss," kata Fery.
" Aku turun dulu," Dy cepat meloncat
turun menemui Dilan yang duduk di Meja makan. Dilan pura-pura cuek dan
tidak menoleh ketika Dy duduk tidak
Jauh dari Diri nya.
" Hai...Kamu akan pergi nanti malam juga?, Aku belum mengerti kerja di belakang layar," Dy mulai membuka Percakapan.
" Kamu ngomong sama siapa?" Tanya
Dilan mulai mengambil sarapan.
" Jangan bercanda dech, yang ada cuma Kamu doank, berarti Aku ngomong sama Kamu,"
" Biasanya Kamu manggil Aku Sayank, sekarang koq hai?,"
" Suka-suka ku lah, Aku mah bebas, bukan sepertimu yang udah terikat,"
" Ow gitu.... oke Nona.
Silahkan sarapan dulu supaya Nona
kuat begadang 24 jam,"
" Terus Kamu kemana barengan bertiga??, jangan-jangan kalian weekend,"
" Hemm....".
" Dasar buaya, play boy cap kupu-kupu,
Aku yakin Kamu pulang kampung," kata
Dy nyerocos.
" Aku benci padamu...benci banget,
Kita musuhan saja," sambung Dy
lagi sambil menyeka air matanya
yang sudah mulai turun.
Dengan langkah panjang Dy masuk
ke Kamarnya, terdengar suara pintu
di tutup dengan keras.
Semua penghuni Rumah sudah tahu
tingkah Dy, tidak ada yang kaget lagi.
Dilan menutup sarapannya dengan
segelas Juice.
" Ada apa lagi Tuan, Dy belum sarapan lho.
kerjanya marah-marah melulu,"
" Biasa Bi, Saya salah terus di mata Dy.
tidak tahu harus bagaimana meyakinkan
supaya Dy percaya sama Saya,"
kata Dilan pelan.
" Yang sabar Tuan, Non Dy anak yang
baik, mungkin karena beruntun masalah menimpanya membuatnya menjadi
begini,"
" Ya sih Bi, saya juga berpikir begitu dan
saya akan bersabar sampai Dy mau menerima saya kembali,"
" Semoga Non Dy, kembali seperti dulu".
sahut Bi Minah sambil menaruh beberapa
jeruk diatas Meja.
" Saya merasa Dy sudah berubah walaupun
tidak banyak, tadi Dy menangis di tempat
kerja tapi tumben tidak mengamuk dan tidak memecahkan barang-barang,"
" Syukurlah Tuan, Orang akan dewasa dan
lebih bijaksana kalau sudah di tempa oleh
penderitaan,"
" Boss misinya sudah berhasil," Fery datang
ikut nimbrung. Nona pasti mengharap Tuan
menemani nanti malam,"
" Ya..kamu bebas weekend sampai jam
sebelas malam, setelah itu balik kesini,"
kata Dilan.
" Kirain dikasi bebas 24 jam," sahut Fery
berharap.
"Sekitar pukul 02.00 dini hari kalian berdua
datang menyamar ke sebuah Pub Vijesd di kuta," kata Dilan.
" Pub ini khusus gay Boss, bagaimana Aku
bisa masuk,"
" Malah Kamu cepat diterima disana, ikuti
saja arus, jangan membuat penyamaranmu
ke blow up,"
" Apakah Agung sudah tahu?," tanya Fery
berharap Agung menolak tawaran itu,"
" Malah Agung yang menerima tawaran
ini, karena bonus nya banyak, uangnya
gede," sahut Dilan.
" Apa boleh buat Boss, Aku cuma berharap
supaya Aku tidak tergoda dengan Lady boy
disana," sahut Fery pasrah.
" Ya sudah...Kamu sarapan dulu," kata Dilan berdiri lalu masuk ke Kamar Dy.
Dilan tahu Dy pasti tidak tidur. Dilan
mengunci pintu setelah itu duduk di Sofa panjang.
" Yank, Aku mau bicara. Aku merasa
tersiksa kalau Kamu terus marah-marah,
Aku bingung," kata Dilan membuka percakapan.
" Bicara aja...", sahut Dy tanpa mau membalikan tubuhnya.
" Dari tadi juga Aku bicara, emangnya
yang Kamu dengar suara jangkrik.
atau pendengaranmu berkurang.
kalau gitu Aku lebih dekat supaya Kamu mendengar suaraku," kata Dilan naik
ketempat tidur. Merebahkan badannya di samping Dy yang menjaga jarak
*******