
Bab.59.
Jelita adalah gadis belia berumur sekitar 23 tahun lebih tua 2 tahun dari Dy. Kulitnya sawo matang dengan tinggi sekitar 160 cm. Badannya sedikit kurus dengan dada yang agak rata. Wajahnya standart dengan lesung pipi menghiasi Pipinya.
" Jelita, Kamu masak sendiri atau Delivery?". Tanya Dy melirik dapur yang kosong.
" Aku masak ramen, irit ". Sahut Jelita tersenyum.
" Irit apa malas keluar?".
" Malas, kadang-kadang Aku delivery juga. Hidup sendiri mah gampang ".
Sahut Jelita sambil membuka GSM nya. Ada pesan dari Dilan.clubbing
" Bos...Kita akan menyusup nanti malam ke Bar Queen, Kita Clubbing ". Kata Jelita memandang Dy.
" Kamu pegang kendali, Aku nemani".
Sahut Dy.
" Tapi Bos, ilmumu melebihi Aku, mana
berani Aku memerintah Bos".
" Yach belajar, panggil Aku Dy supaya
biasa, karena kita akan menjadi patner". Kata Dy.
" Oke...Aku akan membiasakan diri menjadi temanmu". Sahut Jelita tersenyum.
Sore beranjak malam Dy sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan Apartemen.
Pertemanan Dy dengan Jelita sudah
menjadi akrab. Semua gerak gerik Dy
sudah kekirim ke Dilan.
Hati Dilan mau berdamai melihat Dy
yang mulai ceria dan tidak berpihak
kepada Jojo. Tadinya Dilan sudah patah semangat mengetahui Dy berada di Singapura untuk menemui Jojo. Tapi syukurlah Dy tidak bersama
Jojo lagi.
" Dy, bagaimana rasanya di peluk Aktor ganteng. Kamu mujur sekali". Tiba-tiba Jelita bertanya serius.
" Enak, Kamu mau coba?".
" Emangnya makanan bisa di icip-icip.
Tapi kalau Jojonya mau, Aku akan terima saja daripada mubasir ". Sahut Jelita sambil tertawa.
" Nanti Aku kenalin, sekalian Aku lapor ke Agung ".
" Gak jadi kalau gitu, bisa Aku di mutilasi Agung ". Sahut Jelita tertaws.
Kemudian Mereka membuat Mie instan berdua. Dy yang belum pernah
makan Ramen merasa ketagihan,
apa lagi di tambahi telor.
Tapi Mie nya terlalu pedas.
BAR QUEEN
Sudah pukul 22.00 waktu Singapore.
Dy memakai Rok mini rempel dengan
atasan kaos berkerah dan lengan
panjang. Holsternya sudah melingkar
di pangkal paha berisi Revolver 22
dengan isi peluru 8 butir.
Jam tangan Agent dan kaca mata Zoom photochromic menghiasi mata Dy. Sentuhan terakhir adalah sepatu Sneaker.
Dy juga membiarkan rambutnya tergerai Panjang. MakeUp nya sedikit berani dengan lipstik Matte warna magenta cerah. Dy kelihatan flawless.
Tidak lupa Dy menyemprotkan Chanel. No.5 ke tubuhnya.
Melihat dandanan Dy Jelita berdecak kagum.
" Dy Kamu cantik banget, pantas Boss Dilan tergila-gila padamu". Kata Jelita
Spontan.
" Apa katamu?, Kamu tahu darimana?".
" Aku mengatakan yang sebenarnya ". Sahut Jelita.
" Berarti Kamu merekam semua aktifitasku untuk Bos Dilanmu?".
" Lho koq tahu?". Tanya Jelita heran.
Dy cuma tersenyum melihat Jelita
Salah tingkal.
"Mari kita berangkat sudah pukul.22.00 Aku yang menyetir ". Kata Dy.
" Kamu tidak boleh mabuk dan tidak boleh gegabah memukul orang". Sambung Dy lagi. Jelita berusaha mencerna semua Aturan dari XPostOne.
Sebagai Intelijen pemula Jelita belum
pernah berpengalaman keluar Negeri
sendiri, biasanya selalu menjadi pendamping Senior.
Untuk mempergunakan senjata rahasia Jelita juga ada beberapa yang belum bisa.
Tapi untuk Revolver Jelita sudah mahir.
Dy menyetir Mobil dengan tenang, angin malam terasa lembab.
Bar queen semacam Night Club yang buka hanya pada malam hari.
Night club biasanya menyediakan tempat untuk dance floor dan juga pertunjukan-pertunjukan seperti pemain band (live intertainment).
Walaupun baru jam sepuluh malam pengunjung sudah banyak memenuhi
Bar. Dy mencari tempat duduk agak di pojok supaya bisa meng Zoom orang yang datang. Ada perasaan tegang di hati Jelita, karena yang dia ajak tugas adalah Boss nya..
Biasanya kalau ke Bar Dy yang sibuk memesan minumam, tapi sekarang
Jelitalah yang memesan minuman
Lewat FDC (First Drink Compliment) Terlihat di sini tidak semua orang datang untuk mabuk, ada juga sekedar
meloby client atau hanya ingin memiliki 'quality time' bersama para sahabat.
“Saya mau 1 margarita dengan es batu dan 2 pint Guinness. Terima kasih!”
Suara Jelita terdengar agak keras karena pengunjung mulai banyak.
Dy mulai meng Zoom tamu yang kebanyakan Laki-laki.
Jelita duduk sambil menuangkan
menuman ke gelas Boss nya.
" Miringin gelasmu, tuang pelan-pelan, jangan terlalu banyak. Kita tidak akan minum tapi menunggu target ". Kata
Dy melihat jelita grogi.
"Oke Boss". Sahut Jelita pendek.
penjualan Narkoba dan Skimming.
Malam semakin larut Dy sudah 2 kali
mencolok mulutnya ke wastafel.
Tapi akhirnya target datang juga.
Seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 tahun dan di belakangnya berdiri 2
orang pengawalnya. Muka Mereka
Sangar badannya penuh berisi tatto.
Beberapa orang mulai salam tempel dengan anak buah Gled Kill.
Kaca mata Dy meng Zoom Mereka dan terlihat ada bubuk putih (Heroin)
Dy turun ke lantai dasar pura-pura
mabuk, dan pinggangnya ada yang memeluknya dari samping. Gled Kill sendiri yang merangkul nya dan mengajaknya Ajojing.
Gled Kill berusaha mencium Dy, tapi
dengan luwesnya Dy ngeles terus.
Jelita hanya melihat dari jauh sambil
merekam keadaan Dy di pelukan Gled
Kill. Biodata Gled Kill sudah di copy.
Dilan memandang layar kaca yang menampilkan Dy dan Gled Kill
membuat hatinya ngilu. Tidak
seharusnya Dy berkorban sedemikian rupa sehingga membuat dirinya tidak berharga. Apa sih yang kurang dalam hidupnya??.
Dilan terus menonton kelakuan Gled
Kill yang mulai menyeret Dy ke Meja.
Dilan cepat menyuruh Jelita mengambil Dy. Terjadi ketegangan ketika Jelita ngotot mengakui Dy adalah temannya.
" Ini temanku, Dy tidak bisa minum",
Kata Jelita memakai bahasa Inggris.
Gled Kill pertama keberatan, tapi
akhirnya menyerah setelah banyak
saksi yang mendukung Jelita.
Untunglah Gled Kill cepat mabuk
sehingga semuanya menjadi mudah.
Bau minuman keras, bau asap rokok,
bau muntah bercampur aduk dengan
bau keringat dari penikmat malam clubbing
Jelita terus berkomunikasi lewat GSM
dengan Dilan. Terakhir yang Jelita
lakukan adalah menghubungi aparat
setempat. Dy memapah Gled Kill ke
Mobil dan mendorongnya ke kursi
belakang. Jelita ikut duduk di samping
Gled Kill. Tidak lupa Dy dan Jelita
memakai Masker muka.
Mobil Porsche itu melesat keluar dari
hiruk pikuk Queen Bar yang sudah di
penuhi oleh Police.
" Borgol tangannya ", perintah Dy
setelah dekat di sebuah Gedung.
Dua orang menyambut kedatangan
Dy. Tidak terjadi komunikasi apapun terhadap Mereka. Karena Dilan sudah
terus berkomunikasi.
Dilan memerintahkan untuk menyerah
kan Gled Kill dengan beberapa bukti-
bukti yang dibawa oleh Jelita.
Dy menolak diambil gambarnya dan
mengatakan keberatan sebagai saksi,
karena menyangkut Nama besar Jojo.
Dan yang tercatat adalah Jelita.
Dilan memerintahkan Dy dan Jelita
mengambil keberangkatan pertama
meninggalkan Singapore.
Untuk mengantisipasi kemungkinan
yang tidak diingini Dilan menyuruh
langsung ke Bandara.
" Boss menyuruh Kita langsung ke-
Bandara" kata Jelita setelah Mereka
keluar dari Gedung itu.
" Kita mengambil koper dulu setelah
Itu baru Kita ke Bandara". Sahut Dy
melarikan mobilnya lebih kencang lagi.
Jelita kelihatan sudah sering
menguap.
" Tahan kantuknya!!". Perintah Dy.
Jelita tersenyum dan berusaha menahan pupil matanya yang ingin menutup. Bekerja dengan Boss membuat Jelita sering deg-degan.
******