
MENCINTAI
Situasi yang sulit ini membuat Dina
lebih waspada menjaga sikapnya.
Yang dia hadapi sekarang bukanlah
Orang biasa, seperti target-target lain
yang biasanya.
Ini Dagobe, seorang laki-laki paruh baya yang sangat sadis.
Wajahnya yang ganteng, dengan body tinggi besar. Yang membuat Dina
langsung kesengsem dengan targetnya adalah perlakuan Dagobe
Yang super manis.
Dalam beberapa kali pertemuannya
di Hotel the Lagoda membuat hati
Mereka terpaut.
Dina yang menyamar sebagai lady escort malah jatuh cinta beneran
dengan Dagobe.
Dina menyewa kamar 123 di Hotel
Lagoda yang menjadi saksi bisu atas kepasrahan Dina atas rayuan Dagobe yang ganteng.
Dina "membuang" semua
Atribute Agentnya untuk pengamanan
lebih jauh.
Saat ini belum ada info yang sfesifik yang membuat Dina harus berhubungan dengan XPost0ne.
Suara ketokan pintu yang kasar membuat Dina kaget dari tidurnya.
Perasaannya tidak enak, tapi dia tetap
menyeret kakinya untuk membuka pintu. Wajah ganteng Dagobe berubah
menjadi angker. Dengan kasar Dagobe
mendorong tubuh Dina ketembok.
" Who Are you really??," bentak Dagobe
menatap lekat-lekat ke mata Dina.
" Apa maksudmu sayank, dari pertama
Aku sudah mengatakan Aku ini manusia sampah. Jikalau Kamu tidak
membutuhkanku lagi silahkan pergi.
Aku sakit hati dengan ke sangsianmu
setiap saat," sahut Dina menyetel muka sedih dengan tangisan bombay.
Kalau sudah begitu Dagobe langsung merendahkan volume suaranya.
Nalarnya sudah mati suri menghadapi
Perempuan cantik di depannya ini.
Seorang gadis high class yang berwajah asia dengan rayuan diambang batas membuat Dagobe
tidak berkutik dengan pengaruh cintanya yang besar.
"Maafkan Aku Sayank, Aku membuatmu menangis. Saat ini Aku
merasa terpuruk karena saudaraku
dihancurkan oleh Orang Asia," kata
Dagobe sedih.
Dagobe langsung memeluk Dina dan
menyeretnya ke tempat tidur.
Mereka mulai berpelukan, bibir sexy
Dina menjadi sasaran pertama.
" Apa hubunganku dengan masalah
ini. Atau Kamu memang sengaja ingin
membuangku, karena Kamu sudah
bosan atas diriku," kata Dina memakai
bahasa inggris bercampur bahasa
Arab.
" I love you baby, pikiranmu dangkal,
Aku tidak akan membuangmu dengan
semudah itu, Aku malah akan menggigit setiap inci tubuhmu,"
Sahut Dagobe mesra.
Dina cepat menguasai dirinya, mulai
Bermuka sedih dan bertanya dengan
Kata permulaan " who are you??"
Dagobe memencet hidung Dina dan
mulai bercerita dengan gaya bertutur.
" Aku adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh seorang gembong
Narkoba yang sangat berpengaruh
saat itu. Aku adalah Dagobe kecil yang
Yang menjelma menjadi anak emas
di lingkungan distrik Nouflin.
Dengan bertambahnya umur
keberanianku dan ke piawaian ku
membasmi Rival Ayah angkatku membuat namaku cepat terkenal.
Dan pada saat Ayah angkatku terbunuh, Aku langsung menjadi
Orang nomor satu didalam perdagangan Narkoba.
Dengan berjalannya waktu Aku mulai merambah ke penjualan senjata Api
kepada kelompok separatis sayap
kiri di bawah pimpinan Al Phatah.
Tapi saat ini Aku menjadi target
Pembunuhan dari Agent asing yang
berkoloborasi dengan Pemerintah,"
Tutur Dagobe muram, matanya
menyiratkan kesedihan.
" Bagaimana rencana kedepannya,
Aku harap Kamu masih setia kepadaku. Kemanapun Kamu pergi Aku ingin mengikuti langkahmu.
Aku bisa mati kalau Kamu meninggalkanku seorang diri?,"
Kata Dina menyusupkan kepalanya kedada Dagobe yang bidang.
" Aku akan mengajakmu ke Gurun
Sahara, Kita akan mulai hidup normal
sebagai seorang kekasih," sahut Dagobe bergetar.
" Aku merasakan ada kekhawatiran
di matamu??, apakah Kamu tidak iklas
mengajakku pergi?,"
"Aku khawatir bukan soal itu.
Pikiranku sekarang buntu, banyak
Lahanku terendus Aparat dan Anak
Gudang penyimpanakenan senjata di
Chad telah musnah Bom
Mobil dari Agent Asia,"
Dina berusaha menyimpan debaran
Jantungnya mendengar pengakuan
Dagobe.
" Aku sangat tersanjung seandainya
ajakanmu itu menjadi kenyataan.
Tapi bagaimana kita hidup mengingat semua lahanmu sudah hancur
Kata Dina terus menggali informasi.
" Aku masih ada ladang emas di gurun
Sahara berupa pabrik kokain dan pil
Ekstasi/XTC," kata Dagobe.
" Selain itu dimana, apakah di luar negeri ada. Siapa tahu kita harus
pindah keluar Negeri,"
" Tidak ada Sayank, semua miliku sudah hancur...,"
" Tapi milikmu ini belum hancur,"
Sahut Dina manja.
" Kalau ini Aku sendiri yang akan
menghancurkan dengan kenikmatan
Yang tertahan," kata Dagobe mulai
memberi sentuhan panjang.
" Kapan kita ke Gurun Sahara?".
tanya Dina lagi.
" Kita akan berangkat sore nanti..
Kamu bersiaplah, kita pergi lewat
darat sebagai Traveller tidak usah
membawa banyak barang,"
Kata Dagobe.
" Oke..Aku akan ikut kemanapun kamu
Pergi. Kamu adalah belahan jiwaku,"
Sahut Dina merasa di miliki.
Begitulah cinta berjalan semau gue, tidak bisa di prediksi kemana mau
berlabuh. Bersiaplah untuk ditindas.
Dagobe menghela nafas panjang, memikirkan Dina tambatan hatinya.
Belum pernah dia merasakan sesedih
ini di dalam hidupnya.
Sebuah cinta telah mencengkram
Kewarasan otaknya, dia merasa terbelenggu di dalam memilih antara
Pekerjaan dan cinta.
Dan cintalah yang menang, begitu indah dan membelenggu kedua insan
Yang di mabuk asmara. Asrat yang memuncak membawa irama klasik
yang lumbrah di dengar.
Hempasan cinta itu membuat Dina merasa menang didalam pekerjaan.
Dia tersenyum diantara desahan kalbunya, merintih nikmat menggapai puncak nirwana.
Dagobe terkapar setelah melenguh tanpa tujuan. Keringat berceceran
membasahi tubuhnya.
Kenikmatan itu panjang, asal tepat
di pergunakan.
Dina bangun mengambil 2 botol air mineral dan menyodorkan sebotol
untuk Dagobe.
" Minumlah sayank," kata Dina seraya
menarik tangan Dagobe.
" Trimakasih Sayank," sahut Dagobe bangun
dari tempat tidur.
Tidak bisa dipungkiri lagi, dari raut wajah Dagobe masih ada kekhawatiran untuk
pergi ke Gurun Sahara.
masalah pertama adalah jauhnya jarak
yang di tempuh, yang kedua tentu sangat
riskan karena Dagobe adalah target utama
dari pemerintah.
" Kenapa Sayank, Kamu kelihatan sangat
gelisah. Aku adalah belahan jiwamu, jangan
sungkan mencurahkan hatimu padaku,"
kata Dina duduk disamping Dagobe.
" Tidak ada apa-apa, mari Kita mandi,"
sahut Dagobe berdiri dan menuju Kamar
mandi.
KE GURUN SAHARA
Malam semakin larut perjalanan menuju ke
Gurun Sahara sangat panjang.
Dina memandang keluar lewat kaca Mobil
tidak ada cahaya diluar semua gelap, Dina
yakin pasti di luar sangat dingin.
" Kalau Kamu mengantuk Aku yang
menyetir. sepertinya belum ada
tanda-tanda kehidupan" .
" Tenang saja sayank, di depan ada penginapan tempat istirahat," sahut
Dagobe.
Sekitar 30 menit kendaraan pun berhenti
tepat di sebuah basecamp, dimana starting point jelajah gurun diawali.
Mereka mengendarai jeep 4WD menyusuri gurun, gumukan pasir yang tidak rata menjadi rute yang harus di lalui. Tidak segan segan, Dagobe menginjak gas lebih dalam dan membelok belokan kemudi mengarungi gurun, hal ini agar benar benar merasakan sensasi offroad yang sebenarnya.
Rasa kantuk Dina menjadi lenyap.
" Kamu sengaja berbuat begitu agar kantukku
hilang?," kata Dina menoleh kepada Dagobe.
" Supaya ada yang bawel memarahiku," sahut
Dagobe mesra.
Dina tersenyum dan memutar playlist Mobil.
beberapa lagu bergulir menemani perjalanan
Mereka.
********