I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
KEPUTUSAN DILAN



Bab.66.


Perasaan Dilan tidak enak sekali, tapi karena masih metting dengan beberapa Client Dilan menghempaskan semua


itu. Agung sebagai tangan kanannya sangat mengerti akan kegelisahan Boss nya.


" Maaf Pak, Kami dari XPostOne akan


mengajukan kontrak kerja sesuai prosedur yang telah di tetapkan dibawah Badan Hukum ". Agung cepat mengambil


alih pembicaraan Dilan yang terkesan


kurang fokus.


" Ya Pak Agung, Kami akan menerima putusan dari sini. Beri Saya rinciannya". Sahut Pak Peter.


Setelah berbincang-bincang dan kedua


belah pihak menyetujui semua Aturan,


Agung membubuhkan Meterai 6000rp


supaya Pak Peter menanda tangani kontrak.


Dilan buru-buru pamit kepada Pak Peter dan Agung. Perasaannya betul-betul khawatir karena Mila mengatakan ada di Rumah. Tapi kenapa Dy tidak ada menelpon dirinya. Dilan melarikan Mobilnya dengan kencang.


Pintu gerbang terbuka lebar, padahal otomatis...terlihat Bi Minah menangis


dan beberapa Pot Bunga hancur.


Dilan memarkir Mobilnya sembarangan dan menghampiri Bibi.


" Ada apa Bi?". Tanya Dilan menghampiri


Bi Minah. Mata Bi Minah langsung melotot


melihat Dilan.


" Seharusnya Tuan tegas. Dy sudah Saya anggap Anak Saya sendiri, teganya Tuan


menghancurkan hidupnya".


Kata Bi Minah ketus.


" Saya tidak mengerti Bibi".


" Tuan masuk ke Kamar Dy, supaya Tuan mengerti". Kata Bi Minah melanjutkan tangisnya. Perasaannya khawatir karena Dy menyetir Mobil dalam keadaan marah.


Semoga Kamu selamat. Nduk!! sambat Bi Minah mengikuti Dilan.


Mata Dilan berkaca-kaca melihat semua berantakan di Kamar Dy dan ada darah berceceran di lantai.


Dilan langsung menghubungi Fery dan Made untuk datang kesini.


" Bibi Dy naik Mobil apa". Tanya Dilan sedih.


"Mengapa Tuan menanyakan Saya Merk


Mobil, orang Saya tidak mengerti.


Biarkan Dy pergi, jangan Tuan sakiti Dy.


Hanya Dy satu-satunya tumpangan hidup Saya". Sahut Bibi emosi.


Dilan diam dan naik ke lantai atas.


Apa yang harus dia perbuat saat ini,


semuanya hancur.


Dengan perasaan dongkol Dilan membuka


Pintu kamarnya. Terlihat Ibunya dan Mila tidur-tiduran di Ranjang.


Duhhh....kesal sekali Dilan.


" Mas...". Mila langsung turun dari Ranjang dan menghampiri Dilan.


" Kamu baru datang?". Sapa ibunya.


" Ya Bu " sahut Dilan pendek.


Kemudian Dilan mengajak Ibunya keluar dari Kamar dan Mereka duduk di sofa.


" Ibu...ada apa datang kesini?". Tanya


Dilan berusaha membuang marahnya.


Tapi tetap saja wajah kakunya terlihat


garang menatap Ibunya.


" Kamu jangan marah karena ibu datang, Ibu kesini untuk menjodohkan Kamu dengan Mila. Ibu juga sudah mencari hari baik".


" Ibu....Aku sekarang banyak tugas keluar Negeri. Aku mungkin tidak bisa memenuhi


Ke inginan Ibu. Maafkan Aku Ibu".


Kata Dilan berusaha Ibunya mengerti.


" Mas..kekuarga Mila sudah tahu semua dan sudah menyetujuinya". Mila ikut


nimbrung dan berharap banyak.


" Dilan, jangan katakan Kamu tertarik dengan perempuan yang memakai celana pendek itu". Dilan langsung emosi, dia tahu pasti Dy yang di bicarakan.


" Ibu jangan melihat orang luarnya saja".


Sahut Dilan keras.


" Kamu sudah di pelet sama Janda itu".


Ibunya juga emosi.


Dilan berusaha menguasi dirinya. Tangannya terkepal saking menahan marah.


" Ibu Aku tidak dengan siapa, Aku akan


hidup sendiri. Mila carilah laki-laki lain, karena Saya tidak mencintaimu" kata


Dilan keras.


Suara tangis pecah dari kedua perempuan itu. Mereka tidak menyangka akan begini jadinya.


" Maafkan Aku Ibu dan juga Mila".


Sambung Dilan lagi sambil berdiri.


Kemudian Dilan melompat turun dan bergegas keluar. Hatinya hancur memikirkan Dy. Keputusannya sudah bulat tidak akan menikah dengan siapapun.


Kemana Aku harus mencarimu Sayank.


Pulanglah, Aku hanya ingin melihatmu


saja. Aku tidak akan menyentuhmu.


atau menanyakan kemana Kamu pergi


Kamu pergi dengan laki-laki lain.


Pulanglah sayank....Aku hanya ingin


Melihat wajahmu.


Bisik Dilan dalam hati.


Sebutir air mata jatuh kepipi Dilan.


Mobil Lambhorgini itu melaju menyusuri jalan yang tidak bertepi. Separuh nyawa Dilan seakan melayang... kakinya mengambang saat dia menginjak pasir di Pantai Kuta....


Matanya tidak menemukan sosok Dy yang dia cintai. Kehampaan menyergap


raganya..dan terhempas...


Akhirnya Dilan duduk sendiri diambang senja yang makin temaram


UVASSA HOTEL.


Kekecewaan Dy kepada Dilan sudah diambang batas, apapun yang Dy


perbuat saat ini adalah tindak lanjut


dari kemarahannya.


Dy menyesali dirinya catuh cinta untuk kedua kalinya. Pertama dengan Aby cintanya kandas tak bermakna.


Dengan susah payah Dy menata hatinya kembali, berusaha berdamai dengan cinta


Tapi apakah yang telah Dy terima?


Suatu kepahitan!!.


Siapa yang harus disalahkan??, Dilankah atau Ibunya, mungkin situasilah yang harus dipersalahkan.


Situasi yang menyebabkan ketidak berdayaan.


Dy mengusap air matanya dan mencoba untuk memejamkan matanya.


Tapi tidak bisa, seolah kantukpun takut menyentuh matanya....


Suara Intercom Hotel mengagetkan Dy.


Dengan malas tangannya memencet tombol On. Suara Aby terdengar di seberang sana.


" Slamat malam Nona, maaf Kami mengganggu istirahat Anda. Seorang tamu dari Manager Romero Hotel ingin bertemu dengan Nona".


Suara Wida dari F.O terdengar manis.


" Suruh dia masuk". Sahut Dy.


Dy menyeret kakinya yang banyak luka menuju pintu. Dengan malas Dy membuka


Pintu, Aby berdiri di depannya dengan muka khawatir.


" Sayank, ada apa??" Tanya Aby.


nyelonong masuk dan memeluk


Dy, air mata Dy kembali jatuh


membasahi baju Aby. Keharuan menyelimuti hati Aby.


" Kenapa Kamu begini Sayank?,


mari Kita duduk sambil bercerita".


Aby menuntun Dy duduk di Sofa


dan memeriksa kakinya.


" Tidak ada apa-apa, Aku cuma kena


beling. Dan ini sudah sembuh". Sahut


Dy mengatur nafasnya.


Aby mengambil segelas air mineral


dan menyodorkan kepada Dy ada


Perasaan cinta di hatinya, namum


rasa itu terpaksa Aby hempasan.


Aby harus professional menjalin hubungan dengan Dy, supaya Dy


betah berada di sisinya.


" Kamu harus bercerita kenapa Kamu menjadi begini?". Tanya Aby lagi.


"Yank, semenjak Aku tahu Kamu adalah


kakak sepupuku, Aku menjadi senang.


Walaupun Kita putus hubungan cinta, tapi


Kita tetap bersaudara". Kata Dy mengalihkan pembicaraan.


" Ya..Kita adalah saudara" sahut Aby


menaikan kaki Dy ke pahanya dan memeriksa setiap luka yang ada.


Kedatangan Aby membuat Dy sedikit


terhibur, sampai Akhirnya Aby harus


Pulang karena sudah malam.


Malam semakin larut Dy menuangkan


Sake ke gelas yang sudah berisi es


batu. Segelas, dua gelas dan untuk yang


ketiga gelas, Dy langsung ambruk di Sofa.


Sebuah bayangan melempar tali ke


Realing Living Room dari tonjolan tebing pantai. bayangan itu memanjat ringan bergelayutan sebentar dan bayangan ini sudah berada di Living Room.


Kemudian pandangannya tertuju kepada tubuh Dy yang berada di Sofa Ruang keluarga. Serta merta dia menggendong tubuh lemah itu ke Kamar dan membaringkannya di Bed...


wajah cantik itu terlihat pucat dengan garis


hitam ada di bawah mata.


Bibirnya yang sedikit terbuka mengundang


asrat untuk disentuh, tapi jangan, tidak untuk


malam ini..