
Ban.72.
Libya kembali membuka Bandara internasional di ibu kota Tripoli yang ditutup tiga bulan lalu karena serangan udara oleh pasukan pro-komandan Khalifa Haftar
Beberapa maskapai mengumumkan mulai hari ini mereka akan mulai mengoperasikan penerbangan dari Bandara Internasional Mitiga.
Mata Dy celingukan mencari Agent number one di antara ramainya orang-orang yang keluar masuk Bandara.
Tapi kebingungannya tidak lama karena matanya bersitatap dengan seorang pemuda ganteng di depannya. Tidak ada senyuman dari
bibir itu, yang ada tatapan tajam yang kurang bersahabat.
Namanya Zayn, wajahnya mirip penyanyi Zayn Malik. Body nya tinggi
tegap dan sangat berwibawa.
Kesombongan Dy lenyap sebagai anaknya Beck setelah Zayn menyuruhnya naik ke Mobil.
" Silahkan angkat kopermu ke Mobil ".
Kata Zayn dingin.
Sudah tahu yang datang anaknya Beck
bukannya bantuin angkatin koper malah cuek.
Gerutu Dy sebel.
Tentu saja perlakuan Zayn yang kurang bersahabat membuat Dy ikut
memasang muka angker.
Dia pikir hanya dia saja yang bisa cuek
Aku 2 kali lebih cuek!!.
Bathin Dy kesel.
Sebuah Mobil Lambhorgini Aventador
yang sudah di modifikasi membawa Dy ke sebuah hunian di tengah-tengah bangunan penduduk.
Mata Dy nanar melihat bangunan sederhana itu. Dalam bayangannya
akan tinggal di sebuah Suite Room atau setidaknya di sebuah Apatermen
mewah di tengah Kota pupus sudah.
Zayn tidak mempersilahkan Dy masuk tapi Dy terpaksa mengekor langkah
Zayn ke dalam ruangan.
" Kamarmu ada disebelah kanan. Disini tidak ada yang akan memanjakanmu, kalau mau nyuci
ada mesin cuci, kalau mau makan
banyak penjual makanan disini ".
Kata Zayn tanpa basa basi.
Zayn sangat acuh akan keberadaannya, seolah kehadiran
Dy menjadi bebannya.
Bahkan menanyakan nama saja
dia tidak. Untungnya Dy sudah tahu
nama Agent ini adalah Zayn.
Dy tidak menggubris omongan Zayn
dan melewatinya serta masuk ke Kamar yang kuncinya menggantung.
Dy melongo melihat bed single yang
berisi kasur tipis dan sprei kumal.
Hidungnya langsung bersin-bersin tidak tahan debu.
" Aku tidak mau tidur disini, Aku bisa sakit karena sesak nafas ".
Protes Dy menarik kopernya keluar.
" Suka atau tidak itu urusanmu ".
" Antarkan Aku cari Hotel di sekitar
sini, Aku bayar sendiri". Kata Dy
terus bersin-bersin.
" Tissue basah, mana tissue?? ".
Tanya Dy menghampiri Zayn yang duduk di kursi kayu.
" Disini tidak ada barang yang aneh-aneh untuk Kamu ". Sahut Zayn.
" Kamu telah menyiksaku ". Suara Dy
mulai meninggi.
" Siapa suruh Kamu kesini, disini Negara komplik. Baru kemarin Hotel
mewah di Bom dengan banyak korban.
Makanya kalau tidak mampu mengambil tugas jangan menjadi Intelijen, jadi Ibu rumah tangga saja".
Kata Zayn berdiri dan menuju kulkas
Satu pintu, yang berada di pojok.
" Bukannya Aku tidak mampu, tapi fasilitasnya begini, Aku tidak mungkin
bisa tidur. Sama saja Kamu membunuhku pelan-pelan ". Sahut Dy
Esmoni saking keselnya.
Zayn kembali duduk di kursi kayu dengan minuman ringan ditangannya.
" Kalau mau minum ambil di kulkas, boleh bon kalau tidak ada uang tunai".
Kata Zayn merasa tidak bersalah.
" Zayn apaan ini, mana dana dari yang menyewa Kita. Aku jadi tidak mengerti.
Atau kamu .....".
" Aku korupsi??, memang betul ".
" Aku tidak mau meladeni Kamu, terserah. Aku minta satu saja, anterin
Aku beli sofa untuk tidur ". Sahut Dy
Berkacak pinggang.
" Beli sendiri Aku banyak urusan ".
Sahut Zayn berlalu dari hadapan Dy.
" Zayn...Zayn...kemana?". Dy menghadang jalannya Zayn.
Tapi di luar dugaan Zayn malah memberi tendangan samping, untung Dy cepat berkelit. Dengan ganas Dy
menyerang Zayn, beberapa tendangan yang melingkar hampir mengenai Zayn. Dy sekarang merubah tendangannya dengan pukulan jarak
dekat. Tapi tidak satupun serangan Dy bisa menyentuh Zayn.
Sekali sentak Zayn sudah bisa meringkus Dy dengan mudah.
" Kamu cocoknya menjadi Ibu rumah tangga bukan Intelijen ". Bisik Zayn di kuping Dy.
Kemudian zayn melepaskan tangannya dan menuju Mobil.
Mata Dy menyala saking marahnya
" Ini baru permulaan, Aku belum merasa kalah ". Kata Dy mengacungkan jari tengah.
Zayn tersenyum dalam hati melihat
tingkah anak boss nya.
Tentu saja semua yang Dia lakukan
karena perintah dari Dilan.
Supaya Dy tidak betah di Libya dan kembali pulang.
Zayn naik ke Mobil dan keluar dari
Rumah sederhana.
Dy duduk di kursi kayu dengan perasaan bercampur. Sungguh Dy
tidak mengira Agent No.1 sangat
Jutek. Hatinya kesal tidak dianggap
disini, nasibnya selalu sial didalam
mengarungi kehidupan remajanya.
Otaknya berputar memikirkan cara
tidur yang nyaman.
Dy berdiri menuju kulkas dan memperhatikan isi kulkas yang tidak
seberapa. Tidak ada minuman keras.
Yang ada air mineral serta 4 botol
minuman ringan.
Dy tersenyum melihat lyst harga setiap minuman yang berada di
Kulkas. Dasar manusia pelit. gerutu Dy sebel.
Dy kembali ke Kamarnya dan cepat keluar, keputusannya sudah bulat, Dy akan mencari
Hotel.
Dengan iseng Dy membuka Kamar di sebelah
nya dan Dy heran.
Kamar ini cukup luas dengan double bed.
ada Sofa panjang untuk berbaring dan ada Almari kosong. Dy tersenyum, seolah Zayn mempermainkan nya.
Walau pun ada Almari Dy tidak mau
mempergunakan nya.
Sekarang Dy baru lega karena sudah ada
tempat tidur. Tinggal memeriksa kamar
mandi. Dy bersyukur ada Kamar mandi dan
Shower serta perlengkapan mandi yang
belum di pakai.
Cepat-cepat Dy menutup pintu Kamar
karena Zayn sudah datang lagi.
sayang tidak ada Kuncinya.
Tiba-tiba saja Zayn masuk ke Kamar.
" Kenapa Kamu disini, kamarmu di sebelah
ini Kamarku ". kata Zayn menaruh kopernya.
" Oohh..... tapi Aku tidak bisa tidur di
sebelah ". sahut Dy pelan.
" Aku tidak mau tahu!! ". jawab Zayn ketus.
Hati Dy terluka terhadap perlakuan Zayn.
semenjak Beck meninggal tidak ada rasa
hormat kepada dirinya. Dy merasa orang-
orang di sekitarnya mulai menjauhinya
dan lebih condong membela Dilan.
Seperti Jelita tadi.
Dy menyeret kopernya ke Kamar sebelah,
air matanya mengalir menganak sungai.
Dengan pasrah Dy menutup pintu Kamar
nya yang tidak berisi kunci.
Hari ini Dy akan berdamai dengan dirinya,
bukankah tujuan Dy kesini adalah untuk
menghancurkan dirinya??.
Aku pantang mengeluh untuk suatu masalah
yang menimpa ku.
Dari sinilah Aku tahu siapa Kalian...
Dan Aku akan membiarkan kalian tertawa
hari ini .. tapi menangis untuk ku hari esok.
Perlahan Dy membuka kamar mandi, Dy
bersyukur Kamar mandinya walaupun kecil
tapi bersih. Tidak ada yang perlu di perdebatan lagi.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan
Dy tentang dendam nya kepada Zayn.
" Kenapa Kamu tidak buka pintunya??".
suara Zayn terdengar berat.
" Aku tidak perlu membukakan pintu karena Aku tidak membutuhkanmu ". sahut Dy
menghapus bekas air matanya.
" Kamu keluar makan!! ". perintah Zayn.
" Aku sudah kenyang dan tidak sudi makananmu ". sahut Dy emosi. matanya
merah karena habis menangis.
*******