I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
DI DEPORTASI



Bab. 86.


Jam telah menunjukan pukul 15.43


waktu Libya.


Dagobe membelokkan Mobilnya ke


sebuah penginapan di sebuah Hotel


yang terletak di Gurun Sahara.


Dagobe menyeret kopernya, sedangkan Dina cuma membawa tas


Ransel di punggungnya.


" Sayank, kenapa kopermu tidak dibawa?," tanya Dagobe heran.


" Bajuku sudah ada di tas ini, itu semua baju kotor," sahut Dina berdalih.


" Apa yang Kamu sembunyikan Sayang?,"


" Tidak ada, Aku tidak mau bawa


barang berat, toh Kita disini hanya


satu hari saja," sahut Dina .


Mereka berjalan menuju front Office


di lobby. Dina memandang keluar, keringat dingin membasahi tangannya. Perasaan cemas bergolak


dalam hatinya.


Kakinya gemetar melangkah mengikuti langkah Dagobe.


Dina menoleh memperhatikan wajah Dagobe dari samping.


Wajah Arab yang ganteng, dengan mata hitam yang tajam. Jambangnya


menghiasi wajahnya.


Dina betul-betul sangat mencintainya.


Dina menarik nafas panjang, jam Agent sudah melingkar di lengannya.


Dagobe membuka pintu Kamar, sebuah ruangan 4x4 dengan bed


ukuran 200x180 serta 1 almari kayu.


Dagobe menaruh kopernya dan memandang Dina. Mata Mereka saling tatap.


" Aku sangat mencintaimu," kata Dagobe, wajahnya kelihatan muram.


" Aku sangat mencintaimu," kata Dina


tersendat, dia menahan air matanya.


" Apa yang Kamu inginkan dariku?," kata Dagobe sudah merasa di jebak


Oleh Dina yang memakai Jam Agent.


" Aku bertugas!!," triak Dina dengan


nada gemetar. Tangannya dengan


cepat menodongkan pistol ke jantung Dagobe.


" Aku lebih baik mati di tanganmu,


dari pada ditangan orang lain.


Aku terlambat mengetahui kepicikan


hatimu," kata Dagobe tenang.


Air mata Dina menganak sungai, laki-laki yang sangat dicintai harus mati


ditangannya.


" Cepat bunuh Aku kalau itu maumu,"


Teriak Dagobe. Dina menurunkan senjatanya.


Misi gagal!!.


Mission fails!!.


MISSION FAILS!!.


DI BALI


Dilan terhenyak menatap layar.


Dina membuat kesalahan besar.


Itu tidak boleh terjadi, itu bunuh diri.


Agung ikut melihat Dina yang gemetaran, syukurlah Dagobe tidak


merebut senjata.


Empat orang Agent Pemerintah segera masuk ke Kamar Dagobe.


Tanpa perlawanan Dagobe di borgol.


Mata hitam itu memandang Dina yang badannya bergetar menahan tangis.


" Aku sangat mencintaimu," hanya itu


yang keluar dari mulut Dagobe.


Dina merasa jiwanya melayang melihat Dagobe di borgol.


" Kamu tidak layak menjadi Agent,"


Kata Agent pemerintah ketus.


Kemudian mendorong Dina keluar.


Dina pasrah akan nasibnya, dia siap


menerima hukuman nya.


Matipun dia rela asal bersama Dagobe.


Dua orang Agent mengantar Dagobe keluar langsung ke Helikopter Agent Pemerintah.


Sedangkan 2 orang lagi akan mengantar Dina langsung ke Bandara


di Deportasi ke Indonesia.


Dina menaruh pistolnya di tas dan mengambil tissue.


Bayangan Dagobe ilang dari matanya


ketika sebuah Helikopter membawa


nya pergi.


Tangis Dina kembali tumpah, sehingga


membuat seorang Agent kesal dan


menendangnya.


" **** you!!," teriak Agent itu kesal


melihat tingkah Dina. Seorang Agent


pantang menangis.


" Ambil kopermu," perintah Agent yang


Iain ikut kesal. Dina mengambil koper dari Mobil Suv dan menyeretnya menuju Helikopter?


Didalam Helikopter Dina hanya


bisa menunduk karena di preteli kesalahannya oleh 2 Agent Pemerintah.


" Kamu akan Kami Deportasi ke Negaramu," Kata Agent itu lagi.


PULANG


Tidak ada penjemputan untuk Dina


nya gagal karena cinta.


karir yang buruk!!.


Dina berjalan gontai mencari Taxi disekitar Airport.


" Bisa di bantu Mbak?," Seorang Bapak


menghampiri Dina yang celingukan mencari tumpangan.


" Ya Pak, antar Aku ke Sanur," kata


Dina mengikuti si Bapak.


" Mari Nona," ajak Sopir Taxi itu mengangkat koper Dina ke Bagasi.


Mobil Taxi itu melaju sedang, perasaan Dina ngilu mengingat Dagobe. Terbayang akan hukuman


yang akan di terima oleh Dagobe.


Mata Dina kembali berkaca-kaca


mengingat Dagobe, rasa bersalah


membebani pikirannya.


Dina menarik nafas panjang dan


membuangnya kasar.


Akhirnya sampai juga Dina di depan


pintu gerbang Rumah Dy.


CCTV telah menyorot keberadaannya.


Dilan menekan tombol dari ruang kerjanya dan pintu terbuka otomatis.


Dengan mantap Dina masuk kedalam,


rasa takutnya tertutup dengan rasa


sedih yang mendalam.


Apapun hukumannya Dina akan menerimanya.


" Masuklah," perintah Fery dingin membuka pintu utama.


" Trimakasih ," sahut Dina pelan mengikuti Fery naik ke lantai 2.


Dina menaruh koper dan tas ranselnya


di ruang tamu.


Dina di ajak ke lantai 2 untuk menemui


Dilan. Mata Dilan yang tajam seolah


menghujam jantungnya.


Dina berdiri tegap di hadapan Agent CPostOne. Dadanya berdebar menunggu hukuman selanjutnya dan bersiap apabila ada yang memukulnya.


" Selamat Sore Boss," sapa Dina hormat kepada Dilan.


Perasaan Dilan terbelah antara marah dan menjaga perasaan Dy, karena Dina


adalah teman sejati Dy.


" Kamu sudah tahu salah dan tahu hukumannya," sahut Dilan ketus.


" Aku memilih mengundurkan diri


dari XPostOne," kata Dina lantang.


Sebelum Dilan menjawab sebuah bayangan ringan melompat ke lantai dua dan menendang Dina.


Tubuh Dina terpental mengenai badan Fery yang tidak jauh berdiri dari Dina.


Mereka jatuh berdebum.


AUUGGHHH......


Cepat Dina bangun sebelum tendangan kedua.


" Dy jangan banyak bergerak Kamu lagi hamil," teriak Dilan kaget. Tapi Dy


terus melancarkan pukulannya ketubuh Dina.


Mendengar teriakan Dilan yang mengatakan Dy hamil membuat Dina


kaget. Tidak ada jalan lain kecuali turun ketangga untuk menberhentikan


tendangan Dy.


Ilmu meringankan tubuh Dy sangat sempurna, satu kali hentakan tubuh


Dy sudah sampai di bawah dan menghadang Dina.


" Maafkan Aku Dy," kata Dina menghambur kepelukan Dy.


Dina merasa Dy sengaja berbuat begitu supaya Dina lepas dari amukan


Dilan.


" Aku akan menghukummu," kata Dy


merasa terharu.


" Aku akan menerimanya," sahut Dina


Ģmelepaskan pelukannya dari Dy.


" Agent no 17 naik keatas," printah


Agung memanggil Dina.


Dina cepat naik keatas sebelum Agung marah. Hukuman harus di terima, itu konskuensi dari kelalaiannya mengemban tugas.


Kembali Dina naik tangga di ikuti oleh Dy.


Dina berdiri tegap dengan mata lurus kedepan. Ada Agung, Fery, Dilan dan Dy.


" Aku sebagai Pimpinan XPostOne sangat kecewa atas tindakanmu yang hampir finish. Seluruh Agent dari Pemerintah yang bekerja sama dengan Kita sangat menyayangkan atas


kejadian itu. Kamu telah mencoreng nama baik XPostOne," kata Dilan tegas.


" Aku akan mencopot Almamater mu yang


telah membesarkan namamu," kata Dy


tegas tanpa ekspresi.


Dilan salut kepada Dy yang bisa memisahkan emosinya.


" Aku menerimanya ," sahut Dina lantang.


" Silahkan kembalikan semua alat Agent dan Pass Agent sesuai yang tercatat di Agenda,"


Kata Dilan menatap Dina


" Siaap Boss," sahut Dina lalu membawa


tas ranselnya keatas meja.


Agung dan Fery ikut membantu Dina mengeluarkan semua senjata.


Tidak lupa Agung memutar selongsong Revolver dan mengecek isi pelurunya.


semua peluru masih utuh.


" Yank sebaiknya kamu istirahat ke Kamar, Aku khawatir terjadi sesuatu apabila kamu banyak bergerak," kata Dilan menghampiri


Dy yang berdiri kuyu.


" Aku menunggu Dina," sahut Dy menepis


tangan Dilan yang mencoba memegangnya.


Rasa kesalnya kepada Dilan masih kental di lubuk hatinya.


******