
Bab.15.
Pandangan mata Orang-orang yang berada di Rumah sakit seolah-olah menelanjangi tubuh Dy.
Suara decak kagum dari orang yang berpapasan dengan Dy, membuat Jojo Cemburu.
" Sepertinya Mereka belum pernah melihat gadis Cantik ". Bisik Jojo ketika Mereka berada di Life.
" Mereka belum pernah melihat gadis yang gagah dan ada pistol menempel di paha ". Sahut Dy pelan sambil tersenyum.
" Aku parno kalau Kamu menjadi pusat perhatian Orang ". Bisik Jojo.
" Coba Kamu buka maskermu, pasti banyak yang ngerubuti Kamu ". Dy balik berbisik.
Mereka keluar dari life bergandengan tangan. Rencana awal adalah memenuhi panggilan Papa Jojo supaya menengoknya sesegera mungkin.
Yang kedua tentu memperkenalkan Dy, sebagai calon istri.
Masalah ini sudah ada persetujuan dari Dy tadi malam.
Ntah nanti bagaimana kelanjutannya tinggal waktu yang menjawab.
Karena ini hanya sebuah sandiwara perkawinan.
Jojo membuka Maskernya ketika sudah sampai di kamar VVip di lantai 15.
Dy kaget karena pintu terbuka lebar, ternyata ada layar yang menampilkan siapa yang ada di depan pintu.
" Selamat siang semuanya, Saya Jojo telah memenuhi panggilan Tuan Chang".
Kata Jojo sopan.
Mereka semua diam tidak menjawab salam dari Jojo.
Sekitar 5 orang telah mengelilingi Mereka.
" Ternyata Kamu punya nyali datang kesini. Kenalkan Aku anak tertua Mr Chang tidak mengakui Kamu sebagai bagian dari keluarga Kami.
Kami juga tidak akan memberi Nama keluarga di belakang Namanu". Sahut
laki-laki yang berada di depan Dy.
Dy sudah punya Feeling tidak enak.
Cepat Dy menggemgam tangan Jojo
dan menariknya kepelukannya. Sebuah pisau lempar hampir mengenai lengan Jojo.
" Maaf Tuan-tuan Saya adalah Calon Istri Jojo, Saya lancang berbicara. Trimakasih atas sambutan hangat kalian".
Kata Dy memasang kuda-kuda.
Rahangnya sudah mengeras saking marahnya, karena tahu di jebak.
Ternyata ruangan ini kosong, tidak ada pasien, mungkin Mereka sengaja menyewa untuk tempat istirahat.
Mata Dy menyapu 5orang yang berada di depannya. Mencoba mengukur kekuatan lawan yang rata-rata berperut buncit.
" Seharusnya Nona jangan mencari mati, kami tidak mungkin membiarkan Papa Kami membuang harta untuk Anak haram ini. Apalagi Ibunya sudah bertahun-tahun menyakiti hati Mama Kami". Suara laki-laki itu lantang.
Cepat Dy kedepan mengalingi Jojo yang mau membalas omongan laki-laki kedua.
" Maaf Saya sebenarnya tidak berkepentingan dengan Kalian, karena yang mengundang Jojo kesini adalah yang mempunyai harta, bukan kalian
yang menunggu warisan. Sebenarnya kedudukan Kalian sama dengan Jojo, sama-sama anak Tuan Chang hanya
beda Ibu saja ".
Dy mulai bersilat lidah, membuat Mereka panas.
" Jangan Kami disamakan dengan Anak perempuan murahan ini, Kamu salah besar melawan Kami ". Bentak laki-laki ketiga emosi. Dy sengaja membuat Mereka emosi supaya perlawanan Mereka menjadi lemah.
" Kami tidak melawan Kalian, Kita kesini baik-baik, berkata yang baik. Karena Kami tahu bukan kekayaan yang membuat Kita di hormati, tapi Etika hidup ". Sindir Dy tenang. Rupanya Mereka semakin marah.
Gebrakan pertama adalah pukulan panjang yang di lontarkan oleh laki-laki kelima.
Dy berkelit ringan dan mendorong Jojo supaya diam di pintu.
Dy menerima pukulan kedua dengan telapak tangannya dan menarik kencang lawan, dalam ketidak seimbangan itu Dy langsung menendang perut lawan dan meluncurkan pukulan uppercut.
Teriakan Jojo terdengar ketika darah muncrat dari mulut lawan dan laki-laki
ke empat menyusul menendang Dy.
Untuk mengimbangi kehebatan lawan
Dy mengeluarkan jurus-jurus yang mengambang dan meloncat dari bed rumah sakit ke Meja, kemudian jumplitan.
Dan kedua kaki Dy mengait leher lawan.
Lawan tidak mau kalah mengambil Toya dan memutarnya. Dy mengaku kewalahan menghadapi lawan, karena Dy bertangan kosong. Jalan satu-satunya adalah mengambil pistol dan menembak tangan lawan.
" Angkat tangan Kalian atau Kami akan menembak Kaki Kalian ". Kata Dy sambil memperlihatkan Kartu Agent.
Kecurangan Dy dengan mencabut Pistol dan menembakannya ke lawan membuat Mereka banyak memaki.
Untung pistolnya isi peredam, kalau tidak bisa bunyinya membangunkan Orang sakit.
Dy tidak peduli, di bilang curang yang penting Dy dan Jojo selamat. Kecuali Mereka saudara seperguruan baru Dy
taat. Masalahnya Mereka berlima dan
Dy seorang diri.
"Kalian jangan asal memaki, intropeksi dirilah. Kalian ber lima melawan satu cewek, apa kalian tidak malu ". Kata Dy memandang Mereka.
" Oke..urusan Kita belum selesai". Sahut laki-laki pertama.
" Kami tidak mau berurusan dengan kalian, urusan Jojo adalah dengan Papanya, bukan dengan Kalian.
harta Papanya adalah sebagian milik Jojo". Kata Dy tegas.
" Perempuan licik, pergi Kamu dari sini.
Aku akan mengambil jiwamu suatu hari".
Bentak laki-laki itu lagi.
" Jangan mengancamku, Aku bisa melepaskan nyawamu sekarang, tapi Aku tidak melakukan. Tetapi apabila Mr Chang atau Jojo sampai Kamu sentil, Kami akan mengulitimu satu persatu". Ancam Dy.
" Kamu dari perguruan mana?". Tanya Mereka hampir serentak.
" Dari perguruan Maju mundur dan Angin ribut ". Sahut Dy seenaknya.
Mereka saling pandang, sepertinya di Singapore belum ada Perguruan itu.
Jangankan di Singapore di seluruh Duniapun tidak ada, karena memang
tidak ada. Bathin Dy tertawa geli.
Akhirnya Dy menarik tangan Jojo keluar.
Muka Jojo pucat pasi dan tangan nya terasa dingin sekali.
Dy kasihan melihat Jojo.
" Pakai Masker nya ". Bisik Dy waktu sampai di life. Dy berusaha menenangkan Jojo dengan cara memeluknya.
" Kita langsung pulang dan Aku akan membuat Teh hangat untukmu ". Kata
Dy pelan sambil mengelus punggung
Jojo. Sampai di parkiran Mereka
setengah berlari menuju Mobil.
" Aku tidak butuh harta, kalau membuat Kamu terluka atau membuat Kita dalam keadaan bahaya".
Kata Jojo setelah Mereka berada di Condominium kembali.
Sebelum ke Rumah sakit Dy sudah mengajak Jojo ke Kantor Police untuk mengurus Mobil dan sebagainya.
Di Kantor Police banyak pertanyaan
yang harusJojo jawab.
Banyak waktu yang tersita dan tenaga terbuang percuma.
Dari Kantor Police Jojo mengajak Dy menemui papanya yang ternyata
jebakan Batman. Dimana Jojo hanya
bisa bengong dan berteriak melihat Dy dibantai oleh laki-laki itu dengan jurus-jurus maut.
Saat menghadapi suasana yang mencekam itu, antara hidup dan mati, disitu Jojo baru sadar bahwa harta itu tidak ada gunanya. Kejadian tadi membuat Jojo trauma berat.
" Minum dulu Teh nya supaya Kamu tenang ". Kata Dy menyodorkan Teh hangat ke Jojo.
Tak ada yang bisa dilakukan kecuali memeluk Jojo dan menemani minum
Teh sambil sesekali mengeluarkan
joke-joke yang garing.
" Jojo...buka kedua telapak tanganmu, Aku akan meramalmu". Kata Dy menarik tangan jojo yang lembut.
Beda tangan Aktor dengan tangan kuli.
Dy mulai bergaya menjadi dukun.
"Bim salabim, kada kadabraaa...
Taraaa...ternyata Shio mu sedang mengalami perjalanan jauh...".
Kata Dy mulai beraksi, Jojo yang
melihat tingkah Dy menjadi tertawa.
" Mana ada Shio berjalan?". Sahut Jojo.
" Jangan meremehkan ramalanku, Aku tahu Kamu Shio Ayam jantan yang suka berkokok pagi-pagi.
Punya uang atau tidak Kamu tetap berkokok, karena....".
" Karena apa sok tahu Kamu ".
" Karena Shiomu Ayam, kalau Kambing pasti akan mengembek:". Kata Dy tertawa.
" Uhhh...dasar, gombal ". Sahut Jojo ikut tertawa. Dy terus berusaha membuat Jojo tertawa.
" Bagaimana kalau Kita memesan makanan Indonesia sekarang ". Kata Dy selanjutnya.
" Aku mau, tapi jangan pedas". Sahut
Jojo. Membuka ponselnya.
" Aku yang ngomong Kamu ketik di ponselmu ". Kata Dy lalu memesan
dua porsi Nasi Padang dengan dua
lauk utama dan tiga lauk pendamping, sayur serta sambal hijau.
" Oke..beress ". Sahut Jojo, mulai sibuk dengan ponselnya. Maklumlah seorang Aktor, banyak Chatt dari Manager dan teman-teman Artis atau Aktor. Mungkin kalau di ladeni bisa seharian.
********