I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
AGEN NO.17.



MENCINTAI


Situasi yang sulit ini membuat Dina


lebih waspada menjaga sikapnya.


Yang dia hadapi sekarang bukanlah


Orang biasa, seperti target-target lain


yang biasanya.


Ini Dagobe, seorang laki-laki paruh baya yang sangat sadis.


Wajahnya yang ganteng, dengan body tinggi besar. Yang membuat Dina


langsung kesengsem dengan targetnya adalah perlakuan Dagobe


Yang super manis.


Dalam beberapa kali pertemuannya


di Hotel the Lagoda membuat hati


Mereka terpaut.


Dina yang menyamar sebagai lady escort malah jatuh cinta beneran


dengan Dagobe.


Dina menyewa kamar 123 di Hotel


Lagoda yang menjadi saksi bisu atas kepasrahan Dina atas rayuan Dagobe yang ganteng.


Dina "membuang" semua


Atribute Agentnya untuk pengamanan


lebih jauh.


Saat ini belum ada info yang sfesifik yang membuat Dina harus berhubungan dengan XPost0ne.


Suara ketokan pintu yang kasar membuat Dina kaget dari tidurnya.


Perasaannya tidak enak, tapi dia tetap


menyeret kakinya untuk membuka pintu. Wajah ganteng Dagobe berubah


menjadi angker. Dengan kasar Dagobe


mendorong tubuh Dina ketembok.


" Who Are you really??," bentak Dagobe


menatap lekat-lekat ke mata Dina.


" Apa maksudmu sayank, dari pertama


Aku sudah mengatakan Aku ini manusia sampah. Jikalau Kamu tidak


membutuhkanku lagi silahkan pergi.


Aku sakit hati dengan ke sangsianmu


setiap saat," sahut Dina menyetel muka sedih dengan tangisan bombay.


Kalau sudah begitu Dagobe langsung merendahkan volume suaranya.


Nalarnya sudah mati suri menghadapi


Perempuan cantik di depannya ini.


Seorang gadis high class yang berwajah asia dengan rayuan diambang batas membuat Dagobe


tidak berkutik dengan pengaruh cintanya yang besar.


"Maafkan Aku Sayank, Aku membuatmu menangis. Saat ini Aku


merasa terpuruk karena saudaraku


dihancurkan oleh Orang Asia," kata


Dagobe sedih.


Dagobe langsung memeluk Dina dan


menyeretnya ke tempat tidur.


Mereka mulai berpelukan, bibir sexy


Dina menjadi sasaran pertama.


" Apa hubunganku dengan masalah


ini. Atau Kamu memang sengaja ingin


membuangku, karena Kamu sudah


bosan atas diriku," kata Dina memakai


bahasa inggris bercampur bahasa


Arab.


" I love you baby, pikiranmu dangkal,


Aku tidak akan membuangmu dengan


semudah itu, Aku malah akan menggigit setiap inci tubuhmu,"


Sahut Dagobe mesra.


Dina cepat menguasai dirinya, mulai


Bermuka sedih dan bertanya dengan


Kata permulaan " who are you??"


Dagobe memencet hidung Dina dan


mulai bercerita dengan gaya bertutur.


" Aku adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh seorang gembong


Narkoba yang sangat berpengaruh


saat itu. Aku adalah Dagobe kecil yang


Yang menjelma menjadi anak emas


di lingkungan distrik Nouflin.


Dengan bertambahnya umur


keberanianku dan ke piawaian ku


membasmi Rival Ayah angkatku membuat namaku cepat terkenal.


Dan pada saat Ayah angkatku terbunuh, Aku langsung menjadi


Orang nomor satu didalam perdagangan Narkoba.


Dengan berjalannya waktu Aku mulai merambah ke penjualan senjata Api


kepada kelompok separatis sayap


kiri di bawah pimpinan Al Phatah.


Tapi saat ini Aku menjadi target


Pembunuhan dari Agent asing yang


berkoloborasi dengan Pemerintah,"


Tutur Dagobe muram, matanya


menyiratkan kesedihan.


" Bagaimana rencana kedepannya,


Aku harap Kamu masih setia kepadaku. Kemanapun Kamu pergi Aku ingin mengikuti langkahmu.


Aku bisa mati kalau Kamu meninggalkanku seorang diri?,"


Kata Dina menyusupkan kepalanya kedada Dagobe yang bidang.


" Aku akan mengajakmu ke Gurun


Sahara, Kita akan mulai hidup normal


sebagai seorang kekasih," sahut Dagobe bergetar.


" Aku merasakan ada kekhawatiran


di matamu??, apakah Kamu tidak iklas


mengajakku pergi?,"


"Aku khawatir bukan soal itu.


Pikiranku sekarang buntu, banyak


Lahanku terendus Aparat dan Anak


Gudang penyimpanakenan senjata di


Chad telah musnah Bom


Mobil dari Agent Asia,"


Dina berusaha menyimpan debaran


Jantungnya mendengar pengakuan


Dagobe.


" Aku sangat tersanjung seandainya


ajakanmu itu menjadi kenyataan.


Tapi bagaimana kita hidup mengingat semua lahanmu sudah hancur


Kata Dina terus menggali informasi.


" Aku masih ada ladang emas di gurun


Sahara berupa pabrik kokain dan pil


Ekstasi/XTC," kata Dagobe.


" Selain itu dimana, apakah di luar negeri ada. Siapa tahu kita harus


pindah keluar Negeri,"


" Tidak ada Sayank, semua miliku sudah hancur...,"


" Tapi milikmu ini belum hancur,"


Sahut Dina manja.


" Kalau ini Aku sendiri yang akan


menghancurkan dengan kenikmatan


Yang tertahan," kata Dagobe mulai


memberi sentuhan panjang.


" Kapan kita ke Gurun Sahara?".


tanya Dina lagi.


" Kita akan berangkat sore nanti..


Kamu bersiaplah, kita pergi lewat


darat sebagai Traveller tidak usah


membawa banyak barang,"


Kata Dagobe.


" Oke..Aku akan ikut kemanapun kamu


Pergi. Kamu adalah belahan jiwaku,"


Sahut Dina merasa di miliki.


Begitulah cinta berjalan semau gue, tidak bisa di prediksi kemana mau


berlabuh. Bersiaplah untuk ditindas.


Dagobe menghela nafas panjang, memikirkan Dina tambatan hatinya.


Belum pernah dia merasakan sesedih


ini di dalam hidupnya.


Sebuah cinta telah mencengkram


Kewarasan otaknya, dia merasa terbelenggu di dalam memilih antara


Pekerjaan dan cinta.


Dan cintalah yang menang, begitu indah dan membelenggu kedua insan


Yang di mabuk asmara. Asrat yang memuncak membawa irama klasik


yang lumbrah di dengar.


Hempasan cinta itu membuat Dina merasa menang didalam pekerjaan.


Dia tersenyum diantara desahan kalbunya, merintih nikmat menggapai puncak nirwana.


Dagobe terkapar setelah melenguh tanpa tujuan. Keringat berceceran


membasahi tubuhnya.


Kenikmatan itu panjang, asal tepat


di pergunakan.


Dina bangun mengambil 2 botol air mineral dan menyodorkan sebotol


untuk Dagobe.


" Minumlah sayank," kata Dina seraya


menarik tangan Dagobe.


" Trimakasih Sayank," sahut Dagobe bangun


dari tempat tidur.


Tidak bisa dipungkiri lagi, dari raut wajah Dagobe masih ada kekhawatiran untuk


pergi ke Gurun Sahara.


masalah pertama adalah jauhnya jarak


yang di tempuh, yang kedua tentu sangat


riskan karena Dagobe adalah target utama


dari pemerintah.


" Kenapa Sayank, Kamu kelihatan sangat


gelisah. Aku adalah belahan jiwamu, jangan


sungkan mencurahkan hatimu padaku,"


kata Dina duduk disamping Dagobe.


" Tidak ada apa-apa, mari Kita mandi,"


sahut Dagobe berdiri dan menuju Kamar


mandi.


KE GURUN SAHARA


Malam semakin larut perjalanan menuju ke


Gurun Sahara sangat panjang.


Dina memandang keluar lewat kaca Mobil


tidak ada cahaya diluar semua gelap, Dina


yakin pasti di luar sangat dingin.


" Kalau Kamu mengantuk Aku yang


menyetir. sepertinya belum ada


tanda-tanda kehidupan" .


" Tenang saja sayank, di depan ada penginapan tempat istirahat," sahut


Dagobe.


Sekitar 30 menit kendaraan pun berhenti


tepat di sebuah basecamp, dimana starting point jelajah gurun diawali.


Mereka mengendarai jeep 4WD menyusuri gurun, gumukan pasir yang tidak rata menjadi rute yang harus di lalui. Tidak segan segan, Dagobe menginjak gas lebih dalam dan membelok belokan kemudi mengarungi gurun, hal ini agar benar benar merasakan sensasi offroad yang sebenarnya.


Rasa kantuk Dina menjadi lenyap.


" Kamu sengaja berbuat begitu agar kantukku


hilang?," kata Dina menoleh kepada Dagobe.


" Supaya ada yang bawel memarahiku," sahut


Dagobe mesra.


Dina tersenyum dan memutar playlist Mobil.


beberapa lagu bergulir menemani perjalanan


Mereka.


********