
Bab.1001
Mobil Lamborghini itu melaju dengan kecepatan sedang. Suara Ponsel Agung yang terus berdering tidak membuyarkan lamunannya.Tidak ada yang bisa di lakukan kecuali melamun dan menahan
ke kegundahan Hati Agung.
Apakah Dia harus memendam sebagian besar masalah yang tersisa dari tragedi yang menimpa Dy. Agung membelokkan Mobilnya ke Rumah Dy. Gerbang yang
ber cat hitam itu berdiri kokoh. Apakah
Dy akan menyadari kedatangannya?.
Tentu saja Dy tahu yang datang adalah Agung. Dy berada di Ruang Tamu melihat cctv dan membuka pintu gerbang dengan tembakan laser otomatis.
Agung memasuki halaman Rumah
dan berhenti di Garasi. Rumah ini tetap seperti dulu, hanya pohon bunga atau pohon buah yang semakin tinggi dan rimbun. Bayangan Dilan tiba-tiba
melintas membuat Agung sangat
sedih.
"Masuklah!!" Seru Dy membukakan
Pintu. Senyum itu tetap seperti dulu,
sangat manis dan elegant.
"I Miss You," kata Agung menjabat tangan Dy yang lembut.
"Aku juga merindukan Kalian semua, terkadang Aku ingin kembali nimbrung
di XPostOne,"
"Kamu bebas datang kesana, tidak ada
larangan untukmu, itu milikmu, Kami pasti senang bila Kamu datang,"
"Aku tahu kedatanganmu ini pasti
penting, mari Kita ke Meja Bar, tentu
Kamu haus dan Kita akan makan siang
bersama," kata Dy mengajak Agung ke belakang menuju Meja Bar.
"Bibik, Agung datang," panggil Dy membuat Bibik keluar dari dapur. Agung tersenyum menghampiri Bibik, tapi senyumnya berubah ketika sesosok Perempuan tua berada dibelakang Bibik.
"Ibu ada disini?" tanya Agung menatap Ibunya Dilan.
"Ibu disini sekarang bersamaku, mulai
kemarin. Kebetulan juga ada Bibik, jadi Mereka tidak sepi," jelas Dy.
"Baguslah kalau begitu, supaya Rumah
tidak sepi. sekalian menunggu kelahiran cucunya," kata Agung tersenyum.
Suasana akrab dari Mereka terasa sekali. Agung berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya ketika Ibunya Dilan menyinggung kematian Dilan yang tidak wajar.
"Ibu sampai sekarang masih penasaran terhadap kematian Dilan, Ibu yakin musuhnya membunuhnya," kata Ibunya Dilan memandang Agung dan Dy bergantian.
"Dilan adalah bintang XPostOne yang tidak tergantikan, Kami sangat menyayanginya, tapi Kami pasrah terhadap takdir. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan Dia," sahut Agung.
"Silahkan makan dulu, Bibik mau keatas bersih-bersih," kata Bibik.
"Aku ikut keatas," Ibunya Dilan berdiri
dan mengikuti Bibik ke lantai 2.
"Mari makan seadanya, semenjak kalian pergi Bibik jarang masak besar, kecuali ada tamu," kata Dy tersenyum.
"Aku di Kantor hanya berdua dengan
Jelita, tidak pernah juga masak. Kita
paling pesan lewat Oline,"
Mereka makan tanpa bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Agung dan Dy menghabiskan makan siangnya dan pindah dari Meja makan ke Meja Bar. Sangat sulit bagi Agung untuk memulai. Dari mana Dy harus bertutur supaya Dy tidak kaget dan mengerti keadaan Aby sekarang ini, serta memakluminya.
"Sekarang Kita sudah berdua, katakanlah kenapa kamu datang," Kata Dy pelan memandang Agung.
Akhirnya Agung bercerita tentang ancaman Ghama yang sangat serius
dan memperlihatkan foto sebagai
bukti, dimana Ghama dan Vivi telah mengetahui bahwa Dilan meninggal karena dibunuh.
Air mata Dy langsung mengalit dan
tangannya gemetar melihat foto itu,
Sebenarnya Dy sudah tahu masalah
ini, dulu sebelum Dy bertunangan Aby
bercerita bahwa Admesh bertindak
gegabah kepada Dilan demi rasa
sayangnya kepada Aby yang sangat
terpukul melihat kenyataan bahwa
Dy memilih Dilan dan mengandung
anak Dilan.
Jauh di lubuk hatinya Dy tidak ingin
masalah ini di blow up lagi. Bukan
karena Dy tidak mencintai Dilan, tapi
lebih ke sifat pasrah dan melindungi
nama keluarga dan Perusahan.
Admesh adalah Kakak sepupunya dan CEO di Perusahan Keluarga. Mereka sangat membutuhkan tangan dingin Admesh untuk mengelola Usaha nya.
"Agung, Aku akan menjawab sebagai
tunangan Aby, bukan sebagai Intelijen," kata Dy menghapus air matanya. Bibir
Dy bergetar dan Dy mulai bercerita tentang Admesh.
Hampir sama cerita Dy dengan Aby
bahwa yang sebenarnya pertama kali datang dengan Topi Eiger adalah Aby. Waktu itu Aby menyumbang darah kepada Dilan, kebetulan yang mengantar adalah Admesh. Aby tidak tahu bahwa setelah itu Admesh memamfaatkan
situasi itu dengan cara meracuni Dilan.
"Menurutmu bagaimana seharusnya
"Yang menggugat harusnya Ibunya
Dilan, biarkan dulu. Tolong amankan
cctv hari ini di Hotel, disitu akan terlihat Ghama lagi mengancam Aby," sahut Dy pelan.
Darah Intelijennya meronta, ingin rasanya Dy membungkam mulut Ghama dengan
beberapa tetes racun Sianida.
"Aku berharap masalah ini jangan menjadi beban pikiranmu," kata
Agung mencoba menenangkan Dy
yang menangis.
"Aku akan tidur di Hotel menemani
Aby, dan Aku akan minta senjata dan
peralatan Intelijen," kata Dy kemudian.
"Kamu pamit dulu sama Bibik dan Ibu, katakan Kamu akan ke Kantor nya
Jelita, jangan katakan Kamu menginap
di Hotel bersama Aby," kata Agung.
"Mengapa harus mencari alibi, apakah Ibu Dilan ada masalah dengan Aby,"
tanya Dy heran.
"Aku cuma khawatir, lebih baik waspada, seingatku Ibunya Dilan sangat membeci Aby dan Kamu. Tapi kenapa tiba-tiba Dia berada disini," kata Agung curiga.
"Apakah ada benang merah diantara
Mereka?," sahut Dy.
Kesadaran Dy seolah menjelma dan ingatannya kembali muncul ketika
Ibunya Dilan pertama kali datang di
antar oleh pamannya Dilan. Yang
menjadi pertanyaan benarkah itu Pamannya Dilan yang selalu Mereka
akui.
"Otak Intelijenku menyatakan Mereka
bekerja sama dan ada orang yang
menggerakan," ucap Agung reflek
menoleh ke tangga, ternyata Ibunya
Dilan menatap Mereka. Rupanya Ibu
Dilan dari tadi mengintai dari tangga.
Agung memberi kode ke Dy, sesuatu
akan terjadi. pikir Agung menatap Dy.
"Aku tidak tahu seberapa tulusnya
Ibunya Dilan menunggu calon Cucunya," kata Agung hampir berbisik.
"Aku tidak menyangka, berarti Aku akan
lebih waspada. Baru kemarin Dia datang
sudah membuat hatiku resah, ternyata
ada udang di balik batu," sahut Dy menahan emosi.
"Jangan memperlihatkan Kamu mengetahui sesuatu," kata Agung.
"Tunggulah Aku, Kita akan bersama
ke Kantor XPostOne," kata Dy berdiri.
"Kunci-kunci pintu Kamar dan rubah
kode Pintu Utama dan Pintu gerbang.
Agung sesekali melirik Ibunya Dilan
yang mulai turun dengan Bibik. Ada
perasaan tidak enak ketika Ibunya
Dilan dan Bibik duduk di Kursi
kosong didepannya.
"Apa Kamu akan mengajak Dy pergi,
atau Kamu mau menginap disini?"
tanya Ibu nya Dilan menatap Agung.
"Dy mau menemui Jelita pacarku.
katanya Dy sangat kangen," sahut
Agung tersenyum.
"Tunggu dulu Agung, Aku punya bingkisan untuk Kalian semua yang
berada di XPostOne," kata Ibunya
Dilan bergegas menuju ke Kamarnya.
"Bibik bagaimana Nona Dy sikapnya
setiap hari, apa Dy masih sedih?"
tanya Agung memandang Bibik.
"Dulu Dy sering menangis, setelah
berjalannya waktu Dy mulai jarang
menangis. Bibik lihat Dy condong
pasrah dan lebih banyak mendekat
kan diri kepada Tuhan," sahut Bibik.
********