I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
BERTENGKAR



Bab.36


Pikiran Dilan langsung ke Beck, jangan-


jangan Beck balik dan sengaja memergokinya.


Nyalinya langsung ciut. Dy tergesa-gesa


turun dari ranjang.


" Apakah Beck kembali?". Bisik Dilan sambil merapikan bajunya. Keringat dingin membasahi tubuhnya.


" Mungkin Jojo, kalau Beck pasti teriak".


Sahut Dy pelan memakai baju yang sempat terlempar ke pojok.


" Kita seperti pasangan selingkuh yang tertangkap basah". Bisik Dilan tersenyum kecut. Dy nyengir.


" Ini semua gara-gara mu". Dy balik berbisik.


" Biarkan Dia mengetuk pintu lama supaya emosinya terkuras". Kata Dilan menahan


Dy membukakan pintu.


" Aku yang akan membuka pintu, Kamu diam saja di samping Almari, siapa tahu Jojo atau Beck". Sahut Dy pelan.


" Kamu harus siap pistol untuk jaga-jaga". Kata Dilan mengingatkan.


Ketukan di pintu semakin keras. Dy cepat meraih pistolnya dan mengatur nafas.


Dadanya berdebar tidak karuan.


Dengan pelan Dy membuka pintu. Sesosok tubuh langsung nyelonong masuk dan menyerang Dilan.


"Manusia terkutuk apa yang kalian lakukan?". Suara itu meninggi ketika Dilan berkelit.


Dy tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya.


Dilan jadi serba salah, di lawan bukan lawan, tapi kalau di biarkan terus memukul ngawur. Kasihan sekali.


" Aby..". Teriak Dy memasukkan pistol kepinggang.


Rupanya Aby yang datang.


Tentu saja Aby bisa masuk karena password pintu belum diganti. Dy langsung memeluk Aby dan mengajaknya keluar kamar.


" Aby kenapa Kamu kurus begini?". Tanya Dy terharu. Aby berontak dalam pelukan Dy. Tapi tenaga Dy tidak bisa di lawan.


" Dilan Kamu adalah duri di dalam daging, Kamu sengaja memperdaya Dy ". Teriak Aby emosi.


" Yank, biarin Dy keluar. Kenapa Kamu sibuk, Dy yang telah mengkhianatimu". Dilan juga emosi melihat Dy memeluk Aby.


" Diam mulutmu, siapa yang berkhianat Aku apa Dy?". Sahut Aby lantang.


Pertengkaran sudah tidak bisa di elakkan. Sama-sama mengeluarkan argumentasi dan saling menuduh.


" Yank, lempar manusia ini keluar". Teriak Dilan tambah kesal.


Dy tidak peduli ocehan Dilan, Dy menarik Aby ke garasi menuju Mobil. Dilan tidak habis pikir akan tingkah Dy.


" Yank, Kamu mau kemana?". Teriak Dilan mengejar Dy.


" Aku mau pergi sebentar ". Sahut Dy meraih pistolnya dan menodongnya ke Dilan.


" Jangan memaksa Aku menembak". Teriak Dy menyeret Aby masuk ke Mobil.


XPostOne.


Dilan sudah kehilangan akal melihat tingkah Dy.


Kenapa tiba-tiba Dy harus pergi dengan Aby. Dilan pasrah melihat Dy mengendarai Mobilnya.


" Aby..Kamu kesini naik apa?". Tanya Dy setelah Mereka meluncur di jalan By Pass.


" Taxi, ada hubungan apa Kamu sama Dilan ". Tanya Aby emosi. Dy tidak menjawab dan memacu Mobilnya semakin kencang.


Mobil masuk ke Restoran cepat saji, Dy memilih Drive Thru.


Chicken katsu, Burger dan dua paket Jumbo menjadi pilihan Dy.


Aby terus memandang Dy dengan kasih.


Apapun yang Dy lakukan Aby tidak akan membantah asal Dy terus berada di sampingnya.


Dy tersenyum melihat Aby terus menatapnya.


" Apakah Kamu tidak rindu kepadaku?".


Tanya Dy mengedipkan sebelah matanya.


" Aku sangat rindu, tapi Kita mau kemana?, ini Jalan menuju ke Ubud". Tanya Aby heran.


' Kita akan meminggirkan Mobil dulu, kemudian Kita akan bersenang-senang ". Sahut Dy.


" Kamu makan dulu, Aku mau memeriksa Mobil ". Kata Dy memberi Aby Burger.


Aby tersenyum mengambil Burger, selalu begitu. Tidak pernah Aby bisa memilih apa yang mau Dia makan.


Semua atas kehendak Dy.


Dy turun mengambil Jam tangan Sensor


dan Kaca mata Zoom. Kemudian mengelilingi Mobilnya, ada dua sensor magnetic. Satu menempel di Dashboard dan satu lagi di Dk Mobil. Dy mematikan kedua Sensor lalu memasang Holsternya di Paha.


Berarti Dy harus ke kiri supaya bisa masuk


ke kebun penduduk.


Dy kembali naik ke Mobil, mengambil jalan


ke Kiri. Aby tidak mau lagi bertanya kemana Dy mau membawanya, hatinya telah berbunga-bunga. Aby pernah berpikir buruk seandainya Mereka bertemu, tapi pikirannya ternyata meleset. Dy ternyata menyambutnya dengan baik.


Tahu begitu Aby tidak perlu mabuk setiap


hari untuk menutupi rasa bersalahnya.


Pikiran Dy memang tidak bisa diduga.


Mobil berhenti di sebuah kebun penduduk. Suasananya sangat sunyi, di sebelah kanan ada sungai yang airnya sangat jernih dan dalam. Di sebelah kanan ada jurang dan


ada gundukan besar yang menjorok ke jurang. Dy turun dan menodongkan pistol


ke Aby.


" Turun Kamu banci...". Teriak Dy kesetanan. Tidak ada senyum manis lagi yang ada hanya dendam ke sumat.


Aby sangat kaget dengan perubahan Ini, dadanya bergetar. Tapi Aby turun dengan gagahnya. Dia tidak takut mati, dari pertama Dy ke Singapore Aby tidak takut mati. Malah Dia menyuruh orang untuk membunuhnya.


Sekarangpun Aby tidak takut mati, apalagi yang membunuh adalah Dy.


" Bunuhlah Aku kalau itu membuat Kamu puas. Aku tidak akan menyalahkanmu,


semua ini salahku. Tapi setidaknya


sebelum Kamu membunuh Aku harusnya Kamu bertanya dulu...".


" Jangan banyak bacot, Aku tidak peduli. Teganya Kamu mengkhianatiku". Bentak


Dy marah, mukanya merah....


Rahangnya kaku.


" Dari pertama Kamu ke Singapore Aku


sudah ingin mati. Aku bersyukur, sekarang Kamu akan membunuhku.


" Ini untuk air mataku yang setiap saat mengalir....". Kata Dy mendorong Aby.


Aby terhuyung jatuh. Kemudian


Aby bangun dan berjalan gontai ketempat yang sudah di tentukan oleh Dy.


Sebuah gubuk kosong yang di pakai oleh petani untuk menimbun rumput sapi.


Banyak rumput berserakan dan sudah layu, ada juga yang sudah mengering.


Dy sengaja membuka peredam pistol nya supaya kalau di tembakan suaranya


terdengar keras. Dy sudah seperti Algojo yang haus darah.


Mondar mandir tidak karuan.


Suara ponselnya terus berdering. Dy mematikan ponselnya.


Sekarang gantian ponsel Aby berdering.


Dy cepat merebut ponsel Aby dan mematikannya.


Tidak mungkin Dilan atau Beck bisa menemuinya.


Rumah penduduk juga jauh dari tempat


ini. Dy kembali ke tujuan semula.


" Diam Kamu disana, bilang permintaan terakhirmu". Bentak Dy.


" Aku minta mati di tanganmu". Sahut Aby lantang. Air matanya merembes keluar menghalangi penglihatannya.


Aby berdiri di depan gundukan rumput sapi. Apapun yang akan Dy lakukan kepada dirinya, Aby akan menerimanya.


Cintanya terlalu dalam


Jangankan hanya di tembak mati, disuruh nyemplung ke Sungai Aby mau, asal yang menyuruh Dy.


" Turunkan tanganmu dari wajahmu". Bentak Dy lagi.


" Aku akan menghapus air mataku supaya bisa memandangmu". Suara Aby serak.


" Tidak usah Aku di pandang, Aku sudah benci padamu". Teriak Dy.


" Cepat bunuh Aku kalau Kamu sudah


tidak sabar, melihat bangkaiku ".


" Ya Diam Kamu, pandang Aku!!".


Kemudian Dy mengarahkan pistolnya ke badan Aby.


Suara letusan pistol menggema, membuat burung-burung yang bertengger di pohon pada terbang. Badan Aby ambruk ke belakang menimpa rumput sapi.


Dy merasa puas dan kembali memasang peredam di pistolnya.


********