
Bab.67.
Bayangan itu adalah Dilan. Sebagai Intelijen handal sangat mudah baginya
untuk membuka jendela atau pintu
Kamar sekalipun. Dengan telaten Dilan
memeriksa luka di kaki Dy dan
membersihkan telapak kaki Dy dengan
tissue basah.
Setelah itu Dilan menarik selimut dan
menyelimuti badan Dy dengan rapi.
Dilan memandang puas wajah Dy yang
cantik dan berusaha menahan diri
untuk tidak menciumnya. Setelah itu
dia mengganti lampu kamar dengan
lampu tidur dan merebahkan badannya disamping Dy.
Mata tajamnya terus memandang bibir Dy yang terbuka sedikit, tapi Dilan akan terus melawan
perasaannya tidak akan menyentuhnya.
Malam semakin larut Dilan tidak kuasa melawan kantuk.
Ntah Mereka berdua mimpi apa didalam tidurnya, karena selimut Dy sudah teronggok tidak berguna. Mereka saling berpelukan untuk melawan dinginnya AC.
Aahhh...sudahlah.
Pagi ini Dilan bangun dengan kaget.
Jantungnya berdebar, untung Dy
belum bangun, dengan hati-hati Dilan
turun dari Bed dan cepat menyelimuti
badan Dy, kemudian Dilan keluar dari pintu normal dengan memakai masker wajah.
Sebelumnya Dilan menembak CCTV dengan laser ringan yang berada didepan Kamar Dy, supaya tidak berfungsi.
Jam menunjukan pukul 07.45 Wita.
Dilan memacu Mobilnya dengan pelan, suasana pagi membuat pikirannya fresh.
Sebuah lagu Call out my name dari
The Weeknd mengantarnya menyusuri jalan Toll Bali Mandara.
Dilan tersenyum tipis membayangkan
Dy berada di pelukannya.
Tidak berapa lama Lambhorgini Aventador itu sudah berada didepan Rumah. Dilan terpaksa turun dan membuka pintu gerbang secara manual karena pintu dirusak oleh tendangan Dy.
Terlihat Bibi menyapu halaman dengan wajah ditekuk. Turun dari Mobil Dilan menghampiri Bibi.
" Bibi, Saya sudah bertemu Nona" kata
Dilan membuat Bibi menghentikan langkahnya.
" Mana dia? Apakah dia baik-baik saja?".
" Sekarang Dy berada di Hotel nya.
Dy baik-baik saja, katanya jangan Bibi
khawatir karena untuk sementara waktu Dy akan tidur di Hotel sampai kakinya sembuh". Dilan terpaksa berbohong supaya Bibi tidak cemberut setiap ketemu dengannya.
" Syukurlah, tapi Tuan tidak bohong khan?".
" Ini buktinya Bi". Sahut Dilan memperlihatkan beberapa photo Dy
yang lagi tidur.
Bibi manggut-manggut percaya.
Dilan merasa puas bohong hari ini, demi kebaikan tidak apa-apa.
Dia naik ke lantai atas, Agung tidur di Sofa. Layar sensor masih menyala,
Dilan memperhatikan semua layar dan
melihat data-data terkirim.
Tidak ada kejadian yang perlu
penanganan khusus.
" Hai Boss sudah datang, Aku baru
tidur " kata Agung bangun dari Sofa.
" Pindah Kamu ke Kamar belakang ".
Perintah Dilan.
" Ya Boss ". Jawab Agung ngeloyor ke
Kamar belakang.
Dilan juga menuju Kamarnya, mau mandi karena sekitar pukul.10.00 Wita akan ada
Meeting dengan para " Big Bos" tentang penggunaan senjata baru Magneto hidrodinamik, sebuah senjata yang memamfaatkan logam cair untuk menembus baju pelindung musuh. Logam cair akan didorong oleh medan elektromagnetik dari ledakan. Mesiu yang ada pada peluru berfungsi hanya sebagai hulu ledak dimasukkan kedalam rudal, proyektil atau platform.
BELAJAR
Dy menggeliat bangun karena mendengar suara bell pintu. Kepalanya terasa pening gara-gara minum Sake tadi malam.
Dengan terhuyung Dy melangkah ke
pintu dan membuka pintu utama.
Seorang Room Service berdiri di depan pintu.
" Apa Kamu mau di pecat telah nengganggu tidurku". Protes Dy membuat Room Service itu pucat.
" Selamat Pagi Nona Saya bagian room service, Mau menanyakan apa yang Anda pesan hari ini ".
Sebagai Owner tentu Dy bisa memecat Managernya kalau kerjaannya begini. Untung Dy yang di bangunkan, coba kalau Tamu Asing pasti akan komplain, bisa jadi Hotelnya langsung Viral karena kurang memuaskan.
Dy memenuhi Bathub nya dengan essential yang sudah di siapkan oleh
Hotel. Merendam tubuhnya sekitar 25 menit, ada rasa perih dari goresan luka
nya yang ada dikakinya.
Pikirannya melayang ke Dilan, ada rasa rindu di hatinya. Tapi cepat-cepet pikirannya dialihkan ke masalah lain.
Penampilan Dy sangat stylist banget,
Dy memakai Skinny Jeans dan kemeja
Putih lengan panjang yang dilipat.
Rambutnya di biarkan terurai rapi
Make up nya tipis dengan lipstick
Matte warna peach. Bau harum
tubuhnya mengundang orang untuk menoleh.
Sebelum Dy ke Ruang Owner, Dy menyelinap ke Ruang Scurity.
Manager Scurity kaget melihat Dy
mengunci pintu dan menodongkan
Pistol kedirinya.
"Buka semua rekaman bulan ini"
Bentak Dy kepada Pak Adi.
Manager Scurity serba salah karena banyak terdapat penyelewengan
di rekaman ini. Dengan gemetar rekaman di salin oleh Pak Adi.
" Tunggu Aq di meeting Room ". Kata
Dy menyelipkan pistolnya di pinggang.
Dengan langkah lebar Dy keluar dari Ruangan Scurity dan menuju ke Meeting Room. Jari tangan Dy menyentuh Meja.Ada debu tipis menempel di telunjuk Dy.
Dy duduk di kursi ergonomis dengan muka Kaku. Semua Manager, Asmen
sampai Supervisor ikut Meeting.
Manager F&B dan Karyawan Room Service yang teledor tadi hanya bisa
pasrah menerima putusan Dy.
" Hallo tiga keatas (artinya manager, asmen, supervisor) maklumlah yang bicara Intelijen, jadi memakai kode
semau gue.
Selamat siang semuanya. Aku akan
mulai bekerja sebagai Owner kalian.
Aku tidak bisa berkata banyak, karena
Aku bekerja real. Tinggal kalian sekarang menyikapi kesalahan yang kalian perbuatan". Kata Dy mulai membuka Meeting dengan bahasa Inggris, maklumlah banyak Orang Bule.
Ruang Meeting menjadi hening.
Dy mulai menegur Jenderal Managernya Orang Bule dengan nyelekit.
"Hello JM, Anda tidak peduli dengan
anak buah, sepertinya Anda terlalu asyik diatas menikmati Kamar Suite Room dengan beberapa cewek".
Tidak ada yang berani menyanggah kata-kata Dy, apalagi Mereka tahu tonjolan di pinggang Dy adalah sebuah Revolver. Semua menoleh kedinding ketika Dy menembakan rekaman dari Scurity Dengan Led Mini Projector ke dinding.
" Aku minta Kalian merubah kebiasaan
buruk Kalian yang merugikan Hotel.
Dan untuk selanjutnya Aku akan membuat S P.1 untuk kalian yang terekam".
Kata Dy tegas.
Kemudian Dy menyuruh Manager HRD
(Human Resource Departement) untuk
merealisasikan perintahnya.
Keadaan seketika riuh ketika Dy pergi
dari Ruangan itu.
" Pak Adi, anda bertanggung jawab atas SP.1 yang menimpa Kita". Kata JM nya tertawa.
" Saya tadi malah sport jantung karena Nona menodongkan pistol ke jantung Saya". Sahut Pak Adi membela diri ketika
temannya menyalahkan dirinya yang membuka rekaman.
" Lebih sadis dari Bapaknya" kata Mereka.
" Tapi cantik dan mempesona, Aku dikasi tidak menolak". Sahut andrew Asmennya Pak JM.
" Semua juga mau " kata Mr Rodrigo tersenyum. Perbincangan Mereka melebar dan yang menjadi penyebab
semua itu adalah keteledoran Room Service. Akhirnya semua menyalahkan
Room Service itu.
" You Creazy, Bos lagi istirahat Kamu
ganggu. Apa Kamu tidak melihat tulisan Do not disturb yang digantung di pintu?".
Kata Pa Made mendekati Dekyat Room Service yang bertugas.
Wajah Dekyat Pucat saking takutnya. Sebagai tenaga DW (daily warker) tamat sudah riwayatnya hari ini.
" Ini Hotel Bintang 5 Luxury, kalau Kamu DW kesini harus sudah berbekal bahasa Inggris, karena komunikasi disini memakai Bahasa Inggris. Kesalahan sedikit akan membawa efek yang sangat besar, buktinya sekarang. Kamu yang salah Kita semua kena salah. Makanya Aku minta maaf, kalau Aku akan memecatmu". Suara Manager HRD tegas. Apa boleh buat Dekyat harus angkat kaki dari Hotel ini.
Tidak semua maksud baik mendatangkan kebaikan.
**********